LOGINMenikmati sejenak hari libur yang cukup menghibur dirinya.
Saat ini Dira sudah harus kembali pada rutinitas awalnya yang ditemani oleh padatnya skeju terbang serta beberapa acara seminar peluncuran buku terbaru nya yang akan dilaksanakan minggu ini. Melirik jadwal yang sudah tersusun rapi pada catatan ipad nya itu membuat Dira memijat pelipis nya pusing. Jujur saja tubuh nya benar-benar merasa lelah dengan schedule yang amat padat ini. Tapi disisi lain Dira juga bisa merasa senang melakoni pekerjaan yang sedang ia lakukan. Entah lah terkadang Dira juga merasa bingung dengan kemauan dirinya sendiri ini. "Mbak udah siap? Mobil udah nunggu di lobi nih," teriakan dari Wita yang terdengar diruang Tv, membuat Dira segera bergegas untuk mengunci isi kopernya. "Iya sebentar!" "Udah siap semua? engga ada yang ketinggalan lagi kan?" tanya Dira sambil tangannya merapikan sedikit tas yang tengah dipakai. "Engga ada sih kayaknya," jawab Wita pelan dengan raut seperti tengah berpikir. "Oh ya ampun, astaghfirullah!" Wita spontan melompat dari atas sofa, dan berlari dengan gesit untuk menuju apartemen miliknya. Melihat hal itu Dira hanya bisa geleng-geleng kepala, tak heran dengan tingkah ceroboh nan pelupa adik angkat nya itu. Sesampainya di loby Dira dan Wita sudah disambut oleh kedatangan kurir makanan yang menyapa keduanya "Ini dengan mbak Dira?" "Iya benar pak." "Ini saya mau nganter makanan atas nama mbak Dira. Pengiriman dari mas Raffa." Dira tersenyum salah tingkah sambil tangannya menerima paper bag yang berisi makanan dari sang pacar itu. "Terimakasih ya pak." "Sama-sama mbak." Gemas melihat tingkah mbaknya yang salah tingkah, membuat Wita mengoda Dira dengan menyenggol bahu Dira. "Cie yang pagi-pagi udah dikasih asupan sama ayang. Apalah diri ini yang sama sekali gak punya ayang jadi gak pernah dapet asupan pagi deh." Dira tak menghiraukan godaan Wita, dirinya lebih memilih memeriksa pesan masuk yang ternyata dari sang pacar tercinta. Mas Raffa ❤ ⬤ Assalamu'alaikum bidadariku ⬤ sudah terima sarapannya? Maaf yah aku gk bsa nganter lngsung, soalnya ad patroli ddakn ⬤ smga suka dngn srapan nya yah, slmat beraktivitas cantik 😘. Semangat menjalani hari ini 🥰❤ Dira tak tahan untuk tidak tersenyum lebar, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang tengah menggelitik perutnya saat ini. Pesan singkat yang dikirim Raffa benar-benar seakan menjadi vitamin untuk menambah stamina nya dalam menjalani hari yang lumayan berat ini, Diketik nya pesan balasan sebagai ucapan terimakasih atas upaya sang kekasih yang selalu memberikan kesan romantis untuk nya. Pangggilan dari Wita untuk segera masuk kedalam mobil membuat Dira mengurungkan niatnya untuk mengetikan pesan lagi, "Ya Allah, hamba tak tahu apakah yang ini benar akan menjadi suami hamba kelak atau justru ia lah yang akan menjadi sumber patah hati terbesar hamba. Tapi satu hal yang hamba minta, apapun yang terjadi kelak tolong berikan kelapangan pada hati hambamu ini,"guman Dira. "Mbak bawa bekalnya kan? Siniin aku mau sarapan," menerima tas bekal dari Dira. Tanpa berlama-lama lagi Wita langsung menyantap isian bekal yang memang sudah disiapkan Dira untuk mereka berdua. "Karena mbak udah dapet sarapan dari mas ayang, sekarang nih bekal untuk aku semuaaa!" ucap Wita dengan mulut penuh makanan. "Selamat menikmati cantik, aku berharap suapan demi suapan bubur ini seakan kamu bisa merasakan rasa cinta aku yang luar biasa," Wita membaca tulisan yang terlampir dikotak bubur. "Hmm agak alay campur romantis ya ceritanya bund," ledek Wita kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya. ✜»✜«✜»✜«✜»✜«✜»✜ "Eh maaf-maaf Mas--" akibat terburu menuju Garuda Operating Center Dira tak memperhatikan jalannya hingga tak sengaja menabrak orang. Merasa bersalah akan kecerobohan nya, Dira ikut berjongkok membantu lelaki yang ditabraknya tadi untuk membereskan barang-barangnya yang jatuh dilantai. "Biar saya saja," kata lelaki itu. "Tidak apa-apa Mas. Saya yang salah karena tidak sengaja nabrak tadi." Kedua nya sama-sama akan bangkit hingga tak sengaja membuat kontak mata keduanya terjadi. Sama-sama terpaku mengagumi manik mata indah yang dimiliki. "Permisi," kata lelaki itu yang membuat Dira tersadar dari lamunannya, Masih ditempat, Dira memperhatikan sosok tadi yang mulai menghilang dibalik ramai nya orang-orang yang berlalu lalang. "Matanya seperti engga asing," guman Dira. Getaran pada saku bajunya membuat Dira tersadar jika ia saat ini sudah terlambat. "Sebelum memulai, mari sama-sama kita berdoa agar perjalanan kita hari ini mendapatkan kelancaran dan perlindungan dari yang maha kuasa," Dira sebagai seorang purser mengkordinat para awak kabin sebelum mereka bersiap menyambut para penumpang. "Mbak kenapa?" sebuah pertanyaan dilontarkan Wita pada saat sebagian awak kabin sudah mulai bersiap memulai pekerjaannya.Kaki terasa berat dalam melangkah, berjalan lunglai tak tentu arah. Hari ini terasa begitu lelah, dalam menghadapi dunia yang penuh dengan drama.Tepat saat kakinya berhasil sampai di dalam apartemen. Tubuh itu langsung ambruk di lantai yang terasa dingin. Masih dengan seragam kebanggaan yang tersemat gagah dan juga koper yang senantiasa menemani dalam tiap momen duka maupun indah.Keheningan apartemen yang biasanya menenangkan, kini justru terasa menghimpit. Dira meringkuk di atas lantai dingin, menyandarkan kepalanya pada koper yang masih berdiri tegak di sampingnya—koper yang menjadi saksi bisu betapa ia telah berlari terlalu jauh, terbang terlalu tinggi, hanya untuk melarikan diri dari luka yang tak kunjung sembuh.Di atas sana, ribuan kaki di udara, ia bisa berpura-pura menjadi Dira yang tangguh, Dira yang selalu siap melayani dengan ramah, dan Dira yang tidak punya beban apa pun. Namun, begitu roda pesawat menyentuh landasan dan tugasnya usai, topeng itu retak. Schedulenya yang
"kopi mulu dari tadi, Mbak," celetuk Sani yang datang membawa kukies di nampan.Dira hanya tersenyum sebagai tanggapan. Satu alisnya terangkat melihat nampan yang di bawa oleh Sani. "Kenapa kok dibalikin, San? Engga cocok sama cookiesnys?"Sani mengangguk lesu, hari ini ia mendapatkan penumpang yang lumayan rewel hingga membuat dirinya kewalahan dalam menghadapi. Maklum dirinya masih baru, dengan jam terbang yang terbilang minim. Jadi jika menghadapi penumpang seperti itu masih lumayan kaget dan butuh waktu penyesuaian."Iya, Mbak. Tadi penumpang yang kursi 4F minta diambilin cookies buat anaknya. Eh, pas udah aku anter malah dianya marah-marah gajelas lah. Katanya kukies nya engga sesuai standar yang dia mau, anaknya bisa sakit gigi kalau makan cookies ini," ucap Sani dengan raut wajah frustasi. Mengingat bagaimana penumpang tadi memaki nya saat ia mencoba memberikan penjelasan terkait cookies, atau bahkan saat ia berusaha untuk mengganti menu yang dipesan.Dira mengangguk paham. Mem
