ログインTubuh Binar terhuyung ke samping dan kakinya membentur kursi kayu. Dia memejam erat sambil menggigit bibirnya dan meringis. Menahan sakit yang menusuk.
Telinga Binar berdengung. Kepalanya terasa berputar dan nyeri di pipinya terasa sangat perih. Suara tamparan itu seperti masih bergema di telinganya.
Binar terdiam di tempat, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Tidak. Tidak boleh menangis di depan nyonya, nanti dia akan makin kesal, pikir Binar.
Binar merasakan tangan kecil menggenggam roknya di belakang. Saat menoleh, dia melihat Ardan bersembunyi di belakangnya sambil menangis.
“Dasar pembantu kurang ajar! Berani-beraninya menghalangiku!” teriak Celia, nafasnya masih berbau alkohol tajam. Tangannya sudah siap untuk menampar untuk kedua kalinya.
Tiba-tiba, sosok Maryam muncul dari balik pintu dapur. “Nyonya! Nyonya, tenanglah!” serunya dan dengan berani menahan lengan Celia yang akan melayang.
Beberapa pelayan lain yang sedang mempersiapkan makan malam, akhirnya berkerumun dengan wajah ketakutan.
“Lepaskan, Maryam! Aku akan memberikan pelajaran pada si bocah kampung ini!”
Celia masih terus memberontak dan berusaha menggapai Binar. Tak peduli Ardan yang menangis histeris dan meringkuk dalam pelukan Binar
“Apa yang terjadi di sini?”
Suara Bhaga terdengar penuh penekanan dan wibawa. Auranya tegang, membawa amarah yang tertahan, membuat semua orang terdiam.
Dia masuk dengan langkah lebar, matanya memindai sekeliling dan tertahan pada satu titik untuk sesaat. Melihat Binar dengan bekas tangan di pipi, ditambah Ardan yang menangis yang menangis di belakangnya.
Dengan cepat dia menoleh pada istrinya yang masih dalam cengkeraman Maryam. Wajahnya berubah dari heran menjadi dingin yang mengerikan.
“Bhaga! Kamu pulang, Sayang! Lihatlah pembantu barumu ini! Dia berani menghalangi aku untuk mendekati anakku sendiri!” Celia melepaskan diri dari Maryam dan berteriak.
Bhaga meletakkan tasnya dengan perlahan. Dia tidak menjawab istrinya, malah berjalan mendekati Binar.
Di hadapan semua orang, jari-jarinya yang panjang menyentuh dagu Binar, mengangkat wajahnya untuk memeriksa luka di pipi.
Celia melongo di belakangnya. “Apa-apaan ini, Bhaga?” tapi suaminya tak menggubrisnya.
Binar menahan nafas. Meski dengan wajah menahan marah, sentuhan Bhaga entah kenapa terasa lembut. Kalau bisa, Binar ingin kabur. Tapi tubuhnya hanya bisa membeku.
“Bawa Ardan ke kamar,” bisik Bhaga, suaranya serak. “Luka ini, oleskan salep.”
Binar mengangguk, terlalu shock untuk bicara. Dia mengambil Ardan yang masih menangis dan buru-buru meninggalkan ruangan, merasakan pandangan semua orang di punggungnya.
Begitu Binar pergi, Bhaga berbalik kepada Celia. Amarah yang dia tahan akhirnya meledak.
“Cukup, Celia!” raungnya, suaranya menggelegar. “Lihat dirimu! Kau pulang dalam keadaan mabuk, menakuti anakmu sendiri, dan memukul seorang gadis yang hanya melakukan pekerjaannya!”
“Pekerjaannya?! Pekerjaannya adalah merampas anakku dariku?” Celia membalas, tapi sedikit gentar melihat amarah Bhaga.
“Dia tidak merampas siapa pun! Dia ada di sini untuk Ardan karena kau tidak pernah ada! Kau pikir aku tidak tahu? Aku memblokir kartu-kartumu bukan untuk menyakitimu, Celia! Tapi karena uangku bukan untuk dibelanjakan untuk foya-foya dan pesta poramu yang memalukan!”
Semua pelayan menunduk, berusaha membuat diri mereka tidak terlihat. Lalu berlalu pergi ke belakang dalam diam. Rahasia umum itu akhirnya dikuak begitu saja di depan semua orang.
