Se connecterCamelia masih memandang laut lepas. iamerasa lebih lega dari biasanya. Jauh dari manusia kejam itu. Pernikahan mereka karena paksaan. Salahkah jika ia ingin bebas? Mencari kebahagiaannya sendiri meski hanya sebentar saja.
"Nyonya!" Bibi Sandy berdiri di belakangnya. "Apa kita akan berhasil? lelaki brengsek itu tak akan tinggal diam. Tapi aku berharap dia tak perlu repot-repot mencariku." Ucap Camelia. "Kita akan sampai di Dermaga. Anda harus melakukan penyamaran." Ucap Bibi Sandy. Camelia menghela nafas. Kenapa untuk bebas saja harus bersusah payah. Keduanya masuk ke kabin dan mengganti baju mereka dengan baju laki-laki. Ia memakai identitas baru bernama Candra. Bahkan Camelia memakai lensa mata berbeda. Ia memakai Wig dengan rambut sebatas leher yang berantakan. Camelia juga memakai riasan agak gelap serta tahi lalat buatan di bagian pipi dan bawah mata. Camelia tampak berbeda dengan tampilan barunya. Ia juga memakai sepatu boot usang. Tak kalah usang dengan bajunya. Di tangannya tersampir tas ransel kumal. Tas lama yang ia pakai sebelumnya ia tinggalkan di kapal. Tak jauh berbedanya. Bibi Sandy memakai riasan kakek-kakek. Dia juga memakai baju kumal. Keduanya laksana musafir yang hidup berbulan-bulan di kapal. Muka mereka diberi minyak agar terlihat lebih kucel dan kusam tak terurus. Kapal makin lama makin melambat. "Kita keluar, Candra." ucap Bibi Sandy Keduanya naik dan berjalan menuju arah Dermaga. Mereka mengantri bersama rombongan yang akan turun. Saat Camelia ingin turun, ia terkejut melihat anak buah kepercayaan suaminya. "Bibi, ada Brandon. " Bisik Camelia sedikit bergetar. Bibi Sandy melihat orang di depan mereka. "Anda harus tenang. Kita lewati mereka. Saya yakin yang berada disini bukan hanya dia."Bisik Bibi Sandy. "Ingat, Nyonya! Jangan latah menoleh jika ada yang memanggil nama asli anda." Bisik wanita itu lagi. Camelia mengangguk. "Nyonya Camelia!"seru seseorang Deg Jantung Camelia berdetak kencang. Baru saja mereka turun sudah ada yang memanggil namanya. Apa penyamarannya terbongkar sedemikian cepatnya. "Jalan, Candra! Kakek sudah pengen leyeh-leyeh!" seru Bibi Sandy dengan logat jawa yang kental. "Iyo, Mbah. Ckck." Seru Camelia mengikuti logat Bibi Sandy. Keduanya bahkan melewati Persy. Lelaki itu tak menyadari keberadaan keduanya. Jantung mereka berdetak sangat kencang. Jika Persy melihat keduanya, pasti langsung bisa curiga karena Camelia sangat gugup. Berbeda dengan Bibi Sandy yang masih terlihat tenang. Keduanya menaiki taksi "Mbah, kita kemana dulu?" tanya Camelia. "Langsung ke rumah gadis itu lah." jawab Bibi Sandy masih dengan logat kakek-kakek dan medok Camelia mengangguk. Sepanjang perjalanan, Camelia terihat gelisah. Ia merasa bahaya mengancamnya setiap saat. Suami gilanya pasti sudah mengirim banyak anak buah untuk mencarinya. Apalagi ia kehilangan buku yang sangat berharga di hidupnya. Ia membuka tas ransel bututnya. Ia meraba buku Diary yang menyimpan rahasia seorang Robert Potter. "Tenanglah, Nyonya!" Bisik Bibi Sandy. "Aku masih belum tenang." Bisik Camelia. Bibi Sandy mengelus pundak Camelia. "Apa masih jauh, Paman?" tanya Camelia dengan suara yang sengaja ia buat seperti pria "Masih satu jam lagi, Mas!" seru Sopir taksi itu. Camelia menghela nafas pelan *** Prang "Kalian belum menemukannya? Hah! Aku tak menerima