Share

Bab 4

Auteur: Dwi Maula
last update Dernière mise à jour: 2025-12-30 12:36:32

Mata jernih Aisha membulat. "Apa?" Dia terkekeh tak terima, lalu cemberut. Gadis itu melangkah cepat, meninggalkan Daphne yang mengernyitkan dahi di belakangnya.

"Ibu, aku sudah sembilan belas tahun, punya Kartu Tanda Penduduk sendiri." Aisha menarik gagang pintu hingga pintu terbuka, lalu masuk dan menghempaskan tubuh ke ranjang empuknya. Ekspresi gadis muda itu terlihat sangat jengah.

Daphne juga telah tiba di kamar Aisha. Dia tersenyum penuh arti ke arah putrinya yang kini sudah tumbuh dewasa dengan baik.

Daphne segera duduk di samping Aisha. Namun, gadis itu malah memiringkan tubuh dan membelakangi Daphne.

Daphne memandang punggung Aisha saat gadis itu kembali bersiteguh, "Aku sudah bisa bertanggung jawab dengan diriku sendiri. Aku bukan gadis kecilmu lagi, Bu. Aku sudah menjadi wanita dewasa yang hebat."

"Iya, Sayang." Daphne tersenyum lagi. Dia mendekatkan tubuh ke kepala Aisha, kemudian mengelus rambut hitam Aisha.

"Ibu mengerti." Daphne mengecup kening Aisha.

"Putri Ibu memang hebat, bisa masuk ke Perusahaan Pierce Holdings yang sama sekali nggak mudah," sambung Daphne. "Tapi, kamu harus berhati-hati di sana." Wanita itu menepuk bahu Aisha lembut, memperingatkan dengan ekspresi sungguh-sungguh.

"Tentu saja, Ibu." Suara semangat Aisha terdengar dari balik punggung. Gadis itu buru-buru membalikkan badan dengan ekspresi secerah pagi hari di musim semi.

Daphne tersenyum, lalu menepuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Ya sudah, kenapa bangun lagi?!" Daphne bertolak pinggang, memasang wajah garang yang terlihat dibuat-buat.

"Tadi 'kan sudah Ibu beri kecupan pengantar tidur. Ayo, tidur lagi," pungkas Daphne, masih dengan raut galak yang terkesan lucu.

Aisha tertawa kecil. Gadis itu kembali merebahkan tubuh dengan patuh, membiarkan Daphne membentangkan selimut di sana.

Aisha memejamkan mata dengan senyum yang masih terlihat.

Daphne menghela napas. Dia menggeleng dengan perasaan tak berdaya. Wanita itu lantas turun dari ranjang, tak lupa menggantikan lampu tidur sebelum benar-benar pergi dari kamar Aisha.

....

Esok harinya, Aisha pulang dari kampus pukul tiga sore. Dia tak lagi nongkrong santai bersama teman-temannya, karena kini sudah ada pekerjaan penting yang menjadi penentu besar kehidupan selanjutnya.

Aisha melambaikan tangan pada teman-temannya yang masih asyik mengobrol di tempat parkir. "Guys, aku pulang dulu, ya!"

"Yah, Aisha payah banget. Hari ini ada pertandingan balap motor lagi. Sayang banget kamu nggak bisa ikut." Satu teman Aisha yang bernama Lora langsung cemberut.

"Iya, nih. Kamu mau bekerja apa, sih? Kamu 'kan dari keluarga yang cukup mampu. Masa kamu bisa kekurangan uang?" Teman lelaki Aisha yang bernama Keenan ikut menyahut.

"Sudahlah." Aisha tersenyum pada mereka. "Kalian jalan saja dulu. Soal aku, kita agendakan lagi pas aku benar-benar libur, ya. Aku nggak bisa buang waktu lagi di sini."

Aisha melenggang pergi, menuju tempat di mana motornya terparkir.

"Dah!" Aisha mulai mengemudikan motor besarnya, lalu benar-benar melaju meninggalkan teman nongkrongnya.

Begitu sampai di rumah, Aisha memarkir motor di garasi dengan cekatan. Gadis itu melepas helm dan seluruh atributnya sebelum masuk ke kamar.

