LOGINMobil meluncur pelan di jalan sepi selepas kawasan SCBD. Lampu-lampu kota berpendar buram di balik kaca film gelap, meninggalkan garis-garis kuning dan merah yang terus bergerak. Di dalam, keheningan terasa begitu berat. Binar terus menatap ponsel di tangannya. Layar masih menyala, menyorot satu foto yang diambil dari jarak cukup jauh. Bhaga berdiri gagah di tengah, dengan jas hitam berkerah satin, ekspresi datar. Di samping kirinya, Binar berdiri anggun mengenakan gaun hijau navy, tersenyum tipis yang tidak sampai ke mata. Sedangkan, beberapa langkah di belakang mereka, Celia dengan gaun merah tua menyala, rambut tersanggul sempurna, menatap punggung keduanya dengan senyum sinis yang kental. Foto itu tertangkap kamera dengan angle yang sangat pas untuk jadi bahan omongan semua orang. Masing-masing tidak saling memandang. Tapi ketiganya ada di satu ruangan yang sama, dan memperlihatkan ekspresi yang bisa membuat semua orang melontarkan pernyataan pribadi tanpa perlu susah payah
"Mas, aku mau bicara soal Celia."Binar yang baru keluar dari dapur langsung menghampiri dan duduk di seberang pria itu dengan wajah yang serius. Tangannya saling meremat di atas meja makan dan menatap penuh harap.Bhaga mengangkat wajah dari cangkir kopinya. Melirik sekilas pada Binar dan kembali fokus pada pekerjaannya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan.""Ada." Binar berpindah, dia duduk di kursi samping Bhaga, tanpa menunggu dipersilakan. "Ardan sudah mulai mengerti, Mas. Entah kapan, dia akan mulai mencari tahu sendiri. Dan kalau kita tidak menyiapkan jawabannya, dia akan dapat jawaban yang besar kemungkinannya salah."Bhaga diam. Cangkir kopi di tangannya terus dipegangnya.Binar melanjutkan, "Aku tidak bilang kamu harus percaya Celia seratus persen. Tapi melarang mereka tidak bertemu sama sekali itu bukan untuk melindungi Ardan. Itu menghilangkan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya."Dia berhenti sejenak."Bagian yang suatu saat akan dia pertanyakan. Dan kita ti
Binar sedang membaca buku di kamar dengan jendela yang terbuka, mengantarkan semilir angin malam yang membawa udara dingin tipis. Dia begitu fokus hingga sedikit tersentak saat pintu terbuka dengan sedikit kasar.Dia mengernyit.Bhaga masuk dengan langkah sedikit cepat, meletakkan tas asal, dan gegas masuk ke kamar mandi. Dia bahkan tak menyapa Binar yang membuat semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi.Binar menunggu. Selang beberapa menit, Bhaga keluar dengan handuk melilit di pinggang, dan lagi … dia tak menoleh ke Binar tapi langsung masuk ke ruang ganti. Melihat itu, Binar menghela napas pelan dan berdiri, berjalan menghampiri.Tangannya memasangkan kancing piyama, mengantikan tangan Bhaga. "Ada apa?" tanyanya pelan. Dia mengelus dada Bhaga pelan dan memberikan waktu.Bhaga menatap Binar, lalu mengandengnya keluar dari ruang ganti dan mengajak duduk di tepi kasur. Tapi dia tak langsung bicara. Matanya menatap Binar dengan dalam, dan jemarinya mengelus pipi Binar dengan sanga
“Aku kira dia masih membutuhkan waktu,” ucap Bhaga. Dia melirik ke arah Rudi sekilas, lalu ke amplop coklat yang baru saja diletakkan di mejanya.“Sepertinya Bu Celia sudah tidak sabar.”Bhaga memijat pangkal hidungnya. “Kita harus satu langkah di depannya. Persiapkan segalanya, Rud.”Dia mengangkat kepala dan mengangguk saat Rudi undur diri dari sana.Matahari bahkan baru saja naik, tapi kepalanya sudah seperti kepanasan. Amplop itu masih tergeletak di sana, Bhaga enggan menyentuhnya, terlebih nama firma hukum tertera di pojok kiri atas. Tanpa membukanya, dia sudah bisa mengira apa yang ada di dalam sana.Decakan kecil keluar dari bibir Bhaga. “Wanita licik itu bahkan menggunakan pengacara mahal.” Dalam benaknya, Bhaga terus bertanya, dari mana Celia mendapatkan uang sebanyak itu. Tinggal di apartemen yang lumayan mewah, tak kembali ke rumah, bahkan kini menggunakan jasa pengacara mahal.“Apa sebenarnya rencanamu, Celia?”Tangan Bhaga mengulur, mengambil amplop dan membukanya dengan