kegagalan!" serunya menarik pistol dari balik bajunya. Dor Dor Dor Anak buahnya terkapar. Membuat teman-teman mereka menelan ludahnya susah payah. Lelaki yang bernama Robert Potter itu memang kejam. Tak pandang bulu jika kecewa dengan kinerja anak buahnya. "Poem! Kamu berangkat ke Asia! sepertinya wanita sialan itu mengunjungi Indonesia. Apa teman-temanmu yang ada disana belum menemukan tanda-tanda keberadaan wanita itu?" tanya Robert Potter menahan amarah. "Teman-teman kami sudah berpencar! Bahkan mereka stand by di Bandara, Pelabuhan, Stasiun dan Terminal. Belum ada tanda-tanda keberadaan Istri anda dan wanita tua itu." jawab Poem. Robert Potter mengepalkan tangannya dengan kuat hingga jemarinya memutih. "Berangkat sekarang juga! Temukan wanita itu dalam keadaan hidup. Aku sendiri yang akan membunuhnya."Ucap Robert dingin. "Baik. Saya akan berangkat sekarang." Ucap Poem. Lelaki muda dengan Tato Anjing di lengannya itu melangkah menjauhi ruangan tuannya. Di dalam ruangannya, Robert Potter menerima pesan dari Istri pertamanya. "Kapan kamu pulang? Putrimu menanyakanmu terus?" Tanya Patricia Lelaki itu malas membaca pesannya. Ia memang tak menyukai istri pertamanya. Mereka menikah karena wanita itu mengaku hamil di hadapan kakek Robert yang lebih berkuasa darinya. Dan tentu saja lelaki itu terpaksa menikahi wanita itu. Ting "Kamu sudah tak peduli pada putrimu?" tanya Patricia mengirim pesan lagi. Robert jengah," Lusa aku akan pulang." "Baiklah. Aku akan memasak makanan enak untukmu." Tulis Patricia. Robert mencibir. Sejak kapan wanita itu memasak. Bahkan memasak air saja gosong. Tak masuk akal. Robert membuka laci mejanya. Mengeluarkan Figura Foto yang menampilkan wajah yang hampir sama dengan Camelia. Namun itu bukan Camelia. Tapi kekasihnya yang terbunuh oleh musuhnya yang bernama Erika Grey. "Aku akan cari pembunuh itu hingga ke lubang semut sekalipun."Gumamnya mengeraskan rahangnya. Ia mengelus Wajah cantik Erika. Bayangan Camelia yang meringkuk kesakitan karena hukuman cambuk darinya berkelebat di depan matanya. Bruk. Figura itu terjatuh. Kacanya pecah berhamburan. "Kurang ajar. Aku tak akan memaafkanmu Camelia. Berani sekali kamu kabur! Aku akan pastikan kamu akan menangis lebih pedih setelah ini."gumamnya. Ia menikahi Camelia selain karena hutang keluarganya. Juga karena benci ada wanita yang menyerupai wajah kekasihnya. *** Di sebuah rumah megah di pinggiran kota, seorang pemuda gagah dan tampan sedang melinting lengan kemejanya. Tangannya kekar selain karena olahraga fisik. Juga gemblengan tak manusiawi ayah biologisnya. Luka-lukanya masih terlihat jelas di lengan dan bawah lehernya. Bahkan kalau ia membuka bajunya. Luka bisa terlihat dibanyak bagian tubuhnya. Ia sudah terbiasa. Bahkan hukuman itu serasa makanan sehari-hari. Ia, Alan Potter, anak yang tak dianggap Robert Potter. Ibunya dahulu mengalami pelecean seksual oleh Robert Potter disebuah hotel tempat ibunya bekerja. Ibunya yang bernama Alysia Moore tak pernah dinikahi lelaki itu. Alysia Moore bahkan harus mengalami gangguan mental karena peristiwa itu. Setelah melahirkan, mentalnya sudah tak pernah sembuh lagi. "Tuan, Sudah waktunya makan malam."ucap pelayan berwajah ceria menemuinya. Lelaki berwajah dingin itu mengangguk. "Saya akan siapkan makanan anda ke kamar jika anda enggan makan