共有

Bab 13 – Rasa Penasaran

作者: Saras
last update 公開日: 2026-08-02 23:11:29

Senin pagi, lobi gedung Vertex Innovations sudah dipenuhi karyawan yang berdatangan. Suara langkah kaki yang terburu-buru, bunyi denting pintu lift yang terbuka-tutup, serta sapaan antar pegawai menciptakan kesibukan khas di awal pekan. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu utama. Naila turun dari kursi belakang sambil membawa tas kerja dan sebuah tablet di genggamannya.

"Selamat pagi, Bu Naila," sapa petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk.

"Pagi," jawab Naila dengan senyum tip
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dianggap Wanita Biasa, Ternyata Berkuasa   Bab 20 – Terdesak

    Regina segera membuka pesan masuk tersebut dan membaca isinya dengan saksama. Matanya bergerak cepat menyusuri baris demi baris teks digital yang dikirim oleh sistem Vertex Innovations. Ternyata ada permintaan dokumen tambahan yang sangat spesifik dari pihak Vertex. Mereka meminta penjelasan tertulis yang mendalam mengenai perubahan anggaran proyek yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.Regina terdiam di kursinya. "Kenapa mereka mendadak meminta rincian ini sekarang?" tanya Regina dengan suara lirih penuh kebingungan.Wanita itu langsung membuka dokumen keuangan yang dimaksud lalu memeriksa kembali angka-angka di dalamnya secara manual. Semakin keras Regina mencocokkan data pengeluaran, semakin banyak pula pertanyaan baru yang muncul di benaknya. Regina mengusap dahinya yang mulai terasa pening. Kesadaran baru mulai menghantam pikiran Regina bahwa masalah ini sama sekali tidak sesederhana kesalahan ketik biasa.Jika tim pemeriksaan Vertex terus melakukan audit yang mendalam, bukan h

  • Dianggap Wanita Biasa, Ternyata Berkuasa   Bab 19 – Tetap Diam

    Malam itu mulai menyelimuti gedung Vertex Innovations. Sebagian besar karyawan telah meninggalkan kantor. Lampu di beberapa lantai sudah dimatikan, menyisakan cahaya dari ruang-ruang yang masih digunakan oleh mereka yang mengejar tenggat pekerjaan. Di lantai eksekutif, suasana jauh lebih tenang. Naila masih berada di ruang kerjanya dengan sebuah laporan yang terbuka lebar di atas meja. Nama perusahaan rekanan itu kembali muncul di halaman yang sama.Perusahaan tempat Regina bekerja. Naila membaca laporan tersebut untuk ketiga kalinya. Beberapa dokumen yang seharusnya sudah diterima ternyata masih belum lengkap. Tim audit juga menemukan ketidaksesuaian kecil dalam beberapa rincian pengeluaran. Temuan itu memang belum cukup untuk disebut pelanggaran, juga belum cukup untuk menghentikan kerja sama. Namun, hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat Naila berhati-hati.Sang CEO menutup laporan itu, lalu tangannya meraih ponsel di dekatnya. Sebuah pesan dari Pak Dimas selaku kepala ti

  • Dianggap Wanita Biasa, Ternyata Berkuasa   Bab 18 – Tanpa Disadari

    Sore hari yang mulai beranjak menuju malam, tapi Naila masih di ruang kerjanya. Beberapa agenda rapat telah selesai, tetapi masih ada sejumlah dokumen penting yang harus diperiksa sebelum meninggalkan kantor. Baru saja ingin membuka layar laptopnya, terdengar ketukan pelan di pintu.Tok, tok, tok… "Bu Naila," panggil sekretarisnya dari luar pintu yang sedikit terbuka."Masuk," jawab Naila singkat sambil mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. Sekretarisnya melangkah masuk membawa sebuah map jinjing tebal dan sebuah tablet digital di tangan kirinya. "Ada laporan tambahan yang baru masuk dari tim audit," kata sekretaris itu sambil meletakkan map di atas meja kerja.Naila meraih map tersebut dengan tangan kanannya. "Untuk proyek yang mana?" tanya Naila sembari membuka kancing pengikat map. "Kerja sama yang sedang berjalan dengan salah satu perusahaan rekanan kita," jawab sekretaris itu dengan sikap tubuh yang sigap.Naila membuka halaman pertama laporan tersebut. Tatapannya langsu

