Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 152. Ciuman Penghapus Keraguan

Share

152. Ciuman Penghapus Keraguan

Author: Keke Chris
last update publish date: 2026-01-08 21:00:52

Binar terdiam. Dia kehilangan kata-kata. Saat kalimat itu meluncur dengan isak tangis dari Ardan, hatinya teriris. Baru saja dia dibilang sebagai wanita perebut kebahagiaan orang lain, kini anak yang katanya dirampas merasakan kehilangan ibu kandungnya.

Dia tersenyum kecut. Terasa getir di sudut bibirnya,

Air mata sudah terkumpul di sudut matanya, tapi dia menarik napas dalam, dan mendongak untuk menghalau air mata itu jatuh.

Dengan perlahan, Binar kembali memeluk Ardan. Kali ini lebih erat sam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   319. Ucapan Terima Kasih

    Satu jam kemudian, ballroom berubah lebih tenang.Lampu utama diredupkan perlahan. Percakapan di tiap meja mulai mengecil saat layar besar di panggung menyala menampilkan kategori penghargaan malam itu.Binar yang duduk di meja depan otomatis menegakkan punggungnya. Jemarinya saling terkait di atas pangkuan.“Penerima penghargaan kategori Pemberdayaan Wanita Ekonomi Lokal tahun ini…”Suara presenter menggema lembut memenuhi ruangan.Layar mulai menampilkan nama para nominasi beserta cuplikan program mereka. Foto-foto komunitas binaan Binar muncul bergantian. Workshop kecil. Ibu-ibu yang sedang menganyam. Ruang sederhana dengan meja panjang penuh hasil kerajinan.Binar menatap layar tanpa berkedip. Napasnya terasa pendek. Dadanya menghangat, melihat hal itu saja sudah membuatnya sangat bangga.“…program yang kami pilih berhasil menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.”Bhaga melirik dari samping. Binar terlihat tenang di luar. Namun jemarinya mulai di

  • Di Ranjang Majikanku   318. Kapan Nikah?

    “Bu Binar, tolong lihat sini dulu! Satu foto lagi!”Flash kamera menyilaukan langsung menyambar begitu pintu ballroom terbuka.Binar yang baru melangkah masuk refleks berhenti. Tangannya berpegang erat pada lengan Bhaga. Menyembunyikan kegugupan.Seorang panitia perempuan menghampiri dengan wajah berbinar. “Akhirnya datang juga. Kami takut Ibu terjebak macet.”“Masih aman tadi,” jawab Binar sambil tersenyum kecil.“Boleh langsung ke area tamu undangan ya, Bu. Nanti setelah sesi pembicara kedua, Ibu langsung naik panggung.”Bhaga yang berdiri di sampingnya mengangkat alis tipis.Sesi pembicara? Sungguh mendengarnya masih janggal. Biasanya orang-orang berhenti karena dirinya. Namun malam ini semua mata bergerak ke perempuan di sebelahnya.“Kak Binar!”Seorang perempuan muda datang setengah berlari sambil membawa ponsel. “Boleh selfie sebentar? Aku follow proyek Kakak dari tahun lalu.”Binar terlihat kaget sesaat sebelum tersenyum hangat. “Boleh.”Bhaga mundur satu langkah saat kamera po

  • Di Ranjang Majikanku   317. Undangan Gala Dinner

    “Kenapa namaku yang ditulis duluan?” Tangannya langsung berkeringat begitu membuka undangan yang dia terima baru saja.Binar membaca ulang kartu undangan di tangan untuk sekian kalinya. Iya, dia membutuhkan waktu untuk meyakinkan dirinya bahwa tulisan dengan tinta emas itu tetap tidak berubah. Atas namanya!Ibu Binar dan pendamping. Bukan yang biasa dia baca saat menerima undangan, kepada yang tertuju dengan nama Bhaga di sana atau nama perusahaan.Bukan embel-embel nama besar yang selama ini tertulis. Itu adalah rangkaian huruf namanya sendiri.Binar menelan ludah pelan. Bibirnya tersenyum tak percaya. Pipinya terasa hangat karena bersemangatUndangan itu datang siang tadi lewat panitia acara, dikirim langsung ke rumah dalam amplop tebal berlogo Yayasan Perempuan Berdaya. Gala dinner tahunan mereka terkenal eksklusif. Acara yang dihadiri pejabat pemerintah, investor sosial, pemilik yayasan besar, sampai pengusaha yang punya pengaruh di program pemberdayaan nasional khususnya wanita.

