공유

Bab 2

작가: Gaston
Dalam foto-foto Viona, dia tidak terlihat sakit sama sekali.

Setelah membunuh kedua anaknya sendiri, berani-beraninya Marcel berbohong tanpa rasa bersalah?

"Cerai!" Aku tidak ingin bicara sepatah kata pun lagi dengan Marcel.

"Apa?!"

Marcel naik pitam. "Jocelyn! Cuma karena masalah sepele begini, kamu minta cerai?"

Viona juga ikut memanas-manasi. "Iya, kenapa pikiranmu sempit sekali? Kasihan Marcel punya istri sepertimu. Rugi besar."

Wajahku langsung memerah.

Marcel dan Viona adalah teman masa kecil. Keduanya pernah menjalin hubungan sebentar saat kuliah. Tapi, Viona kemudian sibuk mempersiapkan pendaftaran S2 dan mengabaikan Marcel, sehingga mereka putus.

Saat itulah aku mulai mengenal dan jatuh cinta kepada Marcel.

Namun, Marcel dan Viona tetap menjalin kontak.

Marcel mengatakan bahwa dia dan Viona hanyalah sahabat dekat.

Aku terlalu bodoh, terlalu naif.

Kemudian, aku menikah dengan Marcel dan memiliki anak kembar. Kupikir, dia akan berubah dan mulai menjaga hatinya demi keluarga kami.

Ternyata, dia malah semakin parah, sering pergi ke berbagai pesta bersama Viona dan baru pulang setelah dini hari pukul 2 atau 3.

Bahkan, mereka berdua pergi berlibur dan berbelanja ke negeri, memamerkan foto-foto mereka berdua di media sosial.

Banyak orang memperingatkanku agar waspada, jangan sampai dikhianati.

Untuk menjaga citra Marcel dan demi kedua anak kami, aku selalu mengatakan kepada orang bahwa dia dan Viona hanya teman. Viona juga berkata seperti itu padaku setiap kali mereka pergi.

Bahkan, ketika kedua putri kami menangis memanggil-manggil Ayah, aku tetap berusaha membela Marcel. Menjelaskan bahwa ayah mereka sibuk bekerja untuk mencari uang agar bisa membelikan mereka mainan dan makanan enak.

Setelah itu, aku memintanya pulang dan lebih sering bermain dengan anak-anak.

Marcel malah balik menyalahkanku, "Aku sudah capek kerja di luar. Tapi kamu bahkan nggak bisa ngurus anak? Apa pantas seorang ibu berbuat begitu?"

Setiap kali hal seperti ini terjadi, aku berkata kepada diri sendiri bahwa Marcel akan segera sadar.

Selain itu, aku tidak ingin anak-anakku diejek tidak punya ayah.

Aku terus menahan diri.

Akibatnya, kesabaranku justru berujung pada kematian kedua buah hatiku dan ejekan tanpa perasaan dari Marcel dan Viona.

Semua ini ulah dua orang sialan itu. Kalau bukan karena mereka, anak-anakku tidak akan mati!

Aku meletakkan abu anak-anakku di samping, menatap mereka dengan mata terbakar amarah, sangat ingin menampar mereka satu per satu.

"Kalian berdua anjing! Pergi dari sini! Pergi!"

Viona berlari ke sisi Marcel, menuding wajahku sambil berkata, "Jocelyn, kenapa kamu maki-maki?"

Aku menatap Viona. "Berani tuding-tuding wajahku lagi, aku patahkan jarimu!"

Viona ketakutan dan segera menarik jarinya kembali.

Marcel melindungi Viona di belakangnya, menatapku dengan marah.

"Jocelyn, kenapa kamu tiba-tiba seperti orang gila?"

"Kalau kamu hina aku, aku bisa nggak peduli. Tapi kamu hina Viona. Aku nggak akan pernah memaafkanmu!"

"Kamu mau cerai? Oke, kita cerai. Anak-anak harus ikut aku!"

Bahkan hingga sekarang, dia masih melindungi Viona.

Marcel sudah biasa seperti ini. Harusnya aku sudah mengerti sejak lama.

Sayangnya, aku terlambat, sehingga Misya dan Masya menjadi korban.

"Masih berani nyebut anak-anak? Sejak mereka lahir, apa pernah kamu sekali pun bertanggung jawab sebagai ayah?" ucapku sinis.

"Kenapa nggak berani? Aku kerja keras siang malam, demi siapa kalau bukan anak-anak? Kalau nggak, mana mungkin mereka sering kangen aku?"