Ketika sampai di dapur, Aisha berpapasan dengan sang kakak, Philip.

"Punya adik cewek, tapi nggak berguna banget. Kenapa sih dia sok kuat? Pakai motor gede segala. Apa dia kira itu keren?" Philip membusungkan dada begitu melewati sosok adiknya.

Meski omelan Philip sangat pelan, tetapi Aisha bisa mendengarnya. Namun, gadis itu melengos begitu saja dan masuk ke kamar seolah tak terjadi apa pun.

Hal itu membuat Philip merasa sebal karena telah gagal mengompori Aisha.

Aisha tak mengetahui apa yang Philip rasakan. Gadis itu segera membersihkan diri dan memasang alarm pukul empat sore sebelum beristirahat sebentar.

Dering alarm berbunyi dengan waktu yang akurat, membangunkan Aisha dari tidurnya. Gadis itu melompat dari kasur dan mengambil langkah cepat untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat bekerja.

"Aisha, apa kamu benaran nggak capek?" Daphne sedikit panik ketika melihat Aisha yang bergerak secepat putaran gasing.

Aisha menjawab tanpa menghentikan langkah, "Doakan saja, Bu. Aku sudah nggak ada waktu lagi. Aku sayang padamu, Ibu. Aku berangkat dulu!"

Gadis itu menutup pintu hingga menimbulkan bunyi yang keras.

Daphne menggeleng pasrah, di bawah kepulan asap dari sebaskom semur ayam yang baru saja dihidangkan untuk makan malam nanti.

Selang sepuluh menit, Aisha benar-benar tiba di kantor Pierce Holdings. Gadis itu menginjakkan kaki ke lorong eksekutif menuju ruang kerja bosnya di waktu yang tepat, yaitu pukul lima sore seperti kesepakatan kemarin.

Aisha mengetuk pintu pelan, tetapi jantungnya berdebar begitu liar. Aisha mengawali bekerja saat kebanyakan orang di luar sana mulai pulang, karena di waktu itulah hari seorang Cakra baru benar-benar dimulai.

Dari dalam, Cakra yang duduk segera berdiri, lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tak seperti biasa, pria itu ingin membuka pintu sendiri, karena ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan secara langsung bagaimana penampilan gadis tak berguna itu di hari pertama bekerja.

Sosok Aisha yang begitu segar langsung memanjakan mata Cakra. Pria itu menelan ludah dengan sangat sulit, sedikit kehilangan kendali atas pikirannya sendiri.

"Tuan Pierce?!" Aisha menjentikkan jari di depan wajah bosnya. Gadis itu menatap Cakra yang diam seperti sedang melamun.

Cakra segera tersadar dari lamunan. Pria itu mengelus tengkuknya dengan gerakan yang canggung.

Beruntung, lelaki itu cepat kembali menguasai diri. Dia mengangkat pergelangan tangan, melihat jam melingkar yang menunjukkan pukul lima sore lewat satu menit.

"Anda terlambat satu menit!" Cakra menatap tajam ke arah Aisha.

Aisha menggerakkan tangan dan menjelaskan, "Nggak, Tuan. Saya sampai di lorong ini pukul lima tepat. Satu menit itu adalah waktu yang Anda gunakan untuk berjalan dan membuka pintu."

Aisha tak kuat menatap mata Cakra yang masih menusuk pandangannya. Gadis itu menunduk dengan perasaan merinding.

'Hah! Baru hari pertama saja, tubuh ini terasa menyusut di tempat.' Aisha merutuki diri di dalam hati.

"Jadi maksud Anda, saya yang mengulur waktu?" Cakra menunduk ke arah Aisha. Sorot matanya masih tajam dan tidak meleset sedikit pun dari wajah Aisha.

"Bukan begitu, Tuan." Aisha menggeleng cepat.

"Sudahlah, masuk ke ruanganmu dan mulailah bekerja!" perintah Cakra. Pria itu merapatkan jasnya, melipat tangan di dada dengan aura otoritas yang mendominasi.

"Baik." Aisha mengangguk dengan patuh. Tubuhnya berbalik cepat, melangkah dengan teratur menjauhi ruang kerja Cakra.