Langit Jakarta tertutup awan gelap yang mengantung rendah. Angin bertiup kencang, membuat bulu kuduk sedikit merinding karena dingin yang menusuk. Suasana di depan rumah sakit jiwa terlihat mencekam, karena sekitarnya gelap. Lampu-lampu jalan tak bisa menyinari secara maksimal, membuat cahaya hanya berpendar seadanya.Celia berdiri di depan pintu keluar utama. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dingin, dan tangannya mencengkeram tas selempang kecil yang dia bawa delapan bulan lalu. Tubuhnya kelihatan kurus, rambutnya diikat asal dan tak ada riasan, membuat tulang pipinya lebih menonjol.Dia menajamkan mata ke luar, tak ada sedikit pun ketakutan. Seolah dirinya menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Seringai tipisnya hadir, sangat tipis, hingga tak ada yang menyadari.Tak ada yang menjemput. Karena keluarganya sudah tak lagi pernah mencarinya sejak dia masuk ke rumah sakit jiwa. Memalukan, kata itu yang menempel padanya sejak itu.Kepalanya menunduk, menatap pakaian sederhana yang menempe
Entah angin apa yang merasuki Binar malam ini. Dia tiba-tiba begitu berhasrat pada Bhaga padahal pria itu tak melakukan apa pun. Darahnya berdesir saat Bhaga berbisik. Dia bahkan tak mendengarkan dengan baik, tapi napas hangat Bhaga seolah menggelitiki kulitnya, menyusup ke dalam pakaiannya dan membuat puncak dadanya menegang sempurna.Bhaga terkejut.Binar tahu itu, dia merasakan ketegangan tubuh Bhaga yang mendadak kaku. Tapi dia tak berhenti. Bibirnya terus merayu, memanjakan bibir Bhaga dengan lidahnya, dan lumatan itu akhirnya terbalas dengan gairah yang sama.Binar mendongak.Tanga Bhaga melingkar lebih erat, menarik tubuh Binar agar semakin menempel padanya dan tangannya menjelajahi kulit Binar seolah tak ada lagi hari esok. Dia terbakar oleh panas tubuh Binar.Bibir keduanya bergerak semakin liar, basah, dan sedikit membengkak.Tubuh keduanya mulai bergerak. Gerakan yang jelas bukan untuk bersiap tidur. Tapi saling menggoda dan memuaskan. Memancing semakin dalam gairah yang ki
Embun pagi masih menempel pada dedaunan di taman saat suara ketukan terdengar di pintu paviliun. Binar sempat terkejut saat pagi-pagi sekali sudah ada yang datang.Dia menoleh, Bhaga masih tertidur lelap dengan tangan yang melingkar di perutnya.Dengan sangat hati-hati, dia memindahkan tangan Bhaga
Tiga hari berlalu sejak Binar pulang dari rumah sakit. Atas perintah Bhaga, dua orang pelayan ditugaskan membantu Binar di paviliun untuk sementara waktu dan Nurma hanya bisa menahan kekesalannya.Jika Bhaga sudah turun tangan, dia tak ingin mengganggu gugat hal itu karena hanya akan membuat diriny
Binar melangkah masuk dengan canggung ke paviliun. Tadi dia sedikit ragu saat sudah sampai di depan pintu. Kenangan akan perginya dia dulu dari sini karena teror dari Celia sempat terbesit sesaat. Bhaga mengikuti langkahnya dalam diam, tapi hatinya membuncah bahagia. Dia dan Ardan tak perlu berjau
"Tapi… tapi kalian tertawa…" bantah Nurma, suaranya sudah tidak seyakin tadi.“Lalu kenapa? Ya, kami tertawa,” Djati mendesah sambil menggelengkan kepala seolah tuduhan Nurma tak masuk akal. “Karena bercerita tentang Ardan, tentang masa kecil Bhaga yang nakal! Dia membuatku lupa sejenak bahwa aku i







