Share

Bab 10

Auteur: Mona
Risa gemetar saat menelepon ayahnya.

“Bukankah sudah dibilang jangan menghubungiku lagi?” Suara ayahnya terdengar dingin.

“Perjanjian pemutusan hubungan ayah dan anak sudah kukirim. Akhir bulan sudah dekat, hari ini atau besok kamu harus berangkat ke Kota Selatan.”

“Aku cuma mau tanya satu hal.” Suara Risa serak. “Waktu itu, apa memang keinginan Ayah untuk menyerahkan aku pada Niko untuk dia didik, atau Niko yang memintaku?”

“Buat apa tanya itu?”

“Jawab aku!”

Ayah Risa terdiam sejenak sebelum menjawab, “Niko. Ditukar dengan proyek di area selatan. Lagipula aku juga muak melihatmu, jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.”

Ponsel itu terlepas dari tangan Risa dan jatuh menghantam lantai sampai layarnya retak. Risa mendadak tertawa. Tawa itu menggema di vila yang kosong, tawa yang merobek dada, tawa yang bercampur air mata.

“Niko … kamu benar-benar hebat.”

Entah berapa lama berlalu, sampai akhirnya Risa mengusap bersih air matanya, berjalan ke kamar, dan menarik koper yang sejak lama sudah ia siapkan. Langkah demi langkah menuju pintu. Setiap pijakan terasa seperti menginjak ujung pisau, namun langkah Risa begitu mantap.

Saat sampai di area foyer vila, Risa berhenti. Jarinya tanpa sadar mengusap pemantik di dalam sakunya. Itu hadiah ulang tahun dari Niko, dengan ukiran tulisan tangannya sendiri, [To Riri].

Risa tiba-tiba tersenyum. Detik berikutnya, tanpa ragu, ia menyalakan pemantik itu dan melemparkannya ke arah tirai.

Wusss!

Api menyambar, dengan cepat melahap seluruh ruang tamu.

Risa berdiri di luar vila, menatap tenang nyala api yang menelan sofa tempat mereka pernah bercinta, meja makan yang pernah menjadi saksi ciuman mereka, dan tempat tidur itu … yang menjadi saksi kepolosan Risa yang mengira Niko juga menyimpan secuil perasaan untuknya.

Niko pulang satu jam kemudian. Mobil sedan hitam itu mengerem mendadak di depan vila, bannya bergesekan dengan aspal, mengeluarkan suara melengking yang menusuk telinga. Saat pintu mobil didorong terbuka, yang menyambut pandangan Niko adalah kobaran api yang menjulang ke langit dan Risa yang duduk di atas koper.

Risa menatap vila yang terbakar dengan tenang. Cahaya api memantul di wajahnya yang pucat, di bulu matanya masih menggantung jejak air mata yang belum kering. Dada Niko mendadak terasa sesak. Ia punya ribuan pertanyaan untuk dilontarkan, namun saat melihat mata Risa yang memerah, semua pertanyaannya tersangkut di tenggorokan.

“Kamu sudah membakar rumah ini.” Akhirnya Niko bersuara rendah. “Apa sekarang sudah puas, Nona Besar?”

Risa perlahan mengangkat pandangan. Sepasang mata yang dulu penuh cinta, kini hanya tinggal kehampaan. Ia menatap Niko seperti menatap orang asing, tidak mengucap sepatah kata pun.

“Tuan Niko.” Asisten Niko berlari tergesa-gesa menghampiri. “Pesawat pribadi sudah siap. Rapat di Negara Srijaya tidak bisa ditunda lagi.”

Niko mengusap keningnya. “Urus vila ini.”

Niko berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Risa. “Antarkan dia ke rumah di area selatan.”

“Tidak perlu.” Risa akhirnya bersuara, serak namun tegas. “Aku mau pulang.”

Niko mengira Risa akhirnya mengalah dan ingin kembali ke rumah Keluarga Melia. Alisnya sedikit mengendur. “Bagus kalau kamu bisa berpikir jernih.”

Niko berbalik melangkah pergi. Mantel hitamnya berkibar tertiup angin malam. “Aku tidak selalu bisa membereskan semuanya untukmu.”

Risa berdiri di tempat, menatap punggung Niko yang semakin menjauh. Di sudut bibirnya tiba-tiba terbit senyum pahit.

“Niko,” bisik Risa lirih, begitu pelan hingga suaranya hampir lenyap dibawa angin malam. “Kita tidak akan bertemu lagi.”

“Apa?” Niko menoleh. Namun Risa sudah membuka pintu dan naik ke dalam taksi.

Niko mengira Risa hanya sedang merajuk. Ia tidak bertanya lebih jauh dan langsung masuk ke mobilnya. Niko tidak menyadari, dua kendaraan itu melaju beriringan, menuju bandara yang sama.

Di apron pesawat pribadi, Niko menerima berkas dari asistennya dan naik tanpa menoleh lagi. Sementara di dalam terminal keberangkatan pesawat, setelah Risa mentransfer uang sewa rumah dan biaya pengobatan selama setengah bulan terakhir kepada Niko, ia melempar ponselnya ke tempat sampah, lalu berjalan tanpa menoleh ke gerbang keberangkatan menuju Kota Selatan.

Dua pesawat lepas landas bersamaan menuju arah yang berlawanan, dan tidak akan bersinggungan lagi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status