Share

Bab 3

Author: Ben
Keesokan paginya, ayahku melihat kamarku kosong, dia akhirnya merasa ada yang tidak beres.

"Di mana Nancy? Dia nggak pulang semalam?"

Ibuku sedang minum kopi, dia bahkan tidak mengangkat kelopak matanya.

"Ngapain kamu panik? Siapa tahu dia sudah keluar main. Dia sudah besar, bisa jaga diri."

Namun, perasaan ayahku tidak enak. Dia langsung turun ke bawah tanpa melepas sepatu.

Arwahku melayang di belakangnya, sangat berharap Ayah bisa menemukan dan mengeluarkan tubuhku dari sana, supaya tubuhku tidak makin membusuk di dalam bagasi mobil yang pengap.

Ayah berlari ke garasi. Setelah menekan tombol kunci mobil untuk membuka kunci, dia menarik pintu bagasi sekuat tenaga.

Namun, bagasi itu terkunci rapat.

"Ada apa ini? Bukankah katanya nggak dikunci?" Ayahku panik sampai berkeringat.

Ibuku menghampirinya dengan santai, lalu mencibir.

"Ini pasti ulah anakmu. Dia marah karena kejadian di taman bermain kemarin, jadi sengaja mengunci diri di dalam bagasi, agar kita khawatir dan mengalah."

"Sudah kubilang, anak ini sifatnya buruk dan licik."

Air mataku langsung mengalir.

"Bu, aku nggak melakukannya, kenapa Ibu nggak mau memercayaiku sekali saja?"

Ayahku mengernyit, ingin mengatakan sesuatu. Ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Begitu melihat layar ponselnya, ekspresinya langsung berubah. Dia memanggil taksi sambil berkata, "Sayang, ada urusan mendadak di kantor, aku berangkat kantor dulu. Ingat ya, keluarkan Nancy dari bagasi mobil. Dia masih anak-anak, cukup dimarahi saja, jangan kelewatan."

Ibuku asal mengangguk. Setelah ayahku pergi, ibuku langsung menggandeng Shania, lalu melotot ke arah bagasi.

"Dasar anak sialan, kamu terlalu dimanja ayahmu! Hari ini nggak ada ayahmu, kamu diam saja di situ biar kapok."

Lalu, ibuku tersenyum lembut kepada Shania.

"Ayo, Ibu belikan kamu baju baru, kemarin kamu belum sempat bermain di taman bermain, hari ini mainlah sepuasnya."

Shania menjawab dengan nada manis, "Terima kasih, Bu."

Arwahku melayang mengikuti mereka sampai ke mal. Aku melihat Shania didandani ibuku seperti seorang putri.

Teringat diriku yang terkurung di dalam bagasi, di sana aku masih memakai kaos yang sudah kekecilan, warnanya juga sudah memudar sejak tiga tahun lalu. Hatiku sakit seperti disayat pisau.

Sejak kemunculan Shania, ibuku tidak pernah membelikanku baju baru, Ibuku mengatakan, anak yang suka berbohong tidak pantas punya baju baru, jadi aku hanya memakai baju bekas Shania.

Saat ibuku beli baju kelima untuk Shania, ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Yang menelepon adalah Rudi, petugas pengelola apartemen.

"Nyonya Erna, mobil Anda di parkiran basemen mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat, mengganggu banyak penghuni, tolong segera kembali dan bersihkan!"

Ibu menutup telepon dengan wajah penuh amarah.

"Nancy, sebenarnya mau sampai kapan kamu membuat ulah? Beraninya kamu membuang sampah di dalam mobil, sampai membuatku malu!"

Melihat Ibu yang begitu marah, aku mengepalkan tangan dengan bingung. Aku juga tidak tahu kenapa hal ini terjadi, aku tidak melakukan apa-apa.

Saat Ibu dan Shania tiba di garasi, banyak penghuni sudah berkumpul di sekitar mobil dengan wajah kesal.

Begitu melihat Ibu datang, Bu Sari, seorang tetangga kami langsung memarahinya, "Sebenarnya kamu menyimpan apa di dalam mobil? Kok baunya menyengat sekali? Cucuku tadi pagi lewat sini, dia langsung muntah."

"Ya, baunya benar-benar menyengat. Jangan-jangan ada tikus mati di dalam?"

"Bisa nggak segera bersihkan? Masa kami bayar biaya pengelolaan sia-sia?"

Arwahku melayang di hadapan mereka. Dengan sedih sekaligus malu, aku terus membungkuk sambil meminta maaf.

