共有

Bab 4

作者: Ben
Aku menahan amarah sampai tubuhku gemetar, rasanya ingin sekali mencabik-cabik Shania.

Dialah pembohong yang sebenarnya!

Setelah mendengar ucapan Shania, petugas pengelola langsung menutup hidung, menunjukkan ekspresi jijik.

"Anak itu jorok sekali, dia benaran buang air di dalam mobil?"

"Ya, orang tuanya nggak becus mendidiknya."

"Nggak habis pikir sama anak-anak zaman sekarang."

Aku berdiri di tengah-tengah mereka. Tatapan jijik mereka seolah menembus tubuhku, membuatku bahkan nggak berani mengangkat kepala.

Namun, Bibi Sari tidak ikut mencelaku. Dia mendekati mobil dan mengendus-endus dengan saksama. Ekspresinya perlahan berubah makin serius.

"Nggak mungkin. sebelum pensiun, aku pernah bekerja sebagai petugas kebersihan yang khusus membersihkan toilet umum selama separuh hidupku. Bau kotoran yang sudah lama nggak seperti ini."

Dia menatap ibuku, lalu berkata, "Bau ini mencurigakan. Buka bagasi belakang mobilmu. Kalau nggak, aku lapor polisi."

Namun, ibuku mencibir dengan nada meremehkan.

"Omong apa sih kamu? Tanda-tanda vital Nancy terhubung dengan Shania. Kalau terjadi sesuatu pada Nancy, masa Shania nggak tahu?

"Shania adalah Robot AI yang kuciptakan sendiri, sistemnya nggak mungkin salah!"

Aku berdiri di samping sambil menggelengkan kepala.

"Nggak, sistem Shania bermasalah."

"Ibu telah salah memercayainya."

Melihat ibuku masih keras kepala, tanpa buang waktu, Bibi Sari langsung menghubungi polisi.

Ibuku langsung marah.

"Sari! Kenapa kamu membesar-besarkan masalah? Sudah kubilang, sistem Shania nggak mungkin bermasalah!"

"Kalau bagasinya dibuka dan ternyata putriku baik-baik saja, kamu harus bayar ganti rugi sebesar 20 juta kepadaku!"

Bibi Sari tidak peduli, dia hanya berdiri di samping mobil dengan cemas.

Tidak lama kemudian, polisi tiba. Begitu polisi senior yang memimpin rombongan mendekati mobil, ekspresinya langsung berubah.

Ceklek.

Kunci bagasi terbuka, lalu pintu bagasi perlahan terangkat.

Ibu melihatku masih dalam posisi meringkuk seperti kemarin. Rambutku yang berantakan menutupi seluruh wajahku, tetapi aku sama sekali tidak bergerak.

Ibu mendengus dingin, lalu berkata kepada semua orang, "Lihat, 'kan? Dia hanya pura-pura mati, masih baik-baik saja, kok."

Sambil berbicara, melihatku tetap tidak bergerak, amarah ibuku makin memuncak.

Dia bergegas menghampiriku, mencengkeram rambutku, lalu memaksa wajahku menghadap semua orang.

"Jangan pura-pura mati lagi! Cepat bangun dan minta maaf kepada semua orang! Nancy, kamu tuli, ya?"

Detik berikutnya ….

Semua orang langsung terkejut.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 10

    Setelah meninggalkan mimpi Ibu, aku kembali ke tepi Jembatan Moza di alam baka.Penjaga alam baka menatapku, lalu tersenyum hangat sambil tertawa."Nak, pergilah bereinkarnasi. Di kehidupan selanjutnya, kehidupanmu akan lebih baik dan bahagia seumur hidup."Setelah makan sup, aku masuk ke pintu reinkarnasi. Dalam sekejap, kesadaranku pun menghilang.Ketika sadar kembali, aku mendapati diriku berada dalam pelukan yang hangat dan lembut.Terdengar suara seseorang bersenandung lembut di dekat telingaku. Aroma susu yang samar tercium di ujung hidungku.Aku membuka mata dan melihat wajah seorang wanita yang lembut dan cantik. Dia sedang tersenyum menatapku, sorot matanya penuh cinta."Nak, kamu sudah bangun, ya? Anak kesayangan Ibu."Inilah ibuku di kehidupan yang baru. Ibuku adalah seorang wanita lembut, baik hati, yang mencurahkan seluruh perhatiannya padaku.Keluarga baruku sangat sederhana, hanya ada Ayah, Ibu, dan aku. Aku adalah anak tunggal.Orang tuaku bukan orang yang berpendidikan

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 9

    Pada akhirnya, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Ibu atas tindak pidana penganiayaan terhadap orang yang berada di bawah perwaliannya dan kelalaian yang menyebabkan kematian. Atas beberapa tindak pidana tersebut, Ibu dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun.Pada hari pembacaan putusan, Ibu mengenakan seragam tahanan. Rambutnya sudah memutih dan wajahnya tampak sangat kusut. Tidak ada lagi sedikit pun keceriaan dan wibawa yang dulu terpancar darinya.Setelah mendengar putusan tersebut, dia hanya menatap kosong ke langit-langit ruang sidang. Air mata mengalir tanpa suara, sementara bibirnya terus bergumam, "Nancy, Ibu bersalah padamu … Ibu bersalah padamu …."Ibu kemudian dibawa pergi oleh petugas dan dimasukkan ke penjara, memulai kehidupan panjang di balik jeruji besi.Penjara yang dingin dan sunyi ini akan menjadi tempatnya menyesali dosa sepanjang hidupnya.Setelah menyelesaikan semua urusan yang tersisa, ayahku menjual rumah yang dipenuhi kenangan menyakitkan itu. Dia juga

