Masuk“Damian! Lihat aku! Tolong, bernapaslah!” Revana menjerit, dia mencoba merangkak mendekat, tangannya gemetar ingin meraih bahu pria itu.Damian tersentak. Dia memundurkan tubuhnya dengan kasar hingga punggungnya menghantam kaki meja kayu ek yang berat. “Jangan! Jangan sentuh aku!”“Damian, kau sedang terluka! Kau muntah darah, kita harus memanggil tim medis!” Revana terus berusaha menggapai tangan Damian, namun pria itu menepisnya dengan kekuatan yang membuat Revana terjerembap ke samping.“Kubilang jangan sentuh aku, Revana!” suara Damian pecah, terdengar parau karena cairan merah yang masih menyumbat tenggorokannya.“Tangan ini ... tangan ini sudah menghancurkan segalanya. Aku membenci dia. Aku menghabiskan lima belas tahun untuk mengutuk nama Thomas Jovanka!”“Kau tidak tahu kebenarannya saat itu, Damian! Tidak ada yang tahu!” Revana berteriak balik, hingga air matanya jatuh tanpa henti.Damian tertawa pendek, sebuah suara kering yang lebih mirip rintihan kesakitan. Dia menatap tel
“Thomas ... dia tidak mengkhianati ayahku,” suara Damian terdengar sangat tipis, hampir seperti bisikan hantu.Revana berlutut di samping dia, dengan air mata membasahi pipinya. “Dia tahu Moretti sudah menyuap setengah dari pasukan keamanan kalian, Damian. Jika ayahku tidak berpura-pura menjadi musuh dan menarik perhatian Moretti ke arah dia, Moretti akan membantai semua orang di mansion Leonardo malam itu. Termasuk kau.”Damian menatap sebuah paragraf terakhir di surat bertanggal malam pembantaian itu.“Carlo, jika kau membaca ini dan aku sudah tidak ada, ketahuilah bahwa aku memilih untuk dicap sebagai pengkhianat oleh duniamu, asalkan putra-putramu tetap aman. Moretti menginginkan perang saudara agar dia bisa naik takhta. Aku akan membiarkan dia berpikir dia menang, agar Damian punya waktu untuk tumbuh.”“Dia membiarkan dirinya dibenci,” gumam Damian lalu menatap lurus ke depan, ke arah dinding yang kosong. Matanya tidak berkedip.“Selama ini aku terus memburu keluargamu. Aku mengh
“...dosa ini akan kita tanggung bersama, demi masa depan yang kita bangun...”Rahang Damian mengeras. Dia mengenali gaya tulisan itu. Itu bukan tulisan tangan ayahnya. Itu adalah gaya tulisan tangan yang selama ini dia kaitkan dengan orang yang paling dia benci di dunia ini.Damian menatap sobekan kertas itu, lalu perlahan menoleh ke arah Revana. Matanya kini tidak lagi memancarkan kelembutan. Ada kilat kemarahan dan kecurigaan yang begitu gelap hingga membuat Revana merasa ingin lari saat itu juga.“Ini tulisan tangan Thomas Jovanka,” suara Damian terdengar seperti suara guntur yang tertahan. Dia lalu melemparkan sobekan kertas itu ke atas meja, tepat di depan wajah Revana.“Kenapa ada sobekan surat dari ayahmu di bawah meja kerja ayahku, Revana? Dan kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau telah menemukan sesuatu?”Sobekan kertas di atas meja itu seolah menjadi sumbu yang siap meledakkan emosi pria itu. Matanya tidak lagi menunjukkan keraguan; yang ada hanyalah tuntutan mutlak atas
Pagi di puncak Alpen selalu membawa kabut tebal yang menyelimuti dinding kaca villa, namun bagi Damian, kabut yang paling menyesakkan justru berada di dalam rumahnya sendiri. Sudah tiga hari Revana berubah.Dia bukan lagi wanita yang membalas tatapannya dengan keberanian yang sama.Dia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja lama Carlo, duduk terdiam di kursi kulit besar milik ayahnya, menatap dinding kosong seolah sedang berkomunikasi dengan hantu masa lalu.Damian berdiri di ambang pintu ruang kerja, memperhatikan Revana dari belakang. Revana sedang duduk melamun, jemarinya mengusap tepian meja kayu jati itu dengan gerakan mekanis.“Kau menghabiskan lebih banyak waktu dengan bayangan ayahku daripada denganku belakangan ini, Revana,” suara Damian memecah kesunyian, rendah dan berwibawa.Revana tersentak bahkan bahu tegapnya menegang sesaat sebelum dia menoleh perlahan. “Aku hanya menyukai aroma ruangan ini. Bau buku tua dan kayu ini ... membuatku tenang.”Damian melangkah masu
Lampu meja di sudut kamar tidur villa itu hanya menyisakan pendar redup. Revana duduk bersila di atas lantai kayu yang dilapisi karpet bulu tebal, tepat di balik bayangan tempat tidur besar di mana Damian tampak terlelap.Dia menahan napas setiap kali mendengar gesekan selimut dari atas sana. Kotak hitam itu terbuka di depannya, menyingkap tumpukan kertas yang beraroma debu dan rahasia yang menyesakkan.Jemarinya gemetar saat menarik sebuah amplop cokelat dengan stempel lilin yang sudah hancur. Di dalamnya terdapat lembaran surat dengan tulisan tangan yang sangat dia kenali. Itu adalah tulisan tangan ayahnya, Thomas Jovanka.“Carlo, intelijenku di perbatasan mengonfirmasi pergerakan Moretti. Mereka tidak hanya mengincar pelabuhanmu; mereka mengincar kepalamu. Moretti telah menyuap tiga kaptenmu. Jangan percaya pada siapa pun di dewan malam ini.”Revana menutup mulutnya dengan tangan, berusaha mencegah suara isakan keluar. Surat itu bertanggal dua hari sebelum Carlo Leonardo terbunuh.
“Dosa ini akan kita tanggung bersama, demi masa depan yang kita bangun di atas darah.”Kalimat itu seperti hantaman godam di dada Revana. Belum sempat dia mencerna arti kata-kata itu, suara langkah kaki yang berat dan teratur bergema dari koridor luar.Langkah itu tegas, bergema di atas lantai kayu oak, langkah kaki Damian.“Sial,” bisik Revana. Jantungnya langsung berdegup begitu kencang hingga dia bisa merasakannya di ujung jari.Dia tidak punya waktu untuk mengembalikan papan lantai itu ke posisi semula dengan sempurna.Dengan gerakan panik, dia menyambar kotak hitam itu dan menyelipkannya ke balik lipatan gaun wolnya yang lebar, menjepitnya di antara perut dan pahanya saat dia mencoba berdiri dengan anggun.Duk. Duk. Duk.Langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Gagang pintu berbahan kuningan itu berputar perlahan.“Revana? Kau di dalam?” suara Damian terdengar, berat dan penuh selidik.Revana menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar. Dia berdiri membel







