Share

Bab 5

Author: Yina
Anjani mengklik foto itu. Foto itu adalah foto hadiah peringatan sepuluh tahun hubungan mereka dari Nathan.

Sebuah kalung merek legendaris luar negeri yang dipesan khusus, dengan batu rubi di atasnya, yang tetap memancarkan kilau memesona, bahkan di dalam foto sekalipun.

Saat menerimanya waktu itu, Anjani juga sempat terpesona oleh kilaunya. Namun, detik berikutnya, langsung terdengar ucapan ibu Nathan.

"Pinter banget kamu, ya. Tahu kalau transfer uang bisa diminta lagi, jadinya kamu suruh anakku membelikan perhiasan."

"Hebat juga kamu, ya. Anak yatim piatu bisa sampai kepikiran trik kayak begini."

Raut wajah Nathan langsung berubah. Akan tetapi, dia hanya bisa menatap ibunya dengan pasrah dan menegur pelan, "Bu …."

Anjani menolak permintaan Nathan untuk membantunya memakaikan kalung itu. Anjani hanya menyimpannya dengan hati-hati di brankas.

Kadang-kadang, Anjani mengeluarkannya hanya untuk melihatnya saja.

Namun, sekarang, sudah tidak perlu untuk mengambil kembali kalung itu.

Anjani pun membalas pesan Nathan: [Simpan saja dulu di tempatmu. Kita bicarakan lagi nanti.]

Setelah membalas pesan itu, Anjani tertidur lelap.

Saat terbangun, Nathan sudah duduk di tepi tempat tidurnya.

Melihat Anjani membuka mata, Nathan pun bertanya dengan suara yang terdengar serak, "Sudah bangun?"

"Aku datang untuk menjengukmu, sekaligus mengantarkan kalung itu."

Anjani tidak bangkit. Dia menerima kalung itu dan meletakkannya begitu saja di atas meja.

"Makasih. Sebenarnya, kamu nggak perlu repot-repot mengantarnya larut malam kayak gini."

Nathan menggelengkan kepala. "Kalung ini punya makna yang berbeda."

Dia menggenggam tangan Anjani. "Tiap kali melihat kalung ini, aku teringat pada semua momen indah yang pernah kita lewati bersama."

"Kita sudah melewati begitu banyak suka duka dan kesulitan. Sekarang, cuma karena masalah sepele, kita malah bertengkar dan saling mendiamkan …."

Saat mengatakannya, suara Nathan terdengar tercekat.

"Benar-benar nggak sepadan."

Anjani pun teringat pada masa lalu.

Demi meredakan demam Anjani, Nathan pernah berkendara di tengah malam untuk mengantarkan obat dan hampir mengalami kecelakaan.

Saat berdoa, seorang petapa meramalkan jika Anjani akan hidup kesepian dan menderita. Akan tetapi, Nathan bersikeras untuk melakukan sujud selangkah demi selangkah di seluruh area kuil untuk berdoa.

Dengan dahi bengkak dan lutut yang berdarah, Nathan memejamkan mata dengan khusyuk.

"Semoga Anjani hidup damai dan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna."

Ketika Anjani didiagnosis menderita kanker rahim dan dinyatakan tidak bisa lagi memiliki anak, Nathan melakukan vasektomi sebagai bentuk ketegasan sikapnya kepada ibunya.

Betapa indahnya masa-masa itu ….

Anjani menarik kembali tangannya. Memar biru dan bekas suntikan di punggung tangannya terlihat begitu jelas.

Namun, Nathan mengabaikan semua itu dan berkata kepada Anjani.

"Jihan kesulitan tinggal di hotel. Dia diare karena makan makanan pesan antar dan harus dirawat di rumah sakit."

"Bolehkah aku menemanimu ke rumah sakit untuk menjemputnya?"

Anjani pun menjawab dengan nada datar.

"Menjemputnya? Lalu, dia akan tinggal di mana? Nathan, aku sudah bilang, rumah ini mau kujual."

Nathan pun sedikit mengerutkan kening. "Kapan? Baik-baik saja begini, kenapa kamu jual rumah ini?"

Anjani pun menghela napas. "Tepat di hari ulang tahun Jihan."

"Aku sudah bilang, aku mau pindah rumah."

Nathan mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan tidak lagi berbicara.

Keduanya pun terdiam.

Beberapa saat kemudian, Nathan berdiri. "Kalau begitu, istirahatlah yang baik. Aku akan ke rumah sakit untuk menjenguk Jihan."

"Orang yang sakit nggak boleh dibiarkan sendirian."

