共有

Bab 4

作者: Guranda
Kyra melirik Yareli yang hampir menggertakkan giginya hingga hancur, lalu menepuk punggung tangannya dan memberi isyarat agar dia tenang.

Kemudian, dia berkata kepadaku, "Jangan kira karena Bu Greta membelamu, kamu benar-benar merasa bisa duduk kokoh sebagai nyonya muda."

Duduk kokoh? Aku sama sekali tidak berniat untuk terus tinggal di keluarga ini. Namun, mengatakan semua itu padanya juga tidak ada artinya. Aku hanya ingin masuk menyapa Bu Greta, lalu pergi.

Tak kusangka, Jacob datang dari arah depan sambil menopang ibunya. "Kenapa kamu pulang?"

Aku baru saja hendak menceritakan kejadian tadi agar Jacob berhenti mencari masalah denganku, tetapi tiba-tiba aku tersadar, senyuman di mata Jacob begitu tulus pada Kyra.

Aku tertegun. Kyra berdiri, menunduk, tampak begitu menyedihkan.

"Kak Lucy bilang aku orang luar, nggak seharusnya datang ke rumah lama. Dia menyuruhku pergi ...."

"Lucy?" Kelembutan di mata Jacob seketika lenyap, berganti dengan peringatan dan teguran padaku. "Aku sudah cukup menoleransimu. Tapi Kyra juga berniat baik. Dia sudah lama nggak pulang, khusus datang untuk berbakti pada orang tua."

"Kamu datang terlambat seperti ini, masih berani mengusir Kyra?" Jacob menahan amarahnya, melirik ibunya yang tampak agak tidak senang. Kemudian, dia meneruskan, "Ibu juga sudah lihat sendiri. Lucy begitu tak tahu aturan. Ibu benar-benar nggak bisa menyalahkanku. Aku sungguh menyesal telah menikahinya."

Kyra mengangkat tangan menutup bibirnya, tetapi tatapannya padaku tak bisa menyembunyikan rasa puas. Yareli bahkan duduk menyilangkan kaki, menatapku dengan angkuh, seolah-olah tidak sabar melihatku dipermalukan.

Namun, tiba-tiba kusadari aku sangat tenang. Terhadap penghinaan Jacob seperti ini, aku sudah tidak merasakan apa pun.

Saat Kyra baru kembali ke dalam negeri, Jacob pernah dinasihati ibunya. Pernikahannya denganku berjalan stabil, seharusnya dia tidak menyakitiku demi seseorang yang pernah mengkhianatinya.

Namun, waktu itu dia berkata kepada ibunya, "Aku bahkan muak melihatnya lebih dari satu detik. Setiap hari berusaha berpura-pura seperti putri bangsawan, padahal celahnya ada di mana-mana."

"Teman-temanku mentertawakannya, dia pun nggak ngerti. Gaun haute couture yang dipakainya seperti wanita penghibur. Aku nggak melihat sedikit pun kelembutan yang seharusnya dimiliki seorang perempuan darinya."

Padahal gaun itu dia yang pilihkan untukku. Dia bilang aku terlihat cantik memakainya. Etika pergaulanku saat keluar juga semua dia yang mengajarkan. Dia pernah berkata paling menyukai diriku yang bebas dan berbeda.

Namun kemudian, semua itu justru menjadi sikap rendahan yang tak berkelas. Aku khawatir dia dipandang rendah, jadi tak lagi keluar rumah, tak lagi menemaninya ke acara sosial.

Namun, aku kembali menjadi istri yang tidak kompeten, tak bisa membantu suami, setiap hari hanya menikmati kenyamanan di rumah.

Aku mendaftar kelas untuk belajar pengetahuan kalangan atas, tetapi ketika kabar itu sampai ke telinga mereka, lagi-lagi aku menjadi bahan ejekan, dipandang sebagai orang yang pura-pura berkelas. Apa pun yang kulakukan selalu salah.

"Kenapa diam saja? Lihat dirimu, delapan tahun, nggak ada kabar hamil. Kalau bukan karena Ibu menahanku, aku sudah lama menceraikanmu!"

Ya, delapan tahun, kami bahkan tak pernah memiliki seorang anak. Bukan berarti tak pernah berbagi ranjang, hanya saja itu memang sudah lama sekali.

