分享

Bab 7

作者: Yina
Bahu Anjani terasa begitu sakit karena dicengkeram dengan begitu kuatnya oleh Nathan. Anjani pun mencoba meminta Nathan untuk melepaskannya.

Akan tetapi, Nathan sama sekali tidak mendengarkannya.

Orang-orang di sekitar juga tidak peduli menyaksikan perlakuan Nathan kepada Anjani.

Di antara mereka, ada sahabat baik yang pernah dia pinjami seluruh tabungannya, serta ada bawahan yang pernah diberinya kesempatan untuk bergadang semalaman untuk merevisi proposal, untuk memperbaiki kesalahannya.

Namun, mereka semua, tanpa terkecuali, menatap Anjani dengan penuh kebencian.

Seakan-akan, Anjani adalah orang yang sudah melakukan kejahatan yang begitu keji.

"Bukan aku!"

"Selama ini, aku bahkan nggak pernah ketemu dia."

"Lagian, aku juga baru tahu hari ini kalau Jihan menderita depresi."

Lusy akhirnya tidak tahan lagi dan angkat bicara.

"Kamu masih bilang nggak tahu? Kalau kamu benar-benar nggak tahu, kenapa kamu gunakan statusmu sebagai wali untuk melarang dokter memberikan obat pada Jihan?"

"Kalau Jihan minum obat tepat waktu, emosinya nggak bakal tersulut kayak gini!"

"Sampai sekarang kamu masih mau membela diri? Kamu sadar nggak kalau Jihan hampir meninggal?"

Barulah pada saat itu Anjani melihat Jihan yang bersembunyi di belakang Nathan dengan tubuh gemetar ketakutan.

"Jihan? Kamu kenapa?"

Mendengar suara Anjani, tubuh Jihan langsung tersentak kaget. Setelah itu, Jihan sama sekali tidak bergerak dan menundukkan kepala. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

Anjani mendekat. Dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya itu.

Tak disangka, Jihan tiba-tiba berteriak ketakutan, "Jangan mendekat!"

Lalu, Jihan dengan panik meraih benda-benda di sekitarnya dan melemparkannya ke arah Anjani.

Anjani tidak sempat menghindar dan langsung terkena lemparan itu.

Dahi Anjani robek cukup parah dan darah mengalir deras.

Nathan langsung berdiri di depan Jihan dan berteriak kepada Anjani.

"Pergi! Jangan dekati dia!"

Anjani menghela napas dalam-dalam sambil menutupi lukanya.

Dia harus menjelaskan semuanya kepada Nathan.

Setelah keluar dari ruang perawatan, Anjani masih bisa mendengar suara mereka yang menghibur Jihan melalui pintu.

Melalui kaca, Anjani melihat Nathan mengoleskan obat di tangan Jihan dengan hati-hati.

Semua orang terus menenangkan Jihan dan mengatakan bahwa "orang jahat" sudah pergi.

Jihan pun perlahan mulai tenang, lalu memeluk Nathan erat-erat.

Nathan membalas pelukan Jihan dengan lembut, sambil menepuk-nepuk punggung Jihan untuk menenangkannya.

Anjani pun memalingkan wajah. Dia lalu memanggil perawat untuk meminta obat dan plester luka.

Melihat wajah Anjani yang berlumuran darah, perawat itu pun terkejut dan segera membawa Anjani untuk dijahit.

"Setelah pulang, kamu harus sangat berhati-hati. Jangan sampai lukanya kena air."

"Sayang sekali, luka sedalam ini pasti akan meninggalkan bekas."

Anjani tersenyum untuk menenangkan perawat itu dan mengatakan tidak apa-apa.

Saat Anjani masih diobati, Nathan menemui Anjani.

Melihat perban yang menempel di dahi Anjani, langkah Nathan pun terhenti sejenak.

"Mental Jihan lagi nggak stabil. Dia nggak sengaja melakukannya."

"Nggak usah terlalu dipikirkan."

Anjani menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa. Aku nggak akan mempermasalahkan hal ini dengan seorang pasien."

"Justru kamu yang lebih repot. Merawat pasien itu sangat melelahkan."

Wajah Anjani tampak tenang. Jelas terlihat jika dia benar-benar tidak memedulikan hal itu.

Nathan tertegun untuk sesaat. Dia sebenarnya sudah bersiap untuk bertengkar dengan Anjani.

Namun, kini, ketika Anjani bersikap lapang dada dan menunjukkan pengertiannya, Nathan malah tiba-tiba tidak tahu harus berkata apa.

