ANMELDENMalam turun perlahan di Desa Batu Hitam.
Lampu-lampu minyak menyala satu per satu di rumah-rumah kayu sederhana, memantulkan cahaya kuning redup ke jalan tanah yang sempit. Dari kejauhan, desa itu tampak damai—seperti tempat yang tak tersentuh dunia kultivasi yang kejam. Namun Lin Yuan tahu. Di kehidupan sebelumnya, tempat ini adalah awal dari kehancuran segalanya. Ia berdiri di luar rumah kayu kecil milik keluarganya, menatap pintu yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara batuk lemah ayahnya, diselingi langkah pelan ibunya yang sedang menyiapkan obat. Suara-suara itu menusuk lebih dalam daripada pedang. Lin Yuan mengepalkan tangan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia kembali ke desa ini dengan luka parah setelah diusir dari sekte. Ia berharap bisa bersembunyi sementara. Ia berharap keluarganya aman karena “tidak tahu apa-apa”. Malam itu, pembunuh datang. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Lin Yuan berbalik dan berjalan menuju tepi desa. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Tubuhnya memang belum kuat—kultivasinya baru di tahap awal Pemurnian Tubuh—namun pengalaman tempur dari kehidupan sebelumnya masih utuh di pikirannya. Ia tahu siapa yang akan datang. Tiga orang. Pemburu bayaran yang bekerja untuk Sekte Awan Giok, dikirim untuk “membersihkan sisa-sisa”. Mereka tidak kuat, hanya kultivator tingkat rendah, namun bagi penduduk desa biasa, mereka adalah bencana. Di kehidupan sebelumnya, Lin Yuan tidak tahu. Sekarang, ia menunggu. Angin malam membawa aroma logam samar—bau senjata. Lin Yuan berhenti di balik pohon pinus tua di luar desa. Ia menutup mata dan mengatur napas. Qi di tubuhnya berputar perlahan, kaku dan lemah, namun cukup untuk menopang satu pertarungan singkat. “Tenang,” gumamnya pelan. “Aku tidak perlu menang dengan kekuatan. Aku hanya perlu… membunuh.” Langkah kaki terdengar. Tiga bayangan muncul dari kegelapan, berjalan santai seolah sedang berburu binatang. Mereka mengenakan pakaian hitam sederhana, wajah mereka tersembunyi di balik tudung. “Desa kecil menyebalkan,” gerutu salah satu dari mereka. “Kenapa kita harus repot-repot datang ke tempat kumuh seperti ini?” “Perintah sekte,” jawab yang lain sambil terkekeh. “Katanya ada keluarga murid pengkhianat di sini.” Lin Yuan membuka matanya. Dunia seolah menyempit. Ia mengenali suara itu. Di kehidupan sebelumnya, pria itu menusuk ayahnya dari belakang. Tangannya menggenggam kencang rahangnya mengeras, namun ia berusaha agar tetap tenang. Lin Yuan meraih pisau pendek dari balik pinggangnya. Pisau biasa—tidak ada Qi, tidak ada ukiran formasi. Senjata paling sederhana. Namun cukup. Ia menunggu hingga ketiganya melewati pohon pinus. Lalu bergerak. Langkah pertama Lin Yuan cepat dan rendah. Ia tidak langsung menyerang—ia melempar kerikil kecil ke semak di sisi berlawanan. Grasak. “Siapa di sana?” salah satu dari mereka berhenti. Saat perhatian mereka terpecah, Lin Yuan sudah berada di belakang pria terakhir. Jleb Pisau menusuk. Tidak ke jantung—terlalu berisik. Tidak ke tenggorokan—terlalu mencolok. Ia menusuk ke pangkal tengkorak, tepat di bawah leher. Darah menyembur hangat ke tangannya. Pria itu bahkan tidak sempat bersuara. Tubuhnya jatuh lemas ke tanah, mata masih terbuka, penuh kebingungan. Lin Yuan menahan napas. Tangannya bergetar. Bukan karena takut. Melainkan karena sensasi yang asing. Hangat. Nyata. Tak