LOGIN“Aku menginginkanmu, Sayang.”Tubuh Bhaga yang sudah mengukung Binar kini berbalik, tangan yang tadinya mendarat di pinggang Binar, sekarang mengulur ke arah panel lift dan menekan tombol merah.Mata Binar terbelalak,dia bahkan berpegang pada lengan Bhaga saat lift berhenti mendadak.“Bhaga!” pekiknya. Dia mendongak. “Apa yang—”“Sejak kamu masuk ruanganku tadi,” kata Bhaga. Matanya kembali menyusuri wajah cantik di depannya, “aku tidak bisa fokus, pikiranku dipenuhi oleh bayanganmu.”Binar berkedip. “Dan itu salahku?”“Tentu saja, karena kau mengusik ketenanganku.”Bibir Binar terbuka dengan ekspresi tak percaya. Dia kehilangan kata, tapi kembali tersadar saat lehenya sudah dikecupi oleh Bhaga dan pinggangnya ditarik mendekat hingga tubuh mereka menempel.“Bhaga, ini lift.”“Aku tahu.”“Ada CCTV.” Binar mendongak. Di sudut langit-langit, lensa kamera keamanan berkedip merah kecil. “Bagaimana kalau ada yang —”Tapi tangan Bhaga tak berhenti menjelajahi tubuh BInar. Dia bahkan tak sung
Binar baru selesai mengaplikasikan skincarenya. Dia sudah memakai piyama tidur dan bersiap untuk membaca ulang semua materi hari ini, tapi suara denting pesan masuk membuatnya meletakkan kembali bukunya. Tangannya mengambil ponsel di nakas dan dahinya mengernyit.“Ini beneran Bhaga yang kirim pesan begini?” tanyanya pada diri sendiri.Dia membacanya lagi.[Sayang, bisa ke kantor? Aku masih di sini dan mau kamu temeni.]Binar sudah mengetikkan balasan tapi kemudian dia memilih untuk melakukan panggilan saja. “Kamu serius?”Suara Bhaga terdengar begitu yakin. “Tentu. Kemarilah, aku tunggu.” “Memang kamu masih akan lama?” “Tidak tahu. Mungkin sampai jam sebelas.”Binar melirik jam di dinding dan ini masih jam delapan, lalu dia mengangguk. “Oke. Kamu mau dibawakan sesuatu.”“Tidak. Aku cuma mau kamu, Sayang.”**Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh saat Binar sampai. Dia menyapa para penjaga gedung dan melangkah masuk dengan langkah cepat. Keadaan kantor sudah sangat sepi, beberapa l
Kelas selesai lebih cepat. Binar merapikan barang-barangnya dan keluar ruangan, berjalan menyusuri koridor. Sepatu flat-nya nyaris tak bersuara di lantai marmer. Tangannya merapikan tas selempang di bahu, sambil menahan senyuman saat mengingat hasil presentasinya tadi diberikan nilai yang baik.Koridor begitu sepi. Sebagian besar karyawan sedang sibuk di meja masing-masing. Binar ingin ke pantry, mengambil minuman dingin sebelum pulang.Dua wanita berdiri di dekat ruang rapat. Wajah mereka berganti ekspresi dengan cepat saat melihat Binar, hingga terlihat senyum yang terlalu dipaksakan. Salah satunya menyapa, "Bu Binar, apa kabar?"Binar menjawab singkat sambil tersenyum, tapi langkahnya tidak berhenti.Di ujung koridor, sekelompok karyawan sedang mengobrol dengan suara yang pelan. Binar yang melihat itu, melambatkan langkahnya dan mendekat perlahan. Ketika salah seorang melihatnya datang dan memberikan kode, semua langsung salah tingkah. Percakapan itu berhenti mendadak. Wajah-wajah
Suara ketukan di pintu membuat Bhaga menghentikan jemarinya sesaat di atas keyboard, dia belum sempat menjawab, tapi pintu sudah terbuka dan Rudi masuk dengan langkah cepat, lalu meletakkan tablet di meja Bhaga.Tidak bilang apa-apa. Hanya meletakkan dengan pelan dan menyodorkan ke arah Bhaga, lalu mundur selangkah. Tak ada yang terlihat aneh, Rudi dengan tenang menunggu, membuat Bhaga mendongak sebentar untuk memindai Rudi dan mengambil tablet itu dengan sedikit ragu.Bhaga kembali menoleh kepada Rudi, dan dengan acuh melihat halaman yang terbuka di tablet lalu mengernyit. Matanya memicing saat membaca laporan itu satu persatu. Rahangnya mengeras.Rekap monitoring internal. Seolah tak ada yang berbeda, format laporan seperti biasa. Tapi isinya berbeda. Bukan angka penjualan atau kinerja divisi. “Apa ini?!” tanyanya geram.Terlampir deretan nama, divisi, beserta link video juga keterangannya.Bhaga mulai membaca dari atas. Pada baris pertama, ada tangkap layar dari Grup Whatsapp karya
