Home / Romansa / Diary Dira / kelima🍂

Share

kelima🍂

Author: Dillah_whj
last update publish date: 2026-04-30 00:36:54

Masih dengan kacamata hitam di hidung bangirnya, kedua kaki jenjang itu melangkah keluar dari restoran yang menjadi tempat Kramat dalam sejarah hidupnya.

Pandangannya terlihat kabur, penuh dengan genangan butiran kristal yang dalan kedipan akan luluh begitu saja.

Kamlimat demi kalimat dari wanita ular yang sayangnya adalah ibu dari orang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu teringat jelas tanpa celah. Bagaimana tiap bait kata yang keluar sungguh menghujam hatinya dengan ribuan belati yang menancap tanpa melesat sedikit pun.

Jika didalam sana tadi, ia terlihat tetap datar dalam membalas tiap perbuatan yang diterima. Lain halnya jika sekarang ini.

Dibawah rintik hujan yang membasahi bumi, kaki itu tetep melangkah tak tau arah. Hujan turun semakin deras, seakan saat ini semesta juga mengambil andil atas sakit yang dialaminya.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Kalimat itu selalu ia tanyakan pada dirinya sendiri.

Kenapa pertunangan itu terjadi? Ralat kenapa ia mengalami ini semua? Kenapa Raffa begitu tega mengkhianati dirinya. Bahkan dengan lancang nya lelaki itu justru memberikan kepastian untuk hubungan yang memang sulit untuk berjalan tanpa celah.

Ia terus berjalan, membiarkan pakaiannya basah kuyup hingga membuat dinginnya hujan menusuk hingga ketulang. Di pinggir jalan yang mulai sepi, kedua kaki jenjang itu tak sanggup lagi untuk melangkah. Dirinya berhenti, kepalanya menunduk. Kepalanya terguncang hebat dengan semua memori yang berputar begitu cepat, seakan menyadarkan Dira untuk peristiwa hari ini.

"Kenapa harus aku? " Isaknya tak berdaya, bersahutan dengan guntur "Kenapa takdir tak pernah berpihak padaku? Apa salahku sebenarnya? Tuhan aku hanya ingin hidup bahagia. Aku juga ingin dicintai dan mencintai, aku juga ingin diterima, aku juga ingin disayangi. Kenapa setelah semua yang kulewati hingga kini, takdir tetap enggan berpihak padaku?"

Tiba-tiba denting hujan yang mengguyur kepalanya mendadak menghilang. Kepalanya mendongak keatas, menatap pada sebuah payung yang ternyata menjadi penyebab hujan tak mengguyurnya lagi.

Disampingnya berdiri seorang pria dengan bahu tegap. Pria dengan setelan jaket berwarna denim. Warnanya terlihat lebih gelap dari aslinya, sepertinya pria itu juga sempat menembus hujan.

Pria itu tidak menatap Dira dengan rasa kasihan, tatapan justru tenang tetapi dalam.

"Hujan tidak akan pernah berhenti jika kamu hanya memintanya. Tetapi kamu bisa meminta untuk tidak basah kuyup sendirian" suara pria itu terdengar berat dan menenangkan, menghalau bunyi gemuruh dilangit.

Dira menyeringai " Lalu bagaimana jika takdir tak pernah mengabulkan keinginan ku? Meminta seseorang yang bersedia menemaniku agar aku tidak basah kuyup sendirian"

Pria itu maju satu langkah lebih dekat. Memastikan payung cukup untuk melindungi tubuh Dira sepenuhnya, meski bahunya kini sudah terguyur hujan.

