Share

Bab 8

Author: Yina
Saat terbangun, mata Anjani silau oleh pendar cahaya putih rumah sakit.

Kepala Anjani terasa begitu sakit. Dia berusaha untuk bangun, tetapi mendapati seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Ketika menunduk, Anjani melihat tubuhnya diikat erat dengan tali pengikat.

Anjani pernah melihat alat ini saat menjalani terapi sebelumnya. Alat ini digunakan pada pasien untuk mencegah mereka melukai orang lain atau diri sendiri, akibat emosi yang tidak stabil.

Akan tetapi, mengapa dia diikat di sini?

Tiba-tiba, pintu terbuka.

Nathan perlahan muncul di hadapannya. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatap Anjani dengan ekspresi yang rumit.

"Nathan, lepaskan aku."

Nathan menggelengkan kepala. "Anjani, mental Jihan mengalami guncangan yang begitu hebat. Dokter bilang, kemungkinan pulihnya sangat kecil."

Anjani pun membalas, "Terus kenapa? Aku sudah bilang, masalah Jihan nggak ada hubungannya denganku."

"Aku nggak punya alasan untuk melakukan hal-hal seperti itu pada Jihan."

Rasa bersalah yang tersisa di mata Nathan pun lenyap sepenuhnya. "Kamu masih saja keras kepala dan nggak menyesal."

"Kalau begitu, aku juga nggak akan merasa kasihan lagi padamu."

"Rasakan sendiri betapa sulitnya pengobatan untuk depresi. Anggap saja ini sebagai ganti rugi untuk Jihan."

Setelah Nathan selesai berbicara, dia menandatangani formulir persetujuan yang diberikan dokter.

"Terima kasih, Dokter. Silakan mulai pengobatannya."

Nathan tidak lagi melirik Anjani sedikit pun.

Anjani menatap dokter yang sedang menyiapkan alat kejut listrik dengan mata yang melotot marah.

Dia berteriak memanggil Nathan.

Nathan tidak berbalik, juga tidak ragu-ragu. Dia membuka pintu dan pergi.

Anjani melihat dokter itu menyeringai jahat saat mendekatinya, sambil membawa alat kejut listrik.

"Bu Anjani, ya? Ada orang yang secara khusus memintaku untuk 'merawatmu'."

"Tenang saja, aku jamin setelah keluar dari sini, kulitmu nggak akan lecet sedikit pun."

Anjani menyaksikan pria itu perlahan menempelkan alat tersebut ke kedua pelipisnya.

Lalu, arus listrik tiba-tiba menyambar.

"Aaaaaahhh …."

Anjani tidak tahan dan menjerit.

Ternyata, kejut listrik begitu menyakitkan. Selama menjalani terapi MECT sebelumnya, Anjani dibius sehingga tidak merasakan apa-apa.

Sakit sekali! Sangat sakit!

Anjani ingin memberontak, tetapi tidak bisa bergerak sedikit pun.

Anjani ingin membuka mulut untuk menuntut penjelasan dan memaki. Namun, saat mencoba berbicara, Anjani menyadari jika dirinya sama sekali tidak memiliki tenaga.

Siapa yang harus dimaki? Siapa yang harus dia mintai penjelasan?

Apakah dia harus memaki Nathan yang tidak setia, atau Jihan yang egois?

Ataukah ibunya, yang sudah memberinya penderitaan, tetapi juga membesarkannya? Atau ayahnya, yang meninggalkan dia dan ibunya, lalu kabur bersama wanita simpanannya?

Paruh pertama hidup Anjani dihabiskan dalam kebencian dan penderitaan.

Sekarang, Anjani lelah. Dia tidak ingin lagi memikirkan semua itu.

Arus listrik berikutnya datang seperti yang sudah diduga dan membuat tubuh Anjani bergetar hebat tanpa bisa dia kendalikan.

Setelah sengatan listrik kali itu berhenti, Anjani terbaring kembali dengan tubuh lemas dan tidak bertenaga.

Air mata mengalir di sudut matanya.

Anjani mencoba menghibur dirinya sendiri, dengan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semua itu akan berlalu dan bahwa dia akan segera pergi meninggalkan tempat itu.

Tujuh hari kemudian, Anjani akhirnya dilepaskan.

Anjani tampak linglung dan tidak menunjukkan reaksi apa pun saat Nathan muncul.

Nathan memanggil namanya dengan lembut dan menyampirkan jaket di bahu Anjani.

"Anjani … aku akan antar kamu pulang."

Wajah Anjani terlihat tanpa emosi. Dia langsung melemparkan jaket itu ke lantai dan menepis tangan Nathan.

Anjani membuka mulutnya dan suaranya terdengar serak.

"Pergilah, Nathan. Aku nggak mau melihatmu lagi."

