Share

Bab 3

Author: Gaston
"Kamu yang membunuh mereka. Kamu nggak pantas jadi ayah mereka!"

Marcel benar-benar terkejut.

Viona, dengan sikap yang menggoda, muncul dari belakang Marcel.

"Jocelyn, kamu cuma pura-pura demi cari perhatian Marcel. Marcel kan ayah kandung mereka. Kalau mereka meninggal, mana mungkin dia nggak dikabari?"

"Kamu pasti sengaja bawa-bawa guci itu buat membohongi Marcel."

"Marcel mungkin bisa kamu bohongi pakai ini, tapi aku nggak!"

Ketika Marcel mendengar kata-katanya, tatapannya kepadaku menjadi lebih tajam.

"Jocelyn, kamu kejam! Berani-beraninya membohongiku!"

"Aku hancurkan guci ini sekarang juga. Mau pakai apa lagi kamu buat membohongiku?"

Setelah itu, Viona berjalan mendekati guci.

Aku menamparnya.

"Mulai sekarang, nggak akan kubiarkan kamu menyentuh anak-anakku!"

"Jocelyn, kamu keterlaluan! Berani-beraninya kamu tampar Viona!"

Marcel melindungi Viona, tatapannya padaku seolah ingin membunuhku.

Kedua orang ini adalah pembunuh anak-anakku. Aku sudah lama ingin menghajar mereka.

Aku hanya mendorong Viona sekali, tapi dia terjatuh dan menangis minta tolong kepada Marcel.

"Marcel, Jocelyn mau membunuhku!"

Aku tersenyum pahit, sinis, dan pasrah menyaksikannya berakting.

Marcel seperti tidak menyadari sama sekali bahwa wanita itu hanya pura-pura. Dia berlari menghampiri dan mencoba menahan tanganku.

Aku menepisnya.

Tiba-tiba ....

Suara pecah yang keras bergema di dalam rumah. Marcel sepertinya marah dan menghancurkan sesuatu.

Viona memanfaatkan saat aku lengah dan mendorongku.

Aku berguling dua kali di lantai, baru berhenti setelah menabrak sofa.

Saat aku duduk kembali, abu beterbangan di dalam rumah. Pecahan porselen berserakan di lantai.

Aku menoleh melihat guci abu, tapi guci yang berisi abu kremasi Misya sudah tidak ada lagi.

Pikiranku seketika kosong. Aku lupa cara bernapas, seolah setiap detak jantungku diremas dengan sangat keras.

"Ah!"

"Misya!"

"Misya-ku sayang ...."

"Marcel, Misya sudah mati mengenaskan, kenapa kamu tega melempar abunya? Apa kamu masih punya hati?!"

Aku segera bangkit dan melompat untuk menangkap abu yang beterbangan di udara.

Sayangnya, usahaku sia-sia.

Aku hanya bisa berjongkok dan memungut abu dari lantai, tapi air mata mengalir di wajahku dan membasahi abu itu.

Misya sudah meninggal, aku tidak bisa membiarkannya hilang seluruhnya.

Marcel memandang raut wajahku yang cemas, kakinya bergerak sedikit, seolah ragu-ragu.

"Jocelyn, kenapa aku baru sadar kamu pintar akting? Sayang sekali kamu nggak jadi bintang sinetron." Viona menyindirku, lalu mengangkat guci abu putri bungsuku, Masya, dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Lalu, dia lepaskan pegangannya dan guci itu jatuh ke lantai.

Prang!

Guci itu hancur berkeping-keping. Abu kremasi Masya berserakan di lantai, sebagiannya masih beterbangan di udara.

Kepalaku terasa pusing, seolah setiap butir abu berubah menjadi pisau yang menusuk tubuhku.

Sakit, sangat sakit!

Viona kemudian menginjak-injak abu itu.

"Jocelyn, aktingmu jelek."

"Aku bunuh kamu!"

Mataku memerah dalam sekejap. Apa lagi yang lebih menakutkan dari seorang ibu yang marah?

Saat itu, hanya ada satu pikiran di benakku.

Bunuh Viona!

Viona terkejut melihat ekspresiku dan mundur berulang kali.

Sebelum aku sempat menerjang Viona, Marcel yang tadinya tampak ragu-ragu seolah tersulut amarah oleh sikap gilaku. Dia menghalangi jalanku dengan tangan terentang.

