MasukCelia menebak jika pria itu akan membahas kondisi keluarganya atau mungkin malah mengejeknya. Orang-orang yang berasal dari kampusnya dulu selalu bersikap seperti itu saat menemuinya.
"Maaf, saya harus kembali bekerja," balasnya sembari membalikkan tubuhnya dan ingin keluar. Merasa ditolak, pria itu pun berkata, "Aku bisa ajukan komplain agar kau dipecat dari pekerjaan ini jika menolak bicara denganku." Tidak bisa. Tak boleh terjadi. Celia butuh pekerjaan ini dan bayaran yang ia terima selama bekerja cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Ditambah dengan utang orang tuanya yang terus berbunga membuatnya harus menahan segala gejolak yang ada. Terpaksa menyetujuinya, Celia akhirnya duduk tepat di depan pria itu. Ethan masih melanjutkan makan siangnya tanpa hambatan, pria itu melihat ke arah Celia yang diam tak bicara apa pun. "Ambil garpumu. Makanlah. Sekarang waktunya istirahat makan siang," ucapnya, dengan gestur tubuhnya menunjuk ke piring di sisi meja tempat Celia duduk. Pria itu memesan untuk dua orang. Celia menatap balik dengan heran ke arah Ethan yang mendadak menawarkan makan siang padanya. Dulu, pria ini jual mahal dan tidak peduli padanya, bahkan kalimat dingin saat dulu Ethan menolaknya masih terngiang-ngiang di telinga. "Aku lebih suka perempuan yang bersikap jual mahal dibandingkan perempuan yang mengejarku setiap hari tanpa malu," ucap Ethan dulu. Celia lah perempuan yang tidak malu itu. Makanya sekarang dirinya tak paham kenapa Ethan justru menyuruhnya untuk datang kemari. "Kudengar keluargamu bangkrut, Celia." Kalimat itu sangat tenang, namun perasaan Celia yang sensitif serta tidak mau membahas tentang kondisi keluarganya lantas membuat wanita itu menjawab. "Terima kasih informasinya, aku sudah tahu." Untuk kali ini, Celia tidak bersikap sopan karena Ethan sudah mengenalinya. Berharap pria ini tidak menghinanya atau membahas hal yang telah berlalu. "Aku ingin menawarkan pekerjaan padamu." Celia mengerutkan keningnya. Pria di depannya terasa begitu aneh. Seharusnya Ethan tak harus bersikap peduli padanya, tetapi pria tersebut justru menawarkan sebuah pekerjaan untuknya. "Aku tidak paham apa maksudmu." Balasan dari Celia membuat Ethan memandangnya selama beberapa detik. Ada hal yang berbeda dari Celia. Wanita itu tampak tidak lagi tertarik padanya seperti dulu, namun tatapan mata Celia menunjukkan jika wanita tersebut merasa tidak nyaman bicara dengannya. Seketika Ethan berpikir jika mungkin wanita ini masih memikirkan tentang mantan suaminya. Bagaimanapun juga, Celia pernah menikah dengan pria lain meski pada akhirnya bercerai. Baru memikirkan hal ini, tanpa sadar Ethan sedikit meremas sendok di tangannya. "Aku bisa memberikan imbalan besar untukmu jika kau mau," lanjut Ethan kemudian. Celia sebenarnya masih canggung, namun masih tidak memahami apa tujuan Ethan menawarkan pekerjaan padanya. "Aku bukan lulusan Universitas Seghara. Aku tidak punya kualifikasi jika kau menawarkan agar aku masuk ke perusahaanmu," balas Celia akhirnya. Ethan tersenyum tipis mendengarnya, "Aku tidak menawarkan pekerjaan kantoran padamu." Celia tidak kaget. Tak mungkin juga Ethan melanggar aturan perusahaan demi membawa dirinya masuk ke barisan orang-orang hebat. "Lalu?" Pria itu melanjutkan lagi makan siangnya, "Aku harus menikah tahun ini agar perusahaan jatuh ke tanganku." Bingung mendengarnya. Wanita itu tak paham dengan maksud Ethan mengatakan ini, namun pria itu segera melanjutkan ucapannya. "Aku