"Tolong, jangan panggil aku Tuan Pierce lagi!" Lagi-lagi, suara mutlak Cakra menghentikan langkah mantap Aisha.

Aisha merasa kesal, mengingat kejadian kemarin yang serupa dengan sore ini. Namun, gadis itu tak punya pilihan lain. Dia menghela napas dengan susah payah untuk menekan emosinya.

Gadis itu berhenti mendadak. Tubuhnya berbalik menghadap Cakra.

"Lalu, saya harus panggil Anda bagaimana?" Aisha tampak bingung.

Cakra masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Sebelah tangan pria itu masuk ke saku saat ia balik bertanya, "Apa Anda lupa dengan perkenalan yang saya katakan kemarin?"

Wajah Cakra berubah menjadi garang, nyaris terlihat seperti ingin menelan Aisha secara hidup-hidup!

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 62

    "Lepaskan!" pekik Aisha dengan ekspresi panik saat menarik kembali jarinya. Dia benar-benar merasa malu, sekaligus takut."Hhh!" Cakrawala malah memiringkan bibirnya, dia tersenyum dengan sinis."Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu saat dirinya refleks segera duduk."Ng-nggak ada," jawab Aisha yang masih terlihat gelagapan. Dia buru-buru menggeleng dengan cepat.Tubuh gadis itu bergetar hebat, dengan wajah yang telah memerah seperti tomat. Cakrawala pun tak kuasa menahan senyum, seraya memicingkan mata pada Aisha."Nggak ada, tapi kenapa harus sentuh-sentuh bibirku? Lampunya kamu nyalakan terang pula! Itu sangat mengganggu dan bikin tidur lelapku terbangun!""Em, iya, aku akan matikan lagi," sahut Aisha cepat, sambil berlari kecil ke arah saklar lampu dan segera mematikannya."Kenapa? Bibirku pasti seksi, 'kan? Kamu jadi tergoda dan nggak tahan untuk menyentuhnya," duga Cakrawala dengan penuh percaya diri, sambil menyentuh bibirnya yang kini berubah lembab."Mana ada, Pak?" Aisha l

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 61

    "Nggak masalah. Bunuh aku saja jika perkataanku tadi nggak benar," gumam Cakrawala lirih sambil bangkit dan berlalu dari kamar pengantin, tapi masih dapat didengar sangat jelas oleh telinga Aisha."Apa?! Bunuh?" Aisha merasa ini sangat tak masuk akal. Tanggapan Cakrawala terhadap tuntutan Aisha barusan memanglah berlebihan dan terasa agak bualan. Jika pun benar, itu adalah respon dari seorang pria yang benar-benar jatuh cinta terhadap wanitanya. Aisha merasa hal itu tidaklah mungkin, karena pernikahan kilat dan rahasia ini memang murni untuk kepentingan bisnis yang dapat dibayarkan dengan uang. Sedangkan dia tahu betul, jika cinta tak pernah bisa diukur dengan apa pun, apalagi jika hanya dengan sejumlah uang.Lalu, apakah perkataan Cakrawala harus dia percayai?....Ketika Cakrawala telah merampungkan pekerjaannya, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia teringat pada Aisha yang kemungkinan besar telah tertidur lelap, jadi pria itu berusaha untuk tak membuat suara saat mema

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 60

    "Pak, bolehkah saya memakan Anda sekarang?!" teriak Aisha yang sedang memancarkan rasa kesalnya sampai puas. Dia menonjok bantal di genggamannya hingga bulu-bulu putih pun terhambur dan terbang.Sebelum itu, kepalanya benar-benar terasa nyaris meledak. Barulah ketika dia berteriak dengan leluasa, rasa menyiksa di kepala gadis itu perlahan-lahan redam.Di dekat kapstok dinding, Cakrawala sontak menghentikan gerakannya, sambil menikmati taburan bulu-bulu putih yang menghujaninya begitu saja."Memakan? Apa kamu mampu?" Cakrawala tersenyum dengan dingin. Dia segera memutar badan dan menghadap Aisha dengan sorot mata menantang."Pak, aku cuma nggak menyangka kalau tujuan Anda mengharuskan saya tidur sekamar dengan Anda hanyalah untuk menyenangkan Nenek Lilly," ujar Aisha sambil menahan kepalanya untuk tetap tegak dan tidak sampai menunduk.Gadis itu juga menajamkan matanya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Cakrawala sekarang. Aisha berpikir, jika lelaki dan perempuan harus setara. D

