MasukKabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam.
Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan tiga benda kecil dari kantong kain. Serbuk batu hitam. Jarum besi tipis. Dan kantong kecil berisi darah kering. Bukan artefak. Hanya alat sederhana—namun mematikan di tangan yang tepat. Lin Yuan menaburkan serbuk batu hitam di tanah jalur sempit itu, lalu menusukkan jarum besi ke titik-titik tertentu di sepanjang batu tebing. Ia bekerja cepat dan rapi, seperti seseorang yang telah melakukan ini ratusan kali. Padahal ini pertama kalinya di kehidupan ini. Namun bukan di kehidupannya yang lain. Saat semuanya siap, Lin Yuan mundur dan menunggu. Beberapa saat kemudian— “Kenapa jalurnya makin sempit?” gerutu kultivator pertama. “Kita hampir sampai,” jawab rekannya. “Menurut informasi, bocah itu menuju Sekte Darah Sungai.” Lin Yuan menyipitkan mata. Kebohonganku sempurna, pikirnya. Kedua kultivator itu melangkah ke area jebakan. Saat kaki mereka menginjak serbuk batu hitam— Lin Yuan mengedarkan Qi dan menghancurkan jarum besi dari kejauhan dengan lemparan batu kecil. Seketika tanah runtuh. Sebagian tebing longsor. Bukan runtuhan besar—hanya cukup untuk menciptakan kekacauan. Batu-batu jatuh, debu mengepul, pandangan terhalang. “Apa yang terjadi?!” teriak salah satu dari mereka. Pada saat itulah Lin Yuan bergerak. Ia melompat dari balik pohon, tubuhnya rendah dan cepat. Dalam kabut debu, ia tidak menyerang langsung. Ia melempar kantong darah ke tanah. Kantong itu pecah. Teknik Pemakan Darah dan Jiwa beresonansi. Energi kacau meledak samar, menciptakan tekanan mental yang membuat kedua kultivator itu sesaat linglung—cukup lama. Lin Yuan menusuk. Pisau pendeknya menembus perut kultivator pertama. Jeritan pecah. Kultivator kedua bereaksi cepat, menarik pedang dan menebas membabi buta ke arah debu. “Keluar kau pengecut!” Lin Yuan tidak menjawab. Ia menghilang ke balik kabut, mengitari, menunggu celah. Pedang itu berat, gerakannya besar. Setiap ayunan menghabiskan Qi. Terburu-buru, nilai Lin Yuan. Saat napas kultivator itu sedikit tersendat, Lin Yuan muncul dari sisi jurang dan menendang lututnya dari samping. Krakk... terdengar suara Tulang retak. "Arghhh!!!" Teriakan kesakitan juga menggema. Lin Yuan tidak memberi waktu. Ia menghantam tenggorokan dengan gagang pisau, lalu menusuk tepat di bawah tulang rusuk. Darah mengalir deras dari luka tusukan itu. Kedua tubuh itu tergeletak di tanah, napas mereka terputus perlahan. Lin Yuan berdiri di antara mereka, napasnya stabil, mata dingin. Ia tidak langsung membunuh. Ia berlutut di depan salah satu dari mereka—yang masih hidup, mata dipenuhi ketakutan. “Siapa lagi yang dikirim?” tanya Lin Yuan datar. “Ka—kami hanya pendahulu…” kultivator itu terbatuk darah. “Jika kau membunuhku… sekte tidak akan—” Jleb.. Pisau menembus jantungnya. Lin Yuan berdiri tanpa emosi. Ia tidak membutuhkan informasi. Ia hanya memastikan satu hal: ia tidak lagi memberi kesempatan. Ia mengaktifkan tekniknya. Darah dan sisa emosi diserap. Qi di tubuhnya melonjak, lebih padat, lebih liar. Ia menembus ambang Pengumpulan Qi tahap awal—tidak stabil, namun nyata. Rasa sakit menyambar meridian. Lin Yuan menggertakkan gigi dan menahannya. “Kekuatan yang dicuri,” gumamnya, “selalu menuntut harga.” Ia membersihkan senjata, lalu mulai menghilangkan jejak. Mayat diseret ke jurang dangkal, ditutup batu dan tanah. Darah dibersihkan dengan air dari kantong kulit. Semua selesai dalam waktu singkat. Namun saat ia hendak pergi— Aura asing terasa. Lin Yuan berhenti. Dari balik pepohonan, sebuah bangunan kecil muncul—pintu kayu usang dengan papan nama miring. Sekte Darah Sungai. Sekte kecil. Rendah. Terkenal karena menerima siapa saja—termasuk penjahat dan kultivator gagal. Di kehidupan sebelumnya, sekte inilah yang akhirnya menjualnya kembali ke Sekte Awan Giok demi hadiah. Lin Yuan menatap bangunan itu lama. Kenangan pahit berkelebat. Lalu ia tersenyum tipis. “Tak perlu menunggu masa depan,” katanya pelan. “Aku akan membersihkan masa lalu sekarang.” Ia berjalan menuju pintu. Dua murid berjaga di depan, aura mereka lemah—baru Pemurnian Tubuh. “Hei! Siapa kamu?” bentak salah satu. Lin Yuan tidak menjawab. Ia melempar batu kecil ke dalam halaman. Tak. “Periksa,” kata yang lain. Saat mereka lengah, Lin Yuan bergerak. Dua tusukan. Dua tubuh jatuh. Cepat. Sunyi. Ia masuk ke halaman sekte. Tidak besar. Tidak rapi. Tidak bermartabat. “Tempat yang cocok,” gumamnya, “untuk mati.” Teriakan akhirnya pecah. Kultivator berhamburan keluar, panik dan kacau. Tidak ada formasi. Tidak ada koordinasi. Lin Yuan bergerak seperti bayangan. Ia tidak melawan satu lawan satu. Ia menyerang dari belakang, dari samping, dari