Share

192. Menguntit

Author: Keke Chris
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-31 01:54:26

“Kau yakin harus ke kantor hari ini?” Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Binar, tetapi getar kuatirnya terasa jelas.

Bhaga berdiri di depan lemari, mengancingkan manset kemejanya. Gerakannya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang semalam nyaris tidak tidur.

“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang menumpuk di saat kondisi kantor belum stabil,” jawab Bhaga.

Binar melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari punggung Bhaga. “Ancaman itu belum jelas asalnya.”
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Di Ranjang Majikanku   376. Merajuk

    Rumah Nuri mendadak terasa terlalu luas setelah semua orang pergi. Sisa-sisa keriuhan menguap begitu saja, meninggalkan beberapa barang yang belum selesai dirapikan dan tumpukan sisa dekorasi juga makanan. Lampu-lampu hias berjejer rapi di sisi dinding.Di kamar, Ardan terus bergerak gelisah atau mungkin cuma sedang berusaha mencari posisi nyaman di kasur. Beberapa kali terdengar lenguhan kecil dari pintu yang tak tertutup rapat, membuat Binar ingin masuk, tapi Nuri menggeleng pelan.“Biar dia sendiri dulu,” bisik Nuri.Binar tak membantah, dia hanya terus menghela napas di ambang pintu sambil sesekali mengintip ke dalam, sebelum akhirnya berjalan ke ruang depan.Langkahnya memelan saat melihat Bhaga sedang duduk sendiri di kursi kayu dekat jendela dengan tangan yang mengepal di atas lutut. Punggungnya kaku, tak sepenuhnya bersandar, matanya menerawang jauh seperti memikirkan sesuatu.Binar sengaja tak menyapa, dia memilih langsung duduk di sofa seberangnya sambil melipat tangan ke da

  • Di Ranjang Majikanku   375. Keputusan Besar

    Binar berdiri di depan papan nama itu. Nama mereka, ditulis menggunakan huruf-huruf emas di atas kayu dengan hiasan bunga kecil di sudut-sudutnya. "Cantik," gumamnya sambil tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.Dekorasi di sekelilingnya penuh dengan bunga-bunga yang masih segar. Pita putih masih terikat rapi. Tapi nama mereka di papan itu terasa menyesakkan. Di belakangnya, dia bisa mendengar suara Ardan masih terisak meski tak lagi histeris.Pikiran Binar berjalan ke tempat yang tidak dia duga. Dia melihat kembali semua yang terjadi sejak pagi. Ardan yang hilang. Bhaga yang marah-marah ke semua orang. Yang pertama kali terbesit dalam benak Binar adalah mereka telah melukai Ardan terlalu dalam. Rasa abai itu kini meledak.Dia melukai Ardan.Anak yang memang bukan darah dagingnya, tapi selama ini sudah seperti anak kandung. Anak yang sejak pertama kali bertemu telah mengambil hatinya, bergantung padanya, dan memanggil “Bunda” bahkan tanpa diminta. Kata yang keluar dari mulut kecilnya,

  • Di Ranjang Majikanku   374. Hati Ke Hati

    "Ardan."Suara Binar lembut, hampir berbisik, tapi Ardan tidak mendengarnya. Anak itu masih duduk di kursi makan, dengan biskuit yang tergeletak di atas meja, air minum di gelasnya tidak berkurang. Matanya kosong ke suatu titik di dinding."Waktu Ardan hilang tadi," lanjut Ardan, suaranya makin tidak stabil. "Ardan lihat kok, Bun." Dia mengangkat muka, dan air matanya yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh. "Papa marah-marah ke semua orang." Tangisnya mulai terdengar di antara kata-kata. "Papa sebenarnya tidak cari Ardan. Papa marah.""Ardan—""Mama Celia benar." Kalimat itu keluar di antara isak yang tidak bisa lagi ditahan. Suaranya naik, seperti sudah terlalu lama dipendam dan akhirnya meledak. "Papa akan selalu pilih Bunda Binar. Ardan tidak penting."Binar mengulurkan tangannya, mau memeluk, refleks yang datang sebelum berpikir. Tangannya terbuka, siap menarik Ardan ke dalam pelukan. Tapi ….Ardan menangkis, anak itu justru memundurkan badannya sedikit. "Nggak mau."Tangannya Bi

