Share

Bab 3

Author: Guranda
"Reaksi dataran tinggi Kyra lebih penting, aku nggak menyalahkanmu."

Jacob mengatupkan bibirnya. Tangannya menggantung dengan gelisah di samping tubuh, seolah-olah tak tahu harus diletakkan di mana.

"Kamu lapar nggak? Aku sudah pesan restoran Prancis yang paling kamu suka. Ayo makan di luar."

"Sudahlah." Aku menggeleng. "Aku capek sekali. Lagi pula, aku nggak suka makanan Prancis. Aku cuma orang kecil dari kalangan biasa, nggak bisa makan makanan mentah, bisa alergi."

Rasa iba sesaat darinya itu benar-benar malas kulayani.

Orang yang suka makanan Prancis bukan aku, melainkan Kyra. Yang suka bepergian ke mana-mana dan menikmati hidup bergaya kelas menengah atas juga Kyra.

Di matanya dan di mata teman-temannya, aku selalu hanya orang kecil yang tak pantas tampil. Orang rendahan yang pura-pura berkelas, memanfaatkan Jacob untuk mati-matian naik ke atas, seperti lintah pengisap darah.

Meskipun Jacob tak pernah mengatakannya secara langsung, kata-kata teman-temannya tentangku tak pernah dia bantah.

Dia ragu sejenak. "Aku biasanya terlalu sibuk, benar-benar nggak punya waktu memperhatikanmu. Pergi ke padang rumput dengan Kyra juga demi mencari inspirasi. Dia harus bertanggung jawab atas desain kuartal baru perusahaan."

"Kamu nggak ngerti soal ini. Aku juga nggak menyalahkanmu. Jadi, jangan dipermasalahkan lagi."

Dia begitu takut aku memiliki sedikit saja kesalahpahaman terhadap Kyra. Di dalam hatinya, Kyra selalu suci dan bersih, cinta pertama yang tak mungkin salah.

Bahkan ketika dulu meninggalkannya, Jacob pun bisa mencuci otaknya sendiri bahwa Kyra punya alasan yang tak terucap.

Kyra tidak mungkin menjadi orang ketiga. Karena itu tidak sesuai dengan identitasnya.

Aku hanya mengangguk. "Baiklah. Kamu nggak ke perusahaan? Bukannya sibuk?"

Melihat sikapku seperti itu, Jacob agak kesal. "Lucy, nggak bisa kamu sedikit saja memikirkanku? Aku sibuk kerja setiap hari untuk menghidupi siapa? Andai saja kamu bisa membantuku meringankan beban, aku juga nggak bakal sampai seperti ini."

Aku mengangguk lagi. "Kamu tenang saja. Ke depannya, kamu nggak akan kesusahan lagi."

Pengacara perceraian yang sebelumnya kuhubungi mengirim pesan, mengajakku bertemu. Aku pun berbalik hendak kembali ke atas untuk mengganti pakaian.

"Kembali ke sini! Ditegur dua kalimat saja sudah pasang muka masam. Istri mana yang berani seperti kamu?"

Mendengarnya, orang yang tidak tahu mungkin mengira keluarga Jacob ini rumah besar feodal.

Jacob hendak naik ke atas menahanku, tetapi terhalang pecahan kaca yang dia sendiri pecahkan di lantai.

Delapan tahun ini, orang yang setiap hari memasang muka padaku jelas-jelas adalah Jacob. Aku tak memedulikannya, lanjut naik dan mengganti pakaian, lalu melewati Jacob dan pergi.

Baru saja aku selesai membahas perjanjian perceraian dengan pengacara, Jacob mengirim pesan.

[ Ibu bilang ingin bertemu denganmu. Cepat kembali ke rumah lama. ]

Aku tidak peduli pada Jacob, tetapi ibu Jacob tidak pernah memperlakukanku dengan buruk, bahkan memberiku kasih sayang seorang ibu yang tak pernah kurasakan. Aku tidak ingin membuatnya sedih karena aku.

Aku naik taksi untuk kembali ke rumah lama. Baru saja masuk dengan tergesa-gesa, terdengar tawa.

"Benar-benar seperti permen karet lengket. Cuma pakai ponsel kakakku kirim pesan, langsung datang tergopoh-gopoh."

Adik perempuan Jacob, Yareli, bersandar di sofa. Lengannya melingkar pada lengan Kyra. Dia berkata padanya, "Dia itu cuma mengandalkan tubuhnya buat menipu kakakku sampai menikahinya."

