Share

Pria Frustasi Yang Posesif

Zoia bergidik ngeri. Seringai lebar yang tercetak di wajah Javas membuatnya ketakutan. Apa laki-laki itu benar-benar menginginkannya?

Pria itu semakin dekat. Jarak wajahnya dan muka Zoia hanya terhitung beberapa sentimeter. Sedikit lagi maka kulitnya dan Javas benar-benar akan bersentuhan.

Sebelum itu terjadi, Zoia mendorong Javas dengan sekuat tenaga sehingga laki-laki itu tersingkir darinya. Begitu mendapat kesempatan untuk lepas, Zoia mengangkat diri dan menjauh dari Javas.

“Kamu jangan macam-macam. Jangan pernah menyentuh saya!” hardik Zoia dengan sorot mata ketakutan.

“Saya berhak melakukannya dan kamu nggak boleh menolak.” Javas membalas ucapan Zoia sambil turun dari ranjang dan berjalan mendekatinya.

“Tapi nggak pernah ada di dalam perjanjian kalau saya harus melayani kamu seperti ini.”

“Apa kamu amnesia? Di dalam surat itu tertera bahwa kamu harus melakukan apa saja yang saya perintahkan. Apa pun!”

Dengan tenaganya yang kuat Javas menarik tangan Zoia ke ranjang dan membaringkannya seperti tadi. Lalu lelaki itu menyapukan bibirnya di sekujur tubuh Zoia.

Zoia memejamkan matanya. Setiap inci kulitnya yang bersentuhan dengan Javas meremang sempurna. Javas adalah laki-laki pertama yang menyentuhnya.

“Jangan ...” Zoia berujar lirih ketika kecupan Javas tiba di pangkal pahanya. Zoia belum siap. Ia juga merasa malu dan takut melakukannya.

Javas tidak menggubris kata-kata Zoia. Karena perempuan itu sudah menghancurkannya maka ia berhak menuntut balas dengan mengambil satu-satunya hal paling berharga yang dimiliki Zoia.

Mengangkat wajahnya dari bawah sana, Javas menanggalkan satu demi satu penutup tubuh perempuan itu hingga lapis kain terakhir. Meskipun Zoia melakukan perlawanan akan tetapi tenaga Javas jauh lebih kuat. Ia berhasil membuat polos perempuan itu.

Javas melepas pakaiannya sendiri setelahnya. Matanya mulai nanar menyaksikan Zoia yang kini tampil seperti manekin tanpa busana. Bukan nanar karena hangover melainkan karena keindahan tubuh perempuan itu. Meskipun tadi minum alkohol dalam jumlah yang mengkhawatirkan, namun tingkat toleransi tubuh Javas terhadap alkohol cukup tinggi.

Zoia menutupi dadanya yang terbuka dengan menyilangkan kedua tangannya. Ia juga melakukan hal yang sama dengan menyilangkan kaki menutupi inti bawah tubuhnya.

Javas menelan salivanya dalam-dalam. Perempuan ini sangat menggiurkan. Sayangnya Javas tidak mencintainya. Tapi untuk berhubungan seks tidak perlu cinta kan? Ia bisa tidur dengan wanita mana saja tanpa perlu perasaan cinta.

Tapi … para wanita yang pernah ia tiduri bukan istrinya. Mereka adalah perempuan gampangan yang bersedia ditukar dengan rupiah. Sedangkan Zoia adalah istrinya. Dan entah mengapa ia tidak ingin menyamakan Zoia dengan para perempuan itu. Apalagi saat menyaksikan wajah pucat Zoia dan ketakutan saat melihatnya Javas menjadi kasihan.

Ini aneh dan sangat bertentangan dengan logikanya. Namun suara dalam dirinya meminta Javas untuk melepaskan Zoia.

Javas mengurungkan niatnya untuk menyentuh Zoia lalu memungut boxer-nya dari lantai dan kembali mengenakannya.

“Keluar kamu!” Javas menunjuk pintu dan meminta Zoia untuk pergi.

Zoia tercengang. Apa ia tidak salah dengar? Kenapa Javas memintanya pergi? Kenapa lelaki itu tidak jadi melakukannya?

“Saya bilang keluar kamu sekarang. Bisa dengar kan?”

“Bi—bisa ...,” jawab Zoia tergagap.

Zoia bangkit dari berbaring lalu turun dari ranjang sambil menutupi dadanya dan bergegas pergi dari kamar Javas. Karena terburu-buru Zoia lupa mengambil pakaiannya. Ia meninggalkannya di sana.

Setelah Zoia pergi, Javas menutup pintu kamar dengan membantingnya cukup keras. Ia mengusap mukanya sambil menghela napas panjang.

Duduk di tepi ranjang, matanya bertemu dengan bingkai foto di nakas. Di sana terpajang potretnya berdua dengan Prilly. Saat itu mereka sedang liburan berdua ke Santorini. Mereka mengabadikan kenangan itu tepat di depan cave house khas Santorini yang identik dengan warna putih. Ia dan Prilly saling merangkul dan tersenyum lebar. Mereka sangat bahagia saat itu.

