Beranda / Romansa / Di Bawah Selimut Tetangga / Bagian 39 - Masih yang Terindah

Share

Bagian 39 - Masih yang Terindah

Penulis: Daisy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 16:51:56

Aruna kembali terdiam. Lalu, dengan sangat perlahan, ia mengangkat wajahnya sedikit untuk melihat mata Sagara dari jarak dekat. Matanya masih merah, tapi sekarang ada kilau lain di sana.

“Kalau aku bilang... aku ngerasa panas di bawah sana. Kamu bakal apa, Sa?” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar di antara deru hujan.

Suara hujan mengisi tatapan keduanya yang sama-sama menyimpan hasrat.

“Saya tidak akan melakukan apa-apa. tidak saat kamu dalam kondisi seperti ini. Kita pulang sekarang,” tegas Sagara.

Pria itu tidak ingin mengambil keuntungan dari perempuan yang sedang terluka akan sikapnya yang seenaknya. Dan meski hasrat itu terlihat jelas, dan tekanan di selangkangannya sangat menyiksa, Sagara lebih memilih untuk menahannya sendiri.

Aruna mengerjap, Ia mengira, mungkin berharap bahwa Sagara akan langsung membalas, akan membiarkan malam ini berlanjut seperti malam-malam lain. Tapi Sagara justru menggeleng pelan, tangannya yang tadi di pinggang Aruna naik ke pipi perempuan itu, me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 39 - Masih yang Terindah

    Aruna kembali terdiam. Lalu, dengan sangat perlahan, ia mengangkat wajahnya sedikit untuk melihat mata Sagara dari jarak dekat. Matanya masih merah, tapi sekarang ada kilau lain di sana.“Kalau aku bilang... aku ngerasa panas di bawah sana. Kamu bakal apa, Sa?” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar di antara deru hujan.Suara hujan mengisi tatapan keduanya yang sama-sama menyimpan hasrat.“Saya tidak akan melakukan apa-apa. tidak saat kamu dalam kondisi seperti ini. Kita pulang sekarang,” tegas Sagara.Pria itu tidak ingin mengambil keuntungan dari perempuan yang sedang terluka akan sikapnya yang seenaknya. Dan meski hasrat itu terlihat jelas, dan tekanan di selangkangannya sangat menyiksa, Sagara lebih memilih untuk menahannya sendiri.Aruna mengerjap, Ia mengira, mungkin berharap bahwa Sagara akan langsung membalas, akan membiarkan malam ini berlanjut seperti malam-malam lain. Tapi Sagara justru menggeleng pelan, tangannya yang tadi di pinggang Aruna naik ke pipi perempuan itu, me

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 38 - Mobil dan Jalanan Gelap

    Tubuhnya masih berada di pangkuan Sagara, lengannya melingkar di leher pria itu, wajahnya tersembunyi di sana. Napasnya sudah lebih teratur, tapi bahunya masih naik turun pelan, seperti seseorang yang baru saja selamat dari tenggelam dan belum sepenuhnya yakin kakinya menyentuh dasar.Sagara menunggu, tidak melanjutkan cerita, pun tidak menuntut respons. Tangannya tetap di punggung Aruna, bergerak pelan, sekadar memastikan perempuan itu tetap sadar akan keberadaannya.“Aku nggak mau nostalgia,” suara Aruna akhirnya terdengar lirih, serak.Sagara mengangguk kecil, meski ia tahu Aruna tidak melihatnya.“Yasudah,” jawabnya singkat.Keheningan kembali turun dan tidak lama rintik hujan mulai turun membasahi kaca mobil. Sagara menatapnya, lalu kembali menatap perempuan mungil yang masih setia di pelukannya.“Dulu kamu takut jarum suntik sampai menangis kencang di ruang dokter,” lanjutnya pelan, suaranya dibuat ringan seperti sedang mengenang lelucon lama.Menimbang untuk membuat suasana leb