"Jocelyn, sudah cukup! Kamu bawa-bawa abu entah dari mana, ngaku-ngaku itu abu Misya dan Masya."

"Kamu sedang mendoakan anak-anak kita mati, ya?"

Dia baru selesai bicara, ponselnya berdering.

Marcel melirikku, lalu berjalan ke meja untuk mengambil ponselnya. Ternyata itu panggilan dari ibunya.

"Ma, ada apa?"

"Marcel, apa kamu masih anggap kami orang tuamu? Ada kejadian sebesar ini, kami nggak dikabari sama sekali?"

Marcel merasa aneh, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Dia menatapku dengan serius, lalu melirik dua guci abu yang pecah itu.

"Ma, apa maksudmu?"

"Misya dan Masya meninggal tertabrak mobil tiga hari yang lalu. Kenapa kami nggak dikabari?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 9

    Viona mengangkat dagunya, dengan senyum tipis di bibirnya, menatapku dari sudut matanya.Aku tertawa dalam hati.'Berani menantangku? Dasar nggak tahu diri. Nggak masalah. Tunggu aku selesai dengan Marcel, nanti juga kamu dapat giliran!'Marcel mengira aku marah karena melihatnya bersama Viona, jadi dia buru-buru memberi penjelasan, "Josie, jangan salah paham. Aku sedang nggak enak badan, dan kebetulan Viona datang menjengukku.""Dia khawatir, jadi dia ikut datang menemaniku."Aku mengalihkan pandangan dan menatap Marcel."Nggak usah banyak omong. Aku suruh kamu datang ke sini karena ada sesuatu yang menurutku harus kamu ketahui.""Apa?" Marcel tampak bingung.Aku tidak berkata apa-apa, menyuruhnya duduk dulu, lalu mengeluarkan perekam suara.Marcel semakin bingung."Josie, apa maksudnya ini?""Semoga kamu nggak pingsan nanti." Aku tidak menjawab pertanyaannya.Setelah itu, aku menyalakan perekam suara."Viona ...!"Begitu mendengar nama Viona, Marcel langsung menoleh pada wanita itu,

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 8

    Itu suara seorang pria, dan aku yakin aku tidak mengenal suara pria itu.Tapi, aku agak terkejut.Ternyata, Viona memiliki utang kepada orang ini. Dan dari ucapannya, sepertinya utang yang sudah cukup lama."Bang Toni, jangan begitu. Aku minta waktu sepuluh hari lagi, pasti aku lunasi!"Itu suara Viona."Terakhir kali juga bilangnya begitu. Kamu suruh aku percaya lagi? Kamu pikir aku bocah ingusan!"Begitu pria bernama Bang Toni selesai bicara, terdengar suara seperti pakaian yang robek, disusul jeritan Viona.Aku berpikir dalam hati, dia pantas mendapatkan itu."Tahan dia, buat dia nggak berkutik!" Suara Bang Toni lagi."Sepuluh hari lagi saja. Nanti, aku bisa tambah satu miliar!" Viona berteriak panik.Pria bernama Bang Toni itu mendengarkannya."Beri tahu aku, pakai cara apa kamu mau kasih tambahan satu miliar?""Bang Toni, aku kenal direktur Grup Pranajaya, Marcel Pranajaya. Dia sudah jatuh ke tanganku.""Asal dia cerai dengan istrinya, aku yakin bisa membuatnya menikah denganku. K

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 7

    Ini benar-benar sudah di luar batas!"Kalau Marcel nggak meninggalkan mereka di jalan, mana mungkin mereka tertabrak mobil?""Yang membunuh mereka itu anakmu, bukan aku!" Aku membantah sambil menuding Marcel."Alasan!"Ibu Marcel berkata dengan marah, "Biasanya kan kamu yang jemput Misya dan Masya, kenapa hari itu kamu nggak jemput mereka? Kalau kamu jemput, apa mungkin sampai terjadi begitu?""Jujur saja, kamu pasti sengaja, 'kan?"Aku benar-benar marah. Bagaimana bisa ada orang seperti ini?Memutarbalikkan fakta, mengarang cerita sesukanya.Aku pun menatap Marcel. "Kamu bilang begitu padanya?""Nggak, Josie."Marcel menatapku dengan mata tidak berdaya dan memohon.Ibu Marcel menarik lengan anaknya."Dia sudah minta cerai, mau apa lagi kamu sama dia?"Kemudian, dia menatapku lagi dan membentak, "Boleh saja kalau kamu mau cerai, tapi kamu harus pergi tanpa membawa harta apa-apa!"Aku tertawa. Setelah memutarbalikkan kebenaran sekeras itu, pasti ini tujuan sebenarnya.Minta cucu kesayan

