Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 25. Menjual Tubuh

Share

25. Menjual Tubuh

Author: Keke Chris
last update publish date: 2025-10-09 23:02:34

Peringatan Maryam dan tatapan Bhaga yang tak terbaca kemarin mengingatkan Binar pada satu hal, bahwa dia hanya seorang pembantu. Bisa diganti kapan saja. Perasaan "spesial" yang sempat terpancar dari Bhaga sirna sudah, digantikan kenyataan pahit bahwa posisinya di rumah ini sangat rapuh.

"Aku harus keluar dari sini," batin Binar dengan tekad bulat.

Namun, pikirannya masih berat. Banyak hal yang dipertimbangkan.

Dia masih dikejar para penagih hutang, tak punya tempat bernaung lainnya, dan ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ayu Jumirah
enak dibayar jadi kerasan... kasihan Thor si binar.
goodnovel comment avatar
ArcMoon
menjual atau tidak, nyatanya kamu memang sudah menjadi wanita dengan martabat yang rendah saat ini. terlepas apapun kondisi menyedihkan yg kamu tanggung saat ini tdk menampik bahwa kamu hanya seorang wanita m u r a h.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   262. Lembur

    Binar baru selesai mengaplikasikan skincarenya. Dia sudah memakai piyama tidur dan bersiap untuk membaca ulang semua materi hari ini, tapi suara denting pesan masuk membuatnya meletakkan kembali bukunya. Tangannya mengambil ponsel di nakas dan dahinya mengernyit.“Ini beneran Bhaga yang kirim pesan begini?” tanyanya pada diri sendiri.Dia membacanya lagi.[Sayang, bisa ke kantor? Aku masih di sini dan mau kamu temeni.]Binar sudah mengetikkan balasan tapi kemudian dia memilih untuk melakukan panggilan saja. “Kamu serius?”Suara Bhaga terdengar begitu yakin. “Tentu. Kemarilah, aku tunggu.” “Memang kamu masih akan lama?” “Tidak tahu. Mungkin sampai jam sebelas.”Binar melirik jam di dinding dan ini masih jam delapan, lalu dia mengangguk. “Oke. Kamu mau dibawakan sesuatu.”“Tidak. Aku cuma mau kamu, Sayang.”**Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh saat Binar sampai. Dia menyapa para penjaga gedung dan melangkah masuk dengan langkah cepat. Keadaan kantor sudah sangat sepi, beberapa l

  • Di Ranjang Majikanku   261. Kita Belum Pernah Coba Di sini

    Kelas selesai lebih cepat. Binar merapikan barang-barangnya dan keluar ruangan, berjalan menyusuri koridor. Sepatu flat-nya nyaris tak bersuara di lantai marmer. Tangannya merapikan tas selempang di bahu, sambil menahan senyuman saat mengingat hasil presentasinya tadi diberikan nilai yang baik.Koridor begitu sepi. Sebagian besar karyawan sedang sibuk di meja masing-masing. Binar ingin ke pantry, mengambil minuman dingin sebelum pulang.Dua wanita berdiri di dekat ruang rapat. Wajah mereka berganti ekspresi dengan cepat saat melihat Binar, hingga terlihat senyum yang terlalu dipaksakan. Salah satunya menyapa, "Bu Binar, apa kabar?"Binar menjawab singkat sambil tersenyum, tapi langkahnya tidak berhenti.Di ujung koridor, sekelompok karyawan sedang mengobrol dengan suara yang pelan. Binar yang melihat itu, melambatkan langkahnya dan mendekat perlahan. Ketika salah seorang melihatnya datang dan memberikan kode, semua langsung salah tingkah. Percakapan itu berhenti mendadak. Wajah-wajah

  • Di Ranjang Majikanku   260. Bungkam Suara Miring

    Suara ketukan di pintu membuat Bhaga menghentikan jemarinya sesaat di atas keyboard, dia belum sempat menjawab, tapi pintu sudah terbuka dan Rudi masuk dengan langkah cepat, lalu meletakkan tablet di meja Bhaga.Tidak bilang apa-apa. Hanya meletakkan dengan pelan dan menyodorkan ke arah Bhaga, lalu mundur selangkah. Tak ada yang terlihat aneh, Rudi dengan tenang menunggu, membuat Bhaga mendongak sebentar untuk memindai Rudi dan mengambil tablet itu dengan sedikit ragu.Bhaga kembali menoleh kepada Rudi, dan dengan acuh melihat halaman yang terbuka di tablet lalu mengernyit. Matanya memicing saat membaca laporan itu satu persatu. Rahangnya mengeras.Rekap monitoring internal. Seolah tak ada yang berbeda, format laporan seperti biasa. Tapi isinya berbeda. Bukan angka penjualan atau kinerja divisi. “Apa ini?!” tanyanya geram.Terlampir deretan nama, divisi, beserta link video juga keterangannya.Bhaga mulai membaca dari atas. Pada baris pertama, ada tangkap layar dari Grup Whatsapp karya

