Mag-log in“Sudah lama kita nggak tidur bareng, kan? Apa kamu nggak kangen?” suara menggoda Celia bergema di koridor yang sepi.
“Tidurlah. Ini sudah larut.” Suara Bhaga datar dan begitu lelah.
Tangan Celia mengelus rahang Bhaga. Matanya mengerling penuh goda. “Tapi malam ini dingin, Bhaga. Masa iya kamu mau tidur aja?”
Bhaga menghela napas. Tangannya berusaha melepaskan tangan istrinya itu. “Celia—”
“Begini, aku akan membuat kamu puas malam ini, dan besok kamu buka blokiran kartuku, bagaimana?” Celia mengerjap dengan ekspresi semanis mungkin.
Bhaga menghela napas. “Kalau rencana kamu mau membuatku berubah pikiran, sebaiknya kamu tidur saja.”
Celia tak menyerah. Dia tak mau menunggu lagi untuk menyatukan bibir mereka, memberikan lumatan pelan dan kenikmatan. Matanya terpejam dan semakin merapatkan tubuhnya.
Bhaga terperanjat, tangannya kaku di samping tubuhnya, matanya terbelalak, dan bibirnya hanya diam tak memberikan balasan.
Karena kesal, Celia melepaskan bibir Bhaga dengan kasar. Melepaskan pelukannya dan memicing tajam.
“Kenapa? Kenapa kau diam saja? Apa aku tidak menarik?” dia mengatur nafasnya. “Ah, aku tahu.” Dia membasahi bibirnya. “Ini pasti gara-gara pembantu kecil itu.”
Wajah Bhaga mengeras mendengar tuduhannya. “Apa maksud kamu? Jangan bicara sembarangan.”
“Kalau begitu buktikan!” Pekik Celia. Binar mengintip dari balik lemari, Celia menarik lengan Bhaga. “Ayo ke kamar. Biar kubuktikan kalau istrimu ini masih sangat memuaskan di atas ranjang!”
“Celia, cukup.”
Tapi Celia tidak mendengarkan. Binar mendengar langkah tertatih-tatih, decakan kesal Celia, dan suara pintu kamar utama terbuka lalu tertutup dengan keras.
Binar tersentak. Bisa-bisanya dia diam-diam mengintip majikannya lagi? Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Binar buru-buru pergi sebelum mendengar suara-suara yang tidak ingin dia dengar.
**
Suasana meja makan saat sarapan sangat muram. Celia terlihat sangat kesal, matanya memerah dan sedikit membengkak. Sedangkan Bhaga makan dengan tenang. Wajahnya datar, seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.
Tiba-tiba, Celia membanting sendoknya. “Kamu, pembantu!”
Dengan tergopoh-gopoh Binar menghampiri. “Saya, Nyonya.”
“Kopinya terlalu pahit! Kau tidak bisa melakukan hal yang benar, ya?!”
Binar terkejut. “Tapi bukan saya yang buat, Nyonya.”
“Jawab terus! Bela diri pula.”
“Maaf, Nyonya, akan saya buatkan lagi.”
Wajah Celia sedikit pias, tapi untuk menutupi rasa malunya, dia tetap teriak.
“Sudah! Tidak usah! Dasar tidak becus!” hardik Celia, lalu menatap Bhaga yang masih diam. “Kau lihat? Pembantu yang kau pilih juga tidak becus!”
Bhaga mengangkat wajah dengan dingin. “Cukup, Celia.”
“Cukup? Apa yang cukup? Hubungan kita yang sudah hancur ini?” Celia berdiri, dengan suara kursi terhentak keras.
“Duduk, Celia, selesaikan sarapanmu,” tegas Bhaga dengan suara penuh otoriternya, matanya menatap tajam ke arah Celia.
“Bajingan! Kamu senang ya, mempermalukan istrimu seperti ini?” cerca Celia. “Aku pergi!”
Celia menggeser kursi dengan kasar, hingga deritnya semakin membuat Ardan yang kaget mulai menangis.
“Mau kemana?” Bhaga segera menghentikan langkah Celia, menarik tangannya. Tapi Celia menepisnya kasar.
“Kemana pun terserah aku! Tidak usah sok peduli, kamu juga masih memblokir kartu-kartuku!” bentaknya. Tak menoleh lagi, Celia gegas keluar.
Binar dengan sigap mengangkat Ardan dan membawanya keluar. Tak butuh waktu lama, dia sudah berhasil menidurkan Ardan yang kelelahan menangis di kamarnya.
Tangannya mengelus rambut Ardan, mengecup keningnya penuh sayang, dan memperhatikan wajah polos itu sesaat.
“Kuat ya, Sayang. Aku yakin, kelak kamu akan mendapatkan kasih sayang yang sempurna. Aku doakan itu.”
Begitu keluar kamar, dia berhenti sebentar, memperhatikan punggung Bhaga yang sedang berdiri di teras. Menatap jauh keluar.
Dia melangkah pelan, menghampiri.
“Ardan sudah tidur, Tuan.” Lapor Binar lembut.