Bhaga benar-benar serius dengan ucapannya. Selama tiga hari berikutnya, keadaan rumah ada di bawah pengawasannya.Hari pertama dia tidak ke kantor. Rudi yang mengurus semua rapat dan komunikasi dengan klien. Bhaga hanya sesekali mengecek email, ponsel, dan membalas pesan-pesan yang benar-benar penting. Selebihnya, dia di kamar. Menemani Binar.Mengecek suhu tubuh, mengganti kompres, dan membangunkannya saat waktu makan juga minum obat tiba. Bersyukur, tak ada yang perlu dikuatirkan, karena Binar perlahan membaik.Beberapa kali Binar setengah sadar saat kompres diganti. Matanya terbuka sebentar, melihat Bhaga di sampingnya, lalu tertidur lagi.Jam delapan Bhaga turun ke dapur. Maryam sedang menyiapkan masakan untuk makan siang."Bi, Binar makan bubur saja dulu. Yang lembut.""Sudah, Tuan. Sudah saya siapkan.""Pisang juga. Kata dokter kalau tidak nafsu makan, pisang bisa jadi pengganti."Maryam mengangguk, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia merasakan sendiri bagaimana muramnya ru
Jalanan begitu padat sore ini. Bhaga berulang kali menekan klakson dan menyalip mobil di depannya. Dia meninggalkan sopirnya di kantor, dan pulang dengan terburu-buru.Pikirannya terus berputar pada kalimat Maryam tadi saat meneleponnya. “Nona Binar pingsan, Tuan.”Tak pikir panjang, rapat yang baru berjalan sebentar langsung ditinggalkan. Membiarkan Rudi untuk mengurus sisa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.“Astaga, ini kenapa macet banget, sih,” gerutunya sendiri sejak tadi.Hatinya tak tenang. Binar jarang sakit, dan kalau sampai pingsan, itu artinya tubuhnya sudah sampai pada batasnya.“Sayang, kamu kenapa?” Dia mengusak rambutnya beberapa kali, sedang tangan satunya memegang setir dengan kuat. Frustrasi."Tuan, Nona Binar pingsan di dapur. Saya sudah memindahkan ke sofa. Tapi tidak mau dibawa ke dokter. Katanya cuma pusing."Dia menghela napas kasar. Membayangkan betapa keras kepalanya Binar bila sudah memutuskan.Di dalam mobil, dia mencoba menelepon Binar. Tidak dia
“Kamu selalu mudah basah untukku, Binar.”Bhaga membiarkan Binar bersandar dengan nyaman di sofa, sedangkan dia bersimpuh di bawah, menikmati pemandangan indah di depannya dengan jari dan lidah. Bibirnya mengecup perlahan dan tersenyum saat mendengar Binar melenguh tertahan.Dada Binar bergerak nai
Suasana rumah terasa menegangkan. Para pembantu mengintip dari dalam dan memperhatikan dalam diam.Sedangkan di halaman rumah, Celia berdiri di samping mobil mewah yang masih menyala, wajahnya penuh binar antusias, sangat kontras dengan kemurungan di dalam rumah."Ardan, cepat sayang! Nanti kita te
Matahari masih ada di langit tertinggi, tapi kedua orang di kamar utama tak peduli. Mereka berbagi rasa panas, lewat gairah dan nafsu. Celia sudah merebah di kasur, dengan lingerie tipis, badannya menggeliat di bawah tubuh besar Kevin yang mengukungnya.Bunyi decapan dari cumbuan mereka memenuhi l
Paginya, Binar bangun dengan tubuh yang terasa berat dan nyeri. Setiap ototnya menegang, mengingatkannya pada intensitas "percakapan" di ruang kerja Bhaga semalam. Bagaimana pria itu menekannya tanpa lelah hingga beberapa kali, seolah tak ada lagi hari esok.Tetapi ini lebih dari sekadar fisik, ad







