LOGINUcapan Bhaga membuat Binar tersentak dan pipinya memerah malu. “M-maaf, Tuan, saya—ah!”
Binar terlonjak mundur begitu ujung jari Bhaga menyentuh kain roknya. Rasanya seperti tersengat listrik. Jantungnya berdebar kencang, hampir keluar dari dadanya. Darahnya berdesir hebat, dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.
Binar bisa merasakan jemari Bhaga menyentuh lututnya. “Angkat rok kamu lebih tinggi. Biar saya obati sekalian.”
Wajah Bhaga mendekat ke bagian bawah Binar, tangannya sudah dengan sigap memegangi satu lutut. Tangan satunya lagi sudah naik, mengelus-elus lebam di paha mulus itu.
“T-Tuan. Jangan!” lirihnya malu. Dia melirik Bhaga dengan kedua tangan mencengkeram erat roknya. Wajahnya merah padam. Malu, bingung, dan sedikit ... tergoda. Tapi dia segera mengusir pikiran itu.
Bhaga terdiam. Tangannya masih terulur di antara paha Binar. Detik berikutnya, ekspresinya berganti dengan rasa tak enak karena merasa ditolak. Dia menarik napas panjang dan menurunkan tangannya.
“Baiklah. Maaf,” gumamnya. “Oleskan juga salepnya di situ. Memarnya akan cepat hilang dan es bisa mengurangi bengkaknya.”
Tanpa menunggu respon Binar, Bhaga berbalik dan meninggalkan kamar dengan langkah cepat. Meninggalkan Binar sendirian dengan napas terengah.
**
Keesokan hari, suasana rumah terasa bagai diselimuti kabut. Celia tidak turun untuk sarapan, sedangkan Bhaga sudah berangkat lebih awal.
Pipi Binar masih sedikit merah dan membengkak, tapi dia berusaha menjalani rutinitasnya seperti biasa. Tapi bayangan semalam terus berputar dan rasa sesak itu malah semakin menjadi.
Saat sore datang, Binar membawa Ardan ke taman di belakang rumah. Mengajaknya bermain sambil belajar seperti biasa.
Dia mendorong Ardan di ayunan, mencoba tersenyum dan mengajak bercanda agar bocah itu kembali ceria.
Dia sedang menggelitiki Ardan dalam pelukannya, tertawa bersama dan bercanda sambil mendengarkan celotehan Ardan.
Tiba-tiba, suara langkah yang belakangan mulai familier mulai mendekat. Langkah arogan dari sepatu hak tinggi beradu lantai.
Celia berjalan menghampiri keduanya. Wajahnya terlihat pucat dengan mata yang sedikit membengkak, tapi auranya masih terlihat menakutkan. Dia mengabaikan Binar dan langsung memeluk Ardan yang baru saja diturunkan dari gendongan Binar.
“Sayangku, maafkan mama ya,” bisiknya pada Ardan. Lalu, tanpa melihat ke arah Binar, dia berkata, “Aku dan Ardan akan menghabiskan waktu bersama. Kamu tidak diperlukan.”
Binar hanya mengangguk patuh. “Baik, Nyonya.”
Dia sudah hampir pergi, tapi lengannya ditahan dari belakang. Cengkeramannya begitu kuat dan Binar menahan diri untuk tidak meringis.
Celia mendekat. Wajah keduanya kini begitu dekat dan Celia berbisik tajam.
“Aku melihat caramu memandang suamiku, dasar jalang. Kamu cuma pembantu di sini, jangan berani-beraninya kamu dekati dia.”
Binar membeku. Dia hanya mengangguk patuh dan tidak berani membantah.
Sepanjang hari, Binar berusaha menghindari kedua majikannya. Dia menyibukkan diri dengan membereskan kamar Ardan dan semua mainannya. Tanpa menyadari kalau Bhaga mendekat.
“Di mana Ardan?”
Binar langsung berdiri tegap mendengar suara Bhaga tiba-tiba dari belakang, tapi karena grogi dan masih teringat akan ancaman Celia, dia kehilangan keseimbangan. Kakinya tersandung karpet.
Bhaga dengan cepat meraih lengan Binar dan menahannya. Membantunya untuk berdiri, tapi tak kunjung melepaskan. Seolah tangannya nyaman bertengger di lengan Binar.
“Tuan muda ... bersama nyonya, tadi saya cek sudah tidur, Tuan,” jawab Binar lirih.
Seketika itu juga, genggaman Bhaga mengendur. Ekspresinya berubah masam.
“Kamu biarkan Celia mendekati Ardan?”
Binar menelan ludah. Bhaga terlihat kecewa sekali mendengar Celia bersama Ardan. Tentunya, kejadian kemarin masih menyisakan amarah Bhaga.
“Maaf, Tuan… Nyonya sendiri yang meminta ingin berdua saja dengan Tuan Muda,” balas Binar takut-takut.
Bhaga cuma menghela napas sebelum melihat ke Binar kembali. “Kamu sendiri? Sudah mau tidur?”
