Startseite / Pendekar / Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis / Bab 4 – Manusia Adalah Bahan Bakar

Teilen

Bab 4 – Manusia Adalah Bahan Bakar

last update Zuletzt aktualisiert: 24.01.2026 10:39:21

Pagi datang tanpa membawa ketenangan.

Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi.

Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin.

Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu.

Mereka akan mengirim orang lagi.

Lebih kuat.

Lebih cermat.

Lebih kejam.

“Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.”

Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut.

“Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedagang, tidak pemburu, pokoknya jangan izinkan siapapun.”

Ibunya menatapnya heran. “Kenapa?”

“Perasaanku tidak enak.”

Ia tidak berbohong sepenuhnya.

Ibunya mengangguk ragu, lalu menghela napas. “Kamu makin sering bicara seperti ayahmu dulu.”

Lin Yuan tersenyum tipis.

Ia melangkah keluar dan berjalan menuju tengah desa.

Desa Batu Hitam kecil—tak sampai seratus keluarga. Kebanyakan petani dan pemburu biasa. Namun di kehidupan sebelumnya, Lin Yuan tahu: ada orang-orang yang rela menjual tetangganya demi satu keping perak.

Dan orang-orang seperti itu… paling mudah dimanfaatkan.

Ia berhenti di depan kedai arak kecil milik Liu Tua. Pria itu bertubuh gemuk, mata kecil, dan selalu tersenyum—senyum orang yang tahu terlalu banyak dan tak pernah gratis.

Lin Yuan masuk ke kedai itu.

“Eh? Yuan kecil?” Liu Tua terkekeh. “Bukankah kamu murid sekte? Kok pulang?”

Lin Yuan duduk tanpa menjawab. Ia meletakkan dua keping perak di meja.

Senyum Liu Tua langsung berubah lebih lebar.

"Ada yang mau aku tanyakan,” kata Lin Yuan pelan. “Beberapa hari terakhir, ada orang asing datang ke desa?”

Liu Tua melirik sekeliling, lalu merendahkan suara. “Tiga orang, kan? Pakaian hitam. Tidak bicara banyak.”

Lin Yuan menatapnya tajam.

“Lalu?”

Liu Tua tertawa canggung. “Lalu… tidak pernah terlihat lagi.”

Sunyi sejenak.

Liu Tua menelan ludah. “Yuan kecil… kamu ini—”

Lin Yuan memotongnya. “Kalau nanti ada orang asing lagi, kamu harus tahu lebih dulu.”

Ia meletakkan satu keping perak tambahan.

“Dan kamu akan memberi tahu aku. Bukan yang lain.”

Liu Tua memandang perak itu, lalu mengangguk cepat. “Tentu, tentu!”

Lin Yuan bangkit dan pergi.

Saat pintu kedai tertutup, senyumnya menghilang.

“Langkah pertama,” gumamnya. “Mata dan telinga.”

Namun itu belum cukup.

Ia berjalan menuju pinggiran desa, ke rumah seorang pria bernama Chen Hu—pemburu kasar yang terkenal sering memukuli istrinya dan berutang di mana-mana.

Di kehidupan sebelumnya, orang inilah yang memberi tahu pemburu bayaran lokasi rumah keluarganya.

Lin Yuan mengetuk pintu.

Chen Hu membuka dengan ekspresi kesal. “Apa?”

Lin Yuan menatapnya tanpa emosi. “Aku butuh bantuan.”

Chen Hu tertawa mengejek. “Murid sekte minta bantuan orang desa?”

Lin Yuan mengeluarkan kantong kecil dan melemparkannya ke lantai. Bunyi logam berdenting.

“Sepuluh keping perak.”

Chen Hu terdiam.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya cepat.

“Mudah,” kata Lin Yuan. “Sebentar lagi akan ada orang mencari aku. Kamu akan bilang aku meninggalkan desa ke arah barat.”

Chen Hu mengangguk tanpa ragu.

“Dan satu hal lagi,” tambah Lin Yuan. “Kamu akan minum arak ini malam ini.”

Ia meletakkan botol kecil di meja.

Chen Hu mengerutkan kening. “Apa ini?”

“Hadiah, nikmatilah.”

Chen Hu tertawa dan mengambilnya.

Lin Yuan berbalik pergi.

Ia tidak menjelaskan.

Botol itu berisi ramuan sederhana—tidak mematikan. Namun cukup untuk membuat seseorang bicara terlalu banyak.

Saat senja tiba, Lin Yuan kembali ke kamarnya dan mulai berkultivasi.

Namun kali ini, ia tidak duduk diam.

Ia mengedarkan Qi sambil mengingat wajah-wajah penduduk desa—siapa yang tamak, siapa yang takut, siapa yang bisa diperas. Setiap emosi itu terasa jelas baginya sekarang, seolah ia bisa mencium baunya.

Teknik Pemakan Darah dan Jiwa bereaksi.

Ia menyadari sesuatu.

Teknik ini tidak hanya menyerap darah—ia menyerap niat.

Ketakutan mempercepat aliran Qi.

Keserakahan memperkuat kepadatannya.

Keputusasaan… paling lezat.

“Menarik,” gumam Lin Yuan.

Malam turun.

Seperti yang ia duga, suara langkah kaki asing terdengar di desa.

Dua orang kali ini.

Aura mereka lebih kuat.