malam di meja makan."ucap pelayan itu. "Aku akan turun. Terima kasih, Bibi Erna." ucap Alan. Pelayan itu tersenyum mengangguk. Setidaknya meski majikannya berwajah dingin. Ia masih bisa bersikap sopan pada orang yang bekerja untuknya. Ting "Temui aku di Rumahku besok pagi!" Pesan dari Robert Potter. Alan mengeraskan rahangnya. "Manusia itu."Gumamnya penuh dendam. Alan berjalan menuju jendela besar. Ia memandang dikejauhan. Ponselnya kembali berdering. "Tuan Alan. Ibu anda mencoba bunuh diri lagi!" Seru suara di seberang telphon. Alan berjalan cepat keluar kamar. "Bibi Erna. Aku harus pergi!" seru Alan ketika berpapasan dengan wanita tua itu. Bibi Erna tak sempat bertanya. "Kapan anda bahagia, Tuan muda. Kasihan sekali anda."Gumamnya. Ia masih ingat betul bagaimana kehidupan seorang Alan Potter. Hidup sendiri sejak bayi. Robert hanya mempekerjakan seorang baby Sitter untuk menjaga bayi itu hingga berusia 10 tahun. Dibantu olehnya, mereka merawat bayi malang itu. Sampai ia mendapat fakta mencengangkan tentang Ibu Alan. Setelah berusia 11 tahun, Alan kecil harus merasakan kerasnya hidup karena gemblengan kejam lelaki yang disebut ayahnya. Wajah ceria Alan kecil lenyap sudah. Berganti menjadi wajah dingin seperti sekarang. Tapi, Bibi Erna yakin, Alan akan menemukan cinta yang akan membawa kebahagiaan untuknya suatu hari nanti.Robert terduduk di depan ruang ICU. Detik demi detik serasa sangat lama. Untuk pertama kali dalam hidupnya; ia duduk menunggu seperti ini. Meski melukai harga dirinya, sepertinya ia tak peduli. Lalu lalang orang tak ia perdulikan. Anak buahnya hanya bisa memandangnya dari jarak yang jauh namun bisa dijangkau. Mereka saling pandang. Harusnya Tuannya senang Camelia yang sebelum kembali disumpahi mati itu benar-benar pergi. Namun kenapa semua tak sesuai harapan mereka. Tuan mereka jatuh frustasi seperti kehilangan separuh jiwanya. "Apa yang harus kita lakukan, Tuan Persey? Kalau Nyonya pergi kita akan salahkan. Tuan bisa membunuh kita."ucap anak buah Persey. Namun lelaki itu hanya diam. Dia sendiri bergelut dengan pikirannya. Ia memandang Tuannya yang terus menatap pintu ruang ICU. Ia menghela nafas. "Kalian siapkan diri. Mudah-mudahan nyawa kita masih selamat setelah ini. "ucap Persey. Anak buahnya merinding. Lidah mereka kelu. Teringat keluarga mereka yang masih membutuhkan nafkah
Jantung Mala berdetak kencang. Ia terus berdiri melihat Camelia yang sekarang mengikuti dua orang menyeramkqn itu. "Duduk neng! Bapak ngga bisa lihat TV kalau kamu berdiri terus!" tegur Seorang kakek tua di belakang Mala. Gadis itu tersenyum sungkan. Dia meraba dalam tas ranselnya. "Jika mereka mencari barang ini dan tak menemukannya ada pada kak Camelia berarti..." Mala semakin memucat. Tapi, dia harus menjaga amanah. Dia teringat adiknya yang sangat cerdik. Mala mengeluarkan sebuah buku dan menuliskan sesuatu. Ia mengambil selotip kecil di dompet pulpennya. Ia bungkus lagi benda itu dengan tas plastik berwarna hitam dan menyelotip bagian yang terbuka. Kertas yang ia tulis ia lipat dua dan selotip di bagian depan bungkusan itu. Ia menulis nama adiknya disana. "Mel, jika aku ngga selamat. Aku harap kamu bisa meneruskan benda ini pada yang berhak."gumamnya memejamkan mata. -------------- "Nyonya, anda jauh sekali jalan-jalannya?" Sindir Persy. Camelia tak menjawab.