terelakkan. “Siapa—?!” Dua pemburu lain berbalik. Mata mereka melebar saat melihat tubuh rekan mereka tergeletak di tanah. “Serang!” teriak salah satu. Terlambat. Lin Yuan melempar pisau ke arah wajah pria terdekat. Bukan untuk membunuh—hanya untuk mengalihkan. Saat pria itu menepis, Lin Yuan sudah menyapu kaki lawannya dari bawah. Gubrak Tubuh itu terjatuh keras. Lin Yuan melompat ke atasnya, menghantam tenggorokan dengan siku. Crack. Suara tulang patah terdengar jelas di malam sunyi. Pria itu kejang sebentar, lalu diam. Yang terakhir mundur ketakutan. “Sialan… bocah desa?!” Ia mencoba mengedarkan Qi. Lin Yuan tersenyum tipis. Ia mengambil batu besar dari tanah dan melemparkannya sekuat tenaga ke lutut pria itu. Tak! Teriakan kesakitan memecah malam. Pria itu jatuh berlutut. Lin Yuan berjalan mendekat perlahan. “kumohon Jangan—jangan bunuh aku!” pria itu merangkak mundur. “Kami hanya menjalankan perintah!” Lin Yuan berhenti di depannya. Di kehidupan sebelumnya, ia akan ragu. Sekarang, ia hanya bertanya satu hal. “Siapa yang memerintahkan?” “Sekte Awan Giok!” teriak pria itu putus asa. “Tetua Zhao! Kami dibayar untuk—” Jleb pedang menusuk ke kaki kanan pira itu. "Arghh!!" Jerit keras pria itu sambil memegangi kakinya. "Ini untuk anak-anak di desa." Kata Lin Yuan suaranya tenang dan dingin. Pria itu mundur dengan menyeret kakinya. " Kumohon tolong am—" Jleb pedang menusuk kaki kanan pria itu. "Arghh!!!" Teriak pria itu. "Ini untuk orang-orang tua di desa." Lin Yuan terus melakukan hal itu sampai merasa semua dendam penduduk desa telah dibalaskan. Suara teriakan terus bergema di hutan malam itu. Pria itu tergeletak lemas dengan darah di sekujur tubuhnya. "Ku-kumohon bunuh saja aku." Lirih pria itu. "Dengan senang hati." Jleb Pisau menembus dadanya. Lin Yuan menariknya keluar tanpa ekspresi. Darah menodai tanah. Malam kembali sunyi. Lin Yuan berdiri di antara tiga mayat, napasnya teratur. Tangannya dan bajunya berlumuran darah, namun matanya tetap dingin. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan. Hanya satu kesadaran sederhana: Jika ia tidak membunuh, ia akan dibunuh. Ia membersihkan pisau di pakaian salah satu mayat, lalu menatap ke arah desa. Lampu-lampu masih menyala. Keluarganya masih hidup. Untuk saat ini. Lin Yuan mengubur ketiga mayat itu dengan cepat dan rapi. Tidak ada tanda pertarungan. Tidak ada jejak mencolok. Ia tahu cara menghilangkan bukti—pengetahuan dari kehidupan sebelumnya. Saat ia kembali ke rumah, ibunya sedang menunggu di depan pintu. “Yuan’er?” suara itu bergetar. “Kamu habis kemana malam-malam begini?” Lin Yuan tersenyum lembut. Senyum yang palsu. “Tidak ke mana-mana, Ibu,” katanya. “Hanya berjalan sebentar.” Ibunya mengangguk, tidak curiga."ayo masuk sudah malam cuaca sedang dingin." Lin Yuan masuk ke dalam rumah dengan senyum lembut di wajahnya. Namun saat Lin Yuan menutup pintu kamarnya, wajahnya kembali dingin. Ia duduk bersila di lantai dan mulai berkultivasi. Namun kali ini, berbeda. Ia tidak mengikuti teknik sekte. Ia mengalirkan Qi dengan pola lain—pola terlarang yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya. Teknik yang tidak stabil, namun cepat. Rasa sakit menjalar ke meridian. Lin Yuan tidak menghentikan aliran Qi. “Rasa sakit…” gumamnya. “Lebih jujur daripada janji sekte.” Di luar, bulan tergantung pucat. Dan di dalam kamar kecil itu, seorang pemuda mulai menapaki jalan yang tidak bisa kembali. Jalan iblis.Kota Tulang Putih berdiri di persimpangan tiga jalur perdagangan kultivator. Dari kejauhan, temboknya tampak kelabu pucat, disusun dari batu kapur bercampur tulang binatang buas. Aura kota itu berat dan berbau darah lama—tempat yang tidak peduli asal-usul, hanya kekuatan dan manfaat. Tempat yang sempurna. Lin Yuan berdiri di antrean gerbang timur, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya sedikit diolesi ramuan pengabur—cukup untuk mengubah garis wajah tanpa menarik perhatian. Namanya kini bukan Lin Yuan. Ia telah membuang nama itu bersama Desa Batu Hitam. “Aku… Yu Chen,” gumamnya dalam hati. “Kultivator pengembara.” Di balik jubah, Qi-nya berdenyut tenang. Setelah pembantaian Sekte Darah Sungai, kultivasinya telah stabil di tahap awal Pengumpulan Qi—fondasi yang rapuh, namun penuh potensi. Namun yang paling berbahaya bukan kultivasinya. Melainkan ketenangannya. “tunjukan Dokumenmu,” bentak penjaga gerbang. Lin Yuan menyerahkan token besi sederhan
Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t
Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi. Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin. Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu. Mereka akan mengirim orang lagi. Lebih kuat. Lebih cermat. Lebih kejam. “Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.” Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut. “Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedaga
Malam semakin larut di Desa Batu Hitam. Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—se
Malam turun perlahan di Desa Batu Hitam. Lampu-lampu minyak menyala satu per satu di rumah-rumah kayu sederhana, memantulkan cahaya kuning redup ke jalan tanah yang sempit. Dari kejauhan, desa itu tampak damai—seperti tempat yang tak tersentuh dunia kultivasi yang kejam. Namun Lin Yuan tahu. Di kehidupan sebelumnya, tempat ini adalah awal dari kehancuran segalanya. Ia berdiri di luar rumah kayu kecil milik keluarganya, menatap pintu yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara batuk lemah ayahnya, diselingi langkah pelan ibunya yang sedang menyiapkan obat. Suara-suara itu menusuk lebih dalam daripada pedang. Lin Yuan mengepalkan tangan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia kembali ke desa ini dengan luka parah setelah diusir dari sekte. Ia berharap bisa bersembunyi sementara. Ia berharap keluarganya aman karena “tidak tahu apa-apa”. Malam itu, pembunuh datang. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Lin Yuan berbalik dan berjalan menuju tepi desa. Langkahnya ri
Salju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar. Lin Yuan berlutut di tengah aula. Lantai batu giok putih terasa menusuk hingga ke tulang, namun ekspresinya tetap tenang. Kedua lengannya dibelenggu rantai besi hitam yang diukir dengan formasi penekan Qi. Setiap mata rantai menyerap energi spiritual dari tubuhnya, membuat dantiannya terasa berat dan mati rasa. Di sekeliling aula, ratusan murid berdiri berlapis-lapis. Murid luar di barisan belakang berbisik pelan, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan ketakutan. Murid dalam berdiri lebih dekat, wajah mereka kaku, seolah takut ikut terseret. Murid inti—mereka yang pernah bertarung berdampingan dengan Lin Yuan—berada di barisan depan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya terlalu lama. Lin Y