"Mungkin karena takdir tahu apa yang terbaik untuk mu. Takdir tidak ingin kamu hanya sekedar ditemani" jawab pria itu tenang

Pria itu menatap lurus ke arah jalanan yang remang " Terkadang, semesta membiarkan mu basah kuyup bukan karena ingin kamu kedinginan. Tapi untuk membuktikan kamu cukup kuat untuk menembus badai itu sendirian" pria itu menjeda ucapannya " Dan ketika kamu sudah benar-benar siap dan waktu nya telah tiba. Takdir tidak hanya akan mengirimkan seseorang yang sekedar untuk menemani, melainkan seseorang yang rela membuang payungnya agar bisa menari di bawah hujan bersamamu"

"Seseorang yang tidak akan takut untuk basa. Demi memastikan kamu tidak akan kedinginan lagi"

Pria itu melepaskan jaketnya, meninggalkan kaos hitam sebagai pelindung tubuhnya. Mengulurkan jaket denim itu kepada Dira yang tentu saja memancing respon bingung dari sang empuh.

"Setidaknya jaket itu bisa menghalau dinginnya angin hujan yang menerpa malam ini"

Dira menggeleng, menolak kebaikan dari pria asing dihadapannya ini "Terimakasih atas empatinya. Tapi saya tidak membutuhkan itu, silakan anda kenakan kembali "

"Jaket itu tidak bisa menyembuhkan lukamu. Tapi setidaknya jaket itu bisa mencegahmu jatuh sakit malam ini. Kamu sudah cukup menderita karena seseorang. Jangan biarkan dinginnya malam membuat dirimu semakin menderita"

Dengan tangan yang dingin, Dira menerima uluran jaket dari pria itu. Jaket dengan aroma maskulin yang samar- campuran wangi kayu dan hujan ketika menyerbak menggantikan bau apek air hujan ditubuh Dira.

"Jangan pernah berhenti untuk meminta pada takdir. Terkadang jawaban dari doa-doa kita tidak datang dalam bentuk yang kita inginkan, melainkan dalam bentuk yang benar-benar kita butuhkan"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diary Dira   kelima🍂

    Masih dengan kacamata hitam di hidung bangirnya, kedua kaki jenjang itu melangkah keluar dari restoran yang menjadi tempat Kramat dalam sejarah hidupnya.Pandangannya terlihat kabur, penuh dengan genangan butiran kristal yang dalan kedipan akan luluh begitu saja.Kamlimat demi kalimat dari wanita ular yang sayangnya adalah ibu dari orang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu teringat jelas tanpa celah. Bagaimana tiap bait kata yang keluar sungguh menghujam hatinya dengan ribuan belati yang menancap tanpa melesat sedikit pun.Jika didalam sana tadi, ia terlihat tetap datar dalam membalas tiap perbuatan yang diterima. Lain halnya jika sekarang ini.Dibawah rintik hujan yang membasahi bumi, kaki itu tetep melangkah tak tau arah. Hujan turun semakin deras, seakan saat ini semesta juga mengambil andil atas sakit yang dialaminya.Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Kalimat itu selalu ia tanyakan pada dirinya sendiri.Kenapa pertunangan itu terjadi? Ralat kenapa ia meng

  • Diary Dira   ke empat🍂

    Sore ini adalah sore yang berbeda bagi Dira. Sebuah moment dimana ia akan kembali bertemu dengan ibu dari sang kekasih tercinta. Wanita paruh bayah yang selalu menatap tak suka kepada Dira setelah mengetahui fakta bahwa ia bersanding dengan anaknya tercinta. Rasa gugup tentu saja tak bisa Dira tutupi begitu saja, terlihat sedari tadi gadis cantik dengan lesung pipi diwajahnya itu berulang-ulang kali melihat penampilan nya melalui layar ponsel yang menyala. Oh ayolah Dira, sebagus apapun penampilan mu hal itu tak akan membuat ibunda Raffa itu untuk menyukai nya. Yahh semoga saja kali ini keberuntungan berpihak padanya. Ekor mata Dira melirik kembali pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan, jarum kecil jam itu sudah menunjukkan tepat pukul 17.15 WIB, yang artinya wanita paruh bayah itu terlambat datang untuk waktu yang sudah mereka tetapkan. Baru saja Dira akan beranjak pergi, wanita paruh baya yang sedari tadi ia tunggu akhirnya tiba juga. "Sorry Dira, ada beberapa hal

