Share

Bab 4

Penulis: noeha_noe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-30 11:28:20

Mala merapatkan jaketnya. Angin kali ini begitu dingin. Padahal, dia hanya ingin membeli bakso kuah yang menggiurkan di seberang kafe tak jauh dari rumahnya. Sepertinya musih kemarau akan segera tiba. Lalu lalang kendaraan menyambutnya ketika ia sampai di jalan besar.

"Mala! Mau beli bakso lagi?" tanya Seseorang.

Mala terkejut. Ia tak nyaman bertemu lelaki ini. Namanya Ricky. Dua hari yang lalu ia menyatakan cinta padanya. Namun ia menolaknya dengan suatu alasan.

"Iya. Aku duluan." Ucap Mala.

"Bareng saja. Aku juga mau beli." acap Ricky tampak memaksa.

"Mala, bareng sama aku saja." Ucap Teman baik Mala yang tiba-tiba sudah merangkulnya dari belakang. Mala lega. Dan Ricky mendengus kesal.

Mala berterima kasih padanya ketika mereka sampai di seberang jalan. Rupanya, Ricky tak serius membeli bakso. Buktinya, dia hanya diam di tempat. Mala merinding melihat tatapan matanya.

"Untung ada kamu."ucap Mala.

"Lain kali kalau mau keluar panggil aku. Untung aku datang tadi. Mau aku panggil, cecunguk itu sudah di dekatmu aja. Dia ngga gangguin kamu kan?" Tanyanya.

Mala menggeleng.

Mala menengok seberang jalan. Dia melihat dua orang asing yang berbicara pada Ricky. Satu orang kakek dan seorang pemuda berpakaian lusuh. Dua orang itu menoleh kepadanya. Mala terkejut. Siapa mereka. Dua orang asing itu kemudian duduk di sebuah bangku panjang seolah menunggunya.

Mala mencoba bersikap tenang. Ia dan temannya yang bernama Ayu memesan bakso. Tak lama bakso kuah yang mengepul ada di hadapan mereka. Mala konsentrasi pada makanannya.

"Kamu jadi pulang kampung nanti?" tanya Ayu.

Mala mengangguk," Jadi. Aku sudah pesan tiket."

"Aku pengen ikut. Tapi, Ayah dan Ibu malah mengajakku ke Palembang. Saudaraku menikah disana." ucap Ayu manyun.

"Lain kali juga bisa. Atau kamu nyusul aja. Liburan kita kan panjang." Ucap Mala.

"Nanti ku pikirkan." Ucap Ayu.

Keduanya makan dengan suasana ceria. Bahkan Mala melupakan keberadaan dua orang asing di seberang jalan. Ketika selesai makan, Mala teringat dua orang asing itu. Mala lega, dua orang asing itu tak ada disana.

Mala dan Ayu menyeberang jalan. Mereka membawa bungkusan berisi bakso komplit untuk keluarga mereka.

Mereka menuju jalan yang berbeda. Mala was-was kalau Ricky menunggunya di gang. Untung saja selama dia menyusuri gang menuju rumah Bibinya, lelaki yang selalu mengganggunya itu tak ada. Ia pun

masuk ke rumah Bibinya dan terkejut melihat dua orang asing yang ia lihat di seberang jalan, kini berada di rumah bibinya.

"Mala, ada yang mencarimu."ucap Bibi Dara.

Mala menoleh pada dua orang asing itu. Sikapnya waspada.

"Kamu anak dari Lestari Sekar?" tanya salah satu dari mereka. Seorang kakek yang tampak aneh di mata Mala.

"Bu, bisa tolong tutup pintunya? kami akan bicara serius."ucap Kakek itu. Suaranya lebih mirip perempuan dibandingkan seorang laki-laki.

Dua orang asing itu membuka kedoknya ketika pintu sudah terkunci.

Mala dan Bibi Dara terkejut.

Mata Bibi Dara melebar.

"Kak Sandy!" serunya terkejut.

"Kamu masih mengingatku, Dara?" tanya Bibi Sandy.

"Tentu saja. Anda kawan baik kakak saya. Tentu saya ingat. Kemana anda selama ini?" tanya Bibi Dara.

"Di luar negeri."Jawab Bibi Sandy.

"O, ya. Kenalkan, ini Nyonya Camelia. Kami datang karena ada urusan dengan ibumu, Mala."ucap Bibi Sandy masih mengingat gadis di depannya.

