MasukAlan menaiki mobil sport miliknya. Wajahnya dinginnya memancarkan aura yang mendalam. Alan mengeraskan rahangnya. Jika boleh memilih, ia akan menghabisi lelaki itu. Namun Robert Potter tak semudah itu di jatuhkan. Alan masih mencari titik lemahnya hingga kini. Robert, meski banyak melakukan kejahatan namun seolah apa yang ia lakukan tak tersentuh oleh hukum. Robert masih berjaya. Meski Alan punya kekuatannya sendiri. Namun saat ini, ia masih kalah dengan ayahnya.
Alan memilih menemui ayahnya dulu. Entah apalagi yang diinginkan lelaki itu. Mobil pun berhenti. Suara tembakan terdengar ketika ia melangkah masuk ke halaman Mansion Robert Potter. Alan tak terpengaruh. Ia sudah terbiasa menghadapi kekejaman yang diciptakan ayah biologisnya. "Tuan muda Alan. Anda sudah datang?" Tanya Anak buah Robert basa-basi. Alan mengangguk. "Dia ada di dalam?" Tanya Alan. "Benar. Anda masuk saja." Ucap Anak buah Robert tak acuh. Alan memandang sinis. Ia pun masuk ke dalam rumah megah simbol kejayaan Robert itu. Bunyi gedebuk terdengar yang diiringi erangan mengerikan. Alan tahu. Ada nyawa yang melayang saat ini. Siapa lagi yang menjadi bulan-bulanan lelaki itu? Alan melihat pemandangan mengerikan di depannya. Bau anyir tercium. Darah menggenang di lantai yang dingin. Tiga orang terkapar di bawah kaki ayahnya. Alan menatap dingin ayahnya. Robert menyeringai. "Paul! Anak bau kencur itu sudah datang. Kamu ambilkan berkas yang ada di meja kerja!" seru Robert tanpa menoleh pada anaknya. Alan tak terpengaruh dengan sikap dingin ayahnya. Robert mengelap bekas cipratan darah di tangannya. Ia berjalan dengan angkuh menuju kursi kebesarannya. "Aku tak menerima kegagalan. Asistenku Paul, akan memberimu perintas yang jelas. Ikuti perintahku! Itupun jika kamu tak mau ibumu meregang nyawa." Ancam Robert pada anaknya. Alan memandang datar Robert. Paul datang dengan berkas di tangannya. Ia menyerahkannya pada Alan. Robert memandang anaknya dingin. Pengendalian lelaki itu sangat kuat. Sebaliknya, Alan pun sama. Keduanya seperti sedang membangun tembok tinggi. Bedanya Robert lebih unggul. Itulah sebabnya, Ia ingin menghancurkan ayahnya suatu hari nanti. Lelaki kejam itu tak bisa dibiarkan berjaya lebih lama lagi. "Indonesia?" Tanya Alan. "Anak buah Tuan sedang mencari Nyonya Camelia. Dia kabur kesana. Tugas anda menemukannya dan barang yang dibawanya tanpa cacat. Data barang itu ada di berkas itu. Saya akan mengabarkan pada anda kapan misi anda akan dimulai. Ingat! Jangan sampai bocor!" seru Paul. Alan memandang Robert yang masih memandangnya dingin. "Aku pergi!" seru Alan tak kalah dingin. Brak Robert murka," Jangan kira karena anakku jadi kamu bisa berbuat seenaknya. Kamu bagiku hanya kacung tak berharga!" "Lalu kenapa anda memberi saya tugas jika saya tak berharga, Tuan Robert?" Tanya Alan dingin. Tangan Robert mengepal kuat. Namun ia tak bisa berbuat lebih. "Anak ini suatu hari pasti tak bisa ku kendalikan. Sebelum itu terjadi aku akan menghabisinya jika misiku berhasil." Gumam Robert dalam hati. Alan pun berjalan keluar Mansion begitu saja. Robert dan anak buahnya tak menghalanginya. "Kirim orang untuk mengawasinya!" Seru Robert. "Baik, Tuan." Jawab Paul. Sementara Alan kini sudah menaiki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Anak buah Robert mengikutinya. Alan tahu kalau ia diikuti. Ia menjalankan mobilnya secepat kilat. Anak Buah Tuan Robert kewalahan mengejarnya. Mereka misuh-misuh tak jelas. Alan tersenyum miring. Ia membelok cepat hingga mobil-mobil yang mengejarnya terpaksa berjalan lurus. Ketika mereka kembali dan membelok dijalan yang dilalui Alan. Mobil Alan sudah tak terlihat. Alan kini sudah berdiri di lantai atas sebuah bangunan. Memandang anak buah Robert yang kebingungan di bawah sana. "Anda akan ke Asia, Tuan?" tanya seorang lelaki