Marcel pun menatapku tanpa perasaan. "Kamu bawa ke mana mereka? Kalau kamu nggak bawa pulang mereka sekarang juga, jangan harap bisa bertemu mereka lagi setelah cerai."

Aku tertawa, dan air mataku terlepas.

Andai mereka benar-benar masih ada, aku rela tidak pernah bertemu lagi seumur hidup.

Sekalipun mereka tidak pernah memanggilku "Mama" lagi, tidak apa-apa.

Asal mereka masih hidup di dunia ini.

Tapi, mereka sudah tiada.

Aku menunjuk guci berisi abu. "Marcel, tahu nggak, mereka nggak akan pernah pulang. Yang ada di depanmu ini abu kremasi anak-anakmu!"

...

Marcel terdiam sejenak, mengerutkan kening, lalu membentakku, "Jocelyn, kamu seorang ibu, bisa-bisanya mengutuk anak-anak sendiri! Mereka tiga hari yang lalu masih ...."

Aku memotongnya lagi, "Kamu tahu sendiri itu tiga hari yang lalu. Tiga hari yang lalu, kalau bukan karena kamu meninggalkan mereka di tengah jalan, mana mungkin mereka mati tertabrak mobil!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 9

    Viona mengangkat dagunya, dengan senyum tipis di bibirnya, menatapku dari sudut matanya.Aku tertawa dalam hati.'Berani menantangku? Dasar nggak tahu diri. Nggak masalah. Tunggu aku selesai dengan Marcel, nanti juga kamu dapat giliran!'Marcel mengira aku marah karena melihatnya bersama Viona, jadi dia buru-buru memberi penjelasan, "Josie, jangan salah paham. Aku sedang nggak enak badan, dan kebetulan Viona datang menjengukku.""Dia khawatir, jadi dia ikut datang menemaniku."Aku mengalihkan pandangan dan menatap Marcel."Nggak usah banyak omong. Aku suruh kamu datang ke sini karena ada sesuatu yang menurutku harus kamu ketahui.""Apa?" Marcel tampak bingung.Aku tidak berkata apa-apa, menyuruhnya duduk dulu, lalu mengeluarkan perekam suara.Marcel semakin bingung."Josie, apa maksudnya ini?""Semoga kamu nggak pingsan nanti." Aku tidak menjawab pertanyaannya.Setelah itu, aku menyalakan perekam suara."Viona ...!"Begitu mendengar nama Viona, Marcel langsung menoleh pada wanita itu,

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 8

    Itu suara seorang pria, dan aku yakin aku tidak mengenal suara pria itu.Tapi, aku agak terkejut.Ternyata, Viona memiliki utang kepada orang ini. Dan dari ucapannya, sepertinya utang yang sudah cukup lama."Bang Toni, jangan begitu. Aku minta waktu sepuluh hari lagi, pasti aku lunasi!"Itu suara Viona."Terakhir kali juga bilangnya begitu. Kamu suruh aku percaya lagi? Kamu pikir aku bocah ingusan!"Begitu pria bernama Bang Toni selesai bicara, terdengar suara seperti pakaian yang robek, disusul jeritan Viona.Aku berpikir dalam hati, dia pantas mendapatkan itu."Tahan dia, buat dia nggak berkutik!" Suara Bang Toni lagi."Sepuluh hari lagi saja. Nanti, aku bisa tambah satu miliar!" Viona berteriak panik.Pria bernama Bang Toni itu mendengarkannya."Beri tahu aku, pakai cara apa kamu mau kasih tambahan satu miliar?""Bang Toni, aku kenal direktur Grup Pranajaya, Marcel Pranajaya. Dia sudah jatuh ke tanganku.""Asal dia cerai dengan istrinya, aku yakin bisa membuatnya menikah denganku. K

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 7

    Ini benar-benar sudah di luar batas!"Kalau Marcel nggak meninggalkan mereka di jalan, mana mungkin mereka tertabrak mobil?""Yang membunuh mereka itu anakmu, bukan aku!" Aku membantah sambil menuding Marcel."Alasan!"Ibu Marcel berkata dengan marah, "Biasanya kan kamu yang jemput Misya dan Masya, kenapa hari itu kamu nggak jemput mereka? Kalau kamu jemput, apa mungkin sampai terjadi begitu?""Jujur saja, kamu pasti sengaja, 'kan?"Aku benar-benar marah. Bagaimana bisa ada orang seperti ini?Memutarbalikkan fakta, mengarang cerita sesukanya.Aku pun menatap Marcel. "Kamu bilang begitu padanya?""Nggak, Josie."Marcel menatapku dengan mata tidak berdaya dan memohon.Ibu Marcel menarik lengan anaknya."Dia sudah minta cerai, mau apa lagi kamu sama dia?"Kemudian, dia menatapku lagi dan membentak, "Boleh saja kalau kamu mau cerai, tapi kamu harus pergi tanpa membawa harta apa-apa!"Aku tertawa. Setelah memutarbalikkan kebenaran sekeras itu, pasti ini tujuan sebenarnya.Minta cucu kesayan

