MasukMala merapatkan jaketnya. Angin kali ini begitu dingin. Padahal, dia hanya ingin membeli bakso kuah yang menggiurkan di seberang kafe tak jauh dari rumahnya. Sepertinya musih kemarau akan segera tiba. Lalu lalang kendaraan menyambutnya ketika ia sampai di jalan besar.
"Mala! Mau beli bakso lagi?" tanya Seseorang. Mala terkejut. Ia tak nyaman bertemu lelaki ini. Namanya Ricky. Dua hari yang lalu ia menyatakan cinta padanya. Namun ia menolaknya dengan suatu alasan. "Iya. Aku duluan." Ucap Mala. "Bareng saja. Aku juga mau beli." acap Ricky tampak memaksa. "Mala, bareng sama aku saja." Ucap Teman baik Mala yang tiba-tiba sudah merangkulnya dari belakang. Mala lega. Dan Ricky mendengus kesal. Mala berterima kasih padanya ketika mereka sampai di seberang jalan. Rupanya, Ricky tak serius membeli bakso. Buktinya, dia hanya diam di tempat. Mala merinding melihat tatapan matanya. "Untung ada kamu."ucap Mala. "Lain kali kalau mau keluar panggil aku. Untung aku datang tadi. Mau aku panggil, cecunguk itu sudah di dekatmu aja. Dia ngga gangguin kamu kan?" Tanyanya. Mala menggeleng. Mala menengok seberang jalan. Dia melihat dua orang asing yang berbicara pada Ricky. Satu orang kakek dan seorang pemuda berpakaian lusuh. Dua orang itu menoleh kepadanya. Mala terkejut. Siapa mereka. Dua orang asing itu kemudian duduk di sebuah bangku panjang seolah menunggunya. Mala mencoba bersikap tenang. Ia dan temannya yang bernama Ayu memesan bakso. Tak lama bakso kuah yang mengepul ada di hadapan mereka. Mala konsentrasi pada makanannya. "Kamu jadi pulang kampung nanti?" tanya Ayu. Mala mengangguk," Jadi. Aku sudah pesan tiket." "Aku pengen ikut. Tapi, Ayah dan Ibu malah mengajakku ke Palembang. Saudaraku menikah disana." ucap Ayu manyun. "Lain kali juga bisa. Atau kamu nyusul aja. Liburan kita kan panjang." Ucap Mala. "Nanti ku pikirkan." Ucap Ayu. Keduanya makan dengan suasana ceria. Bahkan Mala melupakan keberadaan dua orang asing di seberang jalan. Ketika selesai makan, Mala teringat dua orang asing itu. Mala lega, dua orang asing itu tak ada disana. Mala dan Ayu menyeberang jalan. Mereka membawa bungkusan berisi bakso komplit untuk keluarga mereka. Mereka menuju jalan yang berbeda. Mala was-was kalau Ricky menunggunya di gang. Untung saja selama dia menyusuri gang menuju rumah Bibinya, lelaki yang selalu mengganggunya itu tak ada. Ia pun masuk ke rumah Bibinya dan terkejut melihat dua orang asing yang ia lihat di seberang jalan, kini berada di rumah bibinya. "Mala, ada yang mencarimu."ucap Bibi Dara. Mala menoleh pada dua orang asing itu. Sikapnya waspada. "Kamu anak dari Lestari Sekar?" tanya salah satu dari mereka. Seorang kakek yang tampak aneh di mata Mala. "Bu, bisa tolong tutup pintunya? kami akan bicara serius."ucap Kakek itu. Suaranya lebih mirip perempuan dibandingkan seorang laki-laki. Dua orang asing itu membuka kedoknya ketika pintu sudah terkunci. Mala dan Bibi Dara terkejut. Mata Bibi Dara melebar. "Kak Sandy!" serunya terkejut. "Kamu masih mengingatku, Dara?" tanya Bibi Sandy. "Tentu saja. Anda kawan baik kakak saya. Tentu saya ingat. Kemana anda selama ini?" tanya Bibi Dara. "Di luar negeri."Jawab Bibi Sandy. "O, ya. Kenalkan, ini Nyonya Camelia. Kami datang karena ada urusan dengan ibumu, Mala."ucap Bibi Sandy masih mengingat gadis di depannya. "Saya lupa wajah anda. Tapi, anda