Binar menunduk dengan kikuk. “I-ini saya mau kembali ke kamar, Tuan …”
Bhaga tidak menjawab, alih-alih mengangkat tangan, sangat perlahan, jari-jarinya hampir menyentuh pipi yang masih menyisakan memar.
Tapi tiba-tiba, suara langkah dari hak tinggi yang khas terdengar dari lantai atas.
Bhaga menarik tangannya.
“Pergi ke kamarmu. Sekarang,” bisiknya pada Binar, suaranya mendesak.
Binar, dengan hati berdebar-debar ketakutan, mengangguk cepat dan berbalik untuk lari.
Perintah itu membuatnya semakin ketakutan. Terlebih saat naik ke lantai dua, dia melihat Celia di ujung lorong sedang berjalan ke arahnya.
“Sayang.”
Lalu, dia mendengar langkah Bhaga yang berat berjalan menuju tangga, memenuhi panggilan istrinya.
Binar dengan cepat bersembunyi di samping lemari besar dan memundurkan dirinya di sudut. Jantungnya berdegup kencang.
Sementara itu, suara langkah kedua majikannya terdengar mendekat dan berhenti di dekat lemari tempat bersembunyinya.
“Apa, Celia?” balas Bhaga dengan nada datarnya yang biasa.
Suara Celia berubah memanja. “Jangan galak-galak. Aku kangen, Sayang.” Dia mendekat dan memeluk leher Bhaga, menempelkan tubuh dengan gerakan menggoda.
Binar mengintip. Entah kenapa penasaran, ingin tahu reaksi Bhaga.
Tangan Bhaga berusaha melepaskan tangan istrinya. “Celia—”
Kata dari bibir Bhaga terputus, dibungkam oleh lumatan dan cecapan dari bibir Celia.
“Ada masalah di kantor?” Binar akhirnya bertanya itu di malam ketiga, karena sudah tak tahan melihat wajah Bhaga yang makin kusut. Pria itu murung dan banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja, bahkan melewatkan waktu makan. Bhaga yang sedang membuka kancing di pergelangan lengannya berhenti sebentar. Hanya sebentar dan menjawab tanpa repot menoleh pada Binar. “Sedikit.” Jawaban pendek yang menyebalkan, tapi itu artinya Bhaga belum mau membahas.Binar merapatkan bibirnya setelah menghela napas pelan. Dia yang sedang berdiri di samping meja makan memilih kembali fokus menuangkan teh panas ke cangkirnya. Aroma teh melati langsung memenuhi ruang makan di tengah malam itu.“Berat?” tanya Binar pelan sambil melirik ragu.Bhaga menarik kursi lalu duduk dengan tenang. “Masih bisa ditangani. Tenanglah.” Binar mengangguk kecil. Tidak memaksa lagi. Dia sudah cukup lama hidup di dekat pria itu untuk tahu kapan sebuah pertanyaan boleh dilanjutkan dan kapan harus berhenti. Bhaga bukan tip
Senin pagi, Bhaga sengaja datang lebih awal karena akan meninjau kerja sama yang akan di resmikan. Namun sebelum itu, dia butuh membaca ulang persiapannya agar tak terjadi kesalahan walau sekecil apa pun.Bhaga baru turun dari mobil saat Rudi muncul dengan cepat dari arah lobi utama. Langkahnya panjang, wajahnya tegang, tablet masih ada di tangan.Melihat itu saja, sudah cukup membuat Bhaga tahu ada sesuatu yang tidak beres.“Ada apa?” Tanya Bhaga tanpa menghentikan langkah.Rudi langsung berjalan di sampingnya. “Dokumen akuisisi Nusa bocor, Pak.”Langkah Bhaga melambat tapi dia tak berhenti. Wajahnya tetap lurus ke depan, meski matanya berkedip tak tenang. “Sejak kapan?”“Tadi malam. Kami dapat info jam lima pagi dari mitra Surabaya. Saya langsung cek silang dengan tim keamanan data sebelum Bapak datang.”Tatapan Bhaga semakin tajam menatap ke depan. Rahangnya mengeras tipis, tapi suaranya penuh ketegasan yang tersembunyi. “Sudah tersebar?”“Informasi itu masuk ke dua grup tertutup k
“Bhaga…”Suara Binar terdengar pelan saat masuk ke ruang kerja itu.Bhaga yang sedang membaca laporan di meja kerjanya langsung mengangkat kepala. Lampu ruangan redup. Hanya lampu meja yang menyisakan cahaya terang di sudut ruang.“Kamu belum tidur?”Binar menutup pintu pelan di belakangnya. Wajahnya terlihat lelah.“Aku mau ngomong sebentar.”Bhaga langsung menutup map di depannya tanpa bertanya macam-macam. Tatapannya mengikuti Binar yang berjalan pelan menuju sofa.Binar duduk. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Tidak langsung bicara.Bhaga menunggu. Ruangan itu terlalu tenang sampai suara jam dinding terdengar jelas.“Kamu pernah bilang hati-hati,” ucap Binar akhirnya.Bhaga menyandarkan tubuh ke kursinya. “Iya.”“Aku tidak hati-hati.”Nada suaranya datar dengan wajah sesendu itu membuat Bhaga menatapnya lebih serius.“Apa yang terjadi.”Binar mengembuskan napas pelan. Kepalanya menunduk sebentar sebelum akhirnya mulai cerita.“Aku datang telat ke rumah Kiara tadi.”Bhaga d
