Masuk
Salju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar.
Lin Yuan berlutut di tengah aula. Lantai batu giok putih terasa menusuk hingga ke tulang, namun ekspresinya tetap tenang. Kedua lengannya dibelenggu rantai besi hitam yang diukir dengan formasi penekan Qi. Setiap mata rantai menyerap energi spiritual dari tubuhnya, membuat dantiannya terasa berat dan mati rasa. Di sekeliling aula, ratusan murid berdiri berlapis-lapis. Murid luar di barisan belakang berbisik pelan, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan ketakutan. Murid dalam berdiri lebih dekat, wajah mereka kaku, seolah takut ikut terseret. Murid inti—mereka yang pernah bertarung berdampingan dengan Lin Yuan—berada di barisan depan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya terlalu lama. Lin Yuan mengenali wajah-wajah itu dengan jelas. Seseorang yang pernah ia selamatkan dari kematian di Rawa Tulang Hitam. Seseorang yang pernah ia lindungi saat misi gagal dan monster buas menyerbu. Seseorang yang dulu menyebutnya “kakak senior paling bisa diandalkan”. Kini, semua berdiri diam. Diam seperti orang mati. Di ujung aula, tujuh kursi tinggi dari giok hitam berjajar rapi. Tujuh tetua Sekte Awan Giok duduk di sana, aura mereka berat dan menekan. Setiap tarikan napas mereka terasa seperti gunung yang runtuh perlahan. Di tengah mereka berdiri seorang pria tua berjubah abu-abu, rambut dan janggutnya memutih sempurna. Tongkat hitam di tangannya mengetuk lantai satu kali. Tok. Suara itu ringan, namun seketika seluruh aula membisu. “Lin Yuan,” suara pria tua itu datar, tanpa emosi. “Sebagai murid inti Sekte Awan Giok, kau dituduh menyembunyikan teknik kultivasi tingkat tinggi, menentang perintah sekte, dan berpotensi membahayakan fondasi kami.” Ia menatap ke bawah, seolah Lin Yuan hanyalah serangga. “Apa kau mengakui tuduhan ini?” Lin Yuan perlahan mengangkat kepala. Wajahnya pucat, rambut hitamnya berantakan, dan sudut bibirnya masih bernoda darah kering—sisa interogasi selama tiga hari tiga malam tanpa henti. Namun matanya tetap jernih. Terlalu jernih untuk seseorang yang akan dijatuhi hukuman. Ia mengingat momen ini dengan jelas. Saat ini Lin Yuan sangat tahu meskipun Ia memohon. Ia menjelaskan. Ia menyerahkan bukti kontribusi dan catatan misi. Ia percaya sekte akan melihat kebenaran. Namun akhirnya tetap sama ia mati dengan hina. “Tidak,” jawab Lin Yuan. Suaranya tenang. Tidak gemetar. Bisik-bisik langsung menyebar di aula. Beberapa murid menunjukkan ekspresi terkejut. Namun pria tua itu—Tetua Zhao—hanya tersenyum tipis. “Pengakuanmu tidak diperlukan,” katanya. “karena Buktinya sudah cukup.” Lin Yuan tertawa kecil. Tawa itu pelan, namun terdengar jelas di keheningan aula. Beberapa murid inti refleks menggenggam pedang mereka. “Kalau begitu,” ucap Lin Yuan, “kenapa kau harus repot-repot mengadakan pengadilan?” Aura menekan turun seperti langit runtuh. Beberapa murid luar langsung terdorong mundur, wajah mereka memucat. Tetua Zhao menyipitkan mata. “Karena sekte membutuhkan formalitas.” Ia mengangkat tangan kanannya. Qi berkumpul di telapak tangan itu—tenang, terkendali, mematikan. Lin Yuan tahu persis apa artinya. Telapak tangan itu menghantam udara. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada kilatan cahaya. Namun Lin Yuan merasakan sesuatu di dalam tubuhnya hancur. Retak. Dantiannya pecah. Rasa sakit itu bukan seperti terbakar atau disambar petir. Ia adalah kehampaan total. Qi yang ia kumpulkan selama dua puluh tahun—setiap meditasi, setiap pertarungan hidup dan mati—lenyap dalam sekejap. Lin Yuan memuntahkan darah. Tubuhnya terjatuh ke depan, dahinya menghantam lantai giok dengan suara tumpul. Namun ia tidak pingsan. Ia dipaksa tetap sadar. “Mulai hari ini,” suara Tetua Zhao menggema, “Lin Yuan dicabut dari status murid Sekte Awan Giok. Seluruh kontribusinya dihapus. Seluruh teknik yang pernah ia pelajari ditarik.” Tetua lain berbicara dingin, “Ia diasingkan. Hidup atau mati bukan lagi urusan sekte.” Tak ada yang membela. Tak ada yang protes. Lin Yuan tertawa serak. Ia mengangkat kepala dengan susah payah dan menatap sekeliling. “Ini yang kudapatkan setelah 20 tahun lebih mengabdi pada sekte?” gumamnya. Tak ada jawaban. Tiba-tiba Pedang penjaga menusuk punggungnya. "Uhk" Li Yuan meringis menahan sakit darah mengucur dari mulutnya. Dingin merambat ke dada. Pandangannya menggelap. Saat kesadarannya menghilang, satu ingatan terakhir muncul— Desa Batu Hitam