Mala merapatkan jaketnya. Angin kali ini begitu dingin. Padahal, dia hanya ingin membeli bakso kuah yang menggiurkan di seberang kafe tak jauh dari rumahnya. Sepertinya musih kemarau akan segera tiba. Lalu lalang kendaraan menyambutnya ketika ia sampai di jalan besar. "Mala! Mau beli bakso lagi?" tanya Seseorang. Mala terkejut. Ia tak nyaman bertemu lelaki ini. Namanya Ricky. Dua hari yang lalu ia menyatakan cinta padanya. Namun ia menolaknya dengan suatu alasan. "Iya. Aku duluan." Ucap Mala. "Bareng saja. Aku juga mau beli." acap Ricky tampak memaksa. "Mala, bareng sama aku saja." Ucap Teman baik Mala yang tiba-tiba sudah merangkulnya dari belakang. Mala lega. Dan Ricky mendengus kesal. Mala berterima kasih padanya ketika mereka sampai di seberang jalan. Rupanya, Ricky tak serius membeli bakso. Buktinya, dia hanya diam di tempat. Mala merinding melihat tatapan matanya. "Untung ada kamu."ucap Mala. "Lain kali kalau mau keluar panggil aku. Untung aku datang tadi. Mau a
Alan menaiki mobil sport miliknya. Wajahnya dinginnya memancarkan aura yang mendalam. Alan mengeraskan rahangnya. Jika boleh memilih, ia akan menghabisi lelaki itu. Namun Robert Potter tak semudah itu di jatuhkan. Alan masih mencari titik lemahnya hingga kini. Robert, meski banyak melakukan kejahatan namun seolah apa yang ia lakukan tak tersentuh oleh hukum. Robert masih berjaya. Meski Alan punya kekuatannya sendiri. Namun saat ini, ia masih kalah dengan ayahnya. Alan memilih menemui ayahnya dulu. Entah apalagi yang diinginkan lelaki itu. Mobil pun berhenti. Suara tembakan terdengar ketika ia melangkah masuk ke halaman Mansion Robert Potter. Alan tak terpengaruh. Ia sudah terbiasa menghadapi kekejaman yang diciptakan ayah biologisnya. "Tuan muda Alan. Anda sudah datang?" Tanya Anak buah Robert basa-basi. Alan mengangguk. "Dia ada di dalam?" Tanya Alan. "Benar. Anda masuk saja." Ucap Anak buah Robert tak acuh. Alan memandang sinis. Ia pun masuk ke dalam rumah megah simbol ke
Camelia masih memandang laut lepas. iamerasa lebih lega dari biasanya. Jauh dari manusia kejam itu. Pernikahan mereka karena paksaan. Salahkah jika ia ingin bebas? Mencari kebahagiaannya sendiri meski hanya sebentar saja. "Nyonya!" Bibi Sandy berdiri di belakangnya. "Apa kita akan berhasil? lelaki brengsek itu tak akan tinggal diam. Tapi aku berharap dia tak perlu repot-repot mencariku." Ucap Camelia. "Kita akan sampai di Dermaga. Anda harus melakukan penyamaran." Ucap Bibi Sandy. Camelia menghela nafas. Kenapa untuk bebas saja harus bersusah payah. Keduanya masuk ke kabin dan mengganti baju mereka dengan baju laki-laki. Ia memakai identitas baru bernama Candra. Bahkan Camelia memakai lensa mata berbeda. Ia memakai Wig dengan rambut sebatas leher yang berantakan. Camelia juga memakai riasan agak gelap serta tahi lalat buatan di bagian pipi dan bawah mata. Camelia tampak berbeda dengan tampilan barunya. Ia juga memakai sepatu boot usang. Tak kalah usang dengan bajunya.
Malam hari di musim semi, Camelia gelisah di kamarnya. Dia remas buku-buku jemarinya yang penuh bekas luka. Badannya gemetar mengingat seluruh rasa sakit yang ia terima dari lelaki yang sayangnya adalah suaminya sendiri. Camelia, Istri tersembunyi Robert Potter, Mafia kejam dan berbahaya. Setiap kali bertemu hanya siksaan yang ia dapatkan. Seolah raganya hanya mainan. Tak pernah sekalipun lelaki itu bersikap lembut. Tak ada yang berani menolongnya. Jika ada yang bertanya dimana keluarganya? Tentu saja ada. Masih hidup. Tetapi mereka sudah tak peduli padanya. Ia serasa dijual oleh keluarganya sendiri. Semua itu karena uang yang mereka dapatkan begitu banyak setelah Robert menikahinya. Sebenarnya ia sudah lelah jiwa dan raga. Beberapa kali mencoba bunuh diri namun gagal. Dan justru ia mendapatkan penyiksaan yang lebih kejam. Hingga ia pasrah akan nasibnya yang kurang beruntung. Suatu hari, ketika ada pelayan yang baru masuk. Ia seperti mendapat angin segar. Ia pelayan dari Asia te







