Share

Bab 38

Author: Faizal Arjuna
Namun karena aku buru-buru ingin membeli obat maag untuk Nisha, aku sama sekali tidak memikirkan hal lain. Begitu berpapasan dengan mereka, aku langsung masuk lift, keluar dari hotel, dan menyeberang menuju apotek di seberang jalan.

Setelah aku pergi, para petugas keamanan yang berada di koridor saling berpandangan. Salah satu dari mereka akhirnya tidak tahan bertanya, "Bu Senia, orang yang Ibu cari itu memang laki-laki tadi?"

"Ya."

Senia mengangguk sedikit.

"Kalau begitu kenapa Ibu membiarkan d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 623

    Aku menepuk bahunya pelan, lalu berkata dengan suara lembut, "Semangat sedikit. Di area pertambangan masih banyak pekerja yang butuh bantuanmu untuk koordinasi.""Aku masih punya urusan yang harus diselesaikan. Untuk sementara, bisa kuserahkan urusan di Kota Shandro kepadamu? Termasuk Grup Wardoyo dan Grup Pariaman."Mendengar itu, mata Nicole membelalak karena terkejut. "Grup Pariaman juga mau kamu tumbangkan?""Ya, semuanya sudah terungkap. Winardi bukan hanya sekongkol dengan para calo untuk menaikkan harga obat, tapi juga melakukan banyak perbuatan kotor lainnya.""Saat ini, di mata sebagian warga Kota Shandro, Farmasi Rising Dragon sudah dianggap sebagai perusahaan kapitalis yang dibenci.""Kalau ingin terus berkembang di Kota Shandro, kita harus menyingkirkan Grup Pariaman, lalu mengungkap seluruh kebenaran kepada publik dan memulihkan nama baik Farmasi Rising Dragon."Mendengar itu, Nicole langsung mengangguk. "Kalau Pak Ray sudah bicara seperti ini, apalagi kamu juga sudah memb

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 622

    "Rising Dragon masih belum cukup kuat. Tapi sekarang, dengan sumber daya dari Keluarga Ghifari di ibu kota, akhirnya aku bisa bergerak tanpa ragu."Mendengar itu, Clara mengangguk mengerti. Entah kenapa, pria yang masih tersenyum santai di hadapannya itu tiba-tiba memancarkan aura seolah ingin menaklukkan dunia.Setelah itu, aku membawa kembali beberapa botol minuman berkualitas. Aku juga mengajak Clara makan bersama kakekku."Ray, selama kamu bisa menerima semua ini, Kakek sudah merasa tenang. Di pihak Grup Ghifari, Kakek sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal mengambil alih semuanya sebagai pewaris muda, lalu wujudkan cita-citamu."Kakekku memandangku dengan mata penuh kebanggaan. "Untuk sementara, urusan di ibu kota akan Kakek tahan dulu. Tunggu sampai kamu selesaikan semua urusanmu, lalu kembali secara resmi.""Saat itu, biarkan mereka semua tahu, yang kembali ke Keluarga Ghifari bukanlah seorang anak terlantar dari luar, melainkan seekor naga sejati yang selama ini bersembunyi di k

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 621

    "Hamid pasti salah satunya, 'kan? Lalu Bella, ahli bela diri sehebat itu, apa dia juga termasuk?""Masih ada yang lain. Tokoh-tokoh besar yang tiba-tiba muncul, yang dulu pernah kutolong. Mereka semua juga pengaturan Kakek?"Mendengar itu, kakekku tertegun sesaat, lalu menggeleng. "Bukan. Hanya Hamid yang memang Kakek atur. Sisanya adalah hasil usahamu sendiri."Hanya Hamid. Bisa dibilang, dialah orang pertama yang membawa keberuntungan dalam hidupku. Tanpa Hamid, mustahil aku bisa sampai pada titik ini. Namun, ternyata sejak awal dia sudah tahu identitasku?"Pantas saja Hamid berkali-kali rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku. Dia membantuku agar bisa naik status? Harga yang dia bayar benar-benar terlalu besar."Aku tersenyum pahit. Otakku segera menyusun kembali semua kejadian, dari masa lalu hingga sekarang. Semua orang, semua peristiwa, bagaimana aku harus menghadapi semuanya mulai sekarang?"Mau gimana kamu menilai, Kakek nggak akan ikut campur. Kakek percaya pada kemampu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 620

