LOGINMalam semakin larut di Desa Batu Hitam.
Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—setiap jalur meridian, setiap pola sirkulasi Qi, setiap titik nyeri yang akan muncul. Teknik Pemakan Darah dan Jiwa. Teknik terlarang yang ia peroleh secara kebetulan di kehidupan sebelumnya, jauh setelah ia diusir dari sekte. Saat itu, ia terlalu takut untuk mempraktikkannya. Ia ragu. Ia bimbang. Dan keraguan itu membunuhnya. “Langit tidak mengampuni yang lemah,” gumam Lin Yuan pelan. “Jadi aku tidak akan meminta izin.” Ia mulai mengedarkan Qi. Bukan mengikuti jalur utama meridian seperti biasa, melainkan memaksanya berbelok, berputar balik, dan menghantam titik-titik yang seharusnya dihindari oleh kultivator normal. Rasa sakit langsung meledak di dalam tubuhnya. Seolah jarum panas menusuk dari dalam. Otot-ototnya menegang. Napasnya tersendat. Keringat dingin mengalir deras di dahinya. Namun Lin Yuan tidak menghentikan sirkulasi Qi. Ia justru mempercepatnya. Krakk… krakk… Suara halus terdengar dari dalam tubuhnya—bukan tulang patah, melainkan meridian yang dipaksa melebar secara brutal. Darah merembes dari sudut bibirnya, mengalir turun ke dagu. Namun senyum tipis muncul di wajahnya. Ia bisa merasakannya. Qi yang tadinya tipis dan jinak kini berubah lebih berat, lebih padat, dan lebih agresif. Setiap putaran membawa sensasi lapar—seolah energi itu ingin melahap sesuatu. “Begitu seharusnya,” bisiknya. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar. Lin Yuan membuka mata. Ia tidak berhenti berkultivasi. Sebaliknya, ia menahan Qi di dantiannya, membiarkannya berputar perlahan seperti binatang buas yang dikurung. Tok… tok… Ketukan pelan di pintu. “Yuan’er?” suara ayahnya terdengar lemah. “Kamu belum tidur?” Lin Yuan bangkit dengan cepat, menenangkan aliran Qi. Ia membuka pintu dan langsung memasang ekspresi khawatir. “Ayah, kenapa bangun?” tanyanya lembut. Ayahnya tersenyum tipis. Wajah pria itu pucat, tubuhnya kurus akibat penyakit lama yang tak kunjung sembuh. “Aku hanya merasa gelisah. Sejak kamu pulang… aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.” Lin Yuan menatap wajah itu. Di kehidupan sebelumnya, wajah ini hancur oleh telapak tangan kultivator. Dadanya terasa sesak—namun perasaan itu segera ditekan. “Tidak apa-apa,” jawab Lin Yuan tenang. “Aku di sini sekarang.” Ayahnya mengangguk, lalu kembali ke kamar. Saat pintu tertutup, wajah Lin Yuan langsung berubah dingin. “aku tidak boleh membuang-buang Waktu,” gumamnya. Ia kembali duduk dan melanjutkan kultivasi. Kali ini, ia mengambil langkah yang lebih berbahaya. Ia mengingat darah yang ia tumpahkan malam ini. Dalam Teknik Pemakan Darah dan Jiwa, darah bukan sekadar cairan. Ia adalah wadah sisa Qi dan emosi. Ketakutan, kebencian, penyesalan—semua bisa diserap. Lin Yuan mengeluarkan kain kecil yang masih bernoda darah pemburu bayaran. Ia meletakkannya di depan, lalu menusukkan jarinya sendiri hingga berdarah. Dua tetes darah jatuh ke kain itu. Ia mulai melafalkan mantra pendek—bukan doa, bukan sumpah. Hanya rangkaian kata kuno yang terasa dingin di lidah. Qi di sekitarnya bergetar. Kain itu menghitam. Aroma busuk samar tercium. Lin Yuan merasakan sesuatu mengalir ke dalam tubuhnya—bukan Qi murni, melainkan energi kacau yang penuh emosi negatif. Sakit. Jauh lebih sakit dari sebelumnya. Namun di balik rasa sakit itu, kultivasinya melonjak. Dari tahap awal Pemurnian Tubuh, ia langsung menembus ke tahap menengah. Lin Yuan membuka mata dengan napas berat. Ia berhasil. Namun keberhasilan itu membawa konsekuensi. Di sudut pandangannya, dunia tampak sedikit berbeda. Warna-warna lebih gelap. Suara lebih jelas. Dan di dada, ada dorongan samar—keinginan untuk mengambil lebih banyak. “Ini harga jalan iblis,” katanya tenang. “Dan aku akan menerimanya.” Ia berdiri dan berjalan ke luar rumah. Langit malam terbentang luas, penuh bintang. Indah. Tenang. Seolah tidak peduli pada apa yang terjadi di bawahnya. Lin Yuan menatap langit itu lama. “Langit,” ucapnya