Short
Kehidupan Penuh Kepahitan, Berakhir di Tempat Jauh

Kehidupan Penuh Kepahitan, Berakhir di Tempat Jauh

By:  YandiCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
99views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ketika orang tuaku bercerai, mereka sepakat agar aku dan adik perempuanku masing-masing tinggal bersama mereka dan diasuh secara bergantian setiap tahun. Namun setiap tahun, selama jadwal pergantian asuh anak sebelum tahun ajaran baru dimulai di bulan Juli, mereka selalu berdebat demi adikku. "Louris, ikut Ibu jalan-jalan pas liburan nanti ya?" Ayahku mengerutkan kening. "Aku yang mengasuh Louris tahun ini, jadi kamu nggak boleh ikut campur." Ibuku mendengus dingin. "Tahun lalu aku menitipkannya padamu selama 17 hari karena ada perjalanan bisnis. Aku mau menebusnya kembali!" "Siapa bilang 17 hari penuh? Jelas-jelas hanya 16 hari dan 8 jam." Adikku menghela napas pelan. "Hais, seandainya aku bisa bagi diriku menjadi dua." Setelah berdebat cukup lama, ibu dan ayahku akhirnya saling mengalah. Selama liburan nanti, mereka berdua akan membawa adikku ke Pulau Laputa." "Terus, bagaimana dengan Kakak?" tanya adikku dengan penasaran. Ayahku memalingkan wajahnya. "Toh, tahun ini bukan giliranku mengasuh kakakmu." Ibuku, yang tidak menatapku sejak masuk ke ruangan, akhirnya menatapku. "Aku bakal sibuk dengan pekerjaan tahun ini, dan nggak ingin mengasuh anak. Kamu tinggal di rumah kakek dan nenekmu saja."

View More

Chapter 1

Bab 1

Di bawah meja, kuku-kuku yang menghunjam telapak tanganku nyaris mengeluarkan darah.

Jelas-jelas, beberapa saat yang lalu, ibuku masih memperdebatkan untuk menebus 17 hari adikku dengan ayahku.

Dalam sekejap mata, dia mencari alasan untuk menelantarkanku.

Tepat di saat itu, wali kelasku mengirim pesan: [Hasil dari dua program kemah liburan sangat memuaskan. Kamu bisa pertimbangkan Universitas Pelita yang terletak di provinsi tetangga.]

Aku membalas: [Guru, saya mau milih yang di Moria sana.]

Dua ribu kilometer sudah cukup jauh untuk melepaskan diri dari paruh pertama kehidupan yang tidak kusukai ini, 'kan?

....

Guru bertanya kepadaku: [Kamu sudah merundingkan hal ini dengan orang tuamu?]

Aku menundukkan pandangan dan mengetik: [Nggak, tapi aku sudah 18 tahun sekarang. Aku bisa bertanggung jawab atas pilihanku sendiri.]

Melihatku melihat ponsel dengan kepala tertunduk dan tidak mengucapkan sepatah kata pun, adikku memiringkan kepalanya.

"Sepertinya Kakak nggak ingin pergi ke tempat kakek dan nenek."

Benar, aku memang tidak ingin.

Sebelum hari terang, aku sudah harus menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga nenek dan kakekku. Setelah pulang dari belajar mandiri di malam hari, aku masih harus mencuci pakaian dua adik sepupuku.

Aku tidak ingin merasakan pengalaman seperti itu lagi.

Ibuku mengerutkan kening. "Gracia, apa kamu nggak bisa memahami kesulitan orang dewasa?"

"Ada perubahan personel tahun ini, yang juga termasuk periode penting untuk promosiku. Kalau aku nggak bisa mengasuhmu dengan benar, kamu pasti akan nggak senang dan bersikap dingin padaku lagi."

Ayah menambahkan dengan nada setuju, "Benar, temperamen Gracia memang buruk. Tahun lalu, karena melewatkan pertemuan orang tua dan guru, dia langsung bersikap dingin kepadaku selama seminggu penuh."

"Orang yang nggak tahu mungkin akan mengira bahwa dialah yang menghidupiku."

Ibuku menatapku dengan kecewa, lalu menggelengkan kepalanya.

"Adikmu baru duduk di bangku SMA. Ayahmu pergi ke sekolahnya untuk pertemuan orang tua dan guru juga karena ingin tahu apa dia beradaptasi dengan baik atau nggak. Kenapa kamu bisa begitu nggak pengertian?"

Aku melonggarkan casing ponsel yang tergores kuku, lalu mendongak menatap mereka.

