LOGINKota Tulang Putih berdiri di persimpangan tiga jalur perdagangan kultivator.
Dari kejauhan, temboknya tampak kelabu pucat, disusun dari batu kapur bercampur tulang binatang buas. Aura kota itu berat dan berbau darah lama—tempat yang tidak peduli asal-usul, hanya kekuatan dan manfaat. Tempat yang sempurna. Lin Yuan berdiri di antrean gerbang timur, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya sedikit diolesi ramuan pengabur—cukup untuk mengubah garis wajah tanpa menarik perhatian. Namanya kini bukan Lin Yuan. Ia telah membuang nama itu bersama Desa Batu Hitam. “Aku… Yu Chen,” gumamnya dalam hati. “Kultivator pengembara.” Di balik jubah, Qi-nya berdenyut tenang. Setelah pembantaian Sekte Darah Sungai, kultivasinya telah stabil di tahap awal Pengumpulan Qi—fondasi yang rapuh, namun penuh potensi. Namun yang paling berbahaya bukan kultivasinya. Melainkan ketenangannya. “tunjukan Dokumenmu,” bentak penjaga gerbang. Lin Yuan menyerahkan token besi sederhana—barang rampasan dari Sekte Darah Sungai. Penjaga itu memeriksanya sekilas, lalu mengangguk malas. “Masuk.” Begitu melewati gerbang, suara kota langsung menghantam indranya. Teriakan pedagang. Benturan senjata. Aroma obat, darah, dan arak bercampur. Kultivator berbagai tingkat berjalan tanpa saling menyapa, mata mereka selalu waspada. Di tempat seperti ini, kebaikan adalah undangan kematian. Lin Yuan berjalan menyusuri jalan utama tanpa terburu-buru. Ia mengamati—siapa yang berkuasa, siapa yang ditakuti, siapa yang paling sering disapa dengan hormat. Dalam waktu singkat, ia menarik kesimpulan. Di Kota Tulang Putih, ada tiga kekuatan besar: 1. Balai Pil Seribu Racun – menguasai obat dan racun. 2. Aula Senjata Tulang Hitam – penyedia artefak tingkat rendah-menengah. 3. Paviliun Bayangan Malam – jaringan intelijen dan pembunuh. Dan di atas semuanya… bayang-bayang Sekte Awan Giok. Mereka tidak menguasai kota secara langsung, namun hampir semua kekuatan besar berutang pada mereka. “Bagus,” gumam Lin Yuan. “Semua terhubung.” Ia berhenti di depan penginapan kecil bernama Sumur Retak. Murah, ramai, dan penuh orang bermasalah—tempat yang aman untuk bersembunyi di keramaian. Saat ia naik ke lantai dua, sebuah suara serak menyapanya. “apakah kamu Pendatang baru?” Lin Yuan menoleh. Seorang pria tua bermata satu duduk di sudut, meminum arak keruh. Auranya lemah, namun napasnya stabil—mantan kultivator yang telah jatuh. “Ya,” jawab Lin Yuan singkat. Pria tua itu terkekeh. “Hati-hati. Kota ini suka memakan orang baru.” Lin Yuan menatapnya lama. “Apa yang memakan kota ini?” tanyanya pelan. Pria tua itu terdiam sejenak, lalu tertawa pahit. “Keserakahan.” Lin Yuan mengangguk dan masuk ke kamarnya. Malam itu, ia tidak tidur. Ia duduk bersila dan mengedarkan Qi perlahan. Kota ini dipenuhi emosi—ketakutan, ambisi, kebencian. Teknik Pemakan Darah dan Jiwa bereaksi samar, seperti binatang yang mencium mangsa. Namun Lin Yuan menahannya. “Belum, bukan sekarang,” gumamnya. “Aku tidak akan serakah.” Ia membuka kantong kain dan mengeluarkan barang-barang rampasan: batu roh tingkat rendah, pil penyembuh, dan dua teknik kultivasi murahan. Semua tidak istimewa. Namun ada satu benda yang membuatnya tersenyum. Token Sekte Darah Sungai—dengan tanda rekomendasi masuk Balai Pil Seribu Racun sebagai pekerja kasar. “Langkah pertama,” katanya pelan. Keesokan paginya, Lin Yuan menuju Balai Pil. Bangunan itu menjulang, dindingnya dipenuhi ukiran ular dan simbol racun. Bau pahit obat menusuk hidung sejak dari pintu. Seorang murid penjaga menatapnya dengan jijik. “Apa maumu?” “Aku ingin bekerja,” jawab Lin Yuan. “Aku tahu cara menangani bahan beracun.” Penjaga itu tertawa mengejek. “Semua orang mengaku begitu.” Lin Yuan mengeluarkan sebuah kantong kecil dan menuangkan serbuk hitam ke telapak tangannya. Dengan cepat, ia meneteskan cairan bening dan mencampurnya menggunakan Qi tipis. Asap tipis muncul—lalu menghilang. Penjaga itu terbelalak. “Itu… Netralisasi Racun Ular Tujuh Simpul.” Lin Yuan menutup telapak tangannya. “Versi kasar. Tapi cukup.” Penjaga itu terdiam sejenak, lalu memberi isyarat. “Masuk.” Lin Yuan resmi menjadi pekerja tingkat bawah Balai Pil. Hari-hari berikutnya, ia bekerja tanpa banyak bicara. Menggiling bahan. Membersihkan tungku. Mengantar pil. Ia terlihat biasa—lemah, patuh, tidak mencolok. Namun ia mendengar segalanya. Tentang transaksi rahasia. Tentang murid Sekte Awan Giok yang sering datang diam-diam. Tentang pengiriman pil peningkat Qi untuk “operasi khusus”. Setiap malam, Lin Yuan menyusun potongan-potongan itu di pikirannya. “Balai Pil… Aula Senjata… Paviliun Bayangan,” gumamnya. “Kalian semua adalah rantai.” Suatu malam, saat ia membawa pil ke ruang penyimpanan belakang, seorang