  • Di Ranjang Majikanku   316. Akhirnya Berhasil

    “Kalau Ibu mau cepat, saya tidak bisa janji.” Suara di seberang telepon terdengar sedikit meremehkan.Binar berusaha sabar dan menegakkan punggung di kursi meja kerjanya. Laptop terbuka di depannya, beserta kertas-kertas kerja juga catatan kecil yang masih berantakan.“Jadi paling cepat butuh berapa lama, Pak?”“Paling cepat seminggu untuk pengiriman pertama.”“Oke. Itu masih bisa saya terima”Pria di seberang telepon terdengar ragu. “Tapi jarak kami jauh dari Jakarta, Bu. Ongkos kirimnya bagaimana?”“Tidak masalah selama kualitas barangnya sesuai.”Binar menekan pulpen ke meja, mencatat angka yang disebutkan.“Jujur saja, Bu,” lanjut pria itu, “kami biasanya tidak ambil order mendadak begini.”“Saya juga biasanya tidak pindah vendor mendadak begini. Namun, rekomendasi Bu Ratri terhadap usaha Anda benar-benar saya pertimbangkan.”Hening sebentar.Binar memejamkan mata sesaat, menahan lelah yang mulai menarik tengkuknya.“Saya cuma butuh kesempatan buat buktiin kalau kerja sama ini bis

  • Di Ranjang Majikanku   315. Lepaskan Lelahmu Padaku

    Beberapa hari sejak vendor lamanya mundur, Binar mulai merasa waktu berjalan lebih cepat daripada tumpukan pekerjaannya.Pagi hari dipakai mengurus Ardan. Siang menemui kelompok binaannya. Sore menghubungi calon vendor satu per satu. Sedangkan malam, dia akan duduk berjam-jam di depan laptop sambil membandingkan harga, kualitas bahan, dan ongkos pengiriman yang semuanya disusun agar begitu Vendor didapatkan dia mencapai kesepakatan kerja sama.Ada vendor yang murah tapi kualitasnya buruk. Ada yang kualitasnya bagus tapi minimum order terlalu besar. Ada yang menjanjikan bisa kirim cepat, tapi setelah di cek ulasannya ternyata sering bermasalah. Namun yang dia dapatkan lagi-lagi vendor dengan penolakan tegas untuk usaha kecil Binar.Malam itu jam menunjukkan hampir setengah sebelas ketika dia masih duduk di meja kerja dengan rambut berantakan dan mata lelah menatap layar laptop.Ardan sudah tidur sejak dua jam lalu. Rumah sudah sepi. Namun, daftar vendor di laptopnya belum juga berkuran

  • Di Ranjang Majikanku   314. Aku Akan Mengurusnya Sendiri

    “Maaf, Bu Binar. Kami tidak bisa melanjutkan kerja sama kita.” Suara pria di seberang telepon terdengar rendah. Berbeda dari biasanya.Binar langsung menegakkan duduknya. “Maksud Bapak?”Suasana jadi hening sejenak. “Ada kendala internal.” Akhirnya kalimat itu yang Binar dengar.“Tiga minggu lalu semuanya aman. Apakah saya membuat kesalahan?” Binar coba bernegosiasi.“Saya tahu semua baik-baik saja selama ini. Kerja sama kita juga menguntungkan buat saya.”“Lalu kenapa sekarang mendadak berubah?”Hening sesaat. Embusan napas panjang yang terdengar seperti menahan beban. Binar bisa merasakan pria itu canggung dan merasa tak nyaman melanjutkan pembicaraan ini.“Kami perlu evaluasi ulang kerja sama kita, Bu.” suaranya kini terdengar tegas.Jari Binar mengencang di ponselnya. “Ini soal harga? Kita bisa bicarakan baik-baik bila kendalanya adalah harga.”“Bukan, Bu Binar.”“Produksi?”“Bukan juga.”“Lalu apa?”Pria itu menarik napas berat.“Maaf, Bu. Terima kasih atas kerja sama yang sudah

  • Di Ranjang Majikanku   154. Aku Di Sini Bersamamu

    Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yan

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Di Ranjang Majikanku   243. Ulang Tahun Ardan

    Pesta ulang tahun Ardan yang ke-6 berlangsung meriah.Ruang tamu rumah utama disulap menjadi lautan biru. Balon-balon berbentuk dinosaurus bergelantungan di setiap sudut, ada yang berbentuk T-rex, ada yang brontosaurus panjang melingkar di tiang teras. Spanduk kecil bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY ARDA

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Di Ranjang Majikanku   244. Aku Butuh Pelepasan

    Binar menghela napas lega dengan senyum puas. Akhirnya acara selesai dengan baik, walaupun tak begitu lama, tapi Ardan terlihat begitu bahagia. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Dia bersyukur bisa memberikan kenangan baru untuk Ardan.Dia berbalik, setelah mengantar tamu terakhir untuk pulang

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Di Ranjang Majikanku   246. Memendam Kecewa

    Makan malam selesai tak begitu lama setelah obrolan mereka berakhir. Djati benar-benar tak memberikan jeda Binar untuk menolak bahkan untuk berpikir pun tidak ada.Dia hanya terus melontarkan kalimat motivasi, dan Binar lebih terbuka pandangannya.Sopir Djati mengantar Binar pulang.Sepanjang perja

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status