berambut putih di belakangnya. Alan mengernyit. "Benar. Tapi tidak sekarang. Saya menunggu waktu yang tepat, Paman. Tolong persiapkan semuanya jika sewaktu-waktu saya berangkat mendadak."Ucap Alan datar. "Baik, Tuan."Ucap pria tua itu. Alan terus memandang kebawah. Anak buah Robert sudah masuk ke mobilnya dan mobil-mobil itu melaju pergi. Robert dan anak buahnya tak tahu bahwa Alan punya tempat tinggal lain di negara itu. Ia sangat berhati-hati jika ingin pergi ke tempat tinggalnya yang baru. Seperti saat ini. kring "Tuan, Ibu anda terus mengamuk! Apa anda bersedia datang kesini lebih cepat lagi?" tanya suara di seberang telphone. "Saya datang."ucap Alan. klik Ia pun berpamitan pada pria tua. "Saya pergi dulu, Paman." Ucap Alan. "Tuan, sebelum anda pergi. Tolong lihat rumah rahasia yang pernah saya katakan tempo hari."ucap pria tua itu. "Paman Alenski, siapa anda sebenarnya?" Tanya Alan berkelakar. Paman Alenski tertawa. "Kalau saya mengambilnya, Paman akan rugi."Imbuh Alan. "Tidak sama sekali. Justru saya senang."Ucap Paman Alenski. Alan mengangguk. "Saya akan lihat dulu nanti. Saya pamit dulu, Paman."Ucap Alan. "Silahkan."Ucap Paman Alenski. "O,ya. Perketat keamanan, Paman. Saya yakin orang itu akan berulah yang merugikanku."ucap Alan. "Menurut saya. Anda pulang saja ke rumah yang mereka tahu. Itu akan lebih aman. Soal pantehouse ini, biar menjadi urusan saya."Ucap Paman Alenski. "Baiklah. Jaga diri baik-baik, Paman. Aku mengandalkanmu."Ucap Alan. Paman Alenski mengangguk. Setelah sampai mobilnya, Alan melajukannya menuju Rumah sakit Jiwa dimana Ibunya berada."Tuan Gilbert, Tuan Robert menyuruh anda terbang ke London. Mari, kami akan menemani anda dan teman-teman anda selama perjalanan kesana." Ucap Persey. Gilbert sudah berbangga hati. Persey adalah tangan kanan terdekat Robert. Jadi, dia meyakini kalau dia akan mendapatkan penghargaan besar kali ini. Ia menginginkan sebuah pulau di wilayah asia tenggara yang akan ia jadikan pulau pribadi. Dan Gilbert sudah ngga sabar menantikan hal itu. Sementara Persey diberikan kesempatan sekali lagi, menangani seorang seperti Gilbert. "Persey, apa Tuan sangat puas dengan kinerjaku kali ini. Saya sudah merencanakan hal ini sangat lama. Jadi, kalau berhasil itu bukanlah hal yang mengherankan."Ucap Gilbert sumringah. Persey mencibir dalam hati. Berhasil katanya. Padahal apa yang ia lakukan membuat Tuannya rugi sangat besar. Namun, Persey menahan diri untuk tak menunjukkan ketidak sukaannya. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Membuat buruannya kabur. Sebuah pesawat komersil menunggu me
Alan dan anak buahnya berada di dalam kamar hotel. Memantau pergerakan anak buahnya di Penang. Dan benar saja . Banyak gadis-gadis remaja hingga dewasa disekap disana. Kamera tersembunyi terus bergerak. Keduanya menahan nafas. Tak mudah membebaskan mereka. Anak buah Tuan Narendra terpaksa bekerjasama dengan Polisi setempat. Tidak seperti sebelumnya yang bisa bergerak sendiri. Meski resikonya besar. Tuan Narendra tak punya pilihan lain. Waktunya sangat mendesak. Tuan Narendra dan Alan harus bisa memastikan para tawanan itu bisa kembali ke keluarganya dengan selamat. "Alan! Ngga ingin ambil bagian?" Tanya Tuan Narendra yang berdiri di ambang pintu. Alan menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Mana mungkin saya melewatkan kesempatan langka ini." Ucap Alan bangkit. Ia sudah siap dengan stelan seragam pelayan di balik mantelnya. "Hati-hati! Nanti gadis cantikmu ada yang ngambil jika kamu gagal." Goda Tuan Narendra. Meski terdengar berisik di telinganya. Alan memilih diam saja. Alan tur