pria muda berjubah hijau menghentikannya. “Kamu,” katanya dingin. “Ikut aku.” Aura pria itu kuat—tahap menengah Pengumpulan Qi. Murid Sekte Awan Giok. Lin Yuan menunduk hormat. Mereka berjalan ke ruang tertutup. Pria itu menatapnya lama. “Kamu dari mana?” “Pengembara,” jawab Lin Yuan. “Tanpa sekte.” “Hm.” Pria itu mengeluarkan botol pil. “Balai Pil kekurangan orang yang bisa dipercaya. Mulai sekarang, kamu bekerja untukku.” Ia melempar botol itu. “Jika tugas ini berhasil, aku bisa merekomendasikanmu ke sekte.” Lin Yuan menerima botol itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Kakak Senior.” Di dalam hatinya, ia tersenyum dingin. Masuk ke sarang harimau, pikirnya, tanpa mereka sadari. Malam itu, di kamar sempit penginapan, Lin Yuan membuka botol pil. Pil merah tua. Bau darah samar. Pil yang ia kenal dengan baik. Pil yang digunakan Sekte Awan Giok untuk memperkuat murid elit—dan melemahkan mereka secara perlahan. “Jadi begini caramu mengikat bawahan,” gumam Lin Yuan. Ia menutup botol itu. “Baiklah.” Ia duduk bersila dan mulai berkultivasi. Namun kali ini, bukan hanya Qi yang ia kumpulkan. Ia mengumpulkan kesabaran. Karena ia tahu— Untuk menghancurkan sekte besar, ia tidak perlu pedang besar. Ia hanya perlu waktu, racun, dan kepercayaan. Dan di Kota Tulang Putih, Lin Yuan baru saja mengenakan topeng yang paling berbahaya.Kota Tulang Putih berdiri di persimpangan tiga jalur perdagangan kultivator. Dari kejauhan, temboknya tampak kelabu pucat, disusun dari batu kapur bercampur tulang binatang buas. Aura kota itu berat dan berbau darah lama—tempat yang tidak peduli asal-usul, hanya kekuatan dan manfaat. Tempat yang sempurna. Lin Yuan berdiri di antrean gerbang timur, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya sedikit diolesi ramuan pengabur—cukup untuk mengubah garis wajah tanpa menarik perhatian. Namanya kini bukan Lin Yuan. Ia telah membuang nama itu bersama Desa Batu Hitam. “Aku… Yu Chen,” gumamnya dalam hati. “Kultivator pengembara.” Di balik jubah, Qi-nya berdenyut tenang. Setelah pembantaian Sekte Darah Sungai, kultivasinya telah stabil di tahap awal Pengumpulan Qi—fondasi yang rapuh, namun penuh potensi. Namun yang paling berbahaya bukan kultivasinya. Melainkan ketenangannya. “tunjukan Dokumenmu,” bentak penjaga gerbang. Lin Yuan menyerahkan token besi sederhan
Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t
Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi. Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin. Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu. Mereka akan mengirim orang lagi. Lebih kuat. Lebih cermat. Lebih kejam. “Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.” Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut. “Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedaga
Malam semakin larut di Desa Batu Hitam. Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—se
Malam turun perlahan di Desa Batu Hitam. Lampu-lampu minyak menyala satu per satu di rumah-rumah kayu sederhana, memantulkan cahaya kuning redup ke jalan tanah yang sempit. Dari kejauhan, desa itu tampak damai—seperti tempat yang tak tersentuh dunia kultivasi yang kejam. Namun Lin Yuan tahu. Di kehidupan sebelumnya, tempat ini adalah awal dari kehancuran segalanya. Ia berdiri di luar rumah kayu kecil milik keluarganya, menatap pintu yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara batuk lemah ayahnya, diselingi langkah pelan ibunya yang sedang menyiapkan obat. Suara-suara itu menusuk lebih dalam daripada pedang. Lin Yuan mengepalkan tangan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia kembali ke desa ini dengan luka parah setelah diusir dari sekte. Ia berharap bisa bersembunyi sementara. Ia berharap keluarganya aman karena “tidak tahu apa-apa”. Malam itu, pembunuh datang. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Lin Yuan berbalik dan berjalan menuju tepi desa. Langkahnya ri
Salju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar. Lin Yuan berlutut di tengah aula. Lantai batu giok putih terasa menusuk hingga ke tulang, namun ekspresinya tetap tenang. Kedua lengannya dibelenggu rantai besi hitam yang diukir dengan formasi penekan Qi. Setiap mata rantai menyerap energi spiritual dari tubuhnya, membuat dantiannya terasa berat dan mati rasa. Di sekeliling aula, ratusan murid berdiri berlapis-lapis. Murid luar di barisan belakang berbisik pelan, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan ketakutan. Murid dalam berdiri lebih dekat, wajah mereka kaku, seolah takut ikut terseret. Murid inti—mereka yang pernah bertarung berdampingan dengan Lin Yuan—berada di barisan depan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya terlalu lama. Lin Y