"Saya lupa wajah anda. Tapi, anda tampak tak asing."ucap Mala.

"Tentu saja. Bibi pernah tinggal selama dua bulan di rumah ini. O, Ya. Mana Lestari?" Tanya Bibi Sandy.

"Mereka di Kampung. Rumah ini sekarang saya yang menempatinya. "Jawab Bibi Dara.

Brak

Ke empat orang itu terkejut. Bibi Dara dan Camelia menengok di Jendela. Seketika mata Camelia melebar. Wajahnya memucat. Di depan sana. Ada anak buah Robert Potter. Bagaimana bisa. Apakah mereka menemukannya secepat ini?

"Safir, Bibi. Mereka menemukan kita."ucap Camelia bergetar.

Bibi Sandy terkejut.

"Dara, ada pintu belakang yang menembus jalan?" Tanya Bibi Sandy.

"Ada. Tapi, siapa mereka?" Tanya Bibi Dara penuh tanya.

"Panjang ceritanya. Waktu kita tak banyak. Lebih baik kalian pergi dari sini. Biar aku yang hadapi mereka." Ucap Bibi Sandy.

"Tidak, Bi. Kita hadapi sama-sama."ucap Camelia. Bibi Sandy menggeleng.

"Nyonya harus selamat. Sia-sia pelarian kita jika anda tertangkap. Anda masih punya tanggung jawab besar mengamankan buku itu dari tangan mereka. Cepatlah!" seru Bibi Sandy.

Bibi Dara menunjuk ruangan kosong. Dia membuka pintu yang serupa tembok. Meski bingung, Bibi Dara dan Mala mengikuti ucapan Bibi Sandy. Mereka membimbing Camelia menuju jalan rahasia. Bibi Dara pun dulunya bingung, kenapa kakaknya membuat jalan ini.

"Bi, Kita telphone Bang Ali. Mala akan ke kampung sekarang juga. Bibi ke rumah Tante Desi saja untuk sementara." ucap Mala cemas.

"Barang-barangmu bagaimana?" tanya Bibi Dara.

"Bibi ngga lihat ranselku?Aku sudah bawa semuanya. Baju-bajuku kan sudah aku titipin di rumah Ayu biar mudah. Aku akan mengambilnya sekarang."ucap Mala.

Bibi Dara mengangguk. Dia menoleh dan cemas akan keselamatan Bibi Sandy.

"Semoga anda selamat."Gumam Bibi Dara. Ketiganya berjalan dengan arah yang berbeda. Sebuah mobil sudah menunggu Mala dan Camelia.

"La! Bukannya kamu ke kampung masih lama ya?" Tanya Bang Ali.

"Ngga. Mala sudah kangen sama keluargaku." Jawab Mala.

Mobil pun melaju pergi. Keduanya tampak cemas. Seolah bahaya itu bisa menyergap mereka kapan saja.

----------------'------

Melisa pulang ke rumahnya setelah mengikuti ujian kenaikan kelas. Dia sekarang berada di kelas 11.

"Yah! Ibu mana?" tanya Melisa riang.

"Di kebun belakang. Ganti dulu seragam mu. Dan bantu Ibumu. Kakakmu pulang cepat. Makanya mau masak banyak."ucap Ayahnya.

Pak Broto keluar rumah hendak ke sawah. Cangkul sudah ada di pundaknya. Ia menyalakan motor second yang dibelinya tiga hari yang lalu.

Melisa segera mengganti bajunya. Ia sudah tak sabar bertemu kakaknya. Sejak mereka meninggalkan Mala yang memilih tetap sekolah di Jakarta, terhitung baru dua kali ia bertemu kakaknya.

Namun entah kenapa ia menjadi cemas tanpa sebab.

"Semoga ngga ada apa-apa." gumamnya cemas. Melisa pun pergi ke kebun setelah mengganti seragam dan memakan makan siangnya.

--------------------

Bus yang ditumpangi Mala dan Camelia sudah hampir meninggalkan Jakarta. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Ketika sampai di Subang. Bus berhenti untuk istirahat. Mala dan Camelia turun untuk makan. Tas ransel tetap di pegang oleh mereka.

Camelia merasakan firasat buruk.

Selesai makan, ia mengambil barang berharga milik Robert Potter yang dibawanya.

