Share

24. After Care

Author: Keke Chris
last update publish date: 2025-10-08 08:44:06

Bhaga memperhatikan, dengan gerakan yang lembut, menuntun Binar yang masih lemas ke bawah pancuran yang perlahan dinyalakan.

Sudah terlalu lama mereka di kamar mandi, dengan Bhaga yang melampiaskan hasratnya lagi dan lagi hingga puas.

Bahkan sekarang, Bhaga masih menginginkannya. Bersama Binar, Bhaga seolah kecanduan, entah mengapa.

"Biarkan aku," bisiknya, suaranya serak namun penuh perhatian di telinga Binar.

Tangannya yang besar dengan hati-hati membasuh tubuh Binar, membersihkan sisa-sia ak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Farhan Fadhilah
Menurutku cerita seksual dikurangi kalau bisa ditiadakan. Binar adalah korban rudal paksa yg halus. Binar juga punya nafsu jd dr paksaan jd buat dia menikmati juga.
goodnovel comment avatar
ArcMoon
bukankah setiap keputusan memang memiliki konsekuensinya sendiri Binar? dan ini konsekuensi yang harus kamu tanggung karena pilihanmu sendiri. ya.. kamu yg memilih menerima sentuhan itu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   260. Bungkam Suara Miring

    Suara ketukan di pintu membuat Bhaga menghentikan jemarinya sesaat di atas keyboard, dia belum sempat menjawab, tapi pintu sudah terbuka dan Rudi masuk dengan langkah cepat, lalu meletakkan tablet di meja Bhaga.Tidak bilang apa-apa. Hanya meletakkan dengan pelan dan menyodorkan ke arah Bhaga, lalu mundur selangkah. Tak ada yang terlihat aneh, Rudi dengan tenang menunggu, membuat Bhaga mendongak sebentar untuk memindai Rudi dan mengambil tablet itu dengan sedikit ragu.Bhaga kembali menoleh kepada Rudi, dan dengan acuh melihat halaman yang terbuka di tablet lalu mengernyit. Matanya memicing saat membaca laporan itu satu persatu. Rahangnya mengeras.Rekap monitoring internal. Seolah tak ada yang berbeda, format laporan seperti biasa. Tapi isinya berbeda. Bukan angka penjualan atau kinerja divisi. “Apa ini?!” tanyanya geram.Terlampir deretan nama, divisi, beserta link video juga keterangannya.Bhaga mulai membaca dari atas. Pada baris pertama, ada tangkap layar dari Grup Whatsapp karya

  • Di Ranjang Majikanku   259. Tiga Hari Sakit

    Bhaga benar-benar serius dengan ucapannya. Selama tiga hari berikutnya, keadaan rumah ada di bawah pengawasannya.Hari pertama dia tidak ke kantor. Rudi yang mengurus semua rapat dan komunikasi dengan klien. Bhaga hanya sesekali mengecek email, ponsel, dan membalas pesan-pesan yang benar-benar penting. Selebihnya, dia di kamar. Menemani Binar.Mengecek suhu tubuh, mengganti kompres, dan membangunkannya saat waktu makan juga minum obat tiba. Bersyukur, tak ada yang perlu dikuatirkan, karena Binar perlahan membaik.Beberapa kali Binar setengah sadar saat kompres diganti. Matanya terbuka sebentar, melihat Bhaga di sampingnya, lalu tertidur lagi.Jam delapan Bhaga turun ke dapur. Maryam sedang menyiapkan masakan untuk makan siang."Bi, Binar makan bubur saja dulu. Yang lembut.""Sudah, Tuan. Sudah saya siapkan.""Pisang juga. Kata dokter kalau tidak nafsu makan, pisang bisa jadi pengganti."Maryam mengangguk, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia merasakan sendiri bagaimana muramnya ru

  • Di Ranjang Majikanku   258. Ambruk

    Jalanan begitu padat sore ini. Bhaga berulang kali menekan klakson dan menyalip mobil di depannya. Dia meninggalkan sopirnya di kantor, dan pulang dengan terburu-buru.Pikirannya terus berputar pada kalimat Maryam tadi saat meneleponnya. “Nona Binar pingsan, Tuan.”Tak pikir panjang, rapat yang baru berjalan sebentar langsung ditinggalkan. Membiarkan Rudi untuk mengurus sisa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.“Astaga, ini kenapa macet banget, sih,” gerutunya sendiri sejak tadi.Hatinya tak tenang. Binar jarang sakit, dan kalau sampai pingsan, itu artinya tubuhnya sudah sampai pada batasnya.“Sayang, kamu kenapa?” Dia mengusak rambutnya beberapa kali, sedang tangan satunya memegang setir dengan kuat. Frustrasi."Tuan, Nona Binar pingsan di dapur. Saya sudah memindahkan ke sofa. Tapi tidak mau dibawa ke dokter. Katanya cuma pusing."Dia menghela napas kasar. Membayangkan betapa keras kepalanya Binar bila sudah memutuskan.Di dalam mobil, dia mencoba menelepon Binar. Tidak dia