Javas mengambil bingkai tersebut lalu mengusap wajah cantik Prilly. Rasa sakitnya muncul ketika ingat semua perbuatan buruk Prilly padanya. Dengan sekali bantingan Javas membuang bingkai itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

***

Pagi ini Zoia bangun lebih awal.  Sambil menyiapkan sarapan pagi Zoia berpikir tentang kejadian kemarin.

Apa yang terjadi sehingga Javas batal menyentuhnya? Padahal mereka sudah sama-sama tidak berbusana dan hanya tinggal melakukannya saja. Tapi apa pun yang sudah mengubah pikiran Javas Zoia bersyukur terbebas dari semua itu.

Zoia yang sibuk melamun tidak menyadari akan kehadiran Javas. Pria itu duduk di kursi ruang makan sambil mengawasinya.

Javas kemudian berdeham yang membuat Zoia menoleh dan berdiri dengan gugup. Setelah kejadian semalam Zoia merasa canggung, seakan Javas masih melihat bentuk asli tubuhnya saat ini.

“Saya siapin roti untuk kamu, kamu suka kan?” tanya Zoia. Ia khawatir kalau nanti ternyata Javas tidak menyukainya dan meminta ganti makanan baru.

Javas memandang dingin setangkup roti tawar dengan olesan selai coklat hazelnut yang diletakkan Zoia di hadapannya. “Bersihin kamar saya!"

Tanpa diperintahkan dua kali Zoia menuju kamar Javas dan menyaksikan sendiri bagaimana berantakannya ruangan lelaki itu. Zoia mengaduh saat tanpa sengaja kakinya menginjak pecahan kaca.

Ada selembar foto di sana di antara serpihan kaca dan patahan bingkai. Zoia memandang sesaat foto Javas dan Prilly. Mereka tampak serasi. Bahkan pada mulanya Zoia sempat kagum melihat kemesraan pasangan itu.

Selagi Zoia di kamar Javas, bel berbunyi. Javas membukanya dan langsung mendapati seorang laki-laki muda di sana. Lelaki itu tersenyum ramah.

“Pagi, saya Zico. Saya mau menjemput Zoia. Saya teman Zoia dan kami sudah ada janji. Saya dan Zoia akan pergi menemui teman saya yang akan memakai jasa Shannon Wedding Organizer.” Zico menjelaskan pada Javas maksud kedatangannya.

Javas memandang lelaki itu dengan tatapan datar. Belum ia bicara, Zoia sudah muncul ke ruang depan.

“Eh, udah datang? Bentar ya, aku ambil tas dulu.”

Zoia kembali ke kamar. Javas menyusulnya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Javas menginterogasi.

“Saya mau bertemu klien. Dia teman Zico,” jelas Zoia sama seperti yang tadi dikatakan Zico pada Javas.

“Nggak boleh!” larang Javas tegas.

“Apa?”

“Nggak boleh. Apa kamu nggak dengar?”

Zoia menatap Javas dengan raut heran. “Kenapa nggak boleh?”

“Itu aturannya. Sebagai istri saya kamu dilarang berhubungan dengan lelaki manapun.”

“Tapi itu nggak ada di dalam surat perjanjian,” sanggah Zoia tidak setuju. Lelaki frustasi ini terlalu mengada-ngada.

“Memang nggak ada, tapi nanti akan saya tambahkan. Sekarang temui dia, katakan kalau kamu berangkat dengan saya. Suruh dia pergi sekarang."

"Saya nggak bisa. Saya dan Zico ada urusan penting. Ini menyangkut pekerjaan saya, tolong mengertilah,” pinta Zoia begitu memelas.

“Tapi saya suami kamu. Apa kamu lupa bahwa seorang istri wajib menghormati dan mematuhi suaminya?” Tentu saja Javas tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannnya. Ia hanya ingin membuat Zoia susah dan menyakiti perempuan itu dengan caranya.

“Saya tahu itu, tapi saya minta pengertian kamu. Tolong jangan kacaukan pekerjaan saya.”

Javas menyipit memandang Zoia. Ia tidak suka mendengarnya. “Bukan saya yang pengacau, tapi kamu. Kamu yang menghancurkan pernikahan saya sampai calon istri saya pergi. Nggak hanya itu, tapi dia juga membawa kabur uang saya, jadi kurang apa lagi kekacauan yang kamu buat?”

Zoia menahan napasnya. Javas selalu mengungkit-ungkit masalah tersebut, seakan pertanggungjawabannya tidak pernah cukup bagi laki-laki itu. Padahal pengorbanan Zoia juga tidak terhingga. Zoia bahkan merelakan dirinya untuk hidup bersama Javas.

"Saya ingatkan sekali lagi, di sini saya yang punya kuasa. Kamu nggak boleh membantah!” Javas memungkasi dengan nada suaranya yang tegas sembari menatap marah pada Zoia.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status