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 59

    "Tentu saja, Nek. Lihatlah, aku sudah berhasil membujuk cucu menantumu itu untuk tidur di kamarku. Dan malam ini, kami berdua akan memulai untuk tidur bersama," sahut Cakrawala dengan senyum merekah yang tak kalah terlihat hangat.Pada saat ini, Aisha masih bertahan di tempatnya, sambil melebarkan mata dan menutupi mulut dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu benar-benar tak tahu harus percaya atau tidak dengan pemandangan nyata di depannya. Yang pasti, dirinya merasa bersalah terhadap Cakrawala karena selalu berprasangka buruk pada suami sahnya sendiri.'Jadi, Pak Cakra membujuk aku itu karena keinginan nenek? Dan dia nggak mau buat neneknya kecewa?' pikir Aisha di dalam hati."Ya Tuhan, kenapa Pak Cakra sangat aneh dan misterius? Aku benaran nggak bisa menebak sikap dia yang sebenarnya," gumam Aisha yang kini telah menutup pintu kamarnya. Gadis itu berjalan menuju ranjang kamar dengan perasaan yang rumit.Ketika Aisha telah merebahkan tubuh dengan segudang misteri, obrolan antar

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 58

    "Akhirnya, kamu menepati janjimu juga!" ujar Cakrawala datar kala melirik sosok wanita muda yang baru saja masuk ke kamarnya. Aisha menghela napas, lalu menyahut, "Tentu saja, Pak. Aku bukan wanita yang suka menye-menye.""Apa benar begitu?" Tanpa disadari, Cakrawala malah menantang Aisha. Hal itu membuat adrenalin Aisha terpacu secara signifikan.Aisha mengencangkan kedua tangan yang tergantung di sisi tubuhnya. Kilat kebencian mulai muncul di kerling mata gadis muda itu."Apa pernyataanku tadi belum cukup meyakinkan?" Aisha mengukuhkan kakinya dengan kekuatan penuh. Dia mulai berani bersikap dingin di hadapan sang suami.Dia benar-benar ingin menjadi wanita yang tangguh, dan tak pernah sudi membiarkan seorang pria menjatuhkan harga dirinya.Menjadi istri rahasia Cakrawala selama hampir dua minggu membuat Aisha mulai beradaptasi dan memahami pola yang berlaku. Gadis itu telah mengerti, suami sahnya selalu memandangnya rendah karena adanya banyak ketimpangan yang jauh di antara merek

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 57

    "Hanya maaf katamu?" Cakrawala merasa tak terima. Dia benar-benar merasa sangat terhina. Di hadapan seorang gadis kecil, niat baiknya justru membuat dirinya celaka dan malu."Ya, aku memang salah, Pak," aku Aisha dengan pasrah. Air matanya tumpah begitu saja, tanpa dia tahu apa sebabnya."Dan aku ... benar-benar minta maaf." Aisha hanya menunduk. Sebenarnya, dia ingin menatap mata Cakrawala, tapi ada tangis tak biasa yang menuntut untuk disembunyikan olehnya."Sudahlah. Maaf dari kamu itu nggak berguna. Nggak bisa memperbaiki keadaan bahwa kamu sudah membuat aku malu dan terjatuh ke lantai," gerutu Cakrawala dengan dingin. Dia memutar badan membelakangi Aisha."Baiklah. Aku akan menebus kesalahan itu, Pak. Aku bersedia melakukan apa pun yang Anda minta," kata Aisha dengan seketika.Gadis itu memang tak sengaja, tapi tak bisa membuatnya terlepas dari diri yang memang bersalah. Jadi, dia harus bertanggung jawab dan menebusnya."Bagus," sahut Cakrawala, suaranya lirih. Senyum liciknya t

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status