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 6

    "Biar kita bisa main ke sini kapan pun kita mau," jawab Misya sambil memiringkan kepalanya."Ma, ayo pindah ke sini." Masya menggenggam tanganku dan menatapku dengan penuh harap.Aku tersenyum dan berjanji kepada mereka, "Kalau kalian nurut, tahun depan kita pindah ke sini, oke?"Kedua putriku langsung bersorak mendengar kata-kataku."Oke, Misya dan Masya pasti selalu nurut sama Mama.""Mama yang terbaik di dunia!"Air mataku mengalir deras."Misya, Masya, kalian lihat? Kita sekarang tinggal di dekat taman hiburan. Kita bahkan bisa lihat taman hiburannya dari sini ...."Aku terisak, menyalahkan diriku sendiri mengapa tidak pindah ke sini lebih awal. Agar kedua putriku bisa menikmati lebih banyak kebahagiaan di dunia ini.Sayangnya, sekarang sudah terlambat untuk mengatakan apa pun.Aku berdiri diam di balkon sampai hari gelap dan dering telepon membangunkanku dari lamunan.Aku mengeluarkan ponsel, itu panggilan dari ibu Marcel.Aku berpikir sebentar dan memutuskan untuk mengangkatnya.

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 5

    Ada nada memohon dalam suaranya. Ini pertama kalinya dia berbicara kepadaku dengan nada seperti itu.Aku meliriknya."Kalau aku nggak pergi, bukannya kamu jadi nggak bebas bersama Viona?"Marcel berlari menghampiriku, lalu memelukku erat-erat dan memohon, "Josie, maafkan aku. Aku sudah menyakitimu.""Tapi, aku dan Viona cuma teman, nggak lebih dari itu. Percayalah padaku."Percaya?Aku terlalu percaya, sehingga dia berulang kali menginjak-injak kepercayaanku. Sampai akhirnya dia rela meninggalkan keluarga dan anak-anaknya demi Viona.Seandainya aku pergi lebih awal, mungkin Misya dan Masya masih ada di sampingku.Aku benci Marcel, tapi aku lebih membenci diriku sendiri."Tapi, kalian berdua menurutku memang yang paling cocok."Itu perasaanku yang sebenarnyaMereka sedekat itu, sayang sekali kalau tidak jadi suami istri.Marcel menggeleng."Nggak, Josie, yang paling cocok itu kita. Aku selalu mencintaimu, dan kamu juga selalu mencintaiku, 'kan?""Aku tahu kamu sedih Misya dan Masya meni

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 4

    Wajah Marcel seketika memucat, matanya membelalak, dan ponselnya terlepas dari tangannya, lalu hancur berkeping-keping."Jocelyn, Misya dan Masya kecelakaan mobil, kenapa kamu nggak beri tahu aku?" Marcel menatapku dengan tatapan dingin dan putus asa."Nggak beri tahu kamu?"Aku tertawa, hatiku sudah mati. " Aku telepon kamu puluhan kali, apa pernah kamu angkat? Andai kamu nggak tinggalkan Misya dan Masya di tengah jalan, mana mungkin mereka tertabrak mobil dan mati?""Tahu nggak, waktu Masya masih di pelukanku, dia panggil-panggil Ayah terus.""Kamu waktu itu sedang apa? Sedang bermesraan dengan Viona!""Kamu pembunuh mereka! Kamu yang membuat Masya meninggal dengan mata terbuka!"Masya yang sekarat masih memanggil-manggil Marcel, tidak lain karena ingin merasakan kasih sayang ayah untuk terakhir kalinya.Tapi, Marcel malah bersama Viona, bahkan tidak mau mengangkat telepon.Betapa putus asanya Masya saat itu?Marcel terduduk lemas, wajahnya pucat pasi."Nggak, nggak, bukan begitu. Po

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status