Teilen

Bab 6

Yina
Dalam perjalanan pulang, kata-kata Nathan terus terngiang di benak Anjani.

Tiap detail kecil yang pernah diceritakan Anjani kepada Nathan saat emosinya hancur, kini berubah menjadi belati-belati tajam yang menusuk diri Anjani sendiri.

Saat pertama kali mengetahui masa lalu Anjani dari mulut Anjani sendiri, Nathan yang biasanya begitu tegar, sampai meneteskan air mata.

Nathan merasa tidak terima atas ketidakadilan yang dialami Anjani dan ikut bersedih karenanya.

Nathan bahkan bersumpah akan memberikan kebahagiaan kepada Anjani.

Kini, dengan nada pasrah sekaligus mengejek, Nathan malah mengeluhkan tentang Anjani kepada adik tiri Anjani sendiri.

Anjani pun menarik napas dalam-dalam. Air matanya mengalir tanpa bisa dikendalikan, seakan air matanya tidak akan pernah berhenti mengalir.

Pandangan Anjani menjadi kabur dan napasnya juga menjadi tersengal-sengal.

Rasa sakit akibat kuku-kukunya yang menusuk telapak tangannya membantu Anjani tetap sedikit sadar, sehingga dia bisa pulang ke rumah.

Setelah meminum obat, barulah Anjani perlahan-lahan menjadi kembali tenang.

Sambil menatap dua kalung di dalam tasnya, Anjani memutuskan untuk merapikan semua barang pemberian Nathan. Dia lalu meminta bantuan seseorang untuk menyimpan barang-barang tersebut.

Nanti, saat Anjani benar-benar pergi, Anjani akan mengirimkan semua barang-barang itu kepada Nathan melalui jasa kurir lokal.

Tiba-tiba, Rendy si agen properti menelepon Anjani, mengabarkan jika sudah ada calon pembeli.

Rendy menanyakan kapan waktu yang tepat untuk datang melihat rumah.

Anjani pun membuat janji temu dengannya.

Calon pembeli yang datang untuk melihat rumah itu adalah pasangan yang sudah bertunangan dan akan segera menikah.

Dari tatapan si pria yang penuh gairah saat memandang tunangannya, jelas terlihat jika cinta mereka masih begitu membara.

"Sayang, rumah ini rasanya begitu hangat dan nyaman. Kita ambil yang ini saja, ya?"

Pria itu mengangguk, lalu mencolek ujung hidung wanita itu dengan penuh kasih sayang.

"Oke, terserah kamu."

Anjani tersentuh oleh manisnya momen romentisme mereka, sehingga tersenyum tipis.

Rumah ini adalah tempat berlindung yang diwariskan Nenek untuknya. Jika rumah ini bisa membuat pasangan suami istri itu bahagia ….

Neneknya di surga pasti juga akan merasa senang.

Saat menandatangani kontrak, Anjani melihat jika si wanita begitu menyukai ukiran kayu yang ada di ruang tamu. Oleh karena itu, Anjani memutuskan untuk memberikannya sebagai hadiah.

Anggap saja ini sebagai ucapan selamat atas pernikahan mereka.

Anjani lalu teringat saat Nathan, dengan tangan yang penuh luka, memberikan ukiran kayu itu kepadanya sambil tersenyum puas.

Nathan berkata, saat dia tidak ada, kelinci kecil ini akan menggantikan dirinya menemani Anjani.

Sekarang, Anjani sudah tidak lagi membutuhkan kehadiran Nathan.

Jika bukan karena pembeli itu menginginkannya, Anjani mungkin akan mengembalikannya kepada Nathan atau membuangnya.

Setelah semua prosedur selesai, tak lama kemudian Anjani menerima pembayaran untuk rumah tersebut.

Anjani lalu menginap di sebuah hotel dengan lingkungan yang cukup baik. Selain rutin pergi menjalani terapi, Anjani hanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan santai.

Sinar matahari di akhir musim hujan masih cukup hangat. Anjani sering duduk di taman terdekat dan berjemur di sana.

Seakan-akan, Nathan dan Jihan sudah menghilang dari hidupnya.

Selama beberapa waktu ini, Anjani merasakan ketenangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Sampai akhirnya, ketenangan itu terganggu oleh telepon dari Nathan.

"Cepat ke rumah sakit! Segera! Sekarang juga!"

Nada suara Nathan begitu tegas, juga begitu mendesak.