"Kamu … baguslah kalau kamu bisa mengerti."

"Lukanya masih sakit? Parah nggak?"

Nathan ingin mendekat untuk memeriksa luka Anjani, tetapi Anjani secara refleks mundur, menghindari sentuhan Nathan.

Tangan Nathan terhenti di udara. Setelah beberapa saat, Nathan menurunkan kembali tangannya dengan lesu.

Sebelum Nathan bisa berkata-kata, Anjani sudah terlebih dahulu berkata kepadanya.

"Soal Jihan, bukan aku yang melakukannya."

Nathan refleks membantahnya, "Orang-orang yang datang membuat onar itu sudah mengatakan kalau kamu pelakunya!"

"Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi? Apa mungkin Jihan menakut-nakuti dirinya sendiri?"

Anjani tidak mampu berkata-kata.

Setelah terdiam sejenak, Anjani pun berkata, "Kalau kamu berpikir begitu, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa."

"Aku datang kali ini, terutama karena ada urusan yang mau kubicarakan denganmu. Kita berpisah …."

Sebelum Anjani selesai berbicara, Lusy tiba-tiba berlari mendekat dari kejauhan. Napasnya tersengal-sengal dan berkata.

"Gawat, Jihan bangun dan nggak lihat kamu. Mentalnya langsung kacau!"

Tanpa ragu sedikit pun, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nathan langsung berbalik dan berlari menuju ruang perawatan Jihan.

Anjani memandangi sosok Nathan yang menjauh itu dan diam-diam mengucapkan selamat tinggal di dalam hati.

Sembilan hari lagi adalah sesi terapi Anjani yang terakhir. Saat itu tiba, Anjani akan melupakan segalanya.

Melupakan sepenuhnya dan tidak akan pernah mengingatnya kembali.

Anjani pun berbalik dan pergi. Dia mengucapkan selamat tinggal selamanya pada hubungan mereka selama sepuluh tahun itu, serta pada paruh pertama hidupnya yang penuh penderitaan dan lika-liku.

Namun, sebelum Anjani bisa keluar dari rumah sakit, seseorang tiba-tiba menangkapnya dari belakang.

Sebelum Anjani bisa meronta, rasa sakit yang begitu tajam menghantam bagian belakang kepalanya dan Anjani pun kehilangan kesadaran.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 24

    Nathan mengangkat kepalanya. Matanya tampak memerah dan menyiratkan sedikit harapan terakhir.Mereka berada di halaman kecil penginapan itu dan duduk di atas bangku batu yang dingin.Anjani tidak berbelit-belit dan langsung angkat bicara."Pak Nathan, saya pernah menjalani terapi MECT, demi melupakan beberapa hal yang terlalu menyakitkan.""Meski ada beberapa catatan di buku catatan itu, bagi saya, itu seperti kisah orang lain di kehidupan masa lalu. Saya nggak bisa merasakan cinta yang Anda bicarakan, juga nggak bisa merasakan kebencian yang Anda sebutkan."Anjani terdiam sejenak, lalu menatap ke arah cahaya lampu penginapan yang hangat di kejauhan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lembut, tetapi tegas."Saya sangat bahagia sekarang. Theo sangat baik pada saya dan kehidupan di sini membuat saya merasa tenang, juga puas. Inilah segala sesuatu yang saya inginkan.""Jadi, saya mohon ... lepaskan saja."Anjani menoleh dan menatap Nathan dengan pandangan yang jernih."Jangan coba-c

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 23

    Anjani menatap Nathan dengan tatapan mata yang jernih, tetapi jelas menjaga jarak.Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang, hingga terasa kejam."Pak, Anda salah orang, ya? Saya nggak kenal Anda."Anjani terdiam sejenak, lalu menambahkan."Lagi pula, ini rumah saya. Saya nggak akan pergi ke mana pun."Kata "Pak" itu, bagaikan jarum-jarum dingin yang menusuk ke dalam hati Nathan.Anjani tidak mengenalnya …. Dia bilang, di sinilah rumahnya ….Rasa putus asa dan panik yang luar biasa melanda Nathan bagaikan air pasang. Dia sudah mencari Anjani dengan susah payah, menanggung penderitaan yang menyiksa dan setelah akhirnya berhasil menemukannya, yang dia dapatkan malah kalimat yang tidak berarti, yaitu "tidak kenal".Theo mengulurkan tangan dan merangkul bahu Anjani dengan lembut, lalu mengusir Nathan."Pak, kalau Anda bukan tamu yang mau menginap, tolong jangan ganggu tamu saya dan … tunangan saya."Tunangan ….Nathan tiba-tiba terhuyung dan wajahnya l