"Mala, kakak titip sesuatu buatmu ya. Tolong jaga baik-baik!" seru Camelia memberikan bungkusan lusuh pada Mala.

"Apa ini kak?" Tanya Mala.

"Sebuah benda berharga. Kamu jaga baik-baik. Sepertinya kakak tak bisa menemanimu pulang. Dan serahkan benda itu pada ibumu."ucap Camelia. Mala tampak cemas.

"Tolong, Mala!" Seru Camelia memelas.

"Baiklah. Jaga diri kakak baik-baik. Padahal kita baru bertemu."ucap Mala sendu.

"Kakak senang bertemu dengan gadis manis sepertimu. Masuklah! Kita berpisah disini."ucap Camelia berkaca-kaca.

Mala ikut meneteskan air mata.

"Semoga Allah SWT selalu melindungi kakak."Ucap Mala.

"Aamiin. Kamu juga Mala." Ucap Camelia mengelus pipi Mala.

Gadis itu naik. Ia melambaikan tangannya pada Camelia. Saat bus melaju, ia terkejut melihat dua orang lelaki berbadan besar yang mendekati Camelia.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 6 Pergi?

    Robert terduduk di depan ruang ICU. Detik demi detik serasa sangat lama. Untuk pertama kali dalam hidupnya; ia duduk menunggu seperti ini. Meski melukai harga dirinya, sepertinya ia tak peduli. Lalu lalang orang tak ia perdulikan. Anak buahnya hanya bisa memandangnya dari jarak yang jauh namun bisa dijangkau. Mereka saling pandang. Harusnya Tuannya senang Camelia yang sebelum kembali disumpahi mati itu benar-benar pergi. Namun kenapa semua tak sesuai harapan mereka. Tuan mereka jatuh frustasi seperti kehilangan separuh jiwanya. "Apa yang harus kita lakukan, Tuan Persey? Kalau Nyonya pergi kita akan salahkan. Tuan bisa membunuh kita."ucap anak buah Persey. Namun lelaki itu hanya diam. Dia sendiri bergelut dengan pikirannya. Ia memandang Tuannya yang terus menatap pintu ruang ICU. Ia menghela nafas. "Kalian siapkan diri. Mudah-mudahan nyawa kita masih selamat setelah ini. "ucap Persey. Anak buahnya merinding. Lidah mereka kelu. Teringat keluarga mereka yang masih membutuhkan nafkah

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 5

    Jantung Mala berdetak kencang. Ia terus berdiri melihat Camelia yang sekarang mengikuti dua orang menyeramkqn itu. "Duduk neng! Bapak ngga bisa lihat TV kalau kamu berdiri terus!" tegur Seorang kakek tua di belakang Mala. Gadis itu tersenyum sungkan. Dia meraba dalam tas ranselnya. "Jika mereka mencari barang ini dan tak menemukannya ada pada kak Camelia berarti..." Mala semakin memucat. Tapi, dia harus menjaga amanah. Dia teringat adiknya yang sangat cerdik. Mala mengeluarkan sebuah buku dan menuliskan sesuatu. Ia mengambil selotip kecil di dompet pulpennya. Ia bungkus lagi benda itu dengan tas plastik berwarna hitam dan menyelotip bagian yang terbuka. Kertas yang ia tulis ia lipat dua dan selotip di bagian depan bungkusan itu. Ia menulis nama adiknya disana. "Mel, jika aku ngga selamat. Aku harap kamu bisa meneruskan benda ini pada yang berhak."gumamnya memejamkan mata. -------------- "Nyonya, anda jauh sekali jalan-jalannya?" Sindir Persy. Camelia tak menjawab.

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 4

    Mala merapatkan jaketnya. Angin kali ini begitu dingin. Padahal, dia hanya ingin membeli bakso kuah yang menggiurkan di seberang kafe tak jauh dari rumahnya. Sepertinya musih kemarau akan segera tiba. Lalu lalang kendaraan menyambutnya ketika ia sampai di jalan besar. "Mala! Mau beli bakso lagi?" tanya Seseorang. Mala terkejut. Ia tak nyaman bertemu lelaki ini. Namanya Ricky. Dua hari yang lalu ia menyatakan cinta padanya. Namun ia menolaknya dengan suatu alasan. "Iya. Aku duluan." Ucap Mala. "Bareng saja. Aku juga mau beli." acap Ricky tampak memaksa. "Mala, bareng sama aku saja." Ucap Teman baik Mala yang tiba-tiba sudah merangkulnya dari belakang. Mala lega. Dan Ricky mendengus kesal. Mala berterima kasih padanya ketika mereka sampai di seberang jalan. Rupanya, Ricky tak serius membeli bakso. Buktinya, dia hanya diam di tempat. Mala merinding melihat tatapan matanya. "Untung ada kamu."ucap Mala. "Lain kali kalau mau keluar panggil aku. Untung aku datang tadi. Mau a

