LOGINKetika orang tuaku bercerai, mereka sepakat agar aku dan adik perempuanku masing-masing tinggal bersama mereka dan diasuh secara bergantian setiap tahun. Namun setiap tahun, selama jadwal pergantian asuh anak sebelum tahun ajaran baru dimulai di bulan Juli, mereka selalu berdebat demi adikku. "Louris, ikut Ibu jalan-jalan pas liburan nanti ya?" Ayahku mengerutkan kening. "Aku yang mengasuh Louris tahun ini, jadi kamu nggak boleh ikut campur." Ibuku mendengus dingin. "Tahun lalu aku menitipkannya padamu selama 17 hari karena ada perjalanan bisnis. Aku mau menebusnya kembali!" "Siapa bilang 17 hari penuh? Jelas-jelas hanya 16 hari dan 8 jam." Adikku menghela napas pelan. "Hais, seandainya aku bisa bagi diriku menjadi dua." Setelah berdebat cukup lama, ibu dan ayahku akhirnya saling mengalah. Selama liburan nanti, mereka berdua akan membawa adikku ke Pulau Laputa." "Terus, bagaimana dengan Kakak?" tanya adikku dengan penasaran. Ayahku memalingkan wajahnya. "Toh, tahun ini bukan giliranku mengasuh kakakmu." Ibuku, yang tidak menatapku sejak masuk ke ruangan, akhirnya menatapku. "Aku bakal sibuk dengan pekerjaan tahun ini, dan nggak ingin mengasuh anak. Kamu tinggal di rumah kakek dan nenekmu saja."
View MoreDi bulan Juli tahun berikutnya, tibalah waktunya untuk pergantian jadwal.Ibuku nyaris menangis karena bahagia saat berjalan mendekatiku."Gracia, aku ikut kamu ke Moria ya? Aku nggak akan menyusahkanmu. Aku masih punya uang pensiunan."Sebelum aku sempat menolak, ayahku mulai tidak sabar."Mana bisa seperti itu? Bagaimana kalau kamu kabur ke Moria, dan nggak mau pergi? Apa kamu ingin Gracia merawatmu selamanya?""Kalau iya, terus kenapa?"Keduanya mulai bertengkar lagi.Berbeda dengan saat masih kecil, adikku tidak lagi berusaha menengahi mereka. Sebaliknya, dia menyalakan rokok dengan lesu."Kak, pinjam aku uang dong?""Ayah ingin mempekerjakan asisten rumah tangga paruh waktu, tapi aku nggak mampu membayarnya."Aku berkata dengan tenang, "Kalau nggak mampu, nggak usah pekerjakan. Siapa yang bertugas merawatnya, siapa yang bertanggung jawab."Adikku hanya mendengus dan tidak mengatakan apa pun lagi.Ibuku menjalani operasi punggung di tahun aku merawatnya. Aku masih belum bisa kembal
Di tahun aku lulus gelar S3, ayahku menjalani operasi terkait kantung empedu.Bibiku meneleponku menggunakan ponsel adik sepupuku, dan memintaku untuk pulang menjaganya.Aku tidak mengerti. "Bukankah Louris ada di sana? Suruh dia saja."Bibiku agak ragu untuk berbicara. "Louris pergi berlibur. Dia bilang tiket pesawat dan hotel nggak bisa dikembalikan ...."Aku tetap menolak. "Tahun ini, ayahku baru berusia 57 tahun, 'kan? Secara hukum, dia belum memasuki usia lanjut usia. Apalagi, operasi ini bukan operasi besar. Biarlah dia pikirkan cara sendiri.""Mempekerjakan seorang perawat juga nggak mahal, 'kan?"Bibiku bergumam, "Nggak mahal? 600 ribu sehari. Kamu mau bayar?"Aku tersenyum. "Nggak masalah. Kalau dia menjalani operasi di usia 60 tahun nanti dan butuh perawat untuk menjaganya, hubungi saja aku, dan aku akan membayarnya.""Tapi untuk sekarang, nggak ada yang perlu dirundingkan."Adik sepupuku mengatakan bahwa kerabat di kampung halaman semuanya membicarakanku di belakang. Mereka
Putri sulung bibiku dua tahun lebih muda dariku. Karena orang tuanya lebih mementingkan anak laki-laki ketimbang anak perempuan, dia praktis tidak terlihat di rumah, sama seperti diriku.Jadi, meskipun memutuskan untuk berhenti menghubungi kerabatku di kampung halaman, aku juga tidak menghapus informasi kontaknya.Di kala dia menghadapi studi atau tugas yang sulit, aku akan dengan senang hati menawarkan bantuan.Setelah lulus dari universitas, aku melanjutkan studi untuk meraih gelar S2. Melihat foto-foto yang kuambil saat upacara penerimaan, adik sepupuku datang untuk memberi selamat kepadaku."Kak Gracia, sebenarnya, bibi dan pamanku sudah nggak terlalu menyukai Louris lagi sekarang."Aneh sekali.Dulu, Louris sering mencuri uang dari rumah untuk mentraktir teman-temannya makan, dan ibunya juga tidak pernah memarahinya.Selain melakukan kejahatan berat, aku pikir mereka akan selalu menoleransi Louris.Melihat aku tidak keberatan dia melanjutkan topik itu, adik sepupuku pun dengan ant
Setelah merapikan tempat tidur, aku berbalik dan turun dari tempat tidur. Ketiga teman sekamarku juga berdiri."Ayo sama-sama ke kantin!"Aku agak terkejut. "Kalian menungguku dari tadi?"Gadis di ranjang seberang meraih lenganku dan berkata, "Ini namanya takdir kita semua yang datang dari berbagai tempat bisa dipertemukan di sini. Asrama kita juga seperti keluarga kecil. Mana mungkin kita meninggalkanmu di hari pertama?"Mataku terasa sedikit panas.Apa keluarga kecil tidak akan meninggalkan anggota keluarganya?Suatu tahun, saat acara makan bersama di tahun ajaran baru, aku berencana untuk berpartisipasi dalam kompetisi matematika.Aku memesan semua hidangan di restoran lebih dulu, lalu menjelaskan pantangan makanan semua orang sebelum pergi mengikuti ujian.Namun, setelah ujian selesai, aku bergegas kembali ke hotel dan hanya menemukan sisa makanan di meja.Ibuku menunjuk ke makanan yang berantakan di meja. "Makanlah."Sama seperti memberi makan seekor anjing liar.Saat berjalan men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.