LOGINUdara apartemen terasa pengap saat itu. Seakan mengetahui kesedihan dari sang pemilik yang tengah hancur tak berarti. Padahal hujan deras tengah mengguyur kota, tapi seakan tak dapat mengusir rasa pengap dari ruangan itu. Diruang tv yang selalu dipenuhi kehangatan. Kini, berganti menjadi rasa hampa yang tiba-tiba saja datang. Kembali moment-moment yang selalu terukir dalam ruangan ini berputar dengan sendirinyaa. Seakan tengah mengejek Dira atas kebenaran yang tersembunyi dibalik hal indah berselubung dusta. Pandangan mata Dira masih tetap sama, menatap kosong pada arah balkon yang sudah basah akibat diguyur hujan. Beribu kali nuraninya berkata bahwa ini hanyalah upaya wanita tua itu untuk mematahkan hatinya agar mundur dari hubungan miliknya sendiri. Akan tetapi kembali otaknya berusaha untuk menyadarkan bahwa ini adalah memang benar kebenaran yang ada. Matanya sempat melirik sebentar pada ponsel yang masih setia berada didalam tas. Sempat berpikir untuk menghubungi Raffa. Mem
Masih dengan kacamata hitam di hidung bangirnya. Kedua kaki jenjang itu melangkah keluar dari restoran yang menjadi tempat Kramat dalam sejarah hidupnya. Pandangannya terlihat kabur, penuh dengan genangan butiran kristal yang dalan kedipan akan luluh begitu saja. Kalimat demi kalimat dari wanita ular yang sayangnya adalah ibu dari orang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu, teringat jelas tanpa celah. Bagaimana tiap bait kata yang keluar sungguh menghujam hatinya dengan ribuan belati yang menancap tanpa melesat sedikit pun. Jika didalam sana tadi. Ia terlihat tetap datar dalam membalas tiap perbuatan yang diterima. Lain halnya jika sekarang ini. Dibawah rintik hujan yang membasahi bumi, kaki itu tetep melangkah tak tau arah. Hujan turun semakin deras, seakan saat ini semesta juga mengambil andil atas sakit yang dialaminya. Bagaimana mungkin? bagaimana mungkin ini semua terjadi? kalimat itu selalu ia tanyakan pada dirinya sendiri. Kenapa pertunangan itu terjadi? ralat, kenapa i
Satu gelas americano sudah berpindah tempat diwajah Arna. "K-kamuu," tunjuk Arana "berani sekali kamu menyiram saya!" hardik Arna "Memang nya tante siapa? sampai saya harus takut? Sedari tadi saya berusaha untuk tetap bersikap sopan kepada tante. Tapi apa yang tante lakuin? Tante justru semakin injak-injak harga diri saya. Tante hina keluarga saya, bahkan dengan mulut sampah Tante itu berani sekali menghina ibu saya!" geram Dira. Katakanlah saat ini Faldira sudah kehilangan tata krama nya terhadap orang yang lebih tua. Persetan dengan itu semua, yang terpenting ia bisa melampiaskan amarahnya terhadap kelakuan wanita tua ini. "Saya tau kok tante. Saya cuman orang kampung yang tidak tahu diri dengan memiliki hubungan bersama anak Tante yang level nya diatas saya. Saya sadar itu kok. Tapi perlu Tante ingat lagi anak Tante yang mengejar saya, bukan saya yang mengejar anak Tante." "Masalah tata krama yang diajarkan orang tua saya. Seperti nya Tante salah besar terhadap itu. Justru ora
Sore ini adalah sore yang berbeda bagi Dira. Sebuah moment dimana ia akan kembali bertemu dengan ibu dari sang kekasih tercinta. Wanita paruh baya yang selalu menatap tak suka kepada Dira setelah mengetahui fakta bahwa ia bersanding dengan anaknya tercinta. Rasa gugup tentu saja tak bisa Dira tutupi begitu saja.Terlihat sedari tadi gadis cantik dengan lesung pipi diwajahnya itu berulang kali melihat penampilan nya melalui layar ponsel yang menyala. Oh ayolah Dira, sebagus apapun penampilan mu hal itu tak akan membuat ibunda Raffa itu untuk menyukai nya. Yahh semoga saja kali ini keberuntungan berpihak padanya. Ekor mata Dira melirik kembali pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan, jarum kecil jam itu sudah menunjukkan tepat pukul 17.15 WIB. Yang artinya wanita paruh baya itu, terlambat datang untuk waktu yang sudah mereka tetapkan. Baru saja Dira akan beranjak pergi. Wanita paru baya yang sedari tadi ia tunggu akhirnya tiba juga. "Sorry, Dira. Ada beberapa hal penting ya
Raut wajah Dira tampak bingung, pasalnya ia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya. Seakan mengerti dengan raut wajah Dira, lantas Wita pun kembali berkata "Mbak dari tadi keliatan ga tenang, seperti ada yang dipikirin. Mbak lagi tengkar sama mas Raffa? eh tapi ndak mungkin deh wong tadi masih romantisan kok." "Udah akh Wit, kamu ini ngomong apa sih. Mbak gapapa, mbak juga gak lagi tengkar kok." "Tapi, mbak---" "Udah ayo buruan kesana, gak enak sama yang lainya." 'Astagfirulla, apa aku ketara banget ya kepikiran soal lelaki yang tadi' Sial, salahnya lelaki tadi wajahnya tertutup oleh masker. Hanya bagian mata nya saja yang terlihat. Hal itu lh yang membuat Dira sampai sepenasaran ini. Flashback on : Rintik hujan mulai turun dan membasahi padatnya kota Jakarta pada malam itu, Jam pulang kerja dengan kemacetan yang tak pernah redah ditambah guyuran hujan yang tengah melanda seakan menjadi sebuah perhiasan yang sakit dilihat dengan mata. "Meong meong meong" suara cicit
Menikmati sejenak hari libur yang cukup menghibur dirinya. Saat ini Dira sudah harus kembali pada rutinitas awalnya yang ditemani oleh padatnya skeju terbang serta beberapa acara seminar peluncuran buku terbaru nya yang akan dilaksanakan minggu ini. Melirik jadwal yang sudah tersusun rapi pada catatan ipad nya itu membuat Dira memijat pelipis nya pusing. Jujur saja tubuh nya benar-benar merasa lelah dengan schedule yang amat padat ini. Tapi disisi lain Dira juga bisa merasa senang melakoni pekerjaan yang sedang ia lakukan. Entah lah terkadang Dira juga merasa bingung dengan kemauan dirinya sendiri ini. "Mbak udah siap? Mobil udah nunggu di lobi nih," teriakan dari Wita yang terdengar diruang Tv, membuat Dira segera bergegas untuk mengunci isi kopernya. "Iya sebentar!" "Udah siap semua? engga ada yang ketinggalan lagi kan?" tanya Dira sambil tangannya merapikan sedikit tas yang tengah dipakai. "Engga ada sih kayaknya," jawab Wita pelan dengan raut seperti tengah berpikir. "Oh