Nathan menatap jaketnya yang tergeletak di lantai dan hatinya dipenuhi perasaan yang sulit diungkapkan.

"Aku tahu, kamu pasti marah padaku. Tapi, percayalah, aku benar-benar melakukan ini demi kebaikanmu."

"Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Aku nggak bisa membiarkanmu terus-menerus menindas adikmu sendiri."

"Anjani, aku akan berikan ganti rugi yang layak kepadamu …."

Anjani tidak lagi berbicara. Bagaimanapun, sudah tidak ada gunanya lagi mengatakan apa pun.

Dia sudah tidak ingin lagi melihat Nathan dan sedang bingung bagaimana cara membuat pria itu berhenti mengikutinya.

Tiba-tiba, ponsel Nathan berdering.

Mata Nathan melirik nama si penelepon. Tangannya yang hendak menolak panggilan telepon itu pun terhenti dan dia mengangkatnya.

Suara Jihan terdengar dari ujung telepon.

"Kak Nathan, Kakak pergi ke mana?"

"Begitu bangun tidur dan nggak melihat Kakak, hatiku jadi sangat cemas."

"Apa Kakak juga akan meninggalkanku, seperti Ayah, Ibu dan Kak Anjani?"

Suara Nathan terdengar lembut. "Mana mungkin? Aku cuma … ada urusan mendadak."

"Aku ada acara di luar dan harus pergi. Aku akan segera kembali untuk menemanimu …."

Anjani dengan jelas mendengar suara isak tangis Jihan di ujung telepon.

"Kak Nathan, aku benar-benar takut, sungguh …."

Nathan tidak lagi memedulikan yang lain dan berkata, "Aku akan segera kembali." Kemudian, Nathan menutup telepon.

Anjani merasakan tatapan Nathan yang tertuju padanya, disertai keinginan untuk mengatakan sesuatu, tetapi kemudian menjadi ragu.

Anjani pun berkata dengan nada datar, "Kamu pulang aja. Aku bisa naik taksi sendiri."

Melihat raut wajah Anjani yang tampak begitu acuh tak acuh, Nathan pun ingin mengatakan sesuatu. Namun, dia teringat kembali pada Jihan yang mentalnya sedang hancur.

Akhirnya, Nathan memilih untuk segera kembali ke rumah sakit.

Anjani lalu naik taksi menuju pusat terapi dan menjalani sesi terapi MECT untuk yang terakhir kalinya.

Setelah Anjani menutup mata, perawat itu berkata dengan lembut.

"Bu Anjani, tenanglah. Ini sesi terapi yang terakhir."

"Semoga, ini menjadi terakhir kalinya aku melihatmu di sini dan semoga hidupmu ke depannya selalu penuh dengan kebahagiaan."

Anjani tidak mengatakan apa-apa. Di detik-detik terakhir sebelum efek bius sepenuhnya bekerja, setetes air mata menitik dari sudut matanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 24

    Nathan mengangkat kepalanya. Matanya tampak memerah dan menyiratkan sedikit harapan terakhir.Mereka berada di halaman kecil penginapan itu dan duduk di atas bangku batu yang dingin.Anjani tidak berbelit-belit dan langsung angkat bicara."Pak Nathan, saya pernah menjalani terapi MECT, demi melupakan beberapa hal yang terlalu menyakitkan.""Meski ada beberapa catatan di buku catatan itu, bagi saya, itu seperti kisah orang lain di kehidupan masa lalu. Saya nggak bisa merasakan cinta yang Anda bicarakan, juga nggak bisa merasakan kebencian yang Anda sebutkan."Anjani terdiam sejenak, lalu menatap ke arah cahaya lampu penginapan yang hangat di kejauhan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lembut, tetapi tegas."Saya sangat bahagia sekarang. Theo sangat baik pada saya dan kehidupan di sini membuat saya merasa tenang, juga puas. Inilah segala sesuatu yang saya inginkan.""Jadi, saya mohon ... lepaskan saja."Anjani menoleh dan menatap Nathan dengan pandangan yang jernih."Jangan coba-c

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 23

    Anjani menatap Nathan dengan tatapan mata yang jernih, tetapi jelas menjaga jarak.Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang, hingga terasa kejam."Pak, Anda salah orang, ya? Saya nggak kenal Anda."Anjani terdiam sejenak, lalu menambahkan."Lagi pula, ini rumah saya. Saya nggak akan pergi ke mana pun."Kata "Pak" itu, bagaikan jarum-jarum dingin yang menusuk ke dalam hati Nathan.Anjani tidak mengenalnya …. Dia bilang, di sinilah rumahnya ….Rasa putus asa dan panik yang luar biasa melanda Nathan bagaikan air pasang. Dia sudah mencari Anjani dengan susah payah, menanggung penderitaan yang menyiksa dan setelah akhirnya berhasil menemukannya, yang dia dapatkan malah kalimat yang tidak berarti, yaitu "tidak kenal".Theo mengulurkan tangan dan merangkul bahu Anjani dengan lembut, lalu mengusir Nathan."Pak, kalau Anda bukan tamu yang mau menginap, tolong jangan ganggu tamu saya dan … tunangan saya."Tunangan ….Nathan tiba-tiba terhuyung dan wajahnya l