tampak tak asing."ucap Mala. "Tentu saja. Bibi pernah tinggal selama dua bulan di rumah ini. O, Ya. Mana Lestari?" Tanya Bibi Sandy. "Mereka di Kampung. Rumah ini sekarang saya yang menempatinya. "Jawab Bibi Dara. Brak Ke empat orang itu terkejut. Bibi Dara dan Camelia menengok di Jendela. Seketika mata Camelia melebar. Wajahnya memucat. Di depan sana. Ada anak buah Robert Potter. Bagaimana bisa. Apakah mereka menemukannya secepat ini? "Safir, Bibi. Mereka menemukan kita."ucap Camelia bergetar. Bibi Sandy terkejut. "Dara, ada pintu belakang yang menembus jalan?" Tanya Bibi Sandy. "Ada. Tapi, siapa mereka?" Tanya Bibi Dara penuh tanya. "Panjang ceritanya. Waktu kita tak banyak. Lebih baik kalian pergi dari sini. Biar aku yang hadapi mereka." Ucap Bibi Sandy. "Tidak, Bi. Kita hadapi sama-sama."ucap Camelia. Bibi Sandy menggeleng. "Nyonya harus selamat. Sia-sia pelarian kita jika anda tertangkap. Anda masih punya tanggung jawab besar mengamankan buku itu dari tangan mereka. Cepatlah!" seru Bibi Sandy. Bibi Dara menunjuk ruangan kosong. Dia membuka pintu yang serupa tembok. Meski bingung, Bibi Dara dan Mala mengikuti ucapan Bibi Sandy. Mereka membimbing Camelia menuju jalan rahasia. Bibi Dara pun dulunya bingung, kenapa kakaknya membuat jalan ini. "Bi, Kita telphone Bang Ali. Mala akan ke kampung sekarang juga. Bibi ke rumah Tante Desi saja untuk sementara." ucap Mala cemas. "Barang-barangmu bagaimana?" tanya Bibi Dara. "Bibi ngga lihat ranselku?Aku sudah bawa semuanya. Baju-bajuku kan sudah aku titipin di rumah Ayu biar mudah. Aku akan mengambilnya sekarang."ucap Mala. Bibi Dara mengangguk. Dia menoleh dan cemas akan keselamatan Bibi Sandy. "Semoga anda selamat."Gumam Bibi Dara. Ketiganya berjalan dengan arah yang berbeda. Sebuah mobil sudah menunggu Mala dan Camelia. "La! Bukannya kamu ke kampung masih lama ya?" Tanya Bang Ali. "Ngga. Mala sudah kangen sama keluargaku." Jawab Mala. Mobil pun melaju pergi. Keduanya tampak cemas. Seolah bahaya itu bisa menyergap mereka kapan saja. ----------------'------ Melisa pulang ke rumahnya setelah mengikuti ujian kenaikan kelas. Dia sekarang berada di kelas 11. "Yah! Ibu mana?" tanya Melisa riang. "Di kebun belakang. Ganti dulu seragam mu. Dan bantu Ibumu. Kakakmu pulang cepat. Makanya mau masak banyak."ucap Ayahnya. Pak Broto keluar rumah hendak ke sawah. Cangkul sudah ada di pundaknya. Ia menyalakan motor second yang dibelinya tiga hari yang lalu. Melisa segera mengganti bajunya. Ia sudah tak sabar bertemu kakaknya. Sejak mereka meninggalkan Mala yang memilih tetap sekolah di Jakarta, terhitung baru dua kali ia bertemu kakaknya. Namun entah kenapa ia menjadi cemas tanpa sebab. "Semoga ngga ada apa-apa." gumamnya cemas. Melisa pun pergi ke kebun setelah mengganti seragam dan memakan makan siangnya. -------------------- Bus yang ditumpangi Mala dan Camelia sudah hampir meninggalkan Jakarta. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Ketika sampai di Subang. Bus berhenti untuk istirahat. Mala dan Camelia turun untuk makan. Tas ransel tetap di pegang oleh mereka. Camelia merasakan firasat buruk. Selesai makan, ia mengambil barang berharga milik Robert Potter yang dibawanya. "Mala, kakak titip sesuatu buatmu ya. Tolong jaga baik-baik!" seru Camelia memberikan bungkusan lusuh pada Mala. "Apa ini kak?" Tanya Mala. "Sebuah benda berharga. Kamu jaga baik-baik. Sepertinya kakak tak bisa menemanimu pulang. Dan serahkan benda itu pada ibumu."ucap Camelia. Mala tampak cemas. "Tolong, Mala!" Seru Camelia memelas. "Baiklah. Jaga diri kakak baik-baik. Padahal kita baru bertemu."ucap Mala sendu. "Kakak senang bertemu dengan gadis manis sepertimu. Masuklah! Kita berpisah disini."ucap Camelia berkaca-kaca. Mala ikut meneteskan air mata. "Semoga Allah SWT selalu melindungi kakak."Ucap Mala. "Aamiin. Kamu juga Mala." Ucap Camelia mengelus pipi Mala. Gadis itu naik. Ia melambaikan tangannya pada Camelia. Saat bus melaju, ia terkejut melihat dua orang lelaki berbadan besar yang mendekati Camelia."Tuan Gilbert, Tuan Robert menyuruh anda terbang ke London. Mari, kami akan menemani anda dan teman-teman anda selama perjalanan kesana." Ucap Persey. Gilbert sudah berbangga hati. Persey adalah tangan kanan terdekat Robert. Jadi, dia meyakini kalau dia akan mendapatkan penghargaan besar kali ini. Ia menginginkan sebuah pulau di wilayah asia tenggara yang akan ia jadikan pulau pribadi. Dan Gilbert sudah ngga sabar menantikan hal itu. Sementara Persey diberikan kesempatan sekali lagi, menangani seorang seperti Gilbert. "Persey, apa Tuan sangat puas dengan kinerjaku kali ini. Saya sudah merencanakan hal ini sangat lama. Jadi, kalau berhasil itu bukanlah hal yang mengherankan."Ucap Gilbert sumringah. Persey mencibir dalam hati. Berhasil katanya. Padahal apa yang ia lakukan membuat Tuannya rugi sangat besar. Namun, Persey menahan diri untuk tak menunjukkan ketidak sukaannya. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Membuat buruannya kabur. Sebuah pesawat komersil menunggu me
Alan dan anak buahnya berada di dalam kamar hotel. Memantau pergerakan anak buahnya di Penang. Dan benar saja . Banyak gadis-gadis remaja hingga dewasa disekap disana. Kamera tersembunyi terus bergerak. Keduanya menahan nafas. Tak mudah membebaskan mereka. Anak buah Tuan Narendra terpaksa bekerjasama dengan Polisi setempat. Tidak seperti sebelumnya yang bisa bergerak sendiri. Meski resikonya besar. Tuan Narendra tak punya pilihan lain. Waktunya sangat mendesak. Tuan Narendra dan Alan harus bisa memastikan para tawanan itu bisa kembali ke keluarganya dengan selamat. "Alan! Ngga ingin ambil bagian?" Tanya Tuan Narendra yang berdiri di ambang pintu. Alan menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Mana mungkin saya melewatkan kesempatan langka ini." Ucap Alan bangkit. Ia sudah siap dengan stelan seragam pelayan di balik mantelnya. "Hati-hati! Nanti gadis cantikmu ada yang ngambil jika kamu gagal." Goda Tuan Narendra. Meski terdengar berisik di telinganya. Alan memilih diam saja. Alan tur
Melisa sedang berjalan menuju jalan besar seperti biasanya. Kali ini ia mengenakan masker dan topi. Dua hari yang lalu, ada dua orang yang mencari keluarga kakaknya. Untungnya, keluarganya baru setahun pindah. Dan orang tuanya hanya berinteraksi dengan tetangga sekitar rumahnya saja. Nama Mala yang tinggal di Jakarta rupanya ada beberapa. Herannya tetangga desa ada yang bernama sama dengan kakaknya juga meninggal karena kecelakaan. Sungguh suatu kebetulan sekali. Dan dua orang itu tak tahu nama lengkap Kakaknya. Di data rumah sakit, hanya tertera nama Mala saja. Bukan Nirmala Rastati. Melisa yang berjalan santai tertegun melihat dua orang yang kemarin mencarinya berdiri di pinggir jalan besar. Gadis itu menghela nafas dan berjalan tenang menunggu angkot yang lewat. Melisa duduk di tempat duduk panjang dari semen. "Kamu yakin gadis itu yang dimaksud?" tanya Salah satu dari mereka. "Salah satu keluarga yang meninggal bernama Mala. Aku sudah menyelidiki kemungkinan lain. Tapi, ga