Celia seperti ditampar keras. Wajahnya memerah dengan emosi. “Kamu... kamu—”
“Jangan melawan lagi. Kamu pikir aku tidak tahu yang kamu lakukan di belakangku? Aku memiliki buktinya. Sekarang, pergi dari pandanganku sebelum aku membuatmu menyesal,” geram Bhaga, menunjuk ke arah tangga.
Celia membanting sembarang barang yang ada di dekatnya. Dengan tatapan penuh kebencian, dia akhirnya berbalik dan berjalan ke atas, membanting pintu kamarnya dengan keras.
**
Malam hari, setelah Binar berhasil menidurkan Ardan yang masih terlihat gelisah, dia kembali ke kamar kecilnya. Pipinya masih terasa perih dan panas. Dia duduk di tepi tempat tidurnya, mencoba memproses segala yang terjadi hari ini.
Tangannya baru saja terangkat ingin menyentuh pipinya, tapi ketukan pelan di pintu membuatnya terkejut.
“Siapa?” panggilnya pelan.
Pintu terbuka perlahan, dan Maryam berdiri di sana. Tangannya membawa sebuah mangkuk kecil berisi es batu yang dibungkus handuk dan sebuah tube salep.
“Ini dari Tuan Bhaga. Cepatlah obati wajahmu, sebelum semakin parah.”
Binar mengangguk dan berjalan masuk ke kamar mandi. Dia terdiam sesaat. “Dari Tuan Bhaga katanya. Apa iya?”
Binar memandangi bayangannya di kaca. Pipinya bengkak akibat tamparan Celia. Badannya juga ngilu setelah terbentur kursi kayu.
“Sini, biar kuobati.”
Binar terkesiap mendengar suara itu. Dia menoleh ke arah pintu kamar mandi. Bhaga berdiri di sana, melangkah mendekatinya.
Bhaga mengambil salep dan memiringkan kepalanya menatap wajah Binar. Tangannya menyentuh pipi Binar, dengan lembut mengoleskan salep.
Tubuh Binar menegang, gugup merasakan kontak fisik dengan majikannya itu. “T-Tuan. Terima kasih. Tapi tidak perlu repot-repot.”
Bhaga hanya diam dan memperhatikan pipi Binar. “Celia... dia melampaui batas.”
“Nyonya sedang marah, Tuan. Mungkin karena mabuk,” Binar mencoba membela, meredakan amarah Bhaga.
“Jangan membelanya,” potong Bhaga dengan tajam. Lalu, nadanya melunak. “Dia memang seperti itu.”
Mendengar kalimat panjang dari seorang Bhaga adalah hal yang tidak terduga. Binar hanya bisa mengangguk. “Tidak apa-apa, Tuan.”
Ada keheningan yang canggung. Bhaga meletakkan tube salep. “Segera istirahat. Besok pagi, kamu bisa izin kalau masih sakit.” Seolah tidak tahan dengan rasa canggung, dia berbalik untuk pergi.
“Baik, Tuan,” jawab Binar dengan sopan.
Binar buru-buru membereskan botol salep, handuk, dan mangkuk es. Saat hendak berputar, pahanya menabrak sisi meja kecil, Binar pun mengaduh dan meringis.
“Aduh.” Tangannya mengelus pahanya dari luar roknya, berusaha mengurangi rasa sakit.
Tetapi, yang tak pernah dia duga, tangan Bhaga tiba-tiba menyentuh ujung rok dan menyingkapnya sedikit ke atas.
Binar tersentak kaget dan menahan roknya. “Eh, Tuan. Mau apa?”
“Biar sekalian kuobati. Mana sini, saya lihat lukanya.”
Mata Binar terbelalak kaget. “Ta-tapi, saya malu, Tuan.”
Binar kira, Bhaga akan berhenti. Tapi pria itu malah mendengus geli dengan suara rendahnya.
“Untuk apa malu? Kamu saja pernah mengintip saya waktu itu, dan kamu melihat semuanya, kan?”