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 37 - Kamu Masih Mencintai

    Klik. Suara itu kecil. Hampir tak terdengar di antara dengung malam dan napas Aruna yang masih tersengal. Namun cukup untuk membuat tubuh Sagara menegang dan cukup terlambat untuk membuat Aruna menyadarinya.Pintu mobil terbuka.“Sa-!” Aruna terkejut, refleks tubuhnya bergerak mundur, tapi ruang sempit kursi pengemudi tidak memberinya banyak pilihan. Dalam satu gerakan cepat, Sagara sudah membuka pintu sepenuhnya dan menarik tubuh Aruna ke dalam pelukannya.Aruna menegang seketika. Seolah sentuhan itu menyulut semua luka yang belum sempat ia tutup rapat.“Lepasin!” teriaknya serak.Ia memukul dada Sagara, bahunya, lengan pria itu tanpa arah. Tangannya gemetar tapi tenaganya penuh amarah yang sudah terlalu lama ia pendam. Sagara mengerang pelan saat kepalan itu mendarat, tapi lengannya justru mengencang, menahan Aruna semakin erat.“Jangan sentuh aku!” Aruna memberontak, kepalanya menghantam bahu Sagara. Ia menggigit lengan pria itu keras, tanpa peringatan.“Argh!”Sagara berdesis, ra

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 36 - Dengarkan Saya, Aruna

    Gelap menelan jalanan itu nyaris tanpa ampun.Lampu mobil Aruna mati, mesin sudah ia matikan, tapi tubuhnya masih kaku di kursi pengemudi. Jalan kecil itu sepi, diapit deretan pohon tinggi yang daunnya saling bertaut, menutup cahaya bulan. Tidak ada rumah, tidak ada toko, tidak ada suara selain serangga malam dan detak jantungnya sendiri yang belum juga tenang.Aruna tidak tahu kenapa ia berhenti di sini. Kakinya hanya tiba-tiba menginjak rem, seolah tubuhnya sudah terlalu lelah untuk terus berlari.Tangannya jatuh lemas di pangkuan dengan bahunya yang bergetar. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, sunyi tapi menyakitkan. Air mata mengalir deras, membasahi pipi, jatuh ke kaus yang ia kenakan.“Aku capek. Capet banget,” bisiknya parau. Kepalanya bersandar ke sandaran kursi. Napasnya tersengal, dadanya terasa perih seperti diremas dari dalam. Ia hanya ingin diam hingga lampu jauh di belakangnya tiba-tiba muncul.Aruna tidak langsung menyadarinya. Baru ketika cahaya itu sema

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 35 - Seharusnya Memang Tidak Bodoh

    Lampu-lampu jalan berkelebat seperti garis cahaya yang kabur ketika Aruna menginjak pedal gas lebih dalam. Jarum speedometer merayap naik, tapi ia tidak peduli. Jalanan masih lengang, hanya sesekali ada mobil lewat dari arah berlawanan.Tangannya mencengkeram setir terlalu kuat sampai ruas jarinya memutih. Air matanya menetes tanpa pernah ia duga.“Bodoh,” ucapnya lagi, kali ini lebih keras, suaranya pecah di dalam kabin mobil yang sunyi.“Kamu bodoh, Aruna. Hampir aja percaya lagi,” suara itu mulai serak dengan derasnya air mata yang keluar.Pandangannya buram, tapi ia mengusapnya kasar dengan punggung tangan, menolak berhenti.“Cowok brengsek,” gumamnya getir. “Dari dulu emang berengsek.”Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya. Ia ingat betul bagaimana dulu Sagara pergi tanpa pamit, meninggalkan kekosongan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk ia tambal. Ia ingat bagaimana susah payah ia membangun dinding di sekeliling hatinya dan malam ini, hampir saja dinding itu runtuh.Hampir.A

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 34 - Momen yang Tidak Tepat

    Malam sudah lewat tengah ketika Aruna kembali terjaga.Jam digital di meja kecil di samping ranjang menunjukkan pukul 00.47. Rumah tante Mira sunyi, Aruna menatap langit-langit kamar lamanya. Dadanya terasa sesak, karena rasa bersalah yang menumpuk pelan-pelan, seperti air yang merembes tanpa suara hingga akhirnya meluap.Sagara sedang sakit. “Kenapa aku selalu lari dari kamu ya, Sa?” gumamnya lirih.Ia duduk, menyibakkan selimut. Lantai keramik dingin menyentuh telapak kakinya. Aruna meraih ponsel di meja, menatap layar yang masih gelap. Tidak ada pesan baru, lalu menekan layar, membuka chat Sagara lagi. Pesan terakhir itu masih ada, seolah menunggu.Rasa kasihan bercampur dengan rasa bersalah membuat matanya panas. Ia mengusap wajah kasar-kasar, lalu berdiri. Keputusan itu datang tanpa banyak pertimbangan, seolah tubuhnya sudah lebih dulu memilih sebelum pikirannya sempat membantah.Aruna berjalan pelan keluar kamar, mengambil tas kecilnya, memasukkan dompet, ponsel, kunci mobil. I

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status