Share

Bab 4

Author: Faizal Arjuna
Untuk pertama kalinya aku melihat Nindy begitu panik. Dia terlihat hampir menangis. Dan itu ... karena aku. Aku sedikit linglung, merasa dia masih mencintaiku.

Namun detik berikutnya, suara tangis Andrew terdengar. "Mama, Papa juga berdarah. Aku takut ...."

Nindy menoleh dan melihat Chicco juga memegangi lengannya yang berdarah. Tadi pecahan kaca terbang dan menggores lengannya, meninggalkan dua luka kecil.

"Chicco, aku antar kamu ke rumah sakit." Tanpa ragu sedikit pun, Nindy meninggalkanku dan menarik Chicco untuk pergi.

"Nindy, ajak Pak Ray juga. Lukanya lebih parah." Suara Chicco menyertai tangisan Andrew.

"Nggak, Papa. Aku takut darah, aku nggak mau dia!" Andrew menatapku dengan penuh penolakan.

Chicco tidak melanjutkan, hanya menatap Nindy. Beberapa detik saja, Nindy sudah membuat keputusan.

"Nggak bisa. Andrew bisa pingsan kalau lihat darah. Dia nggak boleh ikut. Biarkan saja, Ray itu petugas pemadam kebakaran. Dia mengerti pertolongan pertama, jadi dia bisa mengurus dirinya sendiri."

"Kita pergi!" Nindy menggendong Andrew sambil menarik tangan Chicco, pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Darah membuat penglihatanku kabur. Kini, darah dan air mata bercampur membasahi wajahku.

Akhirnya, pemilik restoran menyuruh seseorang membawaku ke rumah sakit untuk pertolongan darurat.

Untung tidak ada masalah besar, hanya luka ringan. Setelah dibalut, sudah tidak apa-apa. Hanya saja, dibanding rasa sakit di tubuh, hatiku sudah lama mati rasa.

Adegan ketika Nindy meninggalkanku tanpa ragu tadi, seperti seribu jarum menusuk jantungku, membuatnya penuh lubang hingga darahnya habis.

Aku terbaring di ruang rawat dengan perasaan hampa. Aku sudah tidak berharap apa pun dari Nindy, hanya berharap lukaku tidak menghalangiku berangkat besok.

Malam itu, aku terus terbangun karena rasa sakit. Ponselku hening sepanjang malam. Nindy tidak mengirim satu pesan pun, seolah-olah Chicco dan Andrew adalah seluruh hidupnya, dan aku hanya orang asing yang tak ada hubungannya.

Pagi berikutnya, aku terbangun oleh telepon kapten.

"Halo, Kapten."

"Ray, sudah siap?"

"Ya, aku bisa kembali ke regu sekarang."

Kepalaku tidak sesakit semalam. Aku mencoba turun dari tempat tidur dan tubuhku sudah bisa digerakkan.

Tentang Nindy, terserah dia. Aku hanya manusia biasa, sedangkan dia adalah dewi yang tak terjangkau.

"Kamu nggak perlu buru-buru. Kebakaran hutan kali ini sangat serius. Regu menunggu peralatan pemadam dari pusat. Begitu peralatan datang, kita langsung berangkat. Pemberitahuannya siang. Nanti aku kabari waktu tepatnya."

Telepon ditutup dan aku terpaku. Tambahan setengah hari waktu, tetapi aku tidak punya tempat untuk kembali.

Pulang? Tidak. Di sisa waktuku yang mungkin terakhir, aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri lagi.

Saat itu, Nindy meneleponku. "Ray, jangan pulang dulu. Andrew nggak suka kamu. Dia bilang setiap kali kamu muncul, papanya selalu nggak senang atau terjadi kecelakaan. Anak itu masih kecil, biarkan dia menyesuaikan diri."

"Aku sudah memesankan hotel untukmu. Barang-barangmu akan dikirimkan oleh kepala pelayan. Untuk sementara ini, Chicco akan tinggal di rumah."

"Dia tidur di kamarmu. Kami nggak melakukan apa-apa, jadi kamu bisa tenang soal itu." Nada Nindy tetap seperti biasa, hanya sekadar pemberitahuan.