"Tapi nggak apa-apa, sekarang kamu sudah kembali. Kami semua suka kamu. Kamu yang kuakui sebagai kakak iparku."

Kyra tersenyum, melirikku. "Yareli, jangan terlalu keras padanya. Dia berasal dari keluarga kecil. Caranya memang agak berlebihan, tapi mau gimana lagi, wawasannya memang rendah."

Ya, semua orang merasa akulah yang menempel pada Jacob demi mendapatkan pernikahan ini. Semua orang merasa aku tidak pantas untuk Jacob. Semua orang merasa Kyra yang seharusnya menjadi istri Jacob.

Sedangkan aku, barang rongsokan yang datang entah dari mana, bahkan tidak layak duduk di meja makan yang sama dengan mereka.

"Yareli, minta maaf padaku."

Yareli mencibir. "Atas dasar apa aku harus minta maaf padamu?"

"Baiklah." Aku mengangkat ponsel. "Semua sudah kurekam. Sekarang juga akan kuputarkan untuk ibumu."

Ekspresi Yareli dan Kyra berubah.

Ibu Jacob, Greta, selalu berhati lembut dan paling tidak menyukai orang yang menusuk Jacob dari belakang seperti yang dilakukan Kyra dulu. Kalau dia tahu apa yang barusan mereka katakan, pasti dia akan menegur Yareli.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 10

    Tristan menggeleng. "Untuk mereka sudah kupesan. Cuma belum sampai."Karena dia berkata begitu, aku pun tak enak menolak lagi.Kami berdua berjongkok di lorong laboratorium, makan ayam goreng. Rasanya seperti kembali ke masa kuliah.Di laboratorium tidak boleh makan. Kalau sudah terlalu lapar, kami diam-diam pesan makanan dan makan di lorong. Setiap kali kembali, pasti ketahuan oleh dosen.Tristan juga pernah mengalaminya. Dalam kenangan itu, kami menemukan kisah pahit dan manis sebagai mahasiswa pascasarjana.Kami tertawa bersama, lalu kembali mengenang lebih banyak lagi. Hingga sepasang sepatu kulit berhenti di hadapan kami, memutus percakapan harmonis itu.Jacob berdiri di sana, membawa termos makanan, lalu perlahan menyodorkannya ke arahku. "Tadi kamu nggak makan banyak. Nanti perutmu sakit."Ternyata dia masih ingat. Dulu saat sering melakukan eksperimen, makan tidak teratur sudah biasa. Lama-kelamaan, lambungku memang tidak terlalu baik. Saat masih berpacaran, dia bahkan pernah m

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 9

    "Seorang perempuan mana mungkin mengerti kimia!" pekik investor itu."Dia adalah mahasiswa yang diminta langsung oleh dosen untuk lanjut doktoral. Artikel yang pernah dia terbitkan lebih banyak daripada kontrak yang pernah kamu tanda tangani." Jacob berjalan dari belakangku, tangannya diletakkan di bahuku."Kalau dia nggak ngerti, memangnya kamu ngerti?"Melihatnya, investor itu gemetar dan bergumam, "Pak Jacob ... kalian saling kenal ya ...?""Dia istriku." Setelah mengatakan itu, Jacob menoleh padaku, seolah-olah ingin meminta pujian."Aku bukan istrinya."Senyuman Jacob membeku. Dia hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi tangan yang berada di bahuku disingkirkan oleh orang lain.Seorang pria yang tidak kukenal masuk, tersenyum padaku. "Kamu asisten Pak Kevin? Sudah lama aku dengar tentangmu. Aku Tristan ... kakak kelasmu."Aku pernah mendengar dari dosen bahwa Tristan bekerja di laboratorium luar negeri dan kali ini juga akan ikut serta dalam proyek ini."Aku pernah melihat eksperim

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 8

    Demi mengejar ketertinggalan, aku terpaksa begadang membaca dan belajar. Namun untungnya, hal-hal yang pernah dipelajari, saat diulang kembali, tidak terasa terlalu buruk.Pekerjaan asisten dosen tidak terlalu sibuk. Pelajaran tetap diajar oleh dosen, sementara tugasku lebih banyak membantu beliau menangani urusan administratif dan koordinasi dengan perusahaan.Meskipun aku tidak pernah bekerja di perusahaan keluarga Jacob, aku sering mendengar Jacob menelepon di rumah.Begitu mulai terjun langsung, barulah kusadari bahwa aku sudah terbiasa mendengarnya. Semuanya terasa tidak asing.Mengatur jamuan makan dengan investor pun bukan hal yang sulit bagiku. Hanya saja, aku tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Jacob dalam kesempatan seperti ini.Sudah setengah bulan sejak aku meninggalkan Jacob. Masih ada waktu sebelum sidang dimulai. Aku tidak menghubunginya, Jacob juga tidak menghubungiku.Dengan kemampuannya, seharusnya mudah baginya untuk menyelidiki keberadaanku. Awalnya kupikir