"Apa tahun pertama SMA benar-benar sepenting itu? Terus, mengapa nggak ada yang datang ke pertemuan orang tua dan guru sewaktu aku duduk di tahun pertama SMA dulu?"

Ibuku sejenak mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu kembali bersikap sok benar.

"Waktu itu, adikmu sudah SMP kelas tiga, jadi kami harus memprioritaskan untuk menghadiri pertemuan orang tua dan gurunya."

Ayahku juga mengangguk. "Aku hanya menegurmu sedikit dan kamu langsung mengungkit kejadian lama. SMP kelas tiga jelas jauh lebih penting daripada SMA kelas satu."

Aku kehilangan nafsu makan dan membanting sendokku.

"Pertemuan orang tua dan guru adikku sewaktu SMP kelas tiga nggak diadakan di hari yang sama dengan pertemuan orang tua dan guruku."

"Nggak perlu repot-repot cari alasan lagi. Kalian memang nggak pernah peduli dengan urusanku. Ya, sesederhana itu."

Ibuku tampak canggung dan tidak berbicara lagi.

Ayahku buru-buru mengelak. "Bukan aku yang mengasuhmu tahun itu, jadi jangan salahkan aku karena nggak pergi."

Adikku mengetuk piring dengan sendoknya. "Sudahlah, Kak."

"Kita sekeluarga hanya bisa kumpul bersama di saat Tahun Baru dan saat tahun ajaran baru saja. Buat apa bahas masalah ini lagi?"

"Siapa tahu Ibu terlalu sibuk kerja dan melupakannya?"

"Bukankah hanya sebuah pertemuan orang tua dan guru saja? Kamu terlalu membesar-besarkannya."

Hanya sebuah pertemuan orang tua dan guru saja?

Jelas-jelas sudah sepuluh tahun, dan mereka telah melewatkan sepuluh kali pertemuan orang tua dengan guru.

Bahkan sebelum bercerai, mereka sudah absen dari pertemuan orang tua dengan guruku dari waktu ke waktu.

Anggota komite sekolah yang bertanggung jawab atas formulir beasiswa tahun lalu bertanya kepadaku secara pribadi.

"Gracia Kusuma, meski ini agak lancang, aku ingin memastikan sesuatu padamu."

"Apa keluarga kalian mengalami kesulitan? Kamu ingin mengajukan beasiswa nggak?"

Aku tidak mengerti.

Dia sedikit merendahkan suaranya dan terdengar canggung. "Aku dengar dari salah satu teman sekelasmu di SMP kalau kamu mungkin nggak punya keluarga, jadi aku mau tanya apa kamu butuh bantuan beasiswa."

Tidak punya keluarga berarti yatim piatu.

Dalam sekejap, darahku seolah mengalir ke ubun-ubun.

Aku tidak merasa marah karena tersinggung. Yang memenuhi hatiku hanyalah kesedihan.

Sudah bertahun-tahun lamanya.

Baik pertemuan orang tua dengan guru maupun tahun ajaran baru, tidak ada satu pun teman sekelasku yang pernah bertemu dengan orang tuaku.

Hal inilah yang membuat para penggosip menciptakan spekulasi tidak berdasar.

Anggota komite sekolah biasanya sangat ramah, dan aku tahu dia tidak bermaksud jahat, jadi aku memaksakan senyum padanya.

"Aku bukan anak yatim piatu, jadi aku nggak butuh bantuan beasiswa. Terima kasih atas kebaikanmu."

Itulah mengapa tahun lalu aku berulang kali mengingatkan ayahku agar dia harus menghadiri pertemuan orang tua dan guru.

Dia setuju secara lisan, tetapi setelah tiba di sekolah, dia berbelok dan pergi ke gedung untuk siswa SMA kelas satu.

Aku berdiri di dekat jendela. Kegembiraan yang mulanya kurasakan ketika melihatnya datang, perlahan berubah menjadi kekecewaan saat dia pergi.

Demi menjaga keharmonisan dalam keluarga yang bercerai, aku menoleransi ketidakhadirannya selama sepuluh tahun.

Sebagai balasannya, yang kudapatkan justru label negatif seperti memiliki temperamen buruk dan penuh perhitungan.

Aku seharusnya tidak menahan diri selama ini.

Air mata menetes di tulisan 'Universitas Moria' di layar.

Aku menahan isak tangis dan tertawa.

Tidak apa-apa, aku tidak perlu menahan diri lagi sekarang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status