"Sudah ya, aku mau rapat. Aku tutup dulu."

Telepon berakhir dengan nada sibuk. Hatiku kembali tercabik-cabik. Nindy, kamu semakin keterlaluan.

Sejak pertama kali aku menyadari kejanggalan, lalu kamu mengadopsi anak, kemudian Chicco masuk rumah dengan alasan yang masuk akal, hingga kini kamu mengusirku keluar.

Kamu hanya belum terang-terangan mengakui hubunganmu dengan Chicco. Namun, sebagai dewi yang luhur, kamu memang meremehkan aku yang hanya manusia biasa ini. Sudahlah, anggap saja lima tahun masa mudaku sia-sia.

Menjelang keberangkatan ke garis terdepan kebakaran, aku justru menjadi lebih lega. Aku tak mau lagi terikat oleh urusan rumah tangga.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku menuju hotel dan mengambil koperku. Yang tak kuduga, kepala pelayan juga mengirimkan laptop Nindy. Mungkin dia mengira itu milikku.

Karena laptop itu adalah hadiah yang kuberikan pada Nindy saat hari jadi kami. Waktu itu aku salah beli warna hitam, tetapi dia tidak keberatan dan memakainya sampai sekarang.

Itu laptop kerjanya. Aku awalnya tidak mau menyentuhnya. Namun, aku teringat di dalamnya ada banyak foto dan video masa pacaran kami. Saat itu dia belum terobsesi pada ajaran agama dan kami masih bahagia.

Karena aku akan pergi, sebaiknya aku hapus semua agar tidak menyakitkan mataku. Aku membuka laptopnya, berniat menghapus semuanya.

Tak kusangka, saat membuka laptop itu, akun WhatsApp-nya secara otomatis terbuka. Kotak obrolan paling atas begitu menusuk mata.

Chicco. Bukan hanya dipin di paling atas, pria itu bahkan mendapat catatan nama khusus satu huruf, "C".

Satu huruf sederhana, tetapi penuh ambigu. Sedangkan aku? Setiap hari aku mengiriminya puluhan pesan, tetapi tak ada satu pun jejakku terlihat di daftar obrolan.

Dadaku terasa nyeri. Aku menggulir ke bawah. Ruang obrolan dengan Chicco adalah satu-satunya yang dipin. Di bawahnya adalah grup perusahaan, beberapa wakil direktur, dan klien. Lebih ke bawah lagi ada grup belajar agama, teman-teman seiman, kepala kuil.

Paling bawah barulah aku, di urutan entah ke berapa puluh. Yang terpampang hanyalah nama akun WhatsApp-ku. Lima tahun menikah, aku bahkan tidak pantas mendapat nama khusus?

Yang lebih menyakitkan, aku satu-satunya kontak yang dia setel "jangan ganggu". Pantas saja setiap hari aku mengirim puluhan pesan, dia hanya membalas beberapa kata tiga hari sekali. Ternyata sejak awal, di mata sang dewi, aku tidak pernah ada.

Inilah pernikahan yang selama ini kupikir bahagia.

Tiba-tiba, rasanya sangat ironis. Satu huruf itu seolah-olah berubah menjadi monster yang mencabik-cabik hatiku, mengoyakku hingga hancur, lalu menenggelamkanku ke dasar laut.

Sakitnya sampai menusuk tulang, dinginnya sampai mematikan. Aku hampir sulit bernapas.

Aku hendak menutup WhatsApp, tetapi sebuah notifikasi muncul. Pesan dari Chicco. Itu adalah belasan foto saat Nindy dan Chicco menemani Andrew ikut lomba permainan di sekolah.

Foto pertama, Nindy, Chicco, dan Andrew memakai baju keluarga, berpegangan tangan, tersenyum bahagia.

Foto kedua, Nindy dan Chicco berdiri sangat dekat, bersama-sama mengangkat Andrew untuk memecahkan balon.

Foto ketiga, Andrew memegang sepotong biskuit, lalu mereka berdua menggigit dari dua sisi. Jarak bibir tinggal dua atau tiga sentimeter.