"Maaf, maafkan aku. Itu bukan tikus mati, melainkan tubuhku. Tubuhku sudah mulai membusuk. Aku benar-benar minta maaf."

Namun, mereka tidak bisa mendengar suaraku. Mereka masih memaki ibuku.

Wajah ibuku langsung memucat. Saat dia mendekati mobil, bau busuk yang menyengat langsung tercium olehnya.

Ibuku langsung membungkuk dan muntah.

Aku langsung panik.

Gawat!

Cuaca yang terlalu panas dan bagasi yang begitu pengap membuat tubuhku mulai mengeluarkan bau busuk hanya dalam semalam.

Ibu pasti akan sangat membenciku.

Seperti dugaan, begitu mengatur napas, ibuku langsung memaki ke arah bagasi belakang, "Nancy! Sebenarnya mau sampai kapan kamu membuat ulah? Kenapa kamu sejahat ini?"

Aku memejamkan mata.

"Maaf, Bu, aku nggak sengaja."

Mendengar itu, para penghuni lain saling berpandangan dengan wajah heran.

"Apa? Di cuaca sepanas ini, kamu mengurung anakmu di dalam bagasi mobil?"

"Jangan-jangan anakmu mati? Ibu macam apa kamu ini? Tega sekali kamu memperlakukan putrimu seperti ini?"

Pertanyaan itu membungkam ibuku. Ibuku ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.

Shania mengatakan dengan suara robotnya yang lembut, "Para penghuni sekalian, mohon jangan khawatir. Pendingin udara dan pasokan oksigen di dalam mobil mencukupi. Tanda-tanda vital Nancy masih stabil."

"Sumber bau berasal dari Nancy yang buang air sembarangan di dalam mobil. Ini merupakan masalah perilaku, bukan insiden keselamatan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 10

    Setelah meninggalkan mimpi Ibu, aku kembali ke tepi Jembatan Moza di alam baka.Penjaga alam baka menatapku, lalu tersenyum hangat sambil tertawa."Nak, pergilah bereinkarnasi. Di kehidupan selanjutnya, kehidupanmu akan lebih baik dan bahagia seumur hidup."Setelah makan sup, aku masuk ke pintu reinkarnasi. Dalam sekejap, kesadaranku pun menghilang.Ketika sadar kembali, aku mendapati diriku berada dalam pelukan yang hangat dan lembut.Terdengar suara seseorang bersenandung lembut di dekat telingaku. Aroma susu yang samar tercium di ujung hidungku.Aku membuka mata dan melihat wajah seorang wanita yang lembut dan cantik. Dia sedang tersenyum menatapku, sorot matanya penuh cinta."Nak, kamu sudah bangun, ya? Anak kesayangan Ibu."Inilah ibuku di kehidupan yang baru. Ibuku adalah seorang wanita lembut, baik hati, yang mencurahkan seluruh perhatiannya padaku.Keluarga baruku sangat sederhana, hanya ada Ayah, Ibu, dan aku. Aku adalah anak tunggal.Orang tuaku bukan orang yang berpendidikan

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 9

    Pada akhirnya, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Ibu atas tindak pidana penganiayaan terhadap orang yang berada di bawah perwaliannya dan kelalaian yang menyebabkan kematian. Atas beberapa tindak pidana tersebut, Ibu dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun.Pada hari pembacaan putusan, Ibu mengenakan seragam tahanan. Rambutnya sudah memutih dan wajahnya tampak sangat kusut. Tidak ada lagi sedikit pun keceriaan dan wibawa yang dulu terpancar darinya.Setelah mendengar putusan tersebut, dia hanya menatap kosong ke langit-langit ruang sidang. Air mata mengalir tanpa suara, sementara bibirnya terus bergumam, "Nancy, Ibu bersalah padamu … Ibu bersalah padamu …."Ibu kemudian dibawa pergi oleh petugas dan dimasukkan ke penjara, memulai kehidupan panjang di balik jeruji besi.Penjara yang dingin dan sunyi ini akan menjadi tempatnya menyesali dosa sepanjang hidupnya.Setelah menyelesaikan semua urusan yang tersisa, ayahku menjual rumah yang dipenuhi kenangan menyakitkan itu. Dia juga