Minggu ini acaranya bertempat di rumah Kiara. Acara kali ini memang lebih privat dari biasanya, lebih kecil walaupun tentu saja menu dan obrolannya tak bisa disebut sederhana.Binar datang sedikit terlambat karena ada urusan terlebih dahulu di sekolah Ardan.Dia masuk ke ruang tengah yang sudah ramai. Suara tawa dan canda teman-teman sosialitanya terdengar dari kejauhan. Karena penasaran, dia mempercepat langkahnya untuk turut bergabung dalam obrolan seru mereka. Namun langkahnya terhenti tepat di dinding pembatas antar ruang, tempat acara berlangsung.“... kasihan, sih. Dia pikir kita mau berteman sama dia karena suka dan salut sama dia. Ih, enggak banget.”“Enggak mungkin banget ‘kan, ya?!”“Kalau kita enggak perlu koneksi ke keluarga Bhaga, aku juga enggak sudi deket-deket sama bekas babu kaya dia.”“Betul banget. Dia itu pintu paling gampang. Bayangkan privillege yang akan kita dapatkan juga.”“Anaknya sih, oke. Enggak aneh aneh. Tapi tetap aja ...”“... enggak sederajat sama kit
“Ini Binar, kekasih Bhaga”Kalimat itu jatuh ringan dari bibir Kiara. Pendek dan santai seakan tidak terasa seperti masalah untuk mengucapkannya.Namun justru karena terlalu pendek, Binar langsung merasakannya. Dia terdiam membeku, bingung ingin bereaksi bagaimana. Bahkan untuk tersenyum, dia kuatir salah.Di acara besar seperti ini, Binar tak ingin melakukan kesalahan sekecil apa pun yang dapat merugikan atau menjatuhkan keluarga Bhaga. Jadi sebisa mungkin dia memilih banyak diam sambil memperhatikan sekeliling.Ruangan private lounge hotel itu dipenuhi aroma parfum mahal dan suara gelas yang beradu pelan. Tawa perempuan-perempuan sosialita bercampur musik jazz yang diputar rendah dari pengeras suara sudut ruangan.Kiara berdiri di tengah lingkaran kecil bersama tiga perempuan baru yang belum pernah Binar lihat sebelumnya.“Yang ini Celine,” kata Kiara sambil tersenyum lebar. “Dia baru masuk Forbes Asia under forty.”Perempuan bergaun hitam itu tertawa kecil. “Kiara terlalu berlebiha
“Berarti proyek kamu sebenarnya enggak benar-benar mulai dari nol, dong?”Sendok di tangan Binar berhenti tepat di atas piring demi mendengar kalimat yang meluncur dari Melissa.Suasana restoran masih ramai. Musik piano pelan mengalun dari sudut ruangan. Pelayan berlalu-lalang membawa makanan mahal yang ditata cantik. Namun kalimat Melissa barusan membuat semuanya terdengar sedikit menjauh.Binar mengangkat kepala dan matanya berkedip. “Maksudnya?”Melissa terlihat santai sambil mengaduk es. “Aku dengar pendanaan awal proyek kamu dari Om Djati.”“Bukan.” Nada suara Binar masih tenang. “Aku pakai tabungan pribadi.” Senyumnya muncul menetralisir rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul menguasainya.“Oh.” Melissa tersenyum kecil. “Kupikir Om Djati yang biayain.”“Papi bantu kenalin aku ke beberapa orang.” Binar meletakkan sendoknya pelan. “Tapi modal awal tetap dari aku.”Kiara yang duduk di samping langsung menyelipkan senyum ringan. “Tetap saja ada privilege keluarga mereka di belakang
Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yan
Pesta ulang tahun Ardan yang ke-6 berlangsung meriah.Ruang tamu rumah utama disulap menjadi lautan biru. Balon-balon berbentuk dinosaurus bergelantungan di setiap sudut, ada yang berbentuk T-rex, ada yang brontosaurus panjang melingkar di tiang teras. Spanduk kecil bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY ARDA
Binar menghela napas lega dengan senyum puas. Akhirnya acara selesai dengan baik, walaupun tak begitu lama, tapi Ardan terlihat begitu bahagia. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Dia bersyukur bisa memberikan kenangan baru untuk Ardan.Dia berbalik, setelah mengantar tamu terakhir untuk pulang
Makan malam selesai tak begitu lama setelah obrolan mereka berakhir. Djati benar-benar tak memberikan jeda Binar untuk menolak bahkan untuk berpikir pun tidak ada.Dia hanya terus melontarkan kalimat motivasi, dan Binar lebih terbuka pandangannya.Sopir Djati mengantar Binar pulang.Sepanjang perja







