author-banner
Gilang Aditya
Gilang Aditya
Author

Novels by Gilang Aditya

Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis

Di khianati Sekte Aku Membalas Sebagai Iblis

Di dunia kultivasi, kebaikan adalah kelemahan. Lin Yuan pernah menjadi murid inti Sekte Awan Giok, seorang jenius yang bertarung di garis depan demi kehormatan sekte. Ia percaya pada sumpah, pada keadilan, dan pada langit yang mengawasi perbuatan manusia. Namun dengan pengabdian itu Lin Yuan malah mendapatkan pengkhianatan dari sekte dan akhirnya mati. Namun Lin Yuan tidak mati, dia kembali ke masa lalu. Dengan ingatan kehidupan sebelumnya, Lin Yuan menempuh jalan kultivasi yang kejam dan berdarah. Ia memanfaatkan manusia, memanipulasi sekte, dan mengorbankan siapa pun yang menghalangi jalannya. Baginya, surga hanyalah kebohongan, dan iblis adalah bentuk paling jujur dari kelangsungan hidup. Satu per satu, mereka yang pernah menghancurkannya akan merasakan ketakutan yang sama. Bukan demi keadilan. Bukan demi belas kasihan. Melainkan demi balas dendam.
Read
Chapter: Bab 8 bayangan dibalik tungku pil
Balai Pil Seratus Tulang tidak pernah benar-benar tidur.Bahkan saat malam turun dan lentera-lentera roh mulai menyala satu per satu, masih ada orang-orang yang bergerak di balik dinding putihnya. Tungku-tungku pil tetap hangat, formasi pelindung tetap aktif, dan qi samar mengalir tanpa henti di udara.Lin Yuan berjalan menyusuri lorong samping dengan langkah ringan.Di tangannya, papan identitas pekerja tingkat bawah tergantung tenang. Tidak ada yang mencurigakan dari caranya bergerak—kepalanya sedikit menunduk, bahunya agak membungkuk, seperti pekerja rendahan lain yang takut dimarahi jika terlihat malas.Namun indranya terbuka penuh.Ia sedang menjalani giliran malam.Secara resmi, tugasnya hanyalah membersihkan area tungku tua yang sudah jarang digunakan. Tempat itu berada agak jauh dari aula utama, dan biasanya hanya dipakai saat permintaan pil melonjak.Tempat yang sempurna untuk transaksi yang tidak ingin terlihat.Lin Yuan berhenti di sudut lorong dan berpura-pura mengikat kem
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Bab 7
Kota Tulang Putih selalu terlihat paling jujur saat fajar. Kabut tipis menggantung di antara bangunan batu putih, sementara cahaya matahari menyusup perlahan dari balik tembok kota. Para kultivator mulai bermunculan, sebagian menuju balai latihan, sebagian lagi menuju Balai Pil untuk urusan yang tidak pernah bisa menunggu. Lin Yuan sudah berada di sana sebelum lonceng pagi dibunyikan. Ia berdiri di sudut halaman Balai Pil Seratus Tulang, membawa keranjang kayu berisi botol kosong. Wajahnya menunduk, langkahnya ringan, keberadaannya nyaris tidak diperhatikan. Topengnya bekerja dengan sempurna. Sejak hari pertama, tidak ada satu pun pengawas yang mengingat namanya. Mereka hanya mengenalnya sebagai “pekerja baru”, “yang itu”, atau sekadar “hei, kau”. Dan Lin Yuan menyukai itu. “Cepat sedikit!” bentak seorang pengawas. “Pengiriman pagi tidak boleh terlambat!” Lin Yuan mengangguk singkat dan melangkah masuk ke gudang. Gudang utama Balai Pil luas dan dingin. Rak-rak tinggi dipenuhi
Last Updated: 2026-02-07
Chapter: Bab 6 – Topeng Baru di Kota Tulang Putih
Kota Tulang Putih berdiri seperti kerangka raksasa yang memutih di bawah matahari. Tembok-temboknya terbuat dari batu pucat yang dipoles hingga berkilau, seolah kota itu ingin menampilkan wajah bersih dan tertib kepada siapa pun yang datang. Jalan-jalannya lebar, tertata, dan dipenuhi para kultivator dengan jubah rapi—orang-orang yang percaya bahwa kekuatan selalu datang bersama martabat. Lin Yuan melangkah melewati gerbang kota dengan kepala sedikit tertunduk. Ia telah meninggalkan Kota Batu Hitam tiga hari lalu, menempuh perjalanan dengan kecepatan biasa. Tidak terlalu cepat agar tidak menarik perhatian, tidak terlalu lambat agar tidak terlihat mencurigakan. Di punggungnya hanya ada satu tas kain lusuh—cukup untuk menegaskan bahwa ia hanyalah seorang kultivator rendahan yang mencoba peruntungan. Begitu melewati gerbang, sebuah tekanan halus langsung menyelimuti tubuhnya. Formasi kota. Tidak mematikan, tapi cukup untuk memindai aura pendatang. Lin Yuan menahan aliran qi-
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Bab 5 – Sekte Kecil, Darah Pertama yang Terencana
Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Bab 4 – Manusia Adalah Bahan Bakar
Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi. Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin. Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu. Mereka akan mengirim orang lagi. Lebih kuat. Lebih cermat. Lebih kejam. “Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.” Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut. “Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedaga
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Bab 3 – Teknik Terlarang yang Tidak Diampuni Langit
Malam semakin larut di Desa Batu Hitam. Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—se
Last Updated: 2026-01-24
You may also like
Ksatria Pengembara Season 1
Ksatria Pengembara Season 1
Pendekar · KSATRIA PENGEMBARA
396.3K views
Mustika Naga Bumi
Mustika Naga Bumi
369.1K views
Penakluk Dewa
Penakluk Dewa
Pendekar · Syafir Yahya
268.9K views
Pendekar Pedang Naga
Pendekar Pedang Naga
Pendekar · Moore
262.0K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status