Foto-foto berikutnya semakin intim dari sebelumnya.

Dadaku sesak, tak bisa bernapas. Aku belum pernah melihat dewi yang dingin itu begitu bebas dan bahagia.

Di sudut kanan bawah ada watermark. Foto-foto itu diambil sepuluh menit lalu. Aku tertawa sinis. Pantas dia tidak membiarkanku pulang. Takut aku melihat ini.

Nindy, kamu bilang kamu sedang rapat. Bukankah katanya orang yang mendalami ajaran agama tidak boleh berbohong? Namun, kenapa dalam pernikahan kita ... hanya ada kebohongan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Basri Basri
kenapa rey masi terlalu bodoh
goodnovel comment avatar
Muhammad Antoni
terlalu bimbang
goodnovel comment avatar
Antariksa
suami bodoh atau apa Iki cerai saja istri macam tu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 625

    Aku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku tetap menatap Xavian dengan dingin, lalu mencibir."Xavian, apa otakmu rusak? Aku sudah lama cerai dengan wanita ini. Hubungan kami sudah berakhir.""Kamu nggak bisa mengancamku dengan dia.""Bisa. Ray, aku juga nggak pernah melakukan sesuatu yang keterlaluan padamu. Setelah hari itu, aku juga nggak pernah ganggu Shiesta lagi.""Apa sulitnya membiarkan keluargaku pergi?" Wajah Xavian tampak muram. Sorot matanya dipenuhi kebencian."Kalau aku bisa berdiri di sini, berarti semua yang kamu lakukan sudah kuketahui." Ekspresiku tetap datar.Mendengar itu, Xavian menggertakkan gigi. Wajahnya menjadi makin suram. "Jadi memang nggak ada yang bisa dirundingkan?""Bagus! Bagus sekali! Ray, kamu memang kejam. Tapi aku lebih kejam darimu! Kalaupun mati, aku akan menyeretmu ikut mati!"Selesai berbicara, Xavian tiba-tiba mendorong Nindy. Dari balik pakaiannya, dia mengeluarkan sebilah belati. Dengan wajah penuh kegilaan, dia menerjang ke arahku.Aku langsu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 624

    "Mati lagi?"Aku terkejut mendengarnya. Di dalam hati, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.Para petinggi Grup Wardoyo yang melompat dari gedung karena takut dihukum masih bisa dimengerti. Bagaimanapun juga, seperti yang dikatakan Nicole, kejahatan yang mereka lakukan sangat keji dan cukup untuk membuat mereka mendekam di penjara seumur hidup.Namun, kasus Grup Pariaman tidak separah itu. Sekalipun Winardi ditangkap polisi, hukumannya paling sekitar sepuluh tahun. Apa sampai harus bunuh diri karena takut dihukum?"Ada yang nggak beres. Suruh Nicole dan para elite Grup Ghifari memanfaatkan jaringan intelijen keluarga. Selidiki apa masih ada sesuatu yang disembunyikan Winardi atau ada pihak lain di belakangnya.""Baik." Bella langsung mengangguk. Dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Nicole, lalu menyampaikan perintah Ray.Sementara itu, semua ancaman di Kota Shandro sebenarnya sudah berhasil kuselesaikan. Satu-satunya masalah yang tersisa hanyalah Keluarga Maldini di Kota Oc

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 623

    Aku menepuk bahunya pelan, lalu berkata dengan suara lembut, "Semangat sedikit. Di area pertambangan masih banyak pekerja yang butuh bantuanmu untuk koordinasi.""Aku masih punya urusan yang harus diselesaikan. Untuk sementara, bisa kuserahkan urusan di Kota Shandro kepadamu? Termasuk Grup Wardoyo dan Grup Pariaman."Mendengar itu, mata Nicole membelalak karena terkejut. "Grup Pariaman juga mau kamu tumbangkan?""Ya, semuanya sudah terungkap. Winardi bukan hanya sekongkol dengan para calo untuk menaikkan harga obat, tapi juga melakukan banyak perbuatan kotor lainnya.""Saat ini, di mata sebagian warga Kota Shandro, Farmasi Rising Dragon sudah dianggap sebagai perusahaan kapitalis yang dibenci.""Kalau ingin terus berkembang di Kota Shandro, kita harus menyingkirkan Grup Pariaman, lalu mengungkap seluruh kebenaran kepada publik dan memulihkan nama baik Farmasi Rising Dragon."Mendengar itu, Nicole langsung mengangguk. "Kalau Pak Ray sudah bicara seperti ini, apalagi kamu juga sudah memb