  • Di Ranjang Majikanku   373. Isi Hati Ardan

    Gudang penyimpanan padi itu jarang sekali disambangi orang setelah musim panen usai. Dinding kayunya lembap, atap sengnya menyimpan hawa panas yang bercampur dengan bau gabah, karung beras, dan terpal biru yang sudah bertahun-tahun dipakai menutup tumpukan padi.Bu Marni mendorong pintunya sambil mengomel pelan. Sejak tadi dia mencari kain lap yang tak pernah lepas dari badannya, tapi seharian ini tak ditemukan dimana-mana hingga dia ingat kalau meninggalkan di gudang saat membersihkan terakhir kali.Namun, baru dua langkah masuk, dia mengernyit. Kakinya berhenti dan matanya memicing memastikan.Di sela-sela karung beras, ada tubuh kecil yang meringkuk memeluk kedua lututnya. Tas bergambar dinosaurus tergeletak begitu saja tak jauh dari kakinya.Bajunya kini penuh bercak tanah. Kaus kakinya sudah turun sebelah. Betis mungilnya dipenuhi bentol merah bekas gigitan nyamuk."Ya Allah ..." Bu Marni spontan menutup mulut saat mengenali bocah itu. "Ardan?"Anak itu mengangkat wajah perlahan.

  • Di Ranjang Majikanku   372. Ardan Kabur

    "Kalau nanti Papa sama Bunda Binar punya bayi, Ardan sama siapa?"Pertanyaan polos itu membuat dua ibu yang sedang menyiapkan bunga melati saling berpandangan."Ya tetap sama Papa dan Bunda," jawab salah seorang tetangga sambil tersenyum."Nanti kalau sudah punya adik, Ardan harus jadi kakak yang baik.""Iya, harus mengalah sama adik."Ardan yang sejak tadi berdiri sambil memeluk dinosaurus kesayangannya hanya mengangguk pelan. Wajah cerianya perlahan berubah muram. Dia melangkah menjauh tanpa disadari siapa pun.Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya. Harus mengalah ... punya adik ... jadi kakak.Sesampainya di kamar, Ardan menutup pintu perlahan. Dia duduk di tepi ranjang sambil menerawang jauh, mengingat kembali kebersamaan mereka selama ini.Jari kecilnya meremas kaki dinosaurus, sambil membayangkan bila dirinya sudah punya adik. “Papa dan Bunda nanti sibuk sama adik,” gumamnya.Bibir mungilnya bergetar. "Aku akan sendirian."Detik berikutnya, dia meloncat turun dari ranj

  • Di Ranjang Majikanku   371. Kebaya Atau Gaun

    Suara Nuri memenuhi ruang tamu. Tangannya memegang selembar kain batik sogan yang baru saja dibentangkan di atas meja. “Kebaya memang tetap nomor satu.”Nurma tidak mau kalah. Dia menggeser sebuah buku katalog berisi rancangan gaun pengantin dari desainer ternama. "Kalau resepsi malam, gaun lebih elegan tidak ada tandingannya."Nuri menggeleng pelan. "Pengantin Jawa ya tetap kebaya. Kebaya pengantin juga paling bagus tiada tara.""Resepsinya modern, Bu Nuri.""Tapi akadnya itu mengikuti adat, Bu Nurma""Resepsinya itu konsepnya pesta malam."Binar yang duduk di tengah hanya mampu mengembuskan napas. Sejak matahari terbit dia sudah diminta berganti-ganti busana. Mulai dari kebaya beludru, kebaya kutu baru, gaun putih, sampai gaun berhiaskan payet yang berkilau.Dan meski berapa hari lalu sudah ada kesepakatan antar mereka, tapi perdebatan tak pernah benar-benar berhenti."Mi..."Nurma langsung menoleh. "Iya?""Aku pusing."Nuri tersenyum iba. "Istirahat dulu, Nduk."Belum sempat Binar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status