pelan, “kalau kau memang ada… maka saksikanlah baik-baik.” Ia mengepalkan tangan. “Aku akan hidup. Aku akan membalas. Dan jika jalanku bertentangan denganmu—” Senyumnya tipis, kejam. “—maka aku akan menginjakmu.” Angin malam bertiup kencang, meniup daun-daun kering berputar di udara. Di kejauhan, seekor burung malam menjerit, lalu terdiam mendadak. Lin Yuan kembali ke kamarnya. Di dalam dirinya, sesuatu telah berubah secara permanen. Ia bukan lagi murid sekte. Bukan lagi pemuda desa. Ia adalah benih bencana— yang suatu hari akan tumbuh menjadi iblis yang mengguncang dunia kultivasi. Dan ini… baru permulaan.Kota Tulang Putih berdiri di persimpangan tiga jalur perdagangan kultivator. Dari kejauhan, temboknya tampak kelabu pucat, disusun dari batu kapur bercampur tulang binatang buas. Aura kota itu berat dan berbau darah lama—tempat yang tidak peduli asal-usul, hanya kekuatan dan manfaat. Tempat yang sempurna. Lin Yuan berdiri di antrean gerbang timur, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya sedikit diolesi ramuan pengabur—cukup untuk mengubah garis wajah tanpa menarik perhatian. Namanya kini bukan Lin Yuan. Ia telah membuang nama itu bersama Desa Batu Hitam. “Aku… Yu Chen,” gumamnya dalam hati. “Kultivator pengembara.” Di balik jubah, Qi-nya berdenyut tenang. Setelah pembantaian Sekte Darah Sungai, kultivasinya telah stabil di tahap awal Pengumpulan Qi—fondasi yang rapuh, namun penuh potensi. Namun yang paling berbahaya bukan kultivasinya. Melainkan ketenangannya. “tunjukan Dokumenmu,” bentak penjaga gerbang. Lin Yuan menyerahkan token besi sederhan
Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t
Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi. Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin. Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu. Mereka akan mengirim orang lagi. Lebih kuat. Lebih cermat. Lebih kejam. “Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.” Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut. “Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedaga
Malam semakin larut di Desa Batu Hitam. Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—se
Malam turun perlahan di Desa Batu Hitam. Lampu-lampu minyak menyala satu per satu di rumah-rumah kayu sederhana, memantulkan cahaya kuning redup ke jalan tanah yang sempit. Dari kejauhan, desa itu tampak damai—seperti tempat yang tak tersentuh dunia kultivasi yang kejam. Namun Lin Yuan tahu. Di kehidupan sebelumnya, tempat ini adalah awal dari kehancuran segalanya. Ia berdiri di luar rumah kayu kecil milik keluarganya, menatap pintu yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara batuk lemah ayahnya, diselingi langkah pelan ibunya yang sedang menyiapkan obat. Suara-suara itu menusuk lebih dalam daripada pedang. Lin Yuan mengepalkan tangan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia kembali ke desa ini dengan luka parah setelah diusir dari sekte. Ia berharap bisa bersembunyi sementara. Ia berharap keluarganya aman karena “tidak tahu apa-apa”. Malam itu, pembunuh datang. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Lin Yuan berbalik dan berjalan menuju tepi desa. Langkahnya ri
Salju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar. Lin Yuan berlutut di tengah aula. Lantai batu giok putih terasa menusuk hingga ke tulang, namun ekspresinya tetap tenang. Kedua lengannya dibelenggu rantai besi hitam yang diukir dengan formasi penekan Qi. Setiap mata rantai menyerap energi spiritual dari tubuhnya, membuat dantiannya terasa berat dan mati rasa. Di sekeliling aula, ratusan murid berdiri berlapis-lapis. Murid luar di barisan belakang berbisik pelan, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan ketakutan. Murid dalam berdiri lebih dekat, wajah mereka kaku, seolah takut ikut terseret. Murid inti—mereka yang pernah bertarung berdampingan dengan Lin Yuan—berada di barisan depan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya terlalu lama. Lin Y