Langit Jakarta tertutup awan gelap yang mengantung rendah. Angin bertiup kencang, membuat bulu kuduk sedikit merinding karena dingin yang menusuk. Suasana di depan rumah sakit jiwa terlihat mencekam, karena sekitarnya gelap. Lampu-lampu jalan tak bisa menyinari secara maksimal, membuat cahaya hanya berpendar seadanya.Celia berdiri di depan pintu keluar utama. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dingin, dan tangannya mencengkeram tas selempang kecil yang dia bawa delapan bulan lalu. Tubuhnya kelihatan kurus, rambutnya diikat asal dan tak ada riasan, membuat tulang pipinya lebih menonjol.Dia menajamkan mata ke luar, tak ada sedikit pun ketakutan. Seolah dirinya menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Seringai tipisnya hadir, sangat tipis, hingga tak ada yang menyadari.Tak ada yang menjemput. Karena keluarganya sudah tak lagi pernah mencarinya sejak dia masuk ke rumah sakit jiwa. Memalukan, kata itu yang menempel padanya sejak itu.Kepalanya menunduk, menatap pakaian sederhana yang menempe
Entah angin apa yang merasuki Binar malam ini. Dia tiba-tiba begitu berhasrat pada Bhaga padahal pria itu tak melakukan apa pun. Darahnya berdesir saat Bhaga berbisik. Dia bahkan tak mendengarkan dengan baik, tapi napas hangat Bhaga seolah menggelitiki kulitnya, menyusup ke dalam pakaiannya dan membuat puncak dadanya menegang sempurna.Bhaga terkejut.Binar tahu itu, dia merasakan ketegangan tubuh Bhaga yang mendadak kaku. Tapi dia tak berhenti. Bibirnya terus merayu, memanjakan bibir Bhaga dengan lidahnya, dan lumatan itu akhirnya terbalas dengan gairah yang sama.Binar mendongak.Tanga Bhaga melingkar lebih erat, menarik tubuh Binar agar semakin menempel padanya dan tangannya menjelajahi kulit Binar seolah tak ada lagi hari esok. Dia terbakar oleh panas tubuh Binar.Bibir keduanya bergerak semakin liar, basah, dan sedikit membengkak.Tubuh keduanya mulai bergerak. Gerakan yang jelas bukan untuk bersiap tidur. Tapi saling menggoda dan memuaskan. Memancing semakin dalam gairah yang ki
Bhaga menuruni tangga dengan santai. Dia baru menyelesaikan sisa pekerjaannya dan sekarang ingin makan malam. Tapi saat tiba di bawah, dia mengernyit.Kenapa sepi sekali? Tanyanya dalam hati. Rasanya tadi Binar sedang bermain bersama Ardan, tapi kemana semua orang sekarang.Kepalanya menoleh, menyisir seluruh ruangan dan benar-benar hening. Dia kemudian melangkah ke meja makan dan duduk di sana, menunggu."Selamat sore, Tuan.""Bi." Bhaga menumpukan tangan di atas meja. "Ardan?""Di kamarnya. Sebentar lagi mungkin akan turun juga." Maryam menjeda. Tangannya meremas ujung apron. "Em, Tuan … Nyonya Nurma, beliau tadi datang dan baru saja pulang."Bhaga menegakkan tubuhnya.“Nona Binar sepertinya masih di depan, mengantar beliau pulang.”Dia mendongak dengan cepat, menatap wajah Maryam yang pias."Mengapa tak ada yang memberitahukanku?!"Maryam menunduk sedikit. “Nyonya Nurma yang melarang, karena kedatangannya memang untuk berbicara dengan Nona Binar.” Dia terdiam sesaat. “Mohon maaf, T
Hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.Ardan sudah naik ke kamarnya, ditemani oleh Sari. Langkah kecilnya yang semakin tak terdengar, membuat ketegangan semakin meningkat di tengah keheningan itu.Tak ada yang membuka suara lebih dulu. Beberapa kali mereka beradu tatap dengan beragam emosi, tapi keduanya msih tetap diam.Binar duduk di kursi seberang. Tidak terlalu jauh, masih bisa mendengar bahkan bila Nurma berbisik sekalipun. Jarinya sesekali saling meremat di atas meja, dia gugup, tapi bisa menguasai diri.Nurma menatapnya. Mendengus dan matanya menyisir tiap inci dari Binar. “Kamu terlihat lebih terawat.” Nadanya penuh dengan cibiran. “Ya, Baguslah. Setidaknya enggak terlalu memalukan.”Binar menatap balik. Tidak tersenyum berlebihan. Tapi tak ada kalimat pembelaan atas sekedar jawaban basa basi. Dia masih setia menunggu, inti dari apa yang ingin Nurma sampaikan.Nurma menarik napas panjang dan melepaskannya dengan cepat. Seolah membuang segala apa yang dia rasakan sejak tad