Bhaga menoleh. Wajahnya terlihat sangat lelah. “Terima kasih, Binar. Kau sangat pintar mengurusnya. Tidak seperti... ibunya.”
Bhaga membasahi tenggorokannya dengan susah payah, tapi suaranya masih tercekat. “Andai perjodohan itu tak pernah terjadi.” Bhaga menghela napas kasar. “Bahkan saya tak bisa mencintainya sampai saat ini.”
Binar terdiam. Ini pertama kalinya Bhaga mencurahkan isi hatinya seperti ini. Sebagai majikannya, Bhaga selalu terlihat lebih membatasi diri, terlebih lagi dengan para pembantu.
“Jangan berkata seperti itu, Tuan. Setiap ibu punya caranya sendiri,” ucap Binar lembut.
“Tidak. Celia sama sekali tidak berusaha untuk menjadi ibu yang baik,” gumam Bhaga. Lalu, dia menarik napas dalam. “Kamu pasti dengar apa yang terjadi semalam sampai dia marah-marah pagi ini?”
Binar menunduk, malu ketahuan. Semalam, dia mendengar Celia yang marah-marah keluar dari kamar utama, karena tidak berhasil membuat Bhaga bereaksi dengan sentuhannya.
“S-saya... tidak sengaja, Tuan. Saya bersembunyi—”
“Di depan dia,” pungkas Bhaga, “Saya seperti mati rasa. Tidak ada perasaan yang tersisa.”
“Maaf, Tuan. Saya tidak ber—”
“Binar.” Bhaga melangkah lebih dekat, jarak antara mereka hampir tidak ada. “Tapi, anehnya, waktu bersama kamu seperti ini…”
Binar menahan napas. Bhaga mendekatkan wajahnya. Tangan kekar Bhaga menarik pergelangan tangan kecil Binar, lalu menuntunnya untuk menyentuh dadanya, menelusuri badan atletis yang tersembunyi di balik kemeja rapi.
Dituntunnya tangan Binar itu turun, ke perut, dan ke bawah lagi, hingga menyentuh milik Bhaga yang sudah mengeras di antara kedua pahanya.
“T-Tuan …” Binar terkesiap, pipinya memerah.
Sebelum Binar menyadarinya, tubuhnya sudah ditarik ke dalam pelukan Bhaga. Pelukan itu erat, hangat. Di dadanya, Binar bisa merasakan jantung Bhaga juga berdebar kencang.
“... kamu bisa merasakannya sendiri, bukan?”
Wajah Binar merah padam. Dia jelas bisa merasakan sesuatu yang keras dan tegang dari tubuh Bhaga menekan pahanya.
“Jangan banyak bergerak. Saya sudah tak tahan lagi.”
Binar membeku. Tubuhnya lemas. Rasanya salah, tapi tubuhnya berkhianat. Darahnya berdesir hebat dan dia penasaran.
Bhaga membenamkan wajahnya di leher Binar, menghidu aroma yang membuat dirinya bergejolak hebat, lalu berbisik dengan suara serak dan penuh gairah yang tertahan.
“Dia hanya mau dilayani olehmu.” Pria itu mengecup pelan tengkuk Binar. “Bisa kamu layani saya sekarang?”
“ I hereby declare the two of you to be husband and wife. What God has put together, only death can separate. May happiness always be with you both.”“Thank you.”Binar masih mencoba mengatur napasnya. Dia terisak karena masih tak percaya kalau hari ini datang juga. Hari yang tak pernah berani dia bayangkan, meski di dalam hatinya penuh harap, tapi tak pernah sekalipun dia keluhkan kepada Bhaga.Selama ini, Binar merasa kalau apa yang dia dapatkan dan jalani sudah lebih dari cukup. Mendapatkan banyak kasih sayang dari Bhaga, kepercayaan juga pendidikan dari Djati, anak yang begitu lembut, juga perhatian dari Nurma meski dengan cara yang sedikit berbeda. Ditambah, ibu kandungnya yang sudah kembali membuat dirinya tak lagi punya keinginan untuk meminta lebih.Hal ini hanya bisa dia mimpikan, terlebih setelah dia membatalkan pernikahan mereka sebelumnya dan kembalinya Celia ke rumah Bhaga. Tapi rupanya, semesta masih berpihak padanya dan kini hidupnya benar-benar sempurna.“Aku mencintai
Pendeta mulai bicara.Pria paruh baya itu menggunakan bahasa inggris yang pelan dan jelas. Pengalamannya terlihat sudah terbiasa menikahkan orang dari berbagai negara, terbukti dari caranya menyampaikan kalimat pembuka dengan intonasi yang mudah dipahami siapa saja.Tangannya dengan jari-jari yang sudah keriput memegang buku tebal, suaranya tegas dan stabil. Auranya berubah menjadi bijak dan itu membuat semua yang hadir langsung terfokus padanya. Lampu-lampu di atas altar menyala hangat, menciptakan pendar lingkaran cahaya di sekitar mereka bertiga. Binar berusaha menangkap semua ucapan yang sesekali tak dia mengerti. Tapi dia paham kalau pendeta itu memberikan pembuka untuk pernikahannya. Setengahnya lagi kelewat begitu saja karena Bhaga terus-terusan merhatiin dia, mencuri pandang diam-diam sambil tersenyum, membuat Binar tidak bisa fokus ke dua hal sekaligus.Lihat saja sekarang, Bhaga tidak pernah melepas pandangan darinya, seperti sedang menghafal setiap detail wajahnya di bawa