    Mendengar itu, Clara hanya tersenyum misterius, lalu berkata penuh makna,"Nanti setelah kamu bertemu dengan beliau, semuanya akan menjadi jelas."Beliau? Aku makin bingung. Namun, karena sudah telanjur datang, aku tetap mengikuti Clara masuk.Begitu memasuki ruang VIP, hanya ada seorang pria tua yang duduk di dalam. Auranya begitu berwibawa, mengenakan pakaian yang mewah dan elegan."Beliau ini ...?" Aku melirik pria tua itu. Entah kenapa wajahnya terasa sangat familier. Bahkan bisa dibilang ada sedikit kemiripan denganku.Namun, Clara tidak menghiraukanku. Dalam sekejap, sikapnya berubah menjadi penuh hormat."Kakek Ghifari, Ray sudah kubawa.""Terima kasih."Pria tua yang duduk di kursi utama akhirnya memperlihatkan senyuman tipis, lalu melambaikan tangan kepadaku. "Ray, cepat mendekat ke Kakek.""Aku?" Saat itu juga aku benar-benar terkejut. Dengan wajah tak percaya, aku menunjuk diriku sendiri.Pria tua ini juga bermarga Ghifari, bahkan mengaku sebagai kakekku? Jangan-jangan ....

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 619

    "Seumur hidupku, yang paling kujunjung tinggi adalah kesetiaan dan kehormatan! Hahaha! Kalian dua saudara baikku!"Seiring Dirga digotong keluar ruangan, suaranya pun perlahan menghilang."Eee ...." Meski aku juga minum, aku belum sampai semabuk Dirga. "Sebenarnya, hari ini dia ajak aku ketemu untuk apa?""Nggak ada apa-apa, Pak Ray. Dia memang selalu begitu kalau kebanyakan minum. Cara mabuk seseorang mencerminkan karakternya. Orangnya sebenarnya sangat baik."Ferry tertawa canggung dua kali, lalu berkata tanpa daya, "Awalnya dia cuma ingin berkenalan denganmu. Nggak disangka malah keterusan minum sampai sebanyak ini.""Baiklah ...." Aku tersenyum pahit.Tak kusangka, seseorang yang sudah duduk di posisi Ketua Perkumpulan Pisau ternyata masih memiliki sifat yang begitu terus terang."Kalau begitu, aku antar dia pulang dulu. Roni, kamu bisa antar Pak Ray pulang?" Ferry lantas menoleh ke arah Roni.Roni langsung mengangguk. Malam ini dia masih harus pulang untuk merawat istrinya, jadi d

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 618

    "Semuanya tinggal di Kota Shandro. Hari ini mereka hampir saja menjadi korban ulah bajingan-bajingan seperti Gentala dan anak buahnya. Untung saja Pak Ray turun tangan membela mereka."Setelah berkata begitu, Ferry kembali menoleh ke arah Ray, Roni dan pasangannya, lalu tersenyum. "Perkenalkan, ini Ketua Organisasi Pisau Kota Shandro, Dirga."Dirga. Namanya terdengar begitu garang, tetapi sama sekali tidak cocok dengan penampilannya.Aku mengangguk, lalu berkata, "Pak Dirga, senang berkenalan. Aku harap kamu bisa memahami situasi tadi.""Gentala dan anak buahnya benar-benar sudah memaksa keluarga Roni sampai ke jalan buntu. Aku nggak punya pilihan selain memberi mereka pelajaran.""Paham, tentu saja paham." Dirga juga orang yang cerdas. Dia langsung mengerti maksud Ray dan segera menepuk dadanya sambil berjanji."Pak Ray, tenang saja. Gentala beserta seluruh anak buah yang selama ini mengikutinya sudah aku suruh pulang ke kampung halaman mereka. Mereka nggak akan muncul lagi di Kota Sh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status