Sebenarnya, Anjani tidak ingin pergi. Setelah beberapa kali menjalani terapi, perasaannya terhadap Nathan dan Jihan sudah menjadi begitu asing.

Anjani tahu jika Jihan adalah adik tirinya, anak dari wanita simpanan yang sudah menghancurkan keluarganya.

Anjani bahkan menyaksikan adik tirinya itu berciuman dengan tunangannya yang akan segera menikah dengannya.

Saat membaca semua itu, Anjani sudah tidak lagi merasakan apa pun di dalam hati.

Anjani merasa, mereka sudah tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengan dirinya.

Namun, mengingat dia belum menjelaskan secara langsung mengenai perpisahan mereka kepada Nathan ….

Anjani pun akhirnya bangkit dan pergi.

Begitu sampai di rumah sakit, Anjani melihat semua orang berkumpul di ruang perawatan.

Ada Nathan, Lusy dan beberapa orang lainnya.

Anjani berdiri di luar pintu dan untuk sesaat dia tidak bisa menerobos masuk.

"Anjani! Kamu masih berani datang ke sini?"

Dion, yang baru saja kembali setelah mengambil air panas, berjalan masuk dan langsung marah besar begitu melihat Anjani.

Semua orang langsung menoleh ke arah suara itu dan tatapan mereka tampak penuh amarah juga benci.

Nathan membantu Jihan minum, lalu meletakkan gelas itu.

Dia pun menoleh ke arah Anjani. Sorot mata Nathan tampak penuh rasa kecewa yang begitu mendalam.

"Katakan padaku, kenapa kamu melakukan ini pada Jihan?"

Nathan lalu bergegas menghampiri Anjani. Dia tidak mampu menahan diri untuk tidak mencengkeram bahu Anjani dan dan mengguncang-guncangnya.

"Jihan sudah lama menderita depresi. Tapi, kamu malah menyuruh orang untuk mengancamnya di hotel!"

"Apa sebenarnya yang kamu rencanakan?"

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 24

    Nathan mengangkat kepalanya. Matanya tampak memerah dan menyiratkan sedikit harapan terakhir.Mereka berada di halaman kecil penginapan itu dan duduk di atas bangku batu yang dingin.Anjani tidak berbelit-belit dan langsung angkat bicara."Pak Nathan, saya pernah menjalani terapi MECT, demi melupakan beberapa hal yang terlalu menyakitkan.""Meski ada beberapa catatan di buku catatan itu, bagi saya, itu seperti kisah orang lain di kehidupan masa lalu. Saya nggak bisa merasakan cinta yang Anda bicarakan, juga nggak bisa merasakan kebencian yang Anda sebutkan."Anjani terdiam sejenak, lalu menatap ke arah cahaya lampu penginapan yang hangat di kejauhan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lembut, tetapi tegas."Saya sangat bahagia sekarang. Theo sangat baik pada saya dan kehidupan di sini membuat saya merasa tenang, juga puas. Inilah segala sesuatu yang saya inginkan.""Jadi, saya mohon ... lepaskan saja."Anjani menoleh dan menatap Nathan dengan pandangan yang jernih."Jangan coba-c

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 23

    Anjani menatap Nathan dengan tatapan mata yang jernih, tetapi jelas menjaga jarak.Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang, hingga terasa kejam."Pak, Anda salah orang, ya? Saya nggak kenal Anda."Anjani terdiam sejenak, lalu menambahkan."Lagi pula, ini rumah saya. Saya nggak akan pergi ke mana pun."Kata "Pak" itu, bagaikan jarum-jarum dingin yang menusuk ke dalam hati Nathan.Anjani tidak mengenalnya …. Dia bilang, di sinilah rumahnya ….Rasa putus asa dan panik yang luar biasa melanda Nathan bagaikan air pasang. Dia sudah mencari Anjani dengan susah payah, menanggung penderitaan yang menyiksa dan setelah akhirnya berhasil menemukannya, yang dia dapatkan malah kalimat yang tidak berarti, yaitu "tidak kenal".Theo mengulurkan tangan dan merangkul bahu Anjani dengan lembut, lalu mengusir Nathan."Pak, kalau Anda bukan tamu yang mau menginap, tolong jangan ganggu tamu saya dan … tunangan saya."Tunangan ….Nathan tiba-tiba terhuyung dan wajahnya l