Koridor menuju kapel itu cukup pendek. Mungkin hanya butuh dua puluh langkah dari pintu ruang rias ke pintu utama kapel. Tapi bagi Binar, rasanya seperti berjalan melewati jalanan yang tak terlihat ujungnya.Dari dalam, alunan musik sudah mulai sayup terdengar. Memang bukan lagu yang familiar di telinga, tapi entah kenapa terasa menenangkan, sampai bikin dada merasa agak aneh. Seperti sedang berada di dalam ruangan yang penuh dengan banyak kejutan, terlebih dia berulang kali membayangkan berbagai adegan ini setiap kali menonton film.Gelitik kecil di perutnya membuat Binar berulang kali menggigit bibir dalam agar tak tertawa geli akan khayalannya itu.Dia menoleh, memperhatikan Ardan yang berjalan di sampingnya dengan langkah yang kelewat serius buat anak umur enam tahun. Bahunya tegak, matanya lurus ke depan, dan langkahnya terukur. Kotak cincin masih di tangannya, dan sesekali dia terlihat menggenggam lebih erat, takut jatuh."Ardan pernah datang ke acara nikahan sebelumnya?" tanya
Para perias langsung bergerak cepat. Begitu Binar mengucapkan kata “iya” kepada Ardan, mereka seperti mendapat sinyal untuk memulai segala sesuatunya.Satu orang membetulkan riasan Binar. Gerakannya cepat, cekatan, dan tidak banyak omong. Kuas bedak bergerak di bawah mata Binar dengan presisi. Satu lagi merapikan gaun Binar, yang sebenarnya sudah rapi tapi tetap saja dirapi-rapikan dengan menarik sedikit di bagian pinggang, meluruskan lipatan di bagian belakang, memastikan tidak ada benang yang mengganggu. Satu orang lagi memegang buket bunga kecil yang Binar sendiri tidak tahu datangnya dari mana. Sebuah mawar putih dan baby breath, dibungkus dengan pita satin tipis berwarna krem.Binar hanya duduk diam dan pasrah dirapikan mereka. Tidak ada gunanya melawan. Mereka sudah terlalu cepat, efisien, dan bersemangat untuk dihentikan. Binar membiarkan tangannya diangkat, diputar, dan diletakkan kembali di pangkuan. Dia membiarkan tatanan rambut yang sudah rapi kembali dirapikan.Begitu sele
Tak lama kemudian, pintu ruang rias diketuk dua kali.Binar yang sudah selesai didandani dan dipakaikan gaun putih yang ternyata ukurannya pas, menoleh ke pintu. Gaun itu menempel pas di pinggang dan bahunya, tidak terlalu longgar dan tidak menekan, seperti sudah disiapkan berbulan-bulan lalu. Padahal Binar tahu, kalau semua itu pasti disiapkan oleh Rudi dalam waktu singkat. Ingatkan dia untuk berterima kasih nanti.Ardan masuk.Anak itu sudah rapi. Kemeja putih kecil berkerah kaku, dengan celana kain hitam lurus, dan rambut yang disisir ke samping menggunakan minyak rambut wangi lavender yang membuat Binar hampir tidak mengenalinya. Anak itu kelihatan beda, seperti versi kecil Bhaga waktu pakai baju formal. Tampan sekali dan Binar tak bisa tidak tersenyum.Dia berdiri di ambang pintu, melihat Binar dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Mulutnya terbuka sedikit. "Wah, Bunda cantik banget."Ekspresi Ardan benar-benar terlihat begitu tulus, dan menggemaskan. Bagaimana matanya ikut bica
Siapa dan dari mana mereka datang Binar tidak sempat proses. Dia masih dilingkupi kebingungan dan kini tiba-tiba dikerubungi oleh tiga wanita asing yang tersenyum kelewat ramah padanya. Tadi, pintu samping bangunan mendadak terbuka, dan tiga perempuan berseragam gaun serba merah muda dengan renda putih keluar. Mereka bergerak serempak, tak bicara tapi langsung menuju kepada Binar. Tiba-tiba saja ada yang memegang lengan, bahu, dan pergelangan tangannya. Mereka kemudian berbicara dalam bahasa Inggris yang cepat, membuat Binar hanya bisa menangkap sebagian katanya. Beberapa kata seperti "bride", "schedule", "quick dress", dan "beautiful" meluncur beruntun tanpa jeda, seperti sedang mengatur pembagian tugas diantara ketiganya. Sebelum Binar sempat menyusun kalimat untuk menolak atau bertanya, mereka semua sudah bergerak ke arah pintu samping bangunan, sedikit menyeret Binar ikut dalam langkah mereka. "Tunggu—" Binar menoleh ke belakang, mencoba menahan bobot tubuhnya agar tidak