Setelah mendengar suara pintu tertutup, Anjani menunggu sejenak, lalu berdiri dan menghapus sidik jari Nathan dari kunci pintu.

Dia lalu kembali ke tempat tidur, berbaring dan menutup matanya.

Semalam suntuk, Anjani tidak bisa tidur.

Pagi harinya, saat terbangun, kepala Anjani terasa pusing dan menabrak meja nakas.

Kalung itu pun terjatuh.

Lantaran takut kalung itu rusak sehingga sulit dikembalikan, Anjani pun mengambil kalung itu dan memeriksanya dengan saksama. Namun, Anjani melihat sebuah ukiran tulisan di bagian dalam kalung itu.

[LOVEJA]

Anjani berpikir sejenak, lalu bangkit dan membuka brankas.

Dia menemukan kalungnya sendiri masih tergeletak dengan baik di sana. Yang berbeda, kalung miliknya terukir tulisan, "AA".

JA, Jihan Adyatama.

Sudah jelas, siapa pemilik kalung itu.

Anjani menatap kalung itu untuk waktu yang cukup lama, lalu tiba-tiba tersenyum.

Sambil tersenyum, matanya pelan-pelan memerah.

Ternyata, hari peringatan hubungannya dengan Nathan, juga merupakan hari peringatan hubungan Nathan dan Jihan.

Anjani pun menyeka air matanya, membungkus kedua kalung itu dengan rapi, lalu pergi ke rumah sakit.

Sesampainya di depan pintu ruang perawatan, Anjani berhenti sejenak. Dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, sebelum mengulurkan tangannya untuk mendorong pintu.

Terdengar suara Nathan dari dalam ruangan.

"Jihan, cuma bersamamu, hatiku baru terasa tenang."

"Mungkin, karena tumbuh di keluarga yang nggak harmonis, Anjani jadi banyak beban pikiran."

"Anjani itu orangnya sensitif, curigaan, juga mandiri. Lama-kelamaan, pasti bikin stres."

Tangan Anjani gemetar hebat, sementara Nathan masih terus berbicara.

"Kamu beda dengan kakakmu. Kamu begitu ceria dan supel …."

Sebelum Nathan menyelesaikan kata-katanya, Anjani sudah berbalik dan berlari pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 24

    Nathan mengangkat kepalanya. Matanya tampak memerah dan menyiratkan sedikit harapan terakhir.Mereka berada di halaman kecil penginapan itu dan duduk di atas bangku batu yang dingin.Anjani tidak berbelit-belit dan langsung angkat bicara."Pak Nathan, saya pernah menjalani terapi MECT, demi melupakan beberapa hal yang terlalu menyakitkan.""Meski ada beberapa catatan di buku catatan itu, bagi saya, itu seperti kisah orang lain di kehidupan masa lalu. Saya nggak bisa merasakan cinta yang Anda bicarakan, juga nggak bisa merasakan kebencian yang Anda sebutkan."Anjani terdiam sejenak, lalu menatap ke arah cahaya lampu penginapan yang hangat di kejauhan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lembut, tetapi tegas."Saya sangat bahagia sekarang. Theo sangat baik pada saya dan kehidupan di sini membuat saya merasa tenang, juga puas. Inilah segala sesuatu yang saya inginkan.""Jadi, saya mohon ... lepaskan saja."Anjani menoleh dan menatap Nathan dengan pandangan yang jernih."Jangan coba-c

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 23

    Anjani menatap Nathan dengan tatapan mata yang jernih, tetapi jelas menjaga jarak.Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang, hingga terasa kejam."Pak, Anda salah orang, ya? Saya nggak kenal Anda."Anjani terdiam sejenak, lalu menambahkan."Lagi pula, ini rumah saya. Saya nggak akan pergi ke mana pun."Kata "Pak" itu, bagaikan jarum-jarum dingin yang menusuk ke dalam hati Nathan.Anjani tidak mengenalnya …. Dia bilang, di sinilah rumahnya ….Rasa putus asa dan panik yang luar biasa melanda Nathan bagaikan air pasang. Dia sudah mencari Anjani dengan susah payah, menanggung penderitaan yang menyiksa dan setelah akhirnya berhasil menemukannya, yang dia dapatkan malah kalimat yang tidak berarti, yaitu "tidak kenal".Theo mengulurkan tangan dan merangkul bahu Anjani dengan lembut, lalu mengusir Nathan."Pak, kalau Anda bukan tamu yang mau menginap, tolong jangan ganggu tamu saya dan … tunangan saya."Tunangan ….Nathan tiba-tiba terhuyung dan wajahnya l