  • Di Ranjang Majikanku   259. Tiga Hari Sakit

    Bhaga benar-benar serius dengan ucapannya. Selama tiga hari berikutnya, keadaan rumah ada di bawah pengawasannya.Hari pertama dia tidak ke kantor. Rudi yang mengurus semua rapat dan komunikasi dengan klien. Bhaga hanya sesekali mengecek email, ponsel, dan membalas pesan-pesan yang benar-benar penting. Selebihnya, dia di kamar. Menemani Binar.Mengecek suhu tubuh, mengganti kompres, dan membangunkannya saat waktu makan juga minum obat tiba. Bersyukur, tak ada yang perlu dikuatirkan, karena Binar perlahan membaik.Beberapa kali Binar setengah sadar saat kompres diganti. Matanya terbuka sebentar, melihat Bhaga di sampingnya, lalu tertidur lagi.Jam delapan Bhaga turun ke dapur. Maryam sedang menyiapkan masakan untuk makan siang."Bi, Binar makan bubur saja dulu. Yang lembut.""Sudah, Tuan. Sudah saya siapkan.""Pisang juga. Kata dokter kalau tidak nafsu makan, pisang bisa jadi pengganti."Maryam mengangguk, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia merasakan sendiri bagaimana muramnya ru

  • Di Ranjang Majikanku   258. Ambruk

    Jalanan begitu padat sore ini. Bhaga berulang kali menekan klakson dan menyalip mobil di depannya. Dia meninggalkan sopirnya di kantor, dan pulang dengan terburu-buru.Pikirannya terus berputar pada kalimat Maryam tadi saat meneleponnya. “Nona Binar pingsan, Tuan.”Tak pikir panjang, rapat yang baru berjalan sebentar langsung ditinggalkan. Membiarkan Rudi untuk mengurus sisa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.“Astaga, ini kenapa macet banget, sih,” gerutunya sendiri sejak tadi.Hatinya tak tenang. Binar jarang sakit, dan kalau sampai pingsan, itu artinya tubuhnya sudah sampai pada batasnya.“Sayang, kamu kenapa?” Dia mengusak rambutnya beberapa kali, sedang tangan satunya memegang setir dengan kuat. Frustrasi."Tuan, Nona Binar pingsan di dapur. Saya sudah memindahkan ke sofa. Tapi tidak mau dibawa ke dokter. Katanya cuma pusing."Dia menghela napas kasar. Membayangkan betapa keras kepalanya Binar bila sudah memutuskan.Di dalam mobil, dia mencoba menelepon Binar. Tidak dia

  • Di Ranjang Majikanku   257. Kelelahan

    Sudah sejak bangun tidur, kepala Binar rasanya berdenyut. Pusing hebat, tapi dia tak bilang pada siapa-siapa dan tetap melakoni rutinitasnya meski sesekali berhenti sejenak untuk meredakan nyeri yang kuat.Ini bukan pertama kalinya. Beberapa hari belakangan sejak jadwalnya mulai padat, dia tak bisa benar-benar istirahat. Dia bahkan bangun tidur dengan rasa pegal yang masih merayapi tubuhnya. Tidurnya kurang, makan tidak teratur, dan tak bisa lagi sekedar duduk santai untuk menjeda napas.Kopi tidak lagi membantu. Hanya menyisakan tambahan perih di perutnya.Dia bahkan masih menguap saat mengantarArdan ke mobil dan bersiap untuk kelas pertama pagi itu.Kesehariannya sudah berjalan dengan ritme yang sudah di luar kepala. Terlebih Ardan yang tiba-tiba rewel karena stegosaurusnya ketinggalan, hingga Binar harus mampir ke sekolahan anak itu untuk mengantar mainannya.Di dalam mobil, kepalanya masih berdenyut, tapi dia hanya memasang wajah datar. Tersenyum saat bertemu Ardan dan tetap bersi

  • Di Ranjang Majikanku   96. Buka Kakimu

    Binar gemetar saat Bhaga mulai menaiki tempat tidur, dia menggeliat pelan dan di mata Bhaga itu sungguh seksi.Tubuh Binar benar-benar pas di setiap bagian, dan tanpa perlu bersusah payah untuk menggoda, Bhaga sudah tergoda.Sementara kedua tangan Binar terikat, tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Di Ranjang Majikanku   98. Memanfaatkan Perempuan Lugu

    Bhaga baru saja sampai di perusahaan ketika Rudi menyusulnya ke ruangan. “Kenapa kau tergopoh-gopoh begitu?” tanya Bhaga yang merasa heran karena Rudi biasanya kelewat tenang. “Saya hanya takut terlambat.” Bhaga menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Rudi. “Maksudnya?” “Tentang Pak Raja,

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Di Ranjang Majikanku   93. Anak Yang Bodoh

    Hari-hari selanjutnya terasa menyiksa untuk Binar. Dia tak bisa melepaskan diri dari ayahnya. Hampir setiap minggu Raja meminta uang pada Binar. Sama seperti siang ini. Binar mengusap wajahnya kasar. Uangnya semakin tiris, dia bahkan benar-benar berhemat dan menyisihkan uang dari pemberian Bhaga d

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Di Ranjang Majikanku   100. Anak Kurang Ajar

    Suasana kantor polisi pagi ini begitu riuh. Orang-orang berjalan wara-wiri, sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Beberapa pria dengan wajah beringas terlihat sedang digiring dengan menggunakan borgol. Sedangkan Binar dan Bhaga datang dengan pakaian kelewat rapi, hanya untuk hal yang bisa d

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status