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 22

    Hubungan antara Anjani dan Theo bagaikan musim semi di Kota Loman. Salju dan es mulai mencair, semuanya kembali hidup dan semuanya terjadi dengan alami, juga hangat.Tidak ada pengakuan cinta yang menggemparkan. Hanya di suatu senja, ketika matahari terbenam, saat keduanya berjalan berdampingan untuk pulang, setelah memeriksa jalur pendakian yang baru saja dibuka, Theo menggenggam tangan Anjani begitu saja. Anjani tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia menjadi rileks dan balas menggenggam tangan Theo.Kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka menggantikan semua kata-kata.Sejak saat itu, hari-hari mereka terasa manis.Mereka mengelola penginapan bersama, merencanakan rute wisata dan menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri.Di waktu luang, Theo akan mengendarai motornya untuk mengantar Anjani ke pedalaman padang rumput, menikmati keindahan bunga-bunga liar yang bermekaran.Atau, di saat Anjani sedang sibuk bekerja di meja, Theo diam-diam akan menyodorkan secangkir teh melati ke

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 21

    Menghadapi lonjakan jumlah tamu dan perhatian publik yang tiba-tiba, Anjani dan Theo mau tidak mau harus meningkatkan kerja sama mereka.Mereka berdiskusi bersama tentang cara mengoptimalkan layanan, cara menghadapi wawancara media, serta cara memenuhi kebutuhan banyak wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas penginapan mereka.Lantaran menghabiskan waktu bersama setiap hari, Anjani bisa merasakan dengan jelas jika Theo makin terbuka dalam menunjukkan perasaannya kepadanya.Theo tahu jika lambung Anjani kurang baik. Oleh karena itu, setiap pagi dia diam-diam menghangatkan segelas susu untuk Anjani.Saat Anjani bergadang untuk menyusun data, Theo diam-diam akan meletakkan lampu pelindung mata dan potongan buah di dekat tangan Anjani.Telinga Theo akan memerah ketika para wisatawan bersorak dan bergurau dengan mengatakan bahwa, "pemilik penginapan dan istrinya sangat serasi". Theo tidak membantahnya, melainkan hanya mencuri pandang ke arah Anjani.Perasaan seperti ini benar-benar hangat,

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 20

    Titik balik terjadi di penghujung musim gugur.Di tahun itu, Kota Loman menyambut fenomena aurora yang sangat aktif. Kejadian ini sangat langka dan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.Pita cahaya berwarna hijau dan ungu yang memukau, menari-nari di langit malam, begitu indah bagaikan mimpi.Anjani dengan sigap memanfaatkan peluang emas ini.Dia segera bekerja lembur untuk merancang naskah promosi dan video bertema "Mengejar Aurora Utara", serta menghubungi para pembuat konten wisata yang pernah bekerja sama dengannya sebelumnya. Anjani mengubah penginapan "Gemintang" menjadi titik pengamatan aurora yang paling sempurna.“Datanglah ke Gemintang, rebahan di tempat tidur sambil menyaksikan aurora!” Slogan tersebut benar-benar sangat menggoda.Dalam sekejap, kota kecil yang semula sepi itu diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin menyaksikan aurora.Penginapan "Gemintang" yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang juga kebanjiran tamu hampir setiap hari. Bahkan, pemesanan kama

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 19

    Langit Kota Loman berwarna biru jernih dan luas. Hal ini belum pernah dilihat oleh Anjani sebelumnya.Udara di sana dipenuhi kesegaran pohon pinus dan aroma tanah yang harum, sangat bertolak belakang dengan bau asap knalpot serta besi dan beton di kota besar.Anjani menyewa sebuah rumah tua dengan halaman kecil di pinggiran kota. Di halaman tersebut, tumbuh sebatang pohon sengon yang sudah tua.Tiap pagi, Anjani terbangun oleh kicauan burung. Hanya dengan membuka jendela, dia sudah bisa menyaksikan pegunungan di kejauhan yang bentuknya seperti alis.Anjani belajar hidup seperti warga kota itu. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, memasak makanannya sendiri dan sesekali belajar cara membuat asinan sayur, serta menjahit kasur kapuk yang tebal dari bibi tetangga.Sesekali, Anjani masih membolak-balik tulisan di buku catatannya. Namun, masa lalu tentang "Nathan" dan "Jihan" itu kini ketika membacanya, rasanya seperti membaca kisah orang asing dan Anjani tidak merasakan apa pun d

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status