Share

Bab 2

Penulis: Mohini
"Wah, Pak Aldric, itu kabar yang luar biasa!"

Setelah kegembiraannya sedikit mereda, orang di seberang telepon terdengar ragu dan khawatir.

"Tapi kau juga harus memikirkannya baik-baik. Bergabung dengan kami berarti kau bakal ditempatkan di Tibeith seumur hidup. Kesempatan berkumpul dengan keluarga bakal sangat sedikit. Soal Bu Salma ...."

Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, aku menjawab dengan tegas, "Saya sudah memikirkannya matang-matang."

"Baik! Tiga hari lagi kami bakal mengirim mobil untuk menjemputmu!"

Setelah menutup telepon, aku mulai membereskan barang-barang untuk pergi.

Selama delapan tahun pernikahan kami, setiap perabot di rumah ini kami pilih dan beli bersama.

Saat dia berkata seluruh tunjangannya akan diberikan kepada Felix, aku tidak keberatan. Aku bekerja mati-matian demi mengumpulkan poin kerja untuk menghidupi keluarga.

Kini, rumah yang telah kubangun dengan seluruh jerih payahku ternyata tidak lebih dari sekadar gelembung yang siap pecah.

Salma membuka pintu dan masuk.

Melihatku sedang membereskan barang, dia mengira aku sedang marah dan ingin kabur dari rumah.

"Kau selalu saja memakai cara kekanak-kanakan seperti ini. Kalau memang nggak menginginkan anak ini, bilang saja terus terang."

"Meskipun kakak iparku terluka separah itu, dia tetap memohon kepadaku buat menggugurkan anak ini supaya nggak merasa bersalah padamu."

"Dia sudah hidup sendirian dengan begitu berat. Apa kau nggak bisa sedikit lebih berlapang dada?"

Aku tiba-tiba tertawa getir.

"Selama ini apa hidupku mudah?"

"Cukup!" Kesabarannya benar-benar habis.

"Kakak iparku kehilangan istrinya dan hidup sebatang kara. Sedangkan kau, bagaimanapun juga masih punya aku. Selama ini kau sudah hidup enak berkat statusku sebagai kepala lembaga penelitian."

Aku langsung tertegun. Perasaan gila memenuhi dadaku.

Sejak kakak perempuan Salma gugur, dia rela menggantikan posisi kakaknya sebagai istri bagi Felix, memenuhi semua kebutuhannya tanpa pernah menolak.

Saat kepalaku pernah tertimpa batang baja, dia tidak ada di sisiku.

Saat aku dikirim membantu ke daerah pedesaan dan terjebak di pegunungan selama tiga hari tiga malam, dia juga tidak ada.

Bahkan pada hari ayahku meninggal karena sakit, dia tetap tidak ada.

Namun, setiap kali Felix hanya sakit kepala atau demam ringan, dia selalu meninggalkanku tanpa ragu demi dirinya.

Pada akhirnya, dia malah mengatakan bahwa akulah yang hidup enak.

Mataku memanas. Aku tersenyum mengejek diri sendiri.

"Kau seorang kepala lembaga penelitian, tapi malah berselingkuh dengan kakak iparmu sendiri. Ke mana semua prinsip moral dan rasa malumu yang selama ini selalu kau bicarakan?"

Tepat saat itu, Felix masuk dengan langkah pincang.

"Aldric, bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu pada kakak iparmu? Selama ini aku selalu menganggapmu seperti adik kandungku sendiri."

Setelah mengatakan itu, mata pria itu tiba-tiba memerah.

"Kalau memang harus menyalahkan seseorang, salahkan saja aku. Aku terlalu egois karena ingin keluarga kami punya penerus. Kalau kau nggak suka anak ini, aku bakal menyuruh Salma segera gugurkan!"

Setelah mengatakan itu, dia berlari keluar dengan wajah penuh rasa malu sambil berteriak-teriak mencari dokter untuk melakukan aborsi.

Salma berdecak kesal, lalu mendorongku dengan jijik.

Dia segera berlari mengejar Felix.

Bekas luka lama di kepalaku membentur sudut meja yang tajam. Menahan rasa sakit, aku buru-buru meraih lengannya.

"Salma ... kepalaku sakit sekali ...."

Dia menepis tanganku dengan kasar.