Pikirannya perlahan tak lagi padaku. Dia tak lagi tidur sekamar denganku.

Namun, bahkan saat hatinya masih padaku, dia pun tak pernah berniat meninggalkan seorang anak bersamaku. Dia tahu aku selalu ingin punya anak, tetapi tak kunjung hamil. Itu adalah duri di hatiku.

Dia selalu bisa menekan titik lemahku, lalu memaksaku bertengkar dengannya di berbagai kesempatan tanpa memedulikan citra, membuktikan pada semua orang bahwa dia benar, bahwa aku hanyalah perempuan gila yang tak berkelas.

Namun hari ini, mendengar kata-kata itu, justru terasa seperti pembebasan.

"Baiklah, kalau begitu kita cerai sekarang." Aku mengangkat kepala dan menatap Jacob. Mata kami bertemu. Kulihat keterkejutan serta kepanikan di sana.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 10

    Tristan menggeleng. "Untuk mereka sudah kupesan. Cuma belum sampai."Karena dia berkata begitu, aku pun tak enak menolak lagi.Kami berdua berjongkok di lorong laboratorium, makan ayam goreng. Rasanya seperti kembali ke masa kuliah.Di laboratorium tidak boleh makan. Kalau sudah terlalu lapar, kami diam-diam pesan makanan dan makan di lorong. Setiap kali kembali, pasti ketahuan oleh dosen.Tristan juga pernah mengalaminya. Dalam kenangan itu, kami menemukan kisah pahit dan manis sebagai mahasiswa pascasarjana.Kami tertawa bersama, lalu kembali mengenang lebih banyak lagi. Hingga sepasang sepatu kulit berhenti di hadapan kami, memutus percakapan harmonis itu.Jacob berdiri di sana, membawa termos makanan, lalu perlahan menyodorkannya ke arahku. "Tadi kamu nggak makan banyak. Nanti perutmu sakit."Ternyata dia masih ingat. Dulu saat sering melakukan eksperimen, makan tidak teratur sudah biasa. Lama-kelamaan, lambungku memang tidak terlalu baik. Saat masih berpacaran, dia bahkan pernah m

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 9

    "Seorang perempuan mana mungkin mengerti kimia!" pekik investor itu."Dia adalah mahasiswa yang diminta langsung oleh dosen untuk lanjut doktoral. Artikel yang pernah dia terbitkan lebih banyak daripada kontrak yang pernah kamu tanda tangani." Jacob berjalan dari belakangku, tangannya diletakkan di bahuku."Kalau dia nggak ngerti, memangnya kamu ngerti?"Melihatnya, investor itu gemetar dan bergumam, "Pak Jacob ... kalian saling kenal ya ...?""Dia istriku." Setelah mengatakan itu, Jacob menoleh padaku, seolah-olah ingin meminta pujian."Aku bukan istrinya."Senyuman Jacob membeku. Dia hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi tangan yang berada di bahuku disingkirkan oleh orang lain.Seorang pria yang tidak kukenal masuk, tersenyum padaku. "Kamu asisten Pak Kevin? Sudah lama aku dengar tentangmu. Aku Tristan ... kakak kelasmu."Aku pernah mendengar dari dosen bahwa Tristan bekerja di laboratorium luar negeri dan kali ini juga akan ikut serta dalam proyek ini."Aku pernah melihat eksperim

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 8

    Demi mengejar ketertinggalan, aku terpaksa begadang membaca dan belajar. Namun untungnya, hal-hal yang pernah dipelajari, saat diulang kembali, tidak terasa terlalu buruk.Pekerjaan asisten dosen tidak terlalu sibuk. Pelajaran tetap diajar oleh dosen, sementara tugasku lebih banyak membantu beliau menangani urusan administratif dan koordinasi dengan perusahaan.Meskipun aku tidak pernah bekerja di perusahaan keluarga Jacob, aku sering mendengar Jacob menelepon di rumah.Begitu mulai terjun langsung, barulah kusadari bahwa aku sudah terbiasa mendengarnya. Semuanya terasa tidak asing.Mengatur jamuan makan dengan investor pun bukan hal yang sulit bagiku. Hanya saja, aku tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Jacob dalam kesempatan seperti ini.Sudah setengah bulan sejak aku meninggalkan Jacob. Masih ada waktu sebelum sidang dimulai. Aku tidak menghubunginya, Jacob juga tidak menghubungiku.Dengan kemampuannya, seharusnya mudah baginya untuk menyelidiki keberadaanku. Awalnya kupikir

