Short
Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI

Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI

By:  BenCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
1.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ibuku adalah doktor AI terkemuka. Tidak lama setelah aku lahir, ibuku secara khusus menciptakan seorang adik perempuan AI untukku. Ibuku mengatakan, adik AI itu dibekali sistem pendeteksi kebohongan paling akurat di dunia. Kalau aku berbohong, dia pasti bisa tahu. Sejak saat itu, adik AI menjadi hakim yang menentukan nasibku. Setiap kali dia mengeluarkan peringatan, sekalipun aku tidak berbohong, ibuku tetap menampar dan mengurungku di ruangan sempit dan gelap. Aku pernah membela diri, juga pernah melawan. Namun, ibuku tetap yakin bahwa AI ciptaannya tidak mungkin melakukan kesalahan. Sejak itu, ibuku makin yakin bahwa aku memang pembohong. Pada Hari Anak Nasional, untuk pertama kalinya ibu mengajakku dan adik pergi ke taman hiburan. Saat melihat tempat bungee jumping yang setinggi puluhan meter, aku menekan dadaku yang nyeri luar biasa sambil menggelengkan kepala. Adik AI menampilkan laporan data dengan ekspresi dingin, "Detak jantung Kakak yang nggak normal disebabkan karena dia sedang berbohong. Hasil pemindaian seluruh tubuh menunjukkan kondisinya sehat." Wajah ibuku langsung muram, lalu menarik telingaku sambil menyeretku sampai di area bungee jumping. "Masih berani bohong! Kamu harus lompat hari ini!" Ketika tubuhku mulai melayang, jantungku terasa seperti diremas, rasa sakitnya membuatku sulit bernapas. Penglihatanku makin kabur, tetapi ibu masih terus memarahiku karena sifat suka berbohongku tidak berubah. Air mata bercampur darah mengalir dari sudut mataku. 'Ibu, kali ini aku benaran nggak bohong.' 'Aku sudah mati, kelak nggak akan bisa bohong lagi.'

View More

Chapter 1

Bab 1

Ketika membuka mata lagi, arwahku sudah melayang di udara.

Aku menunduk, lalu melihat tubuhku telah ditarik naik oleh para petugas menggunakan tali.

Setelah petugas melepaskan pengaman yang melilit tubuhku, aku tetap tidak bangun.

Para pengunjung yang menunggu di belakang mulai merasa tidak sabar dan mendesak.

Petugas juga merasa serba salah. Dia mengulurkan tangan dan menepuk bahuku dengan lembut.

"Dik, cepat bangun. Masih banyak orang yang menunggu di belakang."

Namun tubuhku terjatuh lemas ke samping, tanpa memberi reaksi apa pun.

Aku panik dan berputar-putar di sampingnya, berteriak sekuat tenaga, "Maaf semuanya, saya nggak bermaksud menghalangi jalan kalian, tapi tubuh saya benar-benar nggak bisa bergerak!"

Namun suaraku seperti ditelan bumi, tidak ada yang mendengar suaraku.

Petugas berusaha membangunkanku beberapa kali lagi. Ketika melihat aku tidak bereaksi, perlahan ekspresinya jadi muram.

Dia menoleh ke arah ibu yang berdiri di pinggir bungee jumping, lalu berteriak, "Nyonya, kemari dan periksa kondisi putri Anda. Dia di sini menghalangi pengunjung lainnya, dan memengaruhi pekerjaan kami."

Wajah ibuku seketika memerah.

Ibuku adalah orang yang paling mementingkan harga diri. Sekarang dia ditegur di depan begitu banyak orang, dia merasa sangat malu.

"Nancy, kamu pura-pura lagi?"

Ibuku bergegas menghampiriku, lalu menarik lenganku.

Melihat aku tetap tidak bergerak, amarahnya makin besar. Ibuku mengangkat kaki dan menendang pinggangku dengan keras.

"Kamu pasti pura-pura mati! Kamu sengaja ingin membuatku malu!"

Tendangannya sangat kuat.

Kalau biasanya, aku pasti sudah ketakutan dan segera bangun untuk meminta maaf.