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 22

    Hubungan antara Anjani dan Theo bagaikan musim semi di Kota Loman. Salju dan es mulai mencair, semuanya kembali hidup dan semuanya terjadi dengan alami, juga hangat.Tidak ada pengakuan cinta yang menggemparkan. Hanya di suatu senja, ketika matahari terbenam, saat keduanya berjalan berdampingan untuk pulang, setelah memeriksa jalur pendakian yang baru saja dibuka, Theo menggenggam tangan Anjani begitu saja. Anjani tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia menjadi rileks dan balas menggenggam tangan Theo.Kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka menggantikan semua kata-kata.Sejak saat itu, hari-hari mereka terasa manis.Mereka mengelola penginapan bersama, merencanakan rute wisata dan menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri.Di waktu luang, Theo akan mengendarai motornya untuk mengantar Anjani ke pedalaman padang rumput, menikmati keindahan bunga-bunga liar yang bermekaran.Atau, di saat Anjani sedang sibuk bekerja di meja, Theo diam-diam akan menyodorkan secangkir teh melati ke

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 21

    Menghadapi lonjakan jumlah tamu dan perhatian publik yang tiba-tiba, Anjani dan Theo mau tidak mau harus meningkatkan kerja sama mereka.Mereka berdiskusi bersama tentang cara mengoptimalkan layanan, cara menghadapi wawancara media, serta cara memenuhi kebutuhan banyak wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas penginapan mereka.Lantaran menghabiskan waktu bersama setiap hari, Anjani bisa merasakan dengan jelas jika Theo makin terbuka dalam menunjukkan perasaannya kepadanya.Theo tahu jika lambung Anjani kurang baik. Oleh karena itu, setiap pagi dia diam-diam menghangatkan segelas susu untuk Anjani.Saat Anjani bergadang untuk menyusun data, Theo diam-diam akan meletakkan lampu pelindung mata dan potongan buah di dekat tangan Anjani.Telinga Theo akan memerah ketika para wisatawan bersorak dan bergurau dengan mengatakan bahwa, "pemilik penginapan dan istrinya sangat serasi". Theo tidak membantahnya, melainkan hanya mencuri pandang ke arah Anjani.Perasaan seperti ini benar-benar hangat,

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 20

    Titik balik terjadi di penghujung musim gugur.Di tahun itu, Kota Loman menyambut fenomena aurora yang sangat aktif. Kejadian ini sangat langka dan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.Pita cahaya berwarna hijau dan ungu yang memukau, menari-nari di langit malam, begitu indah bagaikan mimpi.Anjani dengan sigap memanfaatkan peluang emas ini.Dia segera bekerja lembur untuk merancang naskah promosi dan video bertema "Mengejar Aurora Utara", serta menghubungi para pembuat konten wisata yang pernah bekerja sama dengannya sebelumnya. Anjani mengubah penginapan "Gemintang" menjadi titik pengamatan aurora yang paling sempurna.“Datanglah ke Gemintang, rebahan di tempat tidur sambil menyaksikan aurora!” Slogan tersebut benar-benar sangat menggoda.Dalam sekejap, kota kecil yang semula sepi itu diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin menyaksikan aurora.Penginapan "Gemintang" yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang juga kebanjiran tamu hampir setiap hari. Bahkan, pemesanan kama

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 19

    Langit Kota Loman berwarna biru jernih dan luas. Hal ini belum pernah dilihat oleh Anjani sebelumnya.Udara di sana dipenuhi kesegaran pohon pinus dan aroma tanah yang harum, sangat bertolak belakang dengan bau asap knalpot serta besi dan beton di kota besar.Anjani menyewa sebuah rumah tua dengan halaman kecil di pinggiran kota. Di halaman tersebut, tumbuh sebatang pohon sengon yang sudah tua.Tiap pagi, Anjani terbangun oleh kicauan burung. Hanya dengan membuka jendela, dia sudah bisa menyaksikan pegunungan di kejauhan yang bentuknya seperti alis.Anjani belajar hidup seperti warga kota itu. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, memasak makanannya sendiri dan sesekali belajar cara membuat asinan sayur, serta menjahit kasur kapuk yang tebal dari bibi tetangga.Sesekali, Anjani masih membolak-balik tulisan di buku catatannya. Namun, masa lalu tentang "Nathan" dan "Jihan" itu kini ketika membacanya, rasanya seperti membaca kisah orang asing dan Anjani tidak merasakan apa pun d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status