Lelaki dengan gurat senyum mirip Robert Potter itu membuat Alan membeku. Bedanya, Tuan Narendra berkulit sedikit lebih gelap dan tak kemerah-merahan khas bule. Tinggi mereka hampir sama. Hanya surai putih yang terlihat dari rambutnya yang hitam dibandingkan dengan Robert yang semu kecoklatan. Alan sempat mengira lelaki di depannya adalah Robert yang menyamar menjadi orang lain. "Mendekatlah, Keponakanku!" Seru Tuan Narendra. Alan menelan ludah susah payah. "Keponakan?" tanya Alan dalam hati. Selama berhadapan dengan Tuan Narendra, baru kali ini lelaki itu menyebut ia keponakan. Alan duduk dengan ragu di depan lelaki itu. Senyumnya ramah. Kebalikan dengan Robert yang terkesan bengis. "Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu kabur dari mereka." Ucap Tuan Narendra. "Hanya sementara. Saya yakin cepat atau lambat mereka akan menemukan keberadaan saya." jawab Alan. Tuan Narendra mengangguk. "Dia memang tak bisa santai sedikit saja." Ucap Narendra. Alan menoleh padanya. Cukup l
" Tuan, kami kehilangan jejak Tuan muda Alan." ucap Anak buahnya dengan suara bergetar. Brak Robert menggebrak meja. "Bagaimana bisa, hah!" Seru Robert. "Sebenarnya, kami sudah kehilangan dia sejak dua minggu yang lalu. Hanya saja kami masih percaya diri bisa menemukannya secepatnya. Tapi, jurang tempat Tuan Alan kecelakaan begitu dalam. Kami sudah menyusuri jejaknya di sekitar jurang hingga beberapa kilo meter jauhnya tapi nihil." jawab Anak buahnya. Robert mengepalkan tangannya. Bagaimana pun ia masih membutuhkan Alan. "Teruskan pencarian! Temukan anak itu secepat mungkin!" Seru Robert menyentuh dadanya. Hubungan ayah dan anak tak dipungkirin sedikit menggoyahkannya. Dalam hati kecilnya, ia tak ingin kehilangan Alan. Tapi, egonya begitu kuat hingga mengalahkan nuraninya. "Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya anak buahnya. Persey yang juga berada disana tapi tak berani mendekat. Ia masih belum bisa terlihat dalam jangkauan Robert akibat kesalahan yang ia lakukan sebelum
Melisa membeku melihat Alan. Lelaki ini kenapa bisa berada di tempat ini? Padahal jarak sekolah dan rumahnya lumayan jauh. Badan Melisa sedikit bergetar. Dia memegang tas ranselnya erat-erat. Melisa melihat sekeliling. Tak ada orang lain lagi selain mereka. "Kamu tinggal disini?" tanya Alan. "Iya, Mr Alan." jawab Melisa gugup. "Saya permisi." Ucap Melisa melanjutkan langkahnya. Jantungnya berdetak kencang ketika melewati Alan. "Kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Alan. Langkah Melisa terhenti. "Permisi, Mr Alan. Saya buru-buru." jawab Melisa setengah berlari. Alan memperhatikan dari jauh. "Dia benar-benar takut padaku?" tanyanya tersenyum geli. Lelaki itu kemudian berjalan searah dengan Melisa. Ia terus memperhatikan Melisa yang semakin mempercepat langkahnya. Dua kali gadis itu hampir tersandung. Melisa menoleh dan terkejut melihat Alan berjalan ke arahnya. Ketika hampir sampai di rumahnya, Melisa kebingungan. Dia tak ingin Alan mengetahui dimana rumahnya. "Saya