tidak merasa cocok dengan wanita yang dijadwalkan kencan denganku. Kupikir kau butuh uang untuk biaya hidupmu, jadi aku berpikir untuk mengajakmu bekerja sama, Celia." Jantung Celia berdegup kencang. Ia telah melupakan perasaannya sejak lama, namun untuk pertama kalinya, ia sungguh tak menyangka jika Ethan akan menawarkan hal semacam ini padanya. Pria itu kemudian memandang Celia dan menambahkan, "Aku butuh pasangan yang tidak banyak tingkah dan mudah diatur. Kurasa kau sangat cocok dengan posisi itu." Ada sedikit ekspresi tersinggung di wajah Celia. "Ethan, pernikahan bukanlah permainan," balas Celia. Tidak ada korelasi dirinya ditawarkan hal semacam ini. Celia sendiri masih memiliki trauma menikah dengan pria yang berkuasa. Ethan mengangguk. "Memang. Aku juga akan memberikan waktu berpikir untukmu," jelas pria itu. Celia tahu bahwa uang adalah kelemahannya. Ia dulu sampai mau menikah demi uang agar keluarganya bisa seperti dulu, meski pada saat ini semuanya telah hancur lebur. Ketika Celia menunduk, jemari lentiknya sedikit meremas ujung rok yang dirinya pakai. Orang yang paling dirinya hindari setelah bangkrut adalah Ethan. Bertahun-tahun menghilang, Celia pikir dirinya sudah aman, namun mereka malah bertemu di sini dengan posisinya yang hanya sebagai pelayan. Celia semakin malu dengan tawaran yang pria itu berikan, belum lagi bayangan tentang apa yang ia lakukan di masa lalu demi mengejar pria itu. Satu hal yang membuatnya bertanya-tanya, Ethan tidak mungkin mencari tahu keberadaannya. Memangnya Celia siapa sampai dicari oleh orang penting dari Oldheron Grup? Ini masih tidak masuk akal, namun ia juga tidak bisa menjawabnya langsung. Kemudian, Ethan meletakkan sebuah kartu nama di atas meja dan berkata, "Hubungi aku kapan saja jika kau benar-benar butuh bantuan." Melihat kartu nama itu di atas meja, Celia ingat akan sesuatu. Dulu, pria itu jika dihubungi akan berkata, "Jangan menggangguku dengan pesan tidak penting seperti ini." Celia masih ingat penolakannya. Pesannya tidak pernah dibaca hingga banyak teman seangkatan mereka yang menertawakan dirinya. Kini, pria itu meminta menghubunginya terlebih dahulu, sungguh sulit dipercaya dan tidak masuk akal. Mungkinkah Ethan benar-benar memanfaatkan kemiskinannya? "Kau tidak suka dihubungi olehku, mana mungkin aku menghubungimu," balas Celia. Ethan langsung menjawab. "Keadaannya berbeda. Aku membutuhkan pernikahan dan kau butuh uang." Ya. Siapa yang tidak butuh uang memangnya? Celia masih diam menunduk. Matanya tidak menatap Ethan sama sekali. Pria itu tidak menghabiskan makan siangnya. Ia meletakkan sendok garpu dan lantas berdiri. Matanya masih memandang Celia dengan tatapan dingin, ekspresinya datar, selalu seperti itu sejak dulu. "Pikirkan baik-baik, Celia," ujar pria itu sembari melangkah pergi meninggalkan Celia bersama kartu nama miliknya. Ketika ruang privat ini kosong, Celia mengamati lagi kartu nama milik Ethan. Dari dulu hingga sekarang, Celia pun tahu bahwa pria itu tidak mengizinkan orang lain mengganggunya. Kali ini ia berpikir kenapa pria itu berubah sikap, seakan-akan Ethan telah memberikan akses masuk cuma-cuma terhadapnya. *** Baru pulang dari tempatnya bekerja malam ini, Celia menaiki tangga apartemennya dan suara gedoran pintu begitu berisik hingga mengganggu tetangga apartemen yang lain. "Bayar utangnya sekarang juga!" DEG! Baru menaiki tangga, tak sengaja mata Celia bertatapan dengan dua rentenir yang juga melihatnya sehingga wanita itu lantas