LOGINPerjalanan pulang itu terasa sangat panjang. Rudi sesekali harus memanggil Bhaga untuk mengembalikan fokusnya. Sudah beberapa kali Rudi meminta agar dia yang menyetir, tapi Bhaga menolaknya.“Aku harus mengalihkan pikiranku,” jawab Bhaga.Biar bagaimanapun, dia sudah bersama dengan Celia beberapa tahun. Bahkan mereka memiliki Ardan. Meski tak mencintainya, hati Bhaga tetap tak tega melihat kondisi Celia sekarang, tapi ada hati yang mesti dia jaga.Dia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengobati Celia. Bhaga menghela napas lagi, entah sudah untuk yang keberapa kalinya setelah keluar dari rumah itu.Rudi tak lagi berani menginterupsi, tapi matanya terus focus pada jalanan di depannya.Hingga tak terasa, mobil Bhaga sudah terparkir di halaman rumah utama dan Rudi sekalian berpamitan.Dengan langkah sedikit lunglai, Bhaga berjalan menuju paviliun, dan begitu pintunya terbuka, dia langsung memeluk Binar erat.“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu,” ucap Bhaga.Binar terkesiap, tapi tet
Bhaga baru saja keluar dari gedung kantor milik Hans. Perasaannya campur aduk, tapi kelegaan lebih mendominasi.Dia baru saja berhenti di lampu merah saat teleponnya bordering. Dia menekan tombol pengeras suara dan suara seorang pengawal yang menjaga rumah pengasingan Celia terdengar."Tuan Bhaga, maaf mengganggu. Nona Celia… dia… dia mencoba bunuh diri. Kami baru saja berhasil mencegahnya. Sekarang kondisinya sangat histeris, tidak bisa ditenangkan. Kami sudah memanggil dokter, tapi… mungkin lebih baik Tuan datang sendiri."Dingin menyergap tulang punggung Bhaga. "Jaga dia! Aku segera ke sana!" teriaknya sebelum menutup telepon.Tanpa pikir panjang, dia memutar balik mobilnya dengan kasar, ban berdecit di aspal. Satu-satunya pikiran adalah dia tidak mau tanggung jawab atau rasa bersalah lebih besar jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada Celia.Dalam perjalanan, dia menelepon Rudi. "Rud, aku butuh teman ke rumah Celia. Ini darurat."Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di
Setelah bisa menenangkan Binar dan kini wanita itu sudah tertidur lelap, Bhaga keluar dari paviliun dan berjalan menuju rumah utama. Hatinya panas, tersayat, saat mendengarkan rintihan dan isak tangis Binar.Dia harus bicara dengan maminya.Sesaat setelah masuk ke dalam rumah, suara ribut terdengar dari depan kamar bawah yang sementara sedang ditempati oleh Djati. Orang tuanya sudah lama pisah ranjang, tapi Bhaga tak mau ikut campur dalam hal itu. Dia menghargai privasi orang tuanya.“Jangan terus membela perempuan itu, Papi. Dia hanya bermulut manis,” hardik Nurma,”atau Papi juga terpikat sama bujuk rayunya dan dibutakan seperti Bhaga?”Djati sudah akan mejawab, tapi melihat Bhaga mendekat, dia hanya menghela napas berat.“Mami yang terlalu dibutakan oleh ego mami sendiri hingga enggak bisa melihat kebaikan orang lain,” ucap Bhaga.“Kebaikan macam apa? Orang baik tidak akan menghancurkan rumah tangga orang lain.”Bhaga mengepalkan tangannya, berusaha agar tak kelepasan pada maminya.
"Tapi… tapi kalian tertawa…" bantah Nurma, suaranya sudah tidak seyakin tadi.“Lalu kenapa? Ya, kami tertawa,” Djati mendesah sambil menggelengkan kepala seolah tuduhan Nurma tak masuk akal. “Karena bercerita tentang Ardan, tentang masa kecil Bhaga yang nakal! Dia membuatku lupa sejenak bahwa aku ini sedang sakit!”Nurma terdiam, tapi tatapannya masih tajam. Dan ada sedikit luka di ekspresinya.“Kau ini suamiku… tapi lebih senang bersama perempuan ini!” serunya, sebelum pergi dengan kesal dan menghentakkan kaki.Djati hanya bisa menghela napas, sedangkan Binar terdiam dengan rambut berantakan dan mata berkaca-kaca.**Binar duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada kaki sofa, sambil memeluk lututnya. Dia menangis terisak.Rambutnya masih berantakan dengan beberapa helai menempel di pipinya yang basah, tapi dia tak peduli.Pintu depan terbuka dengan cepat. Bhaga yang baru saja tiba setelah mendapatkan telepon dari Djati, tiba-tiba berdiri kaku di ambang pintu. Matanya terbelalak saat
Tiga hari berlalu sejak Binar pulang dari rumah sakit. Atas perintah Bhaga, dua orang pelayan ditugaskan membantu Binar di paviliun untuk sementara waktu dan Nurma hanya bisa menahan kekesalannya.Jika Bhaga sudah turun tangan, dia tak ingin mengganggu gugat hal itu karena hanya akan membuat dirinya bertengkar lagi dengan Bhaga dan dia tak mau itu.Lagi pula, ucapan Binar di rumah sakit masih terus bergema di telinganya dan itu membuatnya tak bisa berhenti memikirkan itu.Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat."Tidak," bisiknya pada diri sendiri. "Aku tidak boleh luluh dengan begitu mudah. Itu semua hanya taktiknya. Permainan wanita licik yang tahu cara mengambil hati."Dari jendela kamarnya yang menghadap ke taman samping rumah, dia melihat Djati sedang duduk di bangku taman, ditemani Binar yang membawakan selimut untuk kakinya.Mereka sedang berbincang. Awalnya Nurma hanya mengamati dengan tatapan sinis, namun seiring menit berjalan, ekspresi di wajah Djati mulai berubah. Dia ters
Embun pagi masih menempel pada dedaunan di taman saat suara ketukan terdengar di pintu paviliun. Binar sempat terkejut saat pagi-pagi sekali sudah ada yang datang.Dia menoleh, Bhaga masih tertidur lelap dengan tangan yang melingkar di perutnya.Dengan sangat hati-hati, dia memindahkan tangan Bhaga dan mengambil baju tidurnya dari lantai, mengenakannya dengan cepat, dan merapikan rambut sambil berjalan ke pintu depan.Ketika pintu terbuka, Binar tak bisa menghilangkan kernyitan di keningnya. Bagaimana tidak, ini masih pagi buta tapi ada seorang pelayan yang datang hanya untuk mengantar air minum untuknya.Paviliun bahkan memiliki fasilitas yang lebih lengkap dari rumahnya.“Maaf, Nona. Tapi ini dari Nyonya besar dan saya diperintah untuk menunggu Nona meminumnya.”Binar sempat menoleh ke rumah utama yang tentu yang terlihat hanya bangunannya saja. “Tapi di sini juga ada banyak air minum.”“Saya hanya menjalankan perintah, Nona. Tolong jangan dipersulit,” ucap pelayan itu dengan lirih