Namun, sekarang tubuhku tetap seperti boneka kain tanpa tulang. Aku terjatuh lemas di tanah, dengan kepala miring ke satu sisi.

Suara makian orang-orang di sekitarku seketika berhenti.

Seseorang berbisik pelan, "Ada yang nggak beres. Kenapa dia nggak bereaksi sama sekali?"

"Ya, walaupun pura-pura mati, ditendang seperti itu seharusnya sudah bangun, 'kan?"

"Kenapa wajah anak ini pucat sekali? Jangan-jangan benaran terjadi sesuatu padanya?"

Ibuku yang tadi masih emosi, juga tiba-tiba berhenti.

Dia melihat mataku yang tertutup rapat dan wajahku yang pucat, seketika dia tampak panik.

Tanpa sadar, ibuku berjongkok dan mengulurkan tangan untuk memeriksa napasku.

Pada saat itu, adik AI bernama Shania berkata dengan suara lembut dan manis, "Bu, jangan khawatir."

Matanya memancarkan cahaya biru muda. Sebuah layar hologram virtual muncul di hadapannya, menampilkan data yang bergerak dengan cepat.

"Hasil pemeriksaan sistem, tanda vital kakak stabil, hanya detak jantungnya meningkat secara nggak normal, dan tekanan darahnya naik, ini ciri-ciri orang sedang berbohong."

"Dia sengaja pura-pura mati untuk mendapatkan simpati dan menghindar dari hukuman."

Hati ibu yang sempat cemas langsung kembali tenang.

Dia menarik tangannya, menatapku yang tergeletak di tanah dengan jijik, lalu mengusap kepala Shania.

"Hanya Shania yang pengertian."

"Nggak seperti anak durhaka ini. Dia sudah terbiasa berbohong sejak kecil, sia-sia aku besarkan dia."

Rohku melayang di depan mereka, menyaksikan semua itu, dan hanya merasakan tubuhku menjadi dingin.

Ternyata Shania selama ini selalu berbohong!

Padahal jelas-jelas dia bisa mendeteksi jantungku sudah berhenti, tanda vitalku juga telah lama menghilang, kenapa dia masih membohongi ibuku?

Kenapa dia melakukan ini?

Bukankah dia hanya robot yang tidak punya perasaan?

Petugas melihat tubuhku yang tergeletak di tanah, lalu melihat ibuku yang tampak tidak peduli. Dia ragu sejenak sebelum berkata, "Nyonya, menurut saya kondisi anak ini memang nggak normal. Bagaimana kalau kita panggil ambulans saja?"

"Buat apa panggil ambulans?"

Ibu langsung memasang wajah dingin, nadanya terdengar kesal.

"Dia cuma pura-pura! Dia sudah melakukan trik ini berkali-kali. Setiap kali berbuat salah, dia selalu pura-pura pingsan atau pura-pura mati, agar aku mau memaafkannya."

"Hari ini, aku nggak mau membiasakan kebiasaan buruknya ini!"

"Tapi …."

"Nggak ada tapi-tapian!"

Ibuku menyela, membungkuk, lalu menarik lenganku dan menyeret tubuhku dengan kasar dari tanah.

Tubuhku terasa ringan, hanya mengikuti tarikan tangannya.

Betisku bergesekan dengan permukaan tanah yang kasar hingga berdarah, tetapi ibuku bahkan tidak melihatnya.

Baru setelah menyeretku sampai ke tempat parkir, dia membuka pintu bagasi mobil, lalu melemparkan tubuhku ke dalam mobil tanpa ragu."

"Anak yang suka berbohong nggak pantas naik mobil! Mending di dalam bagasi saja!"

"Shania, ayo, pulang."

Ibuku menutup pintu bagasi dengan keras, lalu berbalik dan menggandeng tangan Shania menuju kursi penumpang depan.

"Oke, Bu." Shania menjawab dengan patuh.

Sebelum naik ke mobil, Shania melirik ke arah bagasi mobil, sekilas terlihat kilatan merah dari matanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status