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 622

    "Rising Dragon masih belum cukup kuat. Tapi sekarang, dengan sumber daya dari Keluarga Ghifari di ibu kota, akhirnya aku bisa bergerak tanpa ragu."Mendengar itu, Clara mengangguk mengerti. Entah kenapa, pria yang masih tersenyum santai di hadapannya itu tiba-tiba memancarkan aura seolah ingin menaklukkan dunia.Setelah itu, aku membawa kembali beberapa botol minuman berkualitas. Aku juga mengajak Clara makan bersama kakekku."Ray, selama kamu bisa menerima semua ini, Kakek sudah merasa tenang. Di pihak Grup Ghifari, Kakek sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal mengambil alih semuanya sebagai pewaris muda, lalu wujudkan cita-citamu."Kakekku memandangku dengan mata penuh kebanggaan. "Untuk sementara, urusan di ibu kota akan Kakek tahan dulu. Tunggu sampai kamu selesaikan semua urusanmu, lalu kembali secara resmi.""Saat itu, biarkan mereka semua tahu, yang kembali ke Keluarga Ghifari bukanlah seorang anak terlantar dari luar, melainkan seekor naga sejati yang selama ini bersembunyi di k

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 621

    "Hamid pasti salah satunya, 'kan? Lalu Bella, ahli bela diri sehebat itu, apa dia juga termasuk?""Masih ada yang lain. Tokoh-tokoh besar yang tiba-tiba muncul, yang dulu pernah kutolong. Mereka semua juga pengaturan Kakek?"Mendengar itu, kakekku tertegun sesaat, lalu menggeleng. "Bukan. Hanya Hamid yang memang Kakek atur. Sisanya adalah hasil usahamu sendiri."Hanya Hamid. Bisa dibilang, dialah orang pertama yang membawa keberuntungan dalam hidupku. Tanpa Hamid, mustahil aku bisa sampai pada titik ini. Namun, ternyata sejak awal dia sudah tahu identitasku?"Pantas saja Hamid berkali-kali rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku. Dia membantuku agar bisa naik status? Harga yang dia bayar benar-benar terlalu besar."Aku tersenyum pahit. Otakku segera menyusun kembali semua kejadian, dari masa lalu hingga sekarang. Semua orang, semua peristiwa, bagaimana aku harus menghadapi semuanya mulai sekarang?"Mau gimana kamu menilai, Kakek nggak akan ikut campur. Kakek percaya pada kemampu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 620

    Mendengar itu, Clara hanya tersenyum misterius, lalu berkata penuh makna,"Nanti setelah kamu bertemu dengan beliau, semuanya akan menjadi jelas."Beliau? Aku makin bingung. Namun, karena sudah telanjur datang, aku tetap mengikuti Clara masuk.Begitu memasuki ruang VIP, hanya ada seorang pria tua yang duduk di dalam. Auranya begitu berwibawa, mengenakan pakaian yang mewah dan elegan."Beliau ini ...?" Aku melirik pria tua itu. Entah kenapa wajahnya terasa sangat familier. Bahkan bisa dibilang ada sedikit kemiripan denganku.Namun, Clara tidak menghiraukanku. Dalam sekejap, sikapnya berubah menjadi penuh hormat."Kakek Ghifari, Ray sudah kubawa.""Terima kasih."Pria tua yang duduk di kursi utama akhirnya memperlihatkan senyuman tipis, lalu melambaikan tangan kepadaku. "Ray, cepat mendekat ke Kakek.""Aku?" Saat itu juga aku benar-benar terkejut. Dengan wajah tak percaya, aku menunjuk diriku sendiri.Pria tua ini juga bermarga Ghifari, bahkan mengaku sebagai kakekku? Jangan-jangan ....

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status