  • Dianggap Wanita Biasa, Ternyata Berkuasa   Bab 17 – Retakan Pertama

    Senin sore yang gerah tidak mengurangi kesibukan di dalam kantor. Aktivitas para karyawan masih berjalan seperti biasa, dimana sebagian orang mulai mengemas barang-barang mereka untuk bersiap pulang, sementara beberapa divisi lain justru makin sibuk mengejar tenggat waktu yang harus diselesaikan sebelum jam kantor berakhir. Dari luar, semua aktivitas operasional tampak normal dan terkendali. Namun khusus di lantai tempat Regina bekerja, atmosfer ketegangan perlahan mulai terasa tipis di udara. Regina baru saja melangkah masuk ke ruang kerjanya setelah menghadiri rapat panjang yang melelahkan.Tak lama kemudian, asisten pribadinya masuk menyusul sambil membawa tumpukan dokumen baru. "Bu Regina, ini ada laporan keuangan terbaru yang baru saja dikirim oleh tim keuangan," kata sang asisten sambil menyodorkan berkas tersebut.Regina menerima bundelan kertas itu dengan helaan napas pendek. "Taruh saja di atas meja sini," perintah Regina sambil menunjuk area yang kosong."Baik, Bu," Ujar san

  • Dianggap Wanita Biasa, Ternyata Berkuasa   Bab 16 – Melampaui Ekspektasi

    Naila menerima tablet dari sekretarisnya, lalu membaca detail perubahan jadwal yang tertera di layar digital. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat pandangannya dengan dahi sedikit berkerut. "Pertemuannya dimajukan menjadi hari ini?" tanya Naila memastikan."Betul, Bu," sahut sekretarisnya sambil mengangguk cepat. "Pihak mereka meminta waktu pukul sebelas siang ini."Naila kembali menelusuri isi agenda di layar. Tidak ada perubahan pada poin-poin yang akan dibahas, namun ada satu bagian di kolom draf perwakilan yang langsung menarik perhatiannya."Pak Arsen Mahendra sendiri lagi yang akan memimpin pertemuan secara langsung," gumam Naila pelan seraya menyerahkan kembali tablet tersebut kepada sekretarisnya."Benar, Bu," jawab sekretarisnya dengan anggukan cepat. Naila mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja perlahan. "Baik. Siapkan seluruh dokumen yang diperlukan untuk presentasi nanti. Saya tidak ingin ada satu data pun yang terlewat atau salah," perintah Naila tegas."Baik, Bu. Segera

  • Dianggap Wanita Biasa, Ternyata Berkuasa   Bab 15 – Harga Diri yang Terjaga

    Akhir pekan pun tiba. Sabtu siang itu, halaman rumah Nenek sudah dipenuhi beberapa mobil milik keluarga besar. Suara tawa dan obrolan ramai terdengar hingga ke luar area teras, menandakan hampir semua anggota keluarga sudah berkumpul di dalam.Mobil yang ditumpangi Naila perlahan berhenti di halaman rumah Nenek yang sudah ramai. Ayahnya mematikan mesin, lalu menoleh ke spion tengah menatap putrinya yang sejak tadi lebih banyak diam di kursi belakang. "Masih ingin pulang?" tanya Ayahnya dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana.Naila terkekeh pelan mendengar gurauan itu. "Kalau sekarang kita pulang, Tante Amara pasti langsung datang sendiri ke rumah kita," sahut Naila geli.Jawaban itu membuat Ayah dan Ibunya ikut tersenyum. Namun beberapa detik kemudian, ekspresi Ayah berubah menjadi lebih serius. "Kalau nanti ada hal yang membuatmu tidak nyaman di dalam ...."Lalu Ayahnya lanjut berkata pelan dengan sorot mata protektif. "... kamu tidak perlu memaksakan diri untuk terus-terusan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status