berlari menuruni lagi tangga tersebut agar tidak ditagih. "Hei, tunggu! Bayar utang ayahmu!" Kaki jenjangnya yang kecil bahkan tak mampu melangkah lebih jauh hingga dua rentenir bertubuh besar penuh tato lantas menghadangnya. "Mau ke mana, hah? Bayar utang ayahmu yang sudah menunggak dua bulan!" Celia yang tidak memiliki uang lagi lantas menggeleng, "Tanggal gajianku masih lama, bisakah menunggu sampai bulan depan?" "Tidak bisa. Dari kemarin alasannya selalu sama. Cepat bayar!" "Aku benar-benar tidak punya uang, sungguh! Hanya tersisa uang transportasi dan uang makan, mana mungkin kalian tega," ucap Celia dengan wajahnya yang ketakutan. Dua orang itu saling berpandangan dan salah satu dari mereka berkata, "Bos kami bilang, kalau hari ini tidak dibayar, kau bisa datang ke kantor." Celia menampakkan wajah kaget, "Apa maksudnya?" "Dua kali melayani bos kami, utang dua bulan lunas. Bagaimana?""Selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Oldheron. Semoga selalu diberkati!"Ucapan selamat penuh harapan itu membuat Celia lantas menanggapinya dengan senyuman tipis.Pagi ini di kantor catatan sipil, Ethan benar-benar memberikan akta pernikahan padanya dan dalam hitungan menit saja status keduanya sudah berubah.Pria itu terlihat rapi dengan setelan kantornya seperti biasa, sementara Celia dengan gaun putih selutut pemberian Ethan hanya berada di sisinya tanpa banyak bersuara.Menyelesaikan langkah terakhir, mereka berdua keluar dari kantor ini dan berjalan beriringan."Publikasikan pernikahanku hari ini," ujarnya datar pada sang asisten yang lantas menghubungi pihak media terpercaya."Baik, Tuan Muda."Semudah itu, rasanya Celia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.Lelaki yang dirinya puja sebenarnya tidak berubah dari segi karakter.Ethan tetaplah orang yang dingin dan tanpa perasaan. Apa pun yang dilakukan pria ini tidak bisa Celia tebak, termasuk mendaftarkan perni
Setelah pembicaraan itu, kini Celia bersama Ethan tampak memasuki mobil dan menunggu asisten pria itu mengantar keduanya kembali.Memikirkan apa yang dikatakan Gracia membuat Celia menjadi tidak tenang sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada pria di sampingnya."Ada yang ingin kukatakan."Ethan masih biasa saja. Pria itu tetap datar tanpa ekspresi penasaran saat Celia membuka obrolan."Katakan," balas Ethan.Celia menarik napas dalam. Ada banyak hal yang wanita itu pikirkan. Wajah marah Rigel kala itu tiba-tiba menghampirinya dan jujur saja sebenarnya Celia tidak ingin memikirkannya.Perkataan dari nenek Ethan membuatnya takut.Namun Celia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat rapuh di depan pria ini meskipun keadaannya benar-benar memilukan."Aku tidak bisa memiliki anak denganmu." Ethan tersenyum miring mendengarnya.Pria itu menghela napas dan kemudian membalas, "Kalau kau butuh uang lebih banyak, tak masalah jika kau melahirkan anakku."Celia melotot mendengar
"Tentang apa?"Terdengar jika Gracia tidak sabar mendengarnya, apalagi cucunya itu seperti sengaja membuatnya penasaran."Jangan bertanya soal keluarganya, Nek. Keluarganya sudah lama bangkrut," jelas Ethan kemudian."Bangkrut? Dia dari keluarga perusahaan mana?"Ethan tahu bahwa pertanyaan seperti ini akan tetap neneknya tanyakan. Namun, ia tidak ingin menjawabnya dan jujur saja sudah cukup baginya jika Celia hidup bersamanya."Sudah dulu, aku mau kerja.""Anak nakal, jawab dulu pertanyaan nenekmu!" tukas wanita tua itu dengan nada tegas serta memaksa.Namun Ethan segera mematikan sambungan karena tidak mau menjelaskan. Lagi pula, ia hanya ingin membuat Celia nyaman saat pergi dengannya nanti.***Baru selesai dengan rangkaian perawatan, Celia merenggangkan otot pinggangnya karena terlalu lama duduk.Satu-satunya hal yang amat menyenangkan baginya adalah pergi ke salon dan mempercantik diri. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya dan jujur saja menikmati seluruh treatment ini.Dari
