Short
Di Kala Kematian Anak Kembarku

Di Kala Kematian Anak Kembarku

By:  GastonCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
3.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat hari raya, suamiku menjemput anak kembar kami pulang sekolah, tapi tiba-tiba mendapat telepon dari wanita pujaan hatinya. Dia pun meninggalkan anak-anak di pinggir jalan dan menyuruhku menjemput mereka. Aku meninggalkan klien yang sedang kutemui dan bergegas menjemput anak-anak. Sayangnya, aku terlambat. Anak sulungku tertabrak mobil dan terlempar, sedangkan adiknya sekarat di pelukanku, merintih kesakitan sambil terus memanggil-manggil ayahnya. Ambulans belum tiba, ayahnya belum datang juga, akhirnya anak bungsuku meninggal. Aku memeluk tubuh kedua putriku dan meratap di jalan. Wanita pujaan hati suamiku mengunggah sebuah foto di media sosial dilengkapi tulisan: [Pengakuan cinta yang paling tulus adalah kehadiran kapan pun saat dibutuhkan. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar bagiku!] Di belakang tulisan itu ada enam emoji bibir merah. Fotonya menunjukkan kepala suamiku dan pujaan hatinya bersandar satu sama lain, tangan mereka terulur ke atas kepala, membuat bentuk hati. Dengan hati hancur, aku mengirimkan postingan itu kepada suamiku sambil mengirim pesan: [Anak-anakmu nggak sepenting pujaan hatimu?] Pada hari pemakaman, dia baru menjawab dengan tidak sabar: [Anak-anak sudah tujuh tahun, apa masih perlu didampingi setiap saat?]

View More

Chapter 1

Bab 1

[Marcel, kita cerai saja.]

Sebelum air mataku mengering, aku mengirim pesan ini kepada Marcel lalu mematikan ponselku.

Aku menemani Misya dan Masya di rumah duka selama tiga hari dan menangis sepanjang waktu. Air mataku sudah kering.

Hari keempat, jenazah mereka dikremasi.

Saat aku pulang membawa abu anak-anakku, aku melihat Marcel dan Viona sedang saling menyuapi.

Mereka masih tersenyum manis, seolah-olah rumah ini bukan milikku, melainkan hanya milik mereka berdua.

Dulu, aku pasti akan mencoba berkomunikasi dengan Marcel, memintanya mempertimbangkan dampaknya terhadap anak-anak.

Namun, sejak putri kami meninggal, Marcel telah menjadi orang asing di hatiku. Biarlah dia dan Viona berbuat sesuka hati.

Saat Viona melihatku, dia mengunyah makanan di mulutnya sambil mengangkat dagunya menatapku.

Tatapannya tampak memprovokasi.

Aku akui, tindakannya cukup berdasar.

Karena selama delapan tahun menikah, Marcel tidak pernah sekali pun menyuapiku.

Bahkan, kedua anak kami pun harus memohon padanya berulang kali sebelum mendapat kesempatan untuk disuapi.

Viona mengangkat dagunya lagi, membuka bibir merahnya, memberi isyarat kepada Marcel untuk menyuapinya.

Marcel menatapnya dengan mata penuh kasih sayang dan menyuapkan makanan lagi.

Selesai menyuapi, dia baru merasakan ada seseorang di belakangnya.

Begitu melihat aku, semua rasa sayang dan kelembutan di matanya berubah menjadi rasa jengkel dan tidak sabar.

"Masih berani pulang? Tiga hari, aku telepon ratusan kali, nggak pernah kamu angkat!"

"Apa kamu masih peduli dengan keluarga kita?"

Dia mengerutkan kening, seakan-akan apa pun yang terjadi adalah salahku dan dia tidak pernah salah.

Hanya di hadapan Viona dia menjadi pria yang baik, seorang sahabat yang setia yang selalu ada.

"Kamu masih menganggap keluarga kita?" ejekku.

Jika Marcel memiliki sedikit saja rasa peduli pada keluarga ini, dia tidak akan meninggalkan anak-anaknya di tengah jalan. Anak-anaknya pun tidak akan tertabrak mobil hingga tewas.

Jika dia memiliki sedikit pun rasa perhatian pada keluarga ini, dia seharusnya tahu bahwa anak-anaknya mengalami kecelakaan.

Kini, jenazah putri-putrinya baru saja dikubur, dia sudah membawa pujaan hatinya pulang dan bermesraan dengannya.

Pantaskah itu dilakukan seorang ayah, seorang pria yang sudah beristri?

Memikirkan semua ini, tatapanku menjadi semakin dingin.

Marcel hanya melirikku dengan acuh tak acuh.

"Nggak usah nyindir. Sekarang itu kamu yang nggak pulang ke rumah! Apa pantas seorang istri dan ibu bertingkah begitu?"

"Anak-anak kamu bawa ke mana saja?"

Aku pun menyindir lagi.

"Masih berani kamu bawa nama anak-anak? Bukannya wanita ini lebih penting dari mereka di hatimu?" Aku menyindirnya lagi.

Misya dan Masya baru berusia tujuh tahun, belum sempat menikmati hidup mereka, tapi kini sudah menjadi abu.

Adakah hal yang lebih kejam dari ini?

"Aku kan cuma suruh kamu jemput mereka sekali, kenapa harus ngomel sampai segitunya? Viona kemarin sedang sakit, nggak ada yang merawatnya. Sudah seharusnya aku pergi menemaninya, kan?" Marcel mulai kesal.

Kata-kata Marcel itu menusuk hatiku.

Dalam benakku, tiba-tiba terbayang sosok Misya yang berlumuran darah setelah tertabrak mobil. Serta Masya yang terbaring di pelukanku sambil memuntahkan darah dan berkata dengan suara terisak, "Ma, sakit, aku sakit."

Hatiku terasa seperti berdarah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
kenapa ya jd pelakor itu hrs jd iblis..tp pas dibls cara iblis minta ampun.
2026-06-08 04:08:52
0
0
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status