Lin Yuan berdiri di balik bayangan, mengamati saat mereka berbicara dengan Chen Hu yang mabuk. Ia mendengar dengan jelas—setiap kata, setiap tawa bodohnya.

“Dia ke barat,” Chen Hu berkata cadel. “Katanya mau cari sekte kecil.”

Kedua kultivator itu saling pandang.

“Bagus,” kata salah satunya. “Besok kita kejar dia.”

Mereka pergi.

Chen Hu terhuyung, lalu jatuh tertidur di lumpur.

Lin Yuan mendekat.

Ia menatap pria itu lama.

Di kehidupan sebelumnya, Lin Yuan akan ragu. Ia akan berpikir: Dia hanya orang desa.

Sekarang, pikirannya kosong dari simpati.

“Kesalahanmu,” kata Lin Yuan pelan, “adalah lahir di dunia yang membutuhkan pengorbanan.”

Pisau muncul di tangannya.

Satu tusukan.

Cepat. Bersih.

Darah mengalir ke tanah.

Lin Yuan berlutut dan meletakkan telapak tangan di dada mayat itu. Ia mengaktifkan tekniknya.

Energi kacau mengalir masuk—ketakutan terakhir, penyesalan, rasa sakit.

Kultivasinya bergetar.

Ia menembus puncak tahap menengah Pemurnian Tubuh.

Lin Yuan berdiri, napasnya stabil.

Tidak ada rasa bersalah.

Hanya perhitungan.

“Manusia,” gumamnya, “adalah bahan bakar yang paling efisien.”

Ia menatap ke arah barat, tempat dua kultivator itu akan menuju kehancuran.

Dan di dalam hatinya, satu hukum baru terbentuk:

Jika dunia ingin aku mati,

maka dunia akan membayarkannya dengan darah.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis   Bab 6 – Topeng Baru di Kota Tulang Putih

    Kota Tulang Putih berdiri di persimpangan tiga jalur perdagangan kultivator. Dari kejauhan, temboknya tampak kelabu pucat, disusun dari batu kapur bercampur tulang binatang buas. Aura kota itu berat dan berbau darah lama—tempat yang tidak peduli asal-usul, hanya kekuatan dan manfaat. Tempat yang sempurna. Lin Yuan berdiri di antrean gerbang timur, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya sedikit diolesi ramuan pengabur—cukup untuk mengubah garis wajah tanpa menarik perhatian. Namanya kini bukan Lin Yuan. Ia telah membuang nama itu bersama Desa Batu Hitam. “Aku… Yu Chen,” gumamnya dalam hati. “Kultivator pengembara.” Di balik jubah, Qi-nya berdenyut tenang. Setelah pembantaian Sekte Darah Sungai, kultivasinya telah stabil di tahap awal Pengumpulan Qi—fondasi yang rapuh, namun penuh potensi. Namun yang paling berbahaya bukan kultivasinya. Melainkan ketenangannya. “tunjukan Dokumenmu,” bentak penjaga gerbang. Lin Yuan menyerahkan token besi sederhan

  • Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis   Bab 5 – Sekte Kecil, Darah Pertama yang Terencana

    Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t

  • Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis   Bab 4 – Manusia Adalah Bahan Bakar

    Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi. Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin. Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu. Mereka akan mengirim orang lagi. Lebih kuat. Lebih cermat. Lebih kejam. “Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.” Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut. “Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedaga

  • Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis   Bab 3 – Teknik Terlarang yang Tidak Diampuni Langit

    Malam semakin larut di Desa Batu Hitam. Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—se

  • Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis   Bab 2 – Darah Pertama Seorang Iblis

    Malam turun perlahan di Desa Batu Hitam. Lampu-lampu minyak menyala satu per satu di rumah-rumah kayu sederhana, memantulkan cahaya kuning redup ke jalan tanah yang sempit. Dari kejauhan, desa itu tampak damai—seperti tempat yang tak tersentuh dunia kultivasi yang kejam. Namun Lin Yuan tahu. Di kehidupan sebelumnya, tempat ini adalah awal dari kehancuran segalanya. Ia berdiri di luar rumah kayu kecil milik keluarganya, menatap pintu yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara batuk lemah ayahnya, diselingi langkah pelan ibunya yang sedang menyiapkan obat. Suara-suara itu menusuk lebih dalam daripada pedang. Lin Yuan mengepalkan tangan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia kembali ke desa ini dengan luka parah setelah diusir dari sekte. Ia berharap bisa bersembunyi sementara. Ia berharap keluarganya aman karena “tidak tahu apa-apa”. Malam itu, pembunuh datang. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Lin Yuan berbalik dan berjalan menuju tepi desa. Langkahnya ri

  • Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis   Bab 1 – Pengkhianatan di Aula Langit Giok

    Salju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar. Lin Yuan berlutut di tengah aula. Lantai batu giok putih terasa menusuk hingga ke tulang, namun ekspresinya tetap tenang. Kedua lengannya dibelenggu rantai besi hitam yang diukir dengan formasi penekan Qi. Setiap mata rantai menyerap energi spiritual dari tubuhnya, membuat dantiannya terasa berat dan mati rasa. Di sekeliling aula, ratusan murid berdiri berlapis-lapis. Murid luar di barisan belakang berbisik pelan, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan ketakutan. Murid dalam berdiri lebih dekat, wajah mereka kaku, seolah takut ikut terseret. Murid inti—mereka yang pernah bertarung berdampingan dengan Lin Yuan—berada di barisan depan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya terlalu lama. Lin Y

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status