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 7

    "Kamu pindah?"Aku terkejut dia bisa menyadarinya. Bagaimanapun, satu-satunya barang yang kubawa hanyalah hadiah pernikahan dari ayahku, sebuah ukiran kayu pohon pinus dan cemara yang selama ini diletakkan di dekat pintu masuk.Setiap kali pulang, dia sering menggantung topi dan syalnya begitu saja di atasnya. Kupikir di matanya, benda itu sudah lama hanya menjadi pajangan biasa."Mm." Aku menjawab dengan datar.Aku tidak mendengar suara dari seberang sana. Lama sekali hingga kukira dia sudah menutup telepon.Baru kemudian Jacob berbicara. Suaranya sedikit serak. "Pulanglah. Waktu itu aku cuma emosi sesaat."Nada suaranya begitu lirih, belum pernah kudengar sebelumnya, bahkan seperti mengandung permohonan.Beberapa jam lalu, dia masih berkata aku tidak pantas. Sekarang, dia justru bisa merendahkan diri seperti ini."Aku mengajukan cerai bukankah sesuai keinginanmu? Apa yang nggak bisa kamu relakan?""Nggak .... Hubunganku dengan Kyra bukan seperti yang kamu bayangkan." Jacob menjelaska

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 6

    Tatapan Jacob seketika menjadi tak tentu arah."Itu karena kamu sendiri yang nggak becus, apa hubungannya dengan kakakku?" Yareli berkacak pinggang, wajahnya penuh amarah."Aku nggak hamil, bisa jadi karena Jacob yang nggak mampu.""Kamu ...!" Wajah Jacob memerah karena marah, jarinya menunjuk ke arahku. Dia ingin membantah, tetapi dia tidak berani."Bantah saja, tunjukkan bukti." Aku memprovokasinya.Namun, dia hanya mengangkat jarinya, tak berani berkata apa-apa. Dulu aku juga pernah mengira akulah yang bermasalah karena tak kunjung hamil.Saat itu, hubungan kami belum separah hari ini dan Kyra masih menjadi duri di hatinya. Kami penuh kemesraan.Namun, setelah lebih dari dua tahun menikah, tanpa pernah sengaja mencegah kehamilan, aku tak pernah hamil. Aku merasa ada yang tidak beres.Aku khawatir ada masalah pada diriku, lalu pergi memeriksakan diri ke rumah sakit. Namun, kebetulan aku melihat Jacob yang datang ke rumah sakit untuk mengambil obat.Aku hendak menyapanya, tetapi perca

  • Diacuhkan Ratusan Kali, Aku Meminta Cerai   Bab 5

    Jacob maju selangkah, mendekat hingga jarak kami hampir menempel. Aku merasakan napasnya yang terburu-buru menyembur di depanku."Kamu benar-benar berani menceraikanku?"Pertanyaan itu terdengar sangat lucu. Apa yang tidak berani kulakukan?Greta yang mendengar ucapanku segera berjalan mendekat dengan gemetar. Dia menarik tanganku. "Lucy, kenapa tiba-tiba mau cerai? Apa Jacob memperlakukanmu dengan buruk?"Greta menatap Jacob dengan marah. "Cepat minta maaf pada Lucy!"Jacob mengerutkan kening, seolah-olah tak bisa memahami kata-kataku. Dia lalu menggeleng pelan. "Kalau antara aku dan Kyra memang ada apa-apa, kenapa aku menikahimu?"Berbeda dari biasanya, kali ini nada bicaranya justru membawa sedikit kelembutan, seolah-olah dia benar-benar sedang menjelaskan padaku dengan serius.Kalau dulu, mungkin aku akan bersyukur setengah mati hanya karena sedikit kelembutan itu. Aku akan melompat, memeluknya, berkata aku tahu dia tidak akan mengkhianatiku. Namun sekarang, aku sudah melihat warna

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status