Bukti transfer masuk pagi ini, Celia menarik napas dalam dan kemudian ia berdiri seraya mengambil tasnya untuk bekerja sesuai kesehariannya.Baru keluar dari kamar, pemandangan orang tuanya yang masih bertengkar karena kedatangan rentenir semalam lantas membuat Celia menarik napas pelan."Pergilah ke kantor pinjaman itu, Celia. Hanya melayani Pak Bondy dua kali dan setelah itu utang keluarga kita lunas," ucap Julian pada putrinya tanpa belas kasih.Sebenarnya Celia marah mendengarnya.Sebisa mungkin wanita itu bersikap biasa dan berjalan melewati orang tuanya sembari berkata, "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir, aku akan membayarnya pagi ini."Mendengar itu, Lidia hanya diam.Tak ada yang menanggapi perkataan Celia kali ini, bahkan Julian mengalihkan pandangnya karena mereka telah berkali-kali mengorbankan putri mereka.Membuka pintu apartemen itu, Celia menutupnya pelan dan wajahnya menatap ke depan.Ethan belum mengabarkan kapan mereka akan bertemu lagi, namun pria itu sudah memberikan
Celia membeku, teringat apa yang dikatakan ayahnya kemarin. Ternyata memang benar jika dirinya akan dijadikan jaminan jika sampai utang itu belum lunas juga.Ia pikir hal itu hanyalah gertakan semata agar dirinya mau menghasilkan uang lebih banyak.Dua rentenir tersebut tertawa-tawa dan menatap Celia dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Celia jijik seketika, lagi dan lagi dirinya hanya dipandang sebagai objek nafsu."Bos kalian gila, ya?"Celia marah. Ia seperti hanya dijadikan mainan yang bisa dilempar ke sana kemari demi uang, meski saat ini marah pada ayahnya pun percuma."Hanya itu tawarannya. Kalau tidak mau, makanya cepat bayar!"Celia menelan ludahnya. Ia hanya wanita miskin dan utang ayahnya terus berbunga, sementara gajinya masih bulan depan. Jika ia menyerahkan sisa uangnya, lantas sampai akhir bulan dirinya mau makan apa?Ketika memikirkan semua ini, Celia teringat apa yang terjadi siang tadi. Tawaran Ethan cukup menarik. Pria itu juga kaya raya dan jika ia mempertimbang
Celia menebak jika pria itu akan membahas kondisi keluarganya atau mungkin malah mengejeknya. Orang-orang yang berasal dari kampusnya dulu selalu bersikap seperti itu saat menemuinya."Maaf, saya harus kembali bekerja," balasnya sembari membalikkan tubuhnya dan ingin keluar.Merasa ditolak, pria itu pun berkata, "Aku bisa ajukan komplain agar kau dipecat dari pekerjaan ini jika menolak bicara denganku."Tidak bisa. Tak boleh terjadi.Celia butuh pekerjaan ini dan bayaran yang ia terima selama bekerja cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Ditambah dengan utang orang tuanya yang terus berbunga membuatnya harus menahan segala gejolak yang ada.Terpaksa menyetujuinya, Celia akhirnya duduk tepat di depan pria itu.Ethan masih melanjutkan makan siangnya tanpa hambatan, pria itu melihat ke arah Celia yang diam tak bicara apa pun."Ambil garpumu. Makanlah. Sekarang waktunya istirahat makan siang," ucapnya, dengan gestur tubuhnya menunjuk ke piring di sisi meja tempat Celia duduk. Pria itu meme