Melisa sedang berjalan menuju jalan besar seperti biasanya. Kali ini ia mengenakan masker dan topi. Dua hari yang lalu, ada dua orang yang mencari keluarga kakaknya. Untungnya, keluarganya baru setahun pindah. Dan orang tuanya hanya berinteraksi dengan tetangga sekitar rumahnya saja. Nama Mala yang tinggal di Jakarta rupanya ada beberapa. Herannya tetangga desa ada yang bernama sama dengan kakaknya juga meninggal karena kecelakaan. Sungguh suatu kebetulan sekali. Dan dua orang itu tak tahu nama lengkap Kakaknya. Di data rumah sakit, hanya tertera nama Mala saja. Bukan Nirmala Rastati. Melisa yang berjalan santai tertegun melihat dua orang yang kemarin mencarinya berdiri di pinggir jalan besar. Gadis itu menghela nafas dan berjalan tenang menunggu angkot yang lewat. Melisa duduk di tempat duduk panjang dari semen. "Kamu yakin gadis itu yang dimaksud?" tanya Salah satu dari mereka. "Salah satu keluarga yang meninggal bernama Mala. Aku sudah menyelidiki kemungkinan lain. Tapi, ga
Lelaki dengan gurat senyum mirip Robert Potter itu membuat Alan membeku. Bedanya, Tuan Narendra berkulit sedikit lebih gelap dan tak kemerah-merahan khas bule. Tinggi mereka hampir sama. Hanya surai putih yang terlihat dari rambutnya yang hitam dibandingkan dengan Robert yang semu kecoklatan. Alan sempat mengira lelaki di depannya adalah Robert yang menyamar menjadi orang lain. "Mendekatlah, Keponakanku!" Seru Tuan Narendra. Alan menelan ludah susah payah. "Keponakan?" tanya Alan dalam hati. Selama berhadapan dengan Tuan Narendra, baru kali ini lelaki itu menyebut ia keponakan. Alan duduk dengan ragu di depan lelaki itu. Senyumnya ramah. Kebalikan dengan Robert yang terkesan bengis. "Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu kabur dari mereka." Ucap Tuan Narendra. "Hanya sementara. Saya yakin cepat atau lambat mereka akan menemukan keberadaan saya." jawab Alan. Tuan Narendra mengangguk. "Dia memang tak bisa santai sedikit saja." Ucap Narendra. Alan menoleh padanya. Cukup l
" Tuan, kami kehilangan jejak Tuan muda Alan." ucap Anak buahnya dengan suara bergetar. Brak Robert menggebrak meja. "Bagaimana bisa, hah!" Seru Robert. "Sebenarnya, kami sudah kehilangan dia sejak dua minggu yang lalu. Hanya saja kami masih percaya diri bisa menemukannya secepatnya. Tapi, jurang tempat Tuan Alan kecelakaan begitu dalam. Kami sudah menyusuri jejaknya di sekitar jurang hingga beberapa kilo meter jauhnya tapi nihil." jawab Anak buahnya. Robert mengepalkan tangannya. Bagaimana pun ia masih membutuhkan Alan. "Teruskan pencarian! Temukan anak itu secepat mungkin!" Seru Robert menyentuh dadanya. Hubungan ayah dan anak tak dipungkirin sedikit menggoyahkannya. Dalam hati kecilnya, ia tak ingin kehilangan Alan. Tapi, egonya begitu kuat hingga mengalahkan nuraninya. "Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya anak buahnya. Persey yang juga berada disana tapi tak berani mendekat. Ia masih belum bisa terlihat dalam jangkauan Robert akibat kesalahan yang ia lakukan sebelum
Melisa membeku melihat Alan. Lelaki ini kenapa bisa berada di tempat ini? Padahal jarak sekolah dan rumahnya lumayan jauh. Badan Melisa sedikit bergetar. Dia memegang tas ranselnya erat-erat. Melisa melihat sekeliling. Tak ada orang lain lagi selain mereka. "Kamu tinggal disini?" tanya Alan. "Iya, Mr Alan." jawab Melisa gugup. "Saya permisi." Ucap Melisa melanjutkan langkahnya. Jantungnya berdetak kencang ketika melewati Alan. "Kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Alan. Langkah Melisa terhenti. "Permisi, Mr Alan. Saya buru-buru." jawab Melisa setengah berlari. Alan memperhatikan dari jauh. "Dia benar-benar takut padaku?" tanyanya tersenyum geli. Lelaki itu kemudian berjalan searah dengan Melisa. Ia terus memperhatikan Melisa yang semakin mempercepat langkahnya. Dua kali gadis itu hampir tersandung. Melisa menoleh dan terkejut melihat Alan berjalan ke arahnya. Ketika hampir sampai di rumahnya, Melisa kebingungan. Dia tak ingin Alan mengetahui dimana rumahnya. "Saya