terbakar. Jeritan ibunya terputus mendadak. Ayahnya berlutut, tulang lututnya dihancurkan satu per satu. Dan seseorang tertawa dengan puas. — Lin Yuan terbangun dengan napas terengah. Langit-langit kayu reyot. Bau obat murahan. Cahaya matahari pagi menyelinap dari jendela kecil. Ia bangkit dan menatap kedua tangannya. Tidak ada rantai. Tidak ada luka fatal. Ia menekan pusarnya. Dantian masih ada. Lemah—namun utuh. Jantungnya berdetak stabil. Ingatan kehidupan sebelumnya muncul satu per satu, jelas tanpa kabur. Pengkhianatan. Pengadilan palsu. Kematian keluarganya. Akhir yang hina. Sesuatu di dalam dirinya berubah. Bukan rasa takut. Melainkan belas kasihan yang mati. Lin Yuan berdiri di depan cermin retak. Wajah enam belas tahun menatap balik, namun matanya dingin dan tua. “Kali ini,” ucapnya pelan, “aku tidak akan percaya pada sekte.” Ia mengepalkan tangan. “Aku akan membalas semua yang mereka lakukan padaku.” Di luar, angin berdesir pelan. Langit tetap diam. Dan pada hari itu, tanpa tanda dari surga, seorang manusia memutuskan untuk berjalan di jalan iblis.Kota Tulang Putih berdiri di persimpangan tiga jalur perdagangan kultivator. Dari kejauhan, temboknya tampak kelabu pucat, disusun dari batu kapur bercampur tulang binatang buas. Aura kota itu berat dan berbau darah lama—tempat yang tidak peduli asal-usul, hanya kekuatan dan manfaat. Tempat yang sempurna. Lin Yuan berdiri di antrean gerbang timur, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya sedikit diolesi ramuan pengabur—cukup untuk mengubah garis wajah tanpa menarik perhatian. Namanya kini bukan Lin Yuan. Ia telah membuang nama itu bersama Desa Batu Hitam. “Aku… Yu Chen,” gumamnya dalam hati. “Kultivator pengembara.” Di balik jubah, Qi-nya berdenyut tenang. Setelah pembantaian Sekte Darah Sungai, kultivasinya telah stabil di tahap awal Pengumpulan Qi—fondasi yang rapuh, namun penuh potensi. Namun yang paling berbahaya bukan kultivasinya. Melainkan ketenangannya. “tunjukan Dokumenmu,” bentak penjaga gerbang. Lin Yuan menyerahkan token besi sederhan
Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t
Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi. Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin. Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu. Mereka akan mengirim orang lagi. Lebih kuat. Lebih cermat. Lebih kejam. “Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.” Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut. “Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedaga
Malam semakin larut di Desa Batu Hitam. Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—se
Malam turun perlahan di Desa Batu Hitam. Lampu-lampu minyak menyala satu per satu di rumah-rumah kayu sederhana, memantulkan cahaya kuning redup ke jalan tanah yang sempit. Dari kejauhan, desa itu tampak damai—seperti tempat yang tak tersentuh dunia kultivasi yang kejam. Namun Lin Yuan tahu. Di kehidupan sebelumnya, tempat ini adalah awal dari kehancuran segalanya. Ia berdiri di luar rumah kayu kecil milik keluarganya, menatap pintu yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara batuk lemah ayahnya, diselingi langkah pelan ibunya yang sedang menyiapkan obat. Suara-suara itu menusuk lebih dalam daripada pedang. Lin Yuan mengepalkan tangan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia kembali ke desa ini dengan luka parah setelah diusir dari sekte. Ia berharap bisa bersembunyi sementara. Ia berharap keluarganya aman karena “tidak tahu apa-apa”. Malam itu, pembunuh datang. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Lin Yuan berbalik dan berjalan menuju tepi desa. Langkahnya ri
Salju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar. Lin Yuan berlutut di tengah aula. Lantai batu giok putih terasa menusuk hingga ke tulang, namun ekspresinya tetap tenang. Kedua lengannya dibelenggu rantai besi hitam yang diukir dengan formasi penekan Qi. Setiap mata rantai menyerap energi spiritual dari tubuhnya, membuat dantiannya terasa berat dan mati rasa. Di sekeliling aula, ratusan murid berdiri berlapis-lapis. Murid luar di barisan belakang berbisik pelan, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan ketakutan. Murid dalam berdiri lebih dekat, wajah mereka kaku, seolah takut ikut terseret. Murid inti—mereka yang pernah bertarung berdampingan dengan Lin Yuan—berada di barisan depan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya terlalu lama. Lin Y







