MasukRobert terduduk di depan ruang ICU. Detik demi detik serasa sangat lama. Untuk pertama kali dalam hidupnya; ia duduk menunggu seperti ini. Meski melukai harga dirinya, sepertinya ia tak peduli. Lalu lalang orang tak ia perdulikan. Anak buahnya hanya bisa memandangnya dari jarak yang jauh namun bisa dijangkau. Mereka saling pandang. Harusnya Tuannya senang Camelia yang sebelum kembali disumpahi mati itu benar-benar pergi. Namun kenapa semua tak sesuai harapan mereka. Tuan mereka jatuh frustasi seperti kehilangan separuh jiwanya.
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan Persey? Kalau Nyonya pergi kita akan salahkan. Tuan bisa membunuh kita."ucap anak buah Persey. Namun lelaki itu hanya diam. Dia sendiri bergelut dengan pikirannya. Ia memandang Tuannya yang terus menatap pintu ruang ICU. Ia menghela nafas. "Kalian siapkan diri. Mudah-mudahan nyawa kita masih selamat setelah ini. "ucap Persey. Anak buahnya merinding. Lidah mereka kelu. Teringat keluarga mereka yang masih membutuhkan nafkah dari mereka. Pintu ruang ICU terbuka. Beberapa dokter dan perawat keluar. "Gimana?" Tanya Robert dingin. Dokter yang ditanya berkeringat dingin bahkan sebelum keluar ruangan. Ia seolah sudah yakin akan nasib hidupnya. "Kami sudah berusaha sebisa mungkin. Namun racun itu terlampau kuat. Maafkan kami."ucap Dokter lanjut usia itu tenang. Sebenarnya, ia tak bertugas malam ini. Namun, saat mengetahui bahwa pasien yang harus di selamatkan adalah istri Robert. Ia mengambil alih tugas Dokter muda yang seharusnya bertugas. Ia sudah lanjut usia. Ia yakin Robert akan membunuhnya kalau gagal. Dan ia akan menjadi tameng. Semua yang terlihat dalam penanganan Camelia hidupnya memang tak lama lagi. Sebagian besar mereka adalah pasien penyakit serius namun tak menular. Mereka mengajukan diri. Sadar bahwa tak mungkin pasien bisa selamat maka nyawa melayang. Mati sekarang atau nanti, sama saja bukan. Kini, sang pencabut nyawa itu ada di depan mereka. Meski mereka siap mati, tetap saja badan mereka tetap bergetar. Robert menarik kerah dokter lanjut usia itu. "Aku tak menerima kegagalan. Aku beri kesempatan kalian lagi. Kalau gagal jangan harap aku bisa memberi kalian hidup. Bahkan keluarga kalian akan aku buru sampai tak ada yang tersisa." Ucap Robert dingin. Dokter itu tersentak dan mengangguk. Mereka pun masuk lagi. Robert kali ini mengikuti mereka. Para medis itu tak melarang. Karena memang sudah tak ada harapan lagi. Salah satu Dokter melakukan chatt di grup tanpa sepengetahuan Robert. Lelaki itu konsentrasi pada Camelia yang tertidur tenang dengan wajah pucat. Dokter itu mengangguk pada Dokter tua. Mereka kembali berjibaku menangani pasien. Beberapa perawat mengusap air mata mereka. Setelah satu jam lamanya, Para medis itu pasrah. "Apa yang kalian lakukan?! Jangan berhenti!" Seru Robert Panik. "Periksa lagi!" Perintah Robert. Dokter tua itu menggeleng. Robert menatap Camelia. Pertahanannya runtuh. Ia berlari ke arah Camelia. "Bangun! Jangan begini! Aku belum memaafkanmu! Bangun! Camelia! Siapa yang menyuruhmu pergi! Camelia! Bangun!" Pekik Robert memeluk Camelia. Untuk pertama kalinya sejak kekasihnya meninggal, Ia berteriak pilu. Para medis yang melihatnya hanya bisa menahan nafas. Beberapa menangis tanpa suara. "Bangun! Kamu ngga di ijinkan pergi!" Teriak Robert. Air matanya mengalir setelah sekian lama. Untuk Camelia. Wanita yang tak pernah diberinya sikap hangat. "Jangan biarkan aku makin membencimu, Camelia! Bangun!" seru Robert menangis pilu. "Tuan...." Salah satu Dokter memberanikan diri menegurnya pelan Robert menoleh dengan mata merah dan penuh kemurkaan. "Kalian hadapi anak buahku! Pergi!" Seru Robert tajam. Para Dokter itu keluar. Robert memeluk Camelia erat. "Harusnya tidak begini. Kenapa kamu nekat? Aku ngga mengijinkanmu meninggalkanku. Aku belum puas melihatmu kesakitan." Ucapnya membelai wajah pucat Camelia. Robert tak punya tenaga untuk membunuh para medis yang gagal menyelamatkan nyawa Camelia. Jika tidak, ruangan ini sudah banjir akan darah. Robert mengangkat badan lemah Camelia. Ia membawanya keluar dengan wajah dingin namun kali