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 6

    "Biar kita bisa main ke sini kapan pun kita mau," jawab Misya sambil memiringkan kepalanya."Ma, ayo pindah ke sini." Masya menggenggam tanganku dan menatapku dengan penuh harap.Aku tersenyum dan berjanji kepada mereka, "Kalau kalian nurut, tahun depan kita pindah ke sini, oke?"Kedua putriku langsung bersorak mendengar kata-kataku."Oke, Misya dan Masya pasti selalu nurut sama Mama.""Mama yang terbaik di dunia!"Air mataku mengalir deras."Misya, Masya, kalian lihat? Kita sekarang tinggal di dekat taman hiburan. Kita bahkan bisa lihat taman hiburannya dari sini ...."Aku terisak, menyalahkan diriku sendiri mengapa tidak pindah ke sini lebih awal. Agar kedua putriku bisa menikmati lebih banyak kebahagiaan di dunia ini.Sayangnya, sekarang sudah terlambat untuk mengatakan apa pun.Aku berdiri diam di balkon sampai hari gelap dan dering telepon membangunkanku dari lamunan.Aku mengeluarkan ponsel, itu panggilan dari ibu Marcel.Aku berpikir sebentar dan memutuskan untuk mengangkatnya.

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 5

    Ada nada memohon dalam suaranya. Ini pertama kalinya dia berbicara kepadaku dengan nada seperti itu.Aku meliriknya."Kalau aku nggak pergi, bukannya kamu jadi nggak bebas bersama Viona?"Marcel berlari menghampiriku, lalu memelukku erat-erat dan memohon, "Josie, maafkan aku. Aku sudah menyakitimu.""Tapi, aku dan Viona cuma teman, nggak lebih dari itu. Percayalah padaku."Percaya?Aku terlalu percaya, sehingga dia berulang kali menginjak-injak kepercayaanku. Sampai akhirnya dia rela meninggalkan keluarga dan anak-anaknya demi Viona.Seandainya aku pergi lebih awal, mungkin Misya dan Masya masih ada di sampingku.Aku benci Marcel, tapi aku lebih membenci diriku sendiri."Tapi, kalian berdua menurutku memang yang paling cocok."Itu perasaanku yang sebenarnyaMereka sedekat itu, sayang sekali kalau tidak jadi suami istri.Marcel menggeleng."Nggak, Josie, yang paling cocok itu kita. Aku selalu mencintaimu, dan kamu juga selalu mencintaiku, 'kan?""Aku tahu kamu sedih Misya dan Masya meni

  • Di Kala Kematian Anak Kembarku   Bab 4

    Wajah Marcel seketika memucat, matanya membelalak, dan ponselnya terlepas dari tangannya, lalu hancur berkeping-keping."Jocelyn, Misya dan Masya kecelakaan mobil, kenapa kamu nggak beri tahu aku?" Marcel menatapku dengan tatapan dingin dan putus asa."Nggak beri tahu kamu?"Aku tertawa, hatiku sudah mati. " Aku telepon kamu puluhan kali, apa pernah kamu angkat? Andai kamu nggak tinggalkan Misya dan Masya di tengah jalan, mana mungkin mereka tertabrak mobil dan mati?""Tahu nggak, waktu Masya masih di pelukanku, dia panggil-panggil Ayah terus.""Kamu waktu itu sedang apa? Sedang bermesraan dengan Viona!""Kamu pembunuh mereka! Kamu yang membuat Masya meninggal dengan mata terbuka!"Masya yang sekarat masih memanggil-manggil Marcel, tidak lain karena ingin merasakan kasih sayang ayah untuk terakhir kalinya.Tapi, Marcel malah bersama Viona, bahkan tidak mau mengangkat telepon.Betapa putus asanya Masya saat itu?Marcel terduduk lemas, wajahnya pucat pasi."Nggak, nggak, bukan begitu. Po

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status