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 7

    "Kamu pindah?"Aku terkejut dia bisa menyadarinya. Bagaimanapun, satu-satunya barang yang kubawa hanyalah hadiah pernikahan dari ayahku, sebuah ukiran kayu pohon pinus dan cemara yang selama ini diletakkan di dekat pintu masuk.Setiap kali pulang, dia sering menggantung topi dan syalnya begitu saja di atasnya. Kupikir di matanya, benda itu sudah lama hanya menjadi pajangan biasa."Mm." Aku menjawab dengan datar.Aku tidak mendengar suara dari seberang sana. Lama sekali hingga kukira dia sudah menutup telepon.Baru kemudian Jacob berbicara. Suaranya sedikit serak. "Pulanglah. Waktu itu aku cuma emosi sesaat."Nada suaranya begitu lirih, belum pernah kudengar sebelumnya, bahkan seperti mengandung permohonan.Beberapa jam lalu, dia masih berkata aku tidak pantas. Sekarang, dia justru bisa merendahkan diri seperti ini."Aku mengajukan cerai bukankah sesuai keinginanmu? Apa yang nggak bisa kamu relakan?""Nggak .... Hubunganku dengan Kyra bukan seperti yang kamu bayangkan." Jacob menjelaska

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 6

    Tatapan Jacob seketika menjadi tak tentu arah."Itu karena kamu sendiri yang nggak becus, apa hubungannya dengan kakakku?" Yareli berkacak pinggang, wajahnya penuh amarah."Aku nggak hamil, bisa jadi karena Jacob yang nggak mampu.""Kamu ...!" Wajah Jacob memerah karena marah, jarinya menunjuk ke arahku. Dia ingin membantah, tetapi dia tidak berani."Bantah saja, tunjukkan bukti." Aku memprovokasinya.Namun, dia hanya mengangkat jarinya, tak berani berkata apa-apa. Dulu aku juga pernah mengira akulah yang bermasalah karena tak kunjung hamil.Saat itu, hubungan kami belum separah hari ini dan Kyra masih menjadi duri di hatinya. Kami penuh kemesraan.Namun, setelah lebih dari dua tahun menikah, tanpa pernah sengaja mencegah kehamilan, aku tak pernah hamil. Aku merasa ada yang tidak beres.Aku khawatir ada masalah pada diriku, lalu pergi memeriksakan diri ke rumah sakit. Namun, kebetulan aku melihat Jacob yang datang ke rumah sakit untuk mengambil obat.Aku hendak menyapanya, tetapi perca

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 5

    Jacob maju selangkah, mendekat hingga jarak kami hampir menempel. Aku merasakan napasnya yang terburu-buru menyembur di depanku."Kamu benar-benar berani menceraikanku?"Pertanyaan itu terdengar sangat lucu. Apa yang tidak berani kulakukan?Greta yang mendengar ucapanku segera berjalan mendekat dengan gemetar. Dia menarik tanganku. "Lucy, kenapa tiba-tiba mau cerai? Apa Jacob memperlakukanmu dengan buruk?"Greta menatap Jacob dengan marah. "Cepat minta maaf pada Lucy!"Jacob mengerutkan kening, seolah-olah tak bisa memahami kata-kataku. Dia lalu menggeleng pelan. "Kalau antara aku dan Kyra memang ada apa-apa, kenapa aku menikahimu?"Berbeda dari biasanya, kali ini nada bicaranya justru membawa sedikit kelembutan, seolah-olah dia benar-benar sedang menjelaskan padaku dengan serius.Kalau dulu, mungkin aku akan bersyukur setengah mati hanya karena sedikit kelembutan itu. Aku akan melompat, memeluknya, berkata aku tahu dia tidak akan mengkhianatiku. Namun sekarang, aku sudah melihat warna

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status