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 8

    Ayah selesai memberikan keterangan di kantor polisi dan menandatangani berita acara. Setelah itu, dia pulang ke rumah yang kini kosong dengan langkah berat.Segala sesuatu di rumah masih sama seperti sebelumnya.Di kamarku, pakaian masih terlipat rapi. Di atas meja belajar masih tergeletak tugas yang belum selesai kukerjakan. Di dinding masih tertempel gambar keluarga yang kubuat, tetapi putri kecilnya itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.Hati Ayah dipenuhi penyesalan dan amarah yang tidak ada habisnya.Andai ibuku tidak memercayai robot itu, andai mereka tidak mengabaikanku, andai Shania tidak membohongiku, aku juga tidak akan mati.Tepat pada saat itu, Shania keluar dari kamar seperti biasa, bahkan dia menyapa sambil tersenyum manis, "Ayah, Kakak sudah meninggal, kelak akulah satu-satunya putri kalian.""Aku lebih pintar, lebih penurut, lebih unggul, aku nggak akan berbohong, nggak akan buat Ibu marah, aku bisa menemani kalian sampai selamanya."Suara Shania terdengar manis dan d

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 7

    Di ruang interogasi kantor polisi, suasananya sangat tegang hingga buat orang sesak napas.Ibuku duduk di kursi interogasi dengan kedua tangan diborgol. Rambutnya berantakan, tatapannya kosong. Dia sudah tidak lagi terlihat seperti seorang doktor yang selalu tampil anggun dan berwibawa seperti dulu.Petugas dari bagian teknis masuk sambil membawa laporan pemeriksaan. Wajahnya tampak muram saat melemparkan dokumen itu ke atas meja."Nyonya Erna, lihat baik-baik laporan pemeriksaan ini! Robot AI yang katanya sempurna, ternyata hanyalah robot pembohong."Ibuku perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya yang kosong jatuh pada laporan tersebut.Satu demi satu kalimat mengerikan terbaca di depan matanya, membuat sekujur tubuhnya menggigil.Laporan itu dengan jelas menyatakan, sejak awal program inti pemantauan kondisi tubuh Shania sudah mengalami kesalahan serius pada koneksi kabel.Shania tidak pernah benar-benar terhubung dengan data tubuhku. Entah itu detak jantung, suhu tubuh, tekanan dar

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 6

    Ibuku berteriak sekuat tenaga kepada Shania sambil menangis, "Shania! Cepat beri tahu mereka! Kamu selama ini terhubung dengan detak jantung Nancy. Nancy sama sekali nggak punya penyakit jantung, tubuhnya selalu sehat! Kamu adalah karya Ibu yang paling sempurna, nggak mungkin ada kesalahan sistem, 'kan?"Setelah menerima perintah, Shania maju menghampiri kerumunan. Layar hologram menyala, lalu terdengar suaranya yang manis."Halo, semuanya! Saya Shania, Robot AI khusus Nancy Halim.""Berdasarkan hasil pemeriksaan, tanda-tanda vital Nancy stabil. Seluruh indikator kesehatan tubuhnya berada dalam kondisi normal dan nggak ditemukan penyakit apa pun. Kalian nggak perlu khawatir."Mendengar itu, tatapan Ibu seketika menjadi kosong dan mati.Ibuku melihat sendiri tubuhku yang sudah kaku dan membusuk. Dia juga mendengar langsung diagnosis profesional dari dokter forensik. Namun, AI yang dia ciptakan dan dipercaya sepenuh hati, malah dengan terang-terangan berbohong.Dokter forensik perempuan

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 5

    Wajahku pucat pasi dan sangat menyeramkan.Lebam mayat membusuk berwarna biru keabu-abuan mulai menyebar dari leherku, membuat siapa pun yang melihatnya merinding.Bibirku yang pecah-pecah berubah menjadi ungu tua, sementara di sudut bibirku masih terlihat noda darah yang sudah mengering dan menghitam.Itu karena aku merasakan nyeri dada saat bungee jumping, jadi aku menggigit bibirku hingga membekas.Alisku masih mengerut, masih memperlihatkan ekspresi kesakitanku menjelang kematian.Pemandangan memilukan ini membuat semua orang terkejut.Sampai akhirnya ada seorang tetangga perempuan yang penakut menjerit, suara jeritannya memecah keheningan."Ada orang meninggal!"Matanya langsung terbalik, lalu jatuh pingsan.Semua orang seketika tersadar. Mereka menutup mulut dan mundur berulang kali. Beberapa orang bahkan berpegangan pada dinding sambil membungkuk dan muntah-muntah. Bau busuk bercampur dengan rasa takut membuat suasana seluruh garasi menjadi kacau balau.Melihat wajahku yang puca

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status