kegelapan. Setiap pembunuhan memberi makan tekniknya, memperkuat Qi, menajamkan indranya. Darah berceceran dimana-mana. Jeritan terhenti satu per satu. Pemimpin sekte akhirnya muncul—seorang pria bertubuh kurus dengan wajah licik. “Siapa kamu?!” teriaknya. Lin Yuan berhenti di depan pria itu, wajahnya berlumuran darah orang lain. “Aku?” katanya pelan. “Aku adalah mantan muridmu yang kau khianati.” "Apa maks—" Belum sempat menyelesaikan perkataannya pisau sudah menembus dadanya dan ia tewas seketika. Malam itu, Sekte Darah Sungai lenyap. Tanpa saksi. Tanpa nama. Saat fajar menyingsing, Lin Yuan berdiri di puncak bukit kecil di belakang sekte yang terbakar. Ia menatap tangannya. Tidak gemetar. Tidak ragu. “Sekarang,” gumamnya, “aku siap menghadapi sekte besar.” Ia berbalik, meninggalkan asap dan darah di belakang. Lin Yuan kembali ke rumahnya, ia masuk masuk diam-diam mengemasi barangnya. Sebelum pergi ia menyempatkan untuk masuk diam-diam ke kamar orang tuanya. Ia menatap wajah kedua orang tuanya yang tertidur pulas. Kenangan-kenangan buruk kehidupan sebelumnya kembali teringat, ia menggenggam tangan kencang. "Aku akan membalaskam dendam kalian, untuk itu aku harus pergi." Dan sejak hari itu, di dunia kultivasi, sebuah hukum tak tertulis mulai terbentuk— Jika kau bertemu Lin Yuan, maka jangan berdiri di jalannya.Kota Tulang Putih berdiri di persimpangan tiga jalur perdagangan kultivator. Dari kejauhan, temboknya tampak kelabu pucat, disusun dari batu kapur bercampur tulang binatang buas. Aura kota itu berat dan berbau darah lama—tempat yang tidak peduli asal-usul, hanya kekuatan dan manfaat. Tempat yang sempurna. Lin Yuan berdiri di antrean gerbang timur, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya sedikit diolesi ramuan pengabur—cukup untuk mengubah garis wajah tanpa menarik perhatian. Namanya kini bukan Lin Yuan. Ia telah membuang nama itu bersama Desa Batu Hitam. “Aku… Yu Chen,” gumamnya dalam hati. “Kultivator pengembara.” Di balik jubah, Qi-nya berdenyut tenang. Setelah pembantaian Sekte Darah Sungai, kultivasinya telah stabil di tahap awal Pengumpulan Qi—fondasi yang rapuh, namun penuh potensi. Namun yang paling berbahaya bukan kultivasinya. Melainkan ketenangannya. “tunjukan Dokumenmu,” bentak penjaga gerbang. Lin Yuan menyerahkan token besi sederhan
Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t
Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi. Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin. Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu. Mereka akan mengirim orang lagi. Lebih kuat. Lebih cermat. Lebih kejam. “Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.” Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut. “Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedaga
Malam semakin larut di Desa Batu Hitam. Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—se
Malam turun perlahan di Desa Batu Hitam. Lampu-lampu minyak menyala satu per satu di rumah-rumah kayu sederhana, memantulkan cahaya kuning redup ke jalan tanah yang sempit. Dari kejauhan, desa itu tampak damai—seperti tempat yang tak tersentuh dunia kultivasi yang kejam. Namun Lin Yuan tahu. Di kehidupan sebelumnya, tempat ini adalah awal dari kehancuran segalanya. Ia berdiri di luar rumah kayu kecil milik keluarganya, menatap pintu yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara batuk lemah ayahnya, diselingi langkah pelan ibunya yang sedang menyiapkan obat. Suara-suara itu menusuk lebih dalam daripada pedang. Lin Yuan mengepalkan tangan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia kembali ke desa ini dengan luka parah setelah diusir dari sekte. Ia berharap bisa bersembunyi sementara. Ia berharap keluarganya aman karena “tidak tahu apa-apa”. Malam itu, pembunuh datang. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Lin Yuan berbalik dan berjalan menuju tepi desa. Langkahnya ri
Salju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar. Lin Yuan berlutut di tengah aula. Lantai batu giok putih terasa menusuk hingga ke tulang, namun ekspresinya tetap tenang. Kedua lengannya dibelenggu rantai besi hitam yang diukir dengan formasi penekan Qi. Setiap mata rantai menyerap energi spiritual dari tubuhnya, membuat dantiannya terasa berat dan mati rasa. Di sekeliling aula, ratusan murid berdiri berlapis-lapis. Murid luar di barisan belakang berbisik pelan, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan ketakutan. Murid dalam berdiri lebih dekat, wajah mereka kaku, seolah takut ikut terseret. Murid inti—mereka yang pernah bertarung berdampingan dengan Lin Yuan—berada di barisan depan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya terlalu lama. Lin Y