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 3

    Alan menaiki mobil sport miliknya. Wajahnya dinginnya memancarkan aura yang mendalam. Alan mengeraskan rahangnya. Jika boleh memilih, ia akan menghabisi lelaki itu. Namun Robert Potter tak semudah itu di jatuhkan. Alan masih mencari titik lemahnya hingga kini. Robert, meski banyak melakukan kejahatan namun seolah apa yang ia lakukan tak tersentuh oleh hukum. Robert masih berjaya. Meski Alan punya kekuatannya sendiri. Namun saat ini, ia masih kalah dengan ayahnya. Alan memilih menemui ayahnya dulu. Entah apalagi yang diinginkan lelaki itu. Mobil pun berhenti. Suara tembakan terdengar ketika ia melangkah masuk ke halaman Mansion Robert Potter. Alan tak terpengaruh. Ia sudah terbiasa menghadapi kekejaman yang diciptakan ayah biologisnya. "Tuan muda Alan. Anda sudah datang?" Tanya Anak buah Robert basa-basi. Alan mengangguk. "Dia ada di dalam?" Tanya Alan. "Benar. Anda masuk saja." Ucap Anak buah Robert tak acuh. Alan memandang sinis. Ia pun masuk ke dalam rumah megah simbol ke

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 2. Anak tak dianggap

    Camelia masih memandang laut lepas. iamerasa lebih lega dari biasanya. Jauh dari manusia kejam itu. Pernikahan mereka karena paksaan. Salahkah jika ia ingin bebas? Mencari kebahagiaannya sendiri meski hanya sebentar saja. "Nyonya!" Bibi Sandy berdiri di belakangnya. "Apa kita akan berhasil? lelaki brengsek itu tak akan tinggal diam. Tapi aku berharap dia tak perlu repot-repot mencariku." Ucap Camelia. "Kita akan sampai di Dermaga. Anda harus melakukan penyamaran." Ucap Bibi Sandy. Camelia menghela nafas. Kenapa untuk bebas saja harus bersusah payah. Keduanya masuk ke kabin dan mengganti baju mereka dengan baju laki-laki. Ia memakai identitas baru bernama Candra. Bahkan Camelia memakai lensa mata berbeda. Ia memakai Wig dengan rambut sebatas leher yang berantakan. Camelia juga memakai riasan agak gelap serta tahi lalat buatan di bagian pipi dan bawah mata. Camelia tampak berbeda dengan tampilan barunya. Ia juga memakai sepatu boot usang. Tak kalah usang dengan bajunya.

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 1 Melarikan diri

    Malam hari di musim semi, Camelia gelisah di kamarnya. Dia remas buku-buku jemarinya yang penuh bekas luka. Badannya gemetar mengingat seluruh rasa sakit yang ia terima dari lelaki yang sayangnya adalah suaminya sendiri. Camelia, Istri tersembunyi Robert Potter, Mafia kejam dan berbahaya. Setiap kali bertemu hanya siksaan yang ia dapatkan. Seolah raganya hanya mainan. Tak pernah sekalipun lelaki itu bersikap lembut. Tak ada yang berani menolongnya. Jika ada yang bertanya dimana keluarganya? Tentu saja ada. Masih hidup. Tetapi mereka sudah tak peduli padanya. Ia serasa dijual oleh keluarganya sendiri. Semua itu karena uang yang mereka dapatkan begitu banyak setelah Robert menikahinya. Sebenarnya ia sudah lelah jiwa dan raga. Beberapa kali mencoba bunuh diri namun gagal. Dan justru ia mendapatkan penyiksaan yang lebih kejam. Hingga ia pasrah akan nasibnya yang kurang beruntung. Suatu hari, ketika ada pelayan yang baru masuk. Ia seperti mendapat angin segar. Ia pelayan dari Asia te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status