LOGINSaat hari raya, suamiku menjemput anak kembar kami pulang sekolah, tapi tiba-tiba mendapat telepon dari wanita pujaan hatinya. Dia pun meninggalkan anak-anak di pinggir jalan dan menyuruhku menjemput mereka. Aku meninggalkan klien yang sedang kutemui dan bergegas menjemput anak-anak. Sayangnya, aku terlambat. Anak sulungku tertabrak mobil dan terlempar, sedangkan adiknya sekarat di pelukanku, merintih kesakitan sambil terus memanggil-manggil ayahnya. Ambulans belum tiba, ayahnya belum datang juga, akhirnya anak bungsuku meninggal. Aku memeluk tubuh kedua putriku dan meratap di jalan. Wanita pujaan hati suamiku mengunggah sebuah foto di media sosial dilengkapi tulisan: [Pengakuan cinta yang paling tulus adalah kehadiran kapan pun saat dibutuhkan. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar bagiku!] Di belakang tulisan itu ada enam emoji bibir merah. Fotonya menunjukkan kepala suamiku dan pujaan hatinya bersandar satu sama lain, tangan mereka terulur ke atas kepala, membuat bentuk hati. Dengan hati hancur, aku mengirimkan postingan itu kepada suamiku sambil mengirim pesan: [Anak-anakmu nggak sepenting pujaan hatimu?] Pada hari pemakaman, dia baru menjawab dengan tidak sabar: [Anak-anak sudah tujuh tahun, apa masih perlu didampingi setiap saat?]
View MoreViona mengangkat dagunya, dengan senyum tipis di bibirnya, menatapku dari sudut matanya.Aku tertawa dalam hati.'Berani menantangku? Dasar nggak tahu diri. Nggak masalah. Tunggu aku selesai dengan Marcel, nanti juga kamu dapat giliran!'Marcel mengira aku marah karena melihatnya bersama Viona, jadi dia buru-buru memberi penjelasan, "Josie, jangan salah paham. Aku sedang nggak enak badan, dan kebetulan Viona datang menjengukku.""Dia khawatir, jadi dia ikut datang menemaniku."Aku mengalihkan pandangan dan menatap Marcel."Nggak usah banyak omong. Aku suruh kamu datang ke sini karena ada sesuatu yang menurutku harus kamu ketahui.""Apa?" Marcel tampak bingung.Aku tidak berkata apa-apa, menyuruhnya duduk dulu, lalu mengeluarkan perekam suara.Marcel semakin bingung."Josie, apa maksudnya ini?""Semoga kamu nggak pingsan nanti." Aku tidak menjawab pertanyaannya.Setelah itu, aku menyalakan perekam suara."Viona ...!"Begitu mendengar nama Viona, Marcel langsung menoleh pada wanita itu,
Itu suara seorang pria, dan aku yakin aku tidak mengenal suara pria itu.Tapi, aku agak terkejut.Ternyata, Viona memiliki utang kepada orang ini. Dan dari ucapannya, sepertinya utang yang sudah cukup lama."Bang Toni, jangan begitu. Aku minta waktu sepuluh hari lagi, pasti aku lunasi!"Itu suara Viona."Terakhir kali juga bilangnya begitu. Kamu suruh aku percaya lagi? Kamu pikir aku bocah ingusan!"Begitu pria bernama Bang Toni selesai bicara, terdengar suara seperti pakaian yang robek, disusul jeritan Viona.Aku berpikir dalam hati, dia pantas mendapatkan itu."Tahan dia, buat dia nggak berkutik!" Suara Bang Toni lagi."Sepuluh hari lagi saja. Nanti, aku bisa tambah satu miliar!" Viona berteriak panik.Pria bernama Bang Toni itu mendengarkannya."Beri tahu aku, pakai cara apa kamu mau kasih tambahan satu miliar?""Bang Toni, aku kenal direktur Grup Pranajaya, Marcel Pranajaya. Dia sudah jatuh ke tanganku.""Asal dia cerai dengan istrinya, aku yakin bisa membuatnya menikah denganku. K
Ini benar-benar sudah di luar batas!"Kalau Marcel nggak meninggalkan mereka di jalan, mana mungkin mereka tertabrak mobil?""Yang membunuh mereka itu anakmu, bukan aku!" Aku membantah sambil menuding Marcel."Alasan!"Ibu Marcel berkata dengan marah, "Biasanya kan kamu yang jemput Misya dan Masya, kenapa hari itu kamu nggak jemput mereka? Kalau kamu jemput, apa mungkin sampai terjadi begitu?""Jujur saja, kamu pasti sengaja, 'kan?"Aku benar-benar marah. Bagaimana bisa ada orang seperti ini?Memutarbalikkan fakta, mengarang cerita sesukanya.Aku pun menatap Marcel. "Kamu bilang begitu padanya?""Nggak, Josie."Marcel menatapku dengan mata tidak berdaya dan memohon.Ibu Marcel menarik lengan anaknya."Dia sudah minta cerai, mau apa lagi kamu sama dia?"Kemudian, dia menatapku lagi dan membentak, "Boleh saja kalau kamu mau cerai, tapi kamu harus pergi tanpa membawa harta apa-apa!"Aku tertawa. Setelah memutarbalikkan kebenaran sekeras itu, pasti ini tujuan sebenarnya.Minta cucu kesayan
"Biar kita bisa main ke sini kapan pun kita mau," jawab Misya sambil memiringkan kepalanya."Ma, ayo pindah ke sini." Masya menggenggam tanganku dan menatapku dengan penuh harap.Aku tersenyum dan berjanji kepada mereka, "Kalau kalian nurut, tahun depan kita pindah ke sini, oke?"Kedua putriku langsung bersorak mendengar kata-kataku."Oke, Misya dan Masya pasti selalu nurut sama Mama.""Mama yang terbaik di dunia!"Air mataku mengalir deras."Misya, Masya, kalian lihat? Kita sekarang tinggal di dekat taman hiburan. Kita bahkan bisa lihat taman hiburannya dari sini ...."Aku terisak, menyalahkan diriku sendiri mengapa tidak pindah ke sini lebih awal. Agar kedua putriku bisa menikmati lebih banyak kebahagiaan di dunia ini.Sayangnya, sekarang sudah terlambat untuk mengatakan apa pun.Aku berdiri diam di balkon sampai hari gelap dan dering telepon membangunkanku dari lamunan.Aku mengeluarkan ponsel, itu panggilan dari ibu Marcel.Aku berpikir sebentar dan memutuskan untuk mengangkatnya.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.