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 8

    Ayah selesai memberikan keterangan di kantor polisi dan menandatangani berita acara. Setelah itu, dia pulang ke rumah yang kini kosong dengan langkah berat.Segala sesuatu di rumah masih sama seperti sebelumnya.Di kamarku, pakaian masih terlipat rapi. Di atas meja belajar masih tergeletak tugas yang belum selesai kukerjakan. Di dinding masih tertempel gambar keluarga yang kubuat, tetapi putri kecilnya itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.Hati Ayah dipenuhi penyesalan dan amarah yang tidak ada habisnya.Andai ibuku tidak memercayai robot itu, andai mereka tidak mengabaikanku, andai Shania tidak membohongiku, aku juga tidak akan mati.Tepat pada saat itu, Shania keluar dari kamar seperti biasa, bahkan dia menyapa sambil tersenyum manis, "Ayah, Kakak sudah meninggal, kelak akulah satu-satunya putri kalian.""Aku lebih pintar, lebih penurut, lebih unggul, aku nggak akan berbohong, nggak akan buat Ibu marah, aku bisa menemani kalian sampai selamanya."Suara Shania terdengar manis dan d

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 7

    Di ruang interogasi kantor polisi, suasananya sangat tegang hingga buat orang sesak napas.Ibuku duduk di kursi interogasi dengan kedua tangan diborgol. Rambutnya berantakan, tatapannya kosong. Dia sudah tidak lagi terlihat seperti seorang doktor yang selalu tampil anggun dan berwibawa seperti dulu.Petugas dari bagian teknis masuk sambil membawa laporan pemeriksaan. Wajahnya tampak muram saat melemparkan dokumen itu ke atas meja."Nyonya Erna, lihat baik-baik laporan pemeriksaan ini! Robot AI yang katanya sempurna, ternyata hanyalah robot pembohong."Ibuku perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya yang kosong jatuh pada laporan tersebut.Satu demi satu kalimat mengerikan terbaca di depan matanya, membuat sekujur tubuhnya menggigil.Laporan itu dengan jelas menyatakan, sejak awal program inti pemantauan kondisi tubuh Shania sudah mengalami kesalahan serius pada koneksi kabel.Shania tidak pernah benar-benar terhubung dengan data tubuhku. Entah itu detak jantung, suhu tubuh, tekanan dar

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 6

    Ibuku berteriak sekuat tenaga kepada Shania sambil menangis, "Shania! Cepat beri tahu mereka! Kamu selama ini terhubung dengan detak jantung Nancy. Nancy sama sekali nggak punya penyakit jantung, tubuhnya selalu sehat! Kamu adalah karya Ibu yang paling sempurna, nggak mungkin ada kesalahan sistem, 'kan?"Setelah menerima perintah, Shania maju menghampiri kerumunan. Layar hologram menyala, lalu terdengar suaranya yang manis."Halo, semuanya! Saya Shania, Robot AI khusus Nancy Halim.""Berdasarkan hasil pemeriksaan, tanda-tanda vital Nancy stabil. Seluruh indikator kesehatan tubuhnya berada dalam kondisi normal dan nggak ditemukan penyakit apa pun. Kalian nggak perlu khawatir."Mendengar itu, tatapan Ibu seketika menjadi kosong dan mati.Ibuku melihat sendiri tubuhku yang sudah kaku dan membusuk. Dia juga mendengar langsung diagnosis profesional dari dokter forensik. Namun, AI yang dia ciptakan dan dipercaya sepenuh hati, malah dengan terang-terangan berbohong.Dokter forensik perempuan

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 5

    Wajahku pucat pasi dan sangat menyeramkan.Lebam mayat membusuk berwarna biru keabu-abuan mulai menyebar dari leherku, membuat siapa pun yang melihatnya merinding.Bibirku yang pecah-pecah berubah menjadi ungu tua, sementara di sudut bibirku masih terlihat noda darah yang sudah mengering dan menghitam.Itu karena aku merasakan nyeri dada saat bungee jumping, jadi aku menggigit bibirku hingga membekas.Alisku masih mengerut, masih memperlihatkan ekspresi kesakitanku menjelang kematian.Pemandangan memilukan ini membuat semua orang terkejut.Sampai akhirnya ada seorang tetangga perempuan yang penakut menjerit, suara jeritannya memecah keheningan."Ada orang meninggal!"Matanya langsung terbalik, lalu jatuh pingsan.Semua orang seketika tersadar. Mereka menutup mulut dan mundur berulang kali. Beberapa orang bahkan berpegangan pada dinding sambil membungkuk dan muntah-muntah. Bau busuk bercampur dengan rasa takut membuat suasana seluruh garasi menjadi kacau balau.Melihat wajahku yang puca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status