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 22

    Hubungan antara Anjani dan Theo bagaikan musim semi di Kota Loman. Salju dan es mulai mencair, semuanya kembali hidup dan semuanya terjadi dengan alami, juga hangat.Tidak ada pengakuan cinta yang menggemparkan. Hanya di suatu senja, ketika matahari terbenam, saat keduanya berjalan berdampingan untuk pulang, setelah memeriksa jalur pendakian yang baru saja dibuka, Theo menggenggam tangan Anjani begitu saja. Anjani tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia menjadi rileks dan balas menggenggam tangan Theo.Kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka menggantikan semua kata-kata.Sejak saat itu, hari-hari mereka terasa manis.Mereka mengelola penginapan bersama, merencanakan rute wisata dan menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri.Di waktu luang, Theo akan mengendarai motornya untuk mengantar Anjani ke pedalaman padang rumput, menikmati keindahan bunga-bunga liar yang bermekaran.Atau, di saat Anjani sedang sibuk bekerja di meja, Theo diam-diam akan menyodorkan secangkir teh melati ke

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 21

    Menghadapi lonjakan jumlah tamu dan perhatian publik yang tiba-tiba, Anjani dan Theo mau tidak mau harus meningkatkan kerja sama mereka.Mereka berdiskusi bersama tentang cara mengoptimalkan layanan, cara menghadapi wawancara media, serta cara memenuhi kebutuhan banyak wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas penginapan mereka.Lantaran menghabiskan waktu bersama setiap hari, Anjani bisa merasakan dengan jelas jika Theo makin terbuka dalam menunjukkan perasaannya kepadanya.Theo tahu jika lambung Anjani kurang baik. Oleh karena itu, setiap pagi dia diam-diam menghangatkan segelas susu untuk Anjani.Saat Anjani bergadang untuk menyusun data, Theo diam-diam akan meletakkan lampu pelindung mata dan potongan buah di dekat tangan Anjani.Telinga Theo akan memerah ketika para wisatawan bersorak dan bergurau dengan mengatakan bahwa, "pemilik penginapan dan istrinya sangat serasi". Theo tidak membantahnya, melainkan hanya mencuri pandang ke arah Anjani.Perasaan seperti ini benar-benar hangat,

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 20

    Titik balik terjadi di penghujung musim gugur.Di tahun itu, Kota Loman menyambut fenomena aurora yang sangat aktif. Kejadian ini sangat langka dan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.Pita cahaya berwarna hijau dan ungu yang memukau, menari-nari di langit malam, begitu indah bagaikan mimpi.Anjani dengan sigap memanfaatkan peluang emas ini.Dia segera bekerja lembur untuk merancang naskah promosi dan video bertema "Mengejar Aurora Utara", serta menghubungi para pembuat konten wisata yang pernah bekerja sama dengannya sebelumnya. Anjani mengubah penginapan "Gemintang" menjadi titik pengamatan aurora yang paling sempurna.“Datanglah ke Gemintang, rebahan di tempat tidur sambil menyaksikan aurora!” Slogan tersebut benar-benar sangat menggoda.Dalam sekejap, kota kecil yang semula sepi itu diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin menyaksikan aurora.Penginapan "Gemintang" yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang juga kebanjiran tamu hampir setiap hari. Bahkan, pemesanan kama

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 19

    Langit Kota Loman berwarna biru jernih dan luas. Hal ini belum pernah dilihat oleh Anjani sebelumnya.Udara di sana dipenuhi kesegaran pohon pinus dan aroma tanah yang harum, sangat bertolak belakang dengan bau asap knalpot serta besi dan beton di kota besar.Anjani menyewa sebuah rumah tua dengan halaman kecil di pinggiran kota. Di halaman tersebut, tumbuh sebatang pohon sengon yang sudah tua.Tiap pagi, Anjani terbangun oleh kicauan burung. Hanya dengan membuka jendela, dia sudah bisa menyaksikan pegunungan di kejauhan yang bentuknya seperti alis.Anjani belajar hidup seperti warga kota itu. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, memasak makanannya sendiri dan sesekali belajar cara membuat asinan sayur, serta menjahit kasur kapuk yang tebal dari bibi tetangga.Sesekali, Anjani masih membolak-balik tulisan di buku catatannya. Namun, masa lalu tentang "Nathan" dan "Jihan" itu kini ketika membacanya, rasanya seperti membaca kisah orang asing dan Anjani tidak merasakan apa pun d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status