  • Diary Dira   ketiga🍂

    Menikmati sejenak hari libur yang cukup menghibur dirinya, Saat ini Dira sudah harus kembali pada rutinitas awalnya yang ditemani oleh padatnya skeju terbang serta beberapa acara seminar peluncuran buku terbaru nya yang akan dilaksanakan minggu ini. Melirik jadwal yang sudah tersusun rapi pada catatan ipad nya itu membuat Dira memijat pelipis nya pusing, Jujur saja tubuh nya benar-benar merasa lelah dengan skeju yang amat padat ini, tapi disisi lain Dira juga bisa merasa senang melakoni pekerjaan yang sedang ia lakukan. Entah lah terkadang Dira juga merasa bingung dengan kemauan dirinya sendiri ini. "Mbak udah siap? Mobil udah nunggu di loby nih" teriakan dari Wita yang terdengar diruang Tv, membuat Dira segera bergegas untuk mengunci isi kopernya "Iya sebentar... " "Udah siap semua? Enggak ada yang ketinggalan lagi kan? " tanya Dira sambil tangannya merapikan sedikit tas yang tengah dipakai "Enggak ada sih kayaknya" jawab Wita pelan dengan raut seperti tengah berpikir "Oh

  • Diary Dira   kedua🍂

    Tangan Dira dengan cekatan meraih slingbag yang tergantung didalam lemari khusus tas milik nya. Dipoles nya sedikit lip cream untuk menambahkan kesempurnaan pada make up tipis yang sudah melekat pada wajahnya. "Loh mbak mau kemana? " tanya Wita yang baru saja tiba didalam kamar"Urusan orang gede" jawab Dira tersenyum geliAlis Wita terangkat sebelah "Dih, bilang aja yang mau ngedate" cibir Wita seraya merebahkan tubuh nya diatas sofa kamar Dira "Nanti kalau mau balik kunciin apartemen nya ya dek" pesan Dira sebelum ia benar-benar melangkah pergiWita hanya mengacungkan jempol sebagai tanggapan, usai itu gadis Jawa asal Solo itu sudah berkelana didalam dunia mimpinya. Dira sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah adik angkat nya itu yang segampang itu terlelap dalam tidur, tak perduli ditempat apa ia tengah berada. Saat baru saja akan melangkah masuk kedalam lift, Raffa baru saja mengirimkan sebuah pesan mengenai dirinya yang sudah tiba di basement apartemen milik Dira. "I'

  • Diary Dira   Awal 🍂

    "Selamat malam. Seat berapa bapak?" Dira tersenyum ramah pada pria paruh bayah dengan setelan jas formal yang seperti nya tengah kebingungan mencari no tempat duduknya. "3F, mbak" "3F window seat di sebelah kiri. Mari saya antarkan" Pria tadi ikut berjalan dibelakang Dira untuk mencari tempat duduknya, Setibanya ditempat, Dira langsung mempersilahkan penumpang nya itu untuk segera duduk. "Terimakasih banyak mbak" ulas sang penumpang dengan senyuman lega Dira mengangguk dan tersenyum hangat membalas ulasan dari penumpang nya itu. Selanjutnya Dira segera kembali ke galery depan. Ada ratusan penumpang lagi yang harus ia sambut dengan ramah tamah, Sebenarnya secara spesifik ada 11 penumpang lagi yang harus ia tunggu, sebab pada hari ini Dira mendapat tanggungjawab 12 orang penumpang kelas bisnis. Faldira Winara, nama yang tersemat dalam name tag didada sebelah kirinya itu. Pramugari senior yang berkandang di business class dan telah mengudara selama sembilan tahu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status