Lampu kabin sudah diredupkan, sebagian penumpang sudah terlelap dalam selimut mereka. Menyisakan suara dengung pesawat yang konstan dan menenangkan. Ini adalah moment yang digunakan para kru untuk istirahat atas keriwehan penumpang yang membuat mumet.Di dekat pintu darurat R1, Dira duduk di jump sheat. Mengunci tubuh kecilnya dari lonjakan yang mungkin akan tiba. Kedua matanya terpejam, tapi tidak dengan isi kepala.Mencoba mencari ketenangan dalam hening yang melanda.Perlahan-lahan kelopak mata itu tampak bergerak. Menyisir cahaya kecil yang menusuk mata. Tangannya mulai bergerak, menyusuri isi saku untuk mencari benda pipih yang mengusik pikirannya sejak tadi.Layar itu hidup kembali, menampilkan gambar sepasang kekasih yang tersenyum dengan happy. Tanpa sadar satu sudut bibirnya terangkat, mengukir senyum miris menatap layar ponsel yang memancing sakit hati.Pelan tapi pasti, si kristal bening kembali jatuh tanpa henti. Satu tangan Dira meremas ujung seragam tanpa disadari. Rasa
Pagi itu, rintik hujan mulai turun. Mengguyur kota Jakarta yang padat tanpa kenal waktu. Suara air hujan yang bersentuhan dengan kaca, bagai sebuah ketukan dengan melodi yang kontras. Sebuah simfoni tenang yang justru memacu detak jantung tanpa kenal waktu. Di saat orang-orang dengan gencarnya menarik selimut menutupi tubuh, dengan dinginnya suhu yang menggigit tubuh. Lain halnya pula dengan Faldira Winara, sipramugari cantik yang harus segera bersiap karena penerbangan yang sudah menunggu. Rintik yang tadi malu-malu kini berupa menjadi rintik yang rapat. Menciptakan tabir air yang membungkus bandara Soekarno-Hatta. Di area parkir terbuka, sebuah sedan putih mutiara membelah genangan yang menghiasi jalan. Lampu LED nya menembus kabut tipis seperti mata pemangsa yang tajam. Mobil itu berhenti dengan halus. Snowflake White Pearl—warna bodi mobil itu tampak berkilau meskipun di bawah langit yang redup, memantulkan sisa-sisa lampu jalan yang masih menyala. Di balik kemudi, Dira menar
Tiga hari telah berlalu. Waktu paling sulit bagi Dira mencoba untuk merangkak melewati duri-duri tajam yang menekan hulu hatinya.Getaran alarm di atas nakas kayu memaksa tubuh yang baru saja terbaring selama tiga jam itu untuk terbangun. Dira tidak langsung bangun, ia menatap langit-langit kamar selama beberapa detik. Matanya terlihat merah, pertanda jika tidurnya hanya berupa pingsan sesaat.Satu tangan terulur mematikan alarm dengan gerakan mekanis. Tidak ada helah napas, tidak ada keluhan, Ia langsung bangkit duduk di tepi ranjang. Membiarkan kaki jenjangnya menyentuh dinginnya lantai.Tubuhnya terasa ringan bagai sebuah kapas, sedangkan kepalanya terasa seperti timah.Menghabiskan waktu beberapa menit untuk membersihkan diri, kini Dira telah duduk dimeja rias dengan lampu lighting yang menyala. Mengekspos tiap detail kehancuran diwajahnya.Lingkar hitam dibawah matanya terlihat jelas, kulit dan bibir yang pucat transparan. Tangan Dira bergerak mengambil botol concealer. Dengan ge
"Beneran Mbak?" Terdengar ada keraguan dari Doni."Iya Ayah. M.bak beneran engga apa-apa kok.""Kalau ada apa-apa cerita sama Ayah ya mbak! jangan apa-apa itu disimpen sendiri. Cerita sama Ayah, biar hatinya sedikit tenang."DammPerkataan sang ayah seperti sebuah palu yang memukul paksa hatinya. Dalam hatinya, beribu maaf dilontarkan Dira atas kebohongan yang terpaksa ia sembunyikan."Iya Ayah, pokoknya ayah tenang aja. Mbak baik-baik aja kok, kalaupun mbak ada masalah pasti Mbak bakal langsung cerita ke arah," cengir Dira"Oh iya Mbak, ngomong-ngomong kabar nya Raffa gimana?"DegNama itu disebut, Dira memejamkan mata rapat-rapat. Membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa suara."Soalnya kemarin itu Ayah sempet telpon, tapi engga dijawab sama dia. Biasanya kalau telpon Ayah engga dijawab dia bakal langsung ngewhatsap Ayah, tapi ini tumbenan."Dira tertawa pelan"ya iyalah dia engga jawab telpon ayah. Kan sekarang dia lagi sibuk ngurusin acara pernikahannya.""Ada apa mbak?""Egh eng