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 22

    Hubungan antara Anjani dan Theo bagaikan musim semi di Kota Loman. Salju dan es mulai mencair, semuanya kembali hidup dan semuanya terjadi dengan alami, juga hangat.Tidak ada pengakuan cinta yang menggemparkan. Hanya di suatu senja, ketika matahari terbenam, saat keduanya berjalan berdampingan untuk pulang, setelah memeriksa jalur pendakian yang baru saja dibuka, Theo menggenggam tangan Anjani begitu saja. Anjani tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia menjadi rileks dan balas menggenggam tangan Theo.Kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka menggantikan semua kata-kata.Sejak saat itu, hari-hari mereka terasa manis.Mereka mengelola penginapan bersama, merencanakan rute wisata dan menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri.Di waktu luang, Theo akan mengendarai motornya untuk mengantar Anjani ke pedalaman padang rumput, menikmati keindahan bunga-bunga liar yang bermekaran.Atau, di saat Anjani sedang sibuk bekerja di meja, Theo diam-diam akan menyodorkan secangkir teh melati ke

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 21

    Menghadapi lonjakan jumlah tamu dan perhatian publik yang tiba-tiba, Anjani dan Theo mau tidak mau harus meningkatkan kerja sama mereka.Mereka berdiskusi bersama tentang cara mengoptimalkan layanan, cara menghadapi wawancara media, serta cara memenuhi kebutuhan banyak wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas penginapan mereka.Lantaran menghabiskan waktu bersama setiap hari, Anjani bisa merasakan dengan jelas jika Theo makin terbuka dalam menunjukkan perasaannya kepadanya.Theo tahu jika lambung Anjani kurang baik. Oleh karena itu, setiap pagi dia diam-diam menghangatkan segelas susu untuk Anjani.Saat Anjani bergadang untuk menyusun data, Theo diam-diam akan meletakkan lampu pelindung mata dan potongan buah di dekat tangan Anjani.Telinga Theo akan memerah ketika para wisatawan bersorak dan bergurau dengan mengatakan bahwa, "pemilik penginapan dan istrinya sangat serasi". Theo tidak membantahnya, melainkan hanya mencuri pandang ke arah Anjani.Perasaan seperti ini benar-benar hangat,

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 20

    Titik balik terjadi di penghujung musim gugur.Di tahun itu, Kota Loman menyambut fenomena aurora yang sangat aktif. Kejadian ini sangat langka dan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.Pita cahaya berwarna hijau dan ungu yang memukau, menari-nari di langit malam, begitu indah bagaikan mimpi.Anjani dengan sigap memanfaatkan peluang emas ini.Dia segera bekerja lembur untuk merancang naskah promosi dan video bertema "Mengejar Aurora Utara", serta menghubungi para pembuat konten wisata yang pernah bekerja sama dengannya sebelumnya. Anjani mengubah penginapan "Gemintang" menjadi titik pengamatan aurora yang paling sempurna.“Datanglah ke Gemintang, rebahan di tempat tidur sambil menyaksikan aurora!” Slogan tersebut benar-benar sangat menggoda.Dalam sekejap, kota kecil yang semula sepi itu diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin menyaksikan aurora.Penginapan "Gemintang" yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang juga kebanjiran tamu hampir setiap hari. Bahkan, pemesanan kama

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 19

    Langit Kota Loman berwarna biru jernih dan luas. Hal ini belum pernah dilihat oleh Anjani sebelumnya.Udara di sana dipenuhi kesegaran pohon pinus dan aroma tanah yang harum, sangat bertolak belakang dengan bau asap knalpot serta besi dan beton di kota besar.Anjani menyewa sebuah rumah tua dengan halaman kecil di pinggiran kota. Di halaman tersebut, tumbuh sebatang pohon sengon yang sudah tua.Tiap pagi, Anjani terbangun oleh kicauan burung. Hanya dengan membuka jendela, dia sudah bisa menyaksikan pegunungan di kejauhan yang bentuknya seperti alis.Anjani belajar hidup seperti warga kota itu. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, memasak makanannya sendiri dan sesekali belajar cara membuat asinan sayur, serta menjahit kasur kapuk yang tebal dari bibi tetangga.Sesekali, Anjani masih membolak-balik tulisan di buku catatannya. Namun, masa lalu tentang "Nathan" dan "Jihan" itu kini ketika membacanya, rasanya seperti membaca kisah orang asing dan Anjani tidak merasakan apa pun d

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status