Tak ada yang tahu Nurma akan datang ke rumah Bhaga malam itu. Nurma tidak menghubungi siapa pun sebelum datang, dia pergi secara impulsif karena terpicu oleh rasa penasaran.Mobilnya terparkir di halaman rumah Bhaga saat hari mulai malam. Sopirnya baru saja turun, berniat untuk membukakan pintu, tapi Nurma sudah berjalan duluan. Saking terburu-burunya, dia tak mengganti pakaiannya dan masih mengenakan sandal rumah. Tak ada barang lain yang dibawanya kecuali tas yang kini ada di genggamannya. Dia mengetuk pintu dan Maryam yang membukakannya dengan wajah yang sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum ramah. “Nyonya Besar,” sapanya. “Silakan masuk.” “Dimana semua orang?” Tanya Nurma saat dia melangkah masuk. “Sedang di ruang makan, Nyonya. Bersiap untuk makan malam. Mari saya antar, Nyonya.” Tangan Nurma terangkat. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Maka, Maryam pun sedikit membungkuk dan undur diri dari sana. Nurma melangkah dengan langkah cepat. Dari dalam terdengar suara tawa
Sore itu Nurma tiba-tiba saja menelepon ke rumah Bhaga. Semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan Maryam yang menerima panggilan itu.Seperti biasa, Ardan adalah hal pertama yang ditanyakan. Setelahnya keadaan rumah dan kesehatan Bhaga. Dan Maryam menjawab semua dengan jujur."Iya, Nyonya. Den Ardan sehat. Minggu lalu baru saja mengadakan piknik kecil di halaman belakang rumah dengan beberapa teman sekolahnya.""Piknik? Siapa yang urus?""Non Binar dengan Tuan Bhaga, Nyonya. "Nurma diam sebentar di ujung telepon. Maryam tidak menyadari keheningan itu sebagai sesuatu yang salah. Dia kembali melanjutkan ceritanya, karena Nurma bertanya lagi, "Apa-apa saja yang disiapkan?"Maryam bercerita dengan detil tentang acara kecil itu dan Nurma mendengarkan dengan suara yang masih terdengar ramah.Lalu Maryam menyebutkan sesuatu yang membuat Nurma terdiam lebih lama."Tuan besar juga beberapa kali datang dan bicara dengan Non Binar di ruang kerja, Nyonya. Dan belakangan Non Binar dis
“Astaga, Non Binar. Tolong buka! Nyonya jatuh di dapur!” Ketukan pintu paviliun menghantam bertubi-tubi, disertai teriakan panik yang memecah kesunyian.Binar terlonjak dari tidurnya, napasnya tercekat seketika. Jantungnya berdentam keras, seolah ingin menembus dada. Dia menoleh ke arah jam di nak
Bhaga rupanya menuju halaman parkir rumahnya. Menghidupkan mobil lalu menyusul Celia yang masih berdiri lemas di depan pagar rumah. Celia tersenyum. “Aku tahu kau tidak akan tega melihatku pulang sendirian. Kau masih sangat menyayangiku, Bhaga.” Senyumnya semakin lebar kala Bhaga membuka pintu mo
Malam masih menuju pagi. Sprei dan tempat tidur sedikit kacau. Setelah mengarungi lautan cinta. Keduanya masih belum beranjak dari tempat tidur. “Kalau suatu hari aku jatuh dan tak berharga, kau masih mau di sampingku?” Bhaga menatap langit-langit paviliun. Suaranya rendah. Ada kelelahan yang belu
"Kondisinya belum memungkinkan bila kita tinggal di rumah itu. Mau ya bersabar sedikit lagi?" Bhaga kini lebih seperti memohon. Wajahnya sendu.Bhaga semakin mendekat. Tubuhnya kini telah melekat di tubuh Binar. “Aku akan selalu menjagamu, Sayang,” katanya lagi, masih mencoba meyakinkan.Binar ber