  • Di Ranjang Majikanku   257. Kelelahan

    Sudah sejak bangun tidur, kepala Binar rasanya berdenyut. Pusing hebat, tapi dia tak bilang pada siapa-siapa dan tetap melakoni rutinitasnya meski sesekali berhenti sejenak untuk meredakan nyeri yang kuat.Ini bukan pertama kalinya. Beberapa hari belakangan sejak jadwalnya mulai padat, dia tak bisa benar-benar istirahat. Dia bahkan bangun tidur dengan rasa pegal yang masih merayapi tubuhnya. Tidurnya kurang, makan tidak teratur, dan tak bisa lagi sekedar duduk santai untuk menjeda napas.Kopi tidak lagi membantu. Hanya menyisakan tambahan perih di perutnya.Dia bahkan masih menguap saat mengantarArdan ke mobil dan bersiap untuk kelas pertama pagi itu.Kesehariannya sudah berjalan dengan ritme yang sudah di luar kepala. Terlebih Ardan yang tiba-tiba rewel karena stegosaurusnya ketinggalan, hingga Binar harus mampir ke sekolahan anak itu untuk mengantar mainannya.Di dalam mobil, kepalanya masih berdenyut, tapi dia hanya memasang wajah datar. Tersenyum saat bertemu Ardan dan tetap bersi

  • Di Ranjang Majikanku   256. Terima Kasih, Sayang.

    Malam itu, setelah Ardan tidur, mereka duduk di teras. Bhaga memegang tangan Binar."Aku pasti tidak akan bisa jawab pertanyaan Ardan."Binar menoleh. "Kamu dengar?""Aku dengar." Bhaga menggenggam tangannya lebih erat. "Aku tidak akan bisa jawab sejelas kamu."Binar diam." Aku... aku tidak akan bisa melakukan itu."Binar memegang balik tangannya. "Kamu bisa. Hanya butuh sedikit kesabaran."Bhaga tersenyum getir. "Mungkin."Mereka diam sebentar. Angin malam berhembus, dingin."Aku sering marah pada Celia," kata Bhaga akhirnya. "Bahkan sampai sekarang. Marah karena dia meninggalkan Ardan. Marah karena dia menyakitimu. Marah karena dia... membuat semua ini jadi begitu rumit."Tak ada sahutan."Tapi kamu bilang dia sakit. Bukan jahat." Bhaga menatap langit. "Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu. Aku selalu melihatnya sebagai pilihan.""Kadang sakit juga pilihan."Bhaga menoleh."Tapi bukan pilihan yang dia buat dengan sadar." Binar menatapnya. "Aku tidak membenarkan apa yang Celia

  • Di Ranjang Majikanku   255. Pelakor

    Pelakor.Kata itu masih menggantung di udara, meskipun Ardan sudah tidak lagi memikirkannya. Tapi Binar tahu, untuk anak seusianya, kata-kata seperti itu bisa masuk lebih dalam dari yang kita kira.Malam itu, setelah Ardan tidur, Binar masih duduk di meja makan. Sisa-sisa camilan sore belum dibereskan. Gelas susu Ardan masih di tempatnya, dengan sisa putih di dasar.Bhaga masuk. Duduk di sebelahnya."Mereka bilang pelakor," kata Binar sebelum Bhaga bertanya. "Ardan dengar dari ibu-ibu di sekolah."Bhaga diam. Tapi rahangnya bergerak."Aku sudah jelaskan ke Ardan," lanjut Binar. "Dia paham.""Kamu jelaskan bagaimana?"Binar menatapnya. "Bicara apa adanya saja."Tapi cerita sore itu tidak selesai di meja makan. Dan Bhaga, yang berdiri di balik pintu dapur saat itu, masih mengingat setiap kata.Sore itu, setelah Ardan bertanya, setelah kata pelakor keluar dari mulut anak enam tahun itu, Binar tidak panik.Dia duduk di samping Ardan, satu tangan merangkul bocah itu, tangan satunya di atas

  • Di Ranjang Majikanku   51. Siksaan Terus Berlanjut

    Binar tersentak saat suara langkah itu terdengar mendekat. Lantai dingin di gudang itu membuat telapak kakinya kebas. Tangannya masih terikat di belakang kursi logam, wajahnya lebam di beberapa tempat, dan napasnya memburu. Bau darah kering dan debu tercium menyengat, membuatnya sedikit sesak. C

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Di Ranjang Majikanku   52. Luka Ini Tak Sebanding

    Bhaga sudah berulang kali menghela napas. Punggungnya bersandar pada sofa dengan dada yang terasa sesak saat membayangkan Binar yang ketakutan dan dia belum bisa melakukan apapun.Lelah. Dia lelah sekali, ditambah urusan perusahaan dan tekanan dari papinya.“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya pa

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Di Ranjang Majikanku   47. Kemurkaan Tuan Besar

    Ruang kerja Djati yang mewah dengan aksen kayu gelap terasa sebagai ruang interogasi. Djati berdiri membelakangi jendela besar, tubuhnya tegang. Di depannya, Nurma duduk di sofa kulit dengan wajah yang pucat dan tangan yang menggenggam sapu tangan. Aura menegangkan memenuhi ruangan kerja itu.Bhag

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Di Ranjang Majikanku   67. Tanpa Kata-kata

    Permintaan maaf Bhaga di kamar tidur seakan menjadi plester sementara di atas retakan yang dalam. Bhaga berusaha keras menahan diri. Dia tidak lagi menanyakan setiap kegiatan Binar dengan nada penuh curiga, meski matanya tetap sering melirik ke arah rumah sebelah. Di sisi lain, Binar merasa sepert

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status