"Tetap di rumah dan renungkan sikapmu! Kalau sampai terjadi sesuatu pada kakak iparku, aku bakal meminta pertanggungjawabanmu!"

Setelah mengatakan itu, dia membanting pintu hingga berbunyi keras.

Baru setelah Salma pergi, aku menyadari darah dari bagian belakang kepalaku mengalir turun membasahi leher.

Rasa sakit membuat kepalaku berdenyut hebat hingga pandanganku berkunang-kunang. Aku merangkak menuju telepon rumah untuk menghubungi rumah sakit.

"Kepalaku mengeluarkan banyak darah ... tolong selamatkan aku ...."

Namun, tidak disangka, dari seberang telepon justru terdengar bentakan Salma yang penuh rasa tidak sabar.

"Kau diam saja di rumah, memangnya bisa terjadi apa? Mulai sekarang, aku nggak mengizinkanmu memakai fasilitas umum buat urusan pribadi. Jangan pernah menelepon lagi!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku   Bab 8

    "Apa yang sedang kau katakan? Sejak kapan kau pernah hidup sengsara saat bersamaku? Kau nggak bakal sanggup bertahan sampai akhir!"Tatapan Salma saat melihatku dipenuhi rasa iba, seolah-olah dia benar-benar tidak tega melihatku menderita sedikit pun.Namun, dia tidak tahu bahwa justru di tempat inilah aku menjalani masa paling bermakna dan paling indah dalam hidupku.Dulu, baginya Felix selalu menjadi prioritas utama. Sementara kebutuhanku akan selalu berada di urutan kedua.Melihat bagaimana dia merawat Felix dengan penuh perhatian, hatiku selalu terasa perih.Aku juga pernah marah dan bertengkar dengannya, tetapi Salma selalu membawa-bawa kakak perempuannya sebagai alasan."Sebelum meninggal, kakakku berulang kali berpesan agar aku menjaga kakak iparku dengan baik. Jadi, jangan berpikir macam-macam."Namun, kenyataannya membuktikan bahwa hubungan mereka memang tidak sesuci yang dia katakan.Aku juga bukan pria yang hanya tinggal menikmati hidup seperti yang selalu dia katakan.Karen

  • Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku   Bab 7

    Setelah bergabung dengan program bantuan mengajar ke Tibeith, aku menyingkirkan semua pikiran yang mengganggu dan bergabung menjadi seorang guru.Dulu, aku melepaskan pendidikan tinggiku demi sepenuh hati tinggal di rumah dan menjadi pendukung bagi istriku.Kini, akhirnya aku bisa menemukan kembali diriku yang penuh ambisi.Meski kondisi di sini sangat berat, penduduknya ramah dan hangat. Justru karena itulah aku mendapatkan banyak kebahagiaan.Sampai suatu hari, gempa bumi terjadi di dekat sekolah dasar tempatku mengajar, memecahkan ketenangan yang selama ini ada."Pak Aldric!"Aku memeluk erat dua anak kecil di sisiku sambil mengarahkan yang lain untuk berlindung di bawah meja.Namun, atap bangunan yang memang sudah rapuh tiba-tiba runtuh dan menghantam tubuhku dengan keras."Semuanya jangan panik! Jangan keluar!"Entah sudah berapa lama berlalu, guncangan gempa akhirnya mereda. Aku tidak sanggup bertahan lagi dan jatuh pingsan.Saat kembali sadar, semua warga desa telah mengelilingi

  • Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku   Bab 6

    "Apa?!" Tubuh Salma limbung. Kedua kakinya hampir tidak sanggup menopang tubuhnya."Kenapa tiba-tiba dia pergi menjadi relawan ke Tibeith? Kondisi di sana sangat berat. Bagaimana mungkin dia sanggup bertahan sendirian?"Petugas informasi akhirnya berhasil mengatur napasnya sebelum berkata, "Pak Aldric sendiri yang menelepon ke sana. Dia mengatakan bahwa dia nggak bakal pernah kembali lagi."Detik berikutnya, Salma terjatuh lemas ke sofa.Salma sangat mengenal Aldric. Jika sampai mengucapkan kata-kata seperti itu, berarti dia sudah benar-benar putus asa."Nggak, aku nggak percaya dia benar-benar meninggalkanku!""Siapkan mobil sekarang juga! Aku bakal pergi mencarinya sendiri!"Mendengar itu, petugas informasi segera mencoba membujuknya, "Lembaga penelitian nggak bisa berjalan tanpa Anda. Belakangan ini ada proyek penting yang harus diawasi. Anda nggak bisa pergi ...."Saat itu, mata Salma mulai berkaca-kaca.Dia memandangi rumah yang kini terasa begitu kosong dengan tatapan hampa, tanp

  • Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku   Bab 5

    "Aldric!" Begitu melangkah masuk ke rumah, Salma langsung mencari-cari sosok Aldric.Namun, dia segera menyadari bahwa koper yang kemarin dibereskan Aldric telah dibawa pergi.Dia memanggil namanya berkali-kali hingga para tetangga keluar untuk melihat apa yang terjadi."Bu Diana, di mana Aldric? Kenapa dia nggak ada?"Bu Diana menghela napas panjang."Ibunya terkena serangan jantung. Di rumah sakit nggak ada kamar rawat yang kosong. Baru saja meninggal. Sepertinya sekarang lagi disemayamkan di kompleks perumahan.""Melihat kondisinya tadi, dia benar-benar terpukul. Sebaiknya kau hibur dia."Mendengar itu, Salma segera bergegas menuju kompleks perumahan keluarga pegawai.Di sana sudah tergantung lentera putih, dan altar penghormatan telah dipasang.Para tetangga yang telah lama mengenal keluarga mereka menangis dengan sedih.Melihat pemandangan di hadapannya, Salma akhirnya benar-benar percaya bahwa ibu Aldric telah meninggal dunia."Bagaimana bisa begini?"Begitu melihat Salma datang,

  • Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku   Bab 4

    "Kenapa?""Bu Salma punya satu ranjang ruang rawat khusus yang memang disediakan buatnya. Ini ibu mertuanya, kenapa nggak boleh dirawat di sana?"Ekspresi di wajahku seketika berubah.Perawat itu menjawab dengan gugup, "Barusan Bu Salma datang membawa kakak iparnya buat menjalani rawat inap, jadi jatah ranjang itu sudah terpakai."Aku menoleh dengan kaku. Kulihat Felix sedang berbaring di ranjang ruang rawat khusus sambil menikmati buah yang sudah dikupaskan.Salma berjaga di sisi ranjang dengan cemas, lalu membantunya minum. Siapa pun yang melihat pasti akan mengira dialah istrinya.Pemandangan yang begitu harmonis itu buyar karena kemunculanku."Salma, ibuku ....""Kenapa kau sampai mengikuti kami ke sini?" Salma memotong ucapanku dengan marah."Gara-gara perkataanmu, luka kakak iparku kambuh lagi. Kalau terlambat sedikit saja, bisa-bisa kedua kakinya nggak bakal terselamatkan!"Saat itu, Felix sedang menusuk sepotong apel dengan tusuk gigi, lalu memasukkannya ke mulut sambil menguny

  • Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku   Bab 3

    Saat membuka mata lagi, kepalaku sudah dibalut perban tebal.Perawat muda yang datang memeriksaku berkata dengan hati-hati bahwa seandainya terlambat sedikit saja, nyawaku sudah tidak akan tertolong.Tanganku menyentuh luka di kepalaku. Rasa sakitnya begitu hebat hingga membuatku nyaris tidak bisa bernapas.Salma, sedikit lagi kau benar-benar membunuhku dengan tanganmu sendiri.Aku bahkan belum sempat menghapus air mata ketika tetangga dari kompleks perumahan keluarga pegawai berlari masuk dengan panik."Padahal rumah dinas yang dialokasikan oleh lembaga penelitian itu sudah dijanjikan buat ibumu, tapi Bu Salma malah menariknya kembali!""Cepatlah ke sana! Ibumu kena serangan jantung!"Aku seketika seperti disambar petir.Tanpa memedulikan luka di kepalaku, aku berlari tertatih-tatih menuju kompleks perumahan.Sesampainya di sana, kulihat Salma sedang memerintahkan orang-orang untuk mengeluarkan semua barang milik ibuku.Ibuku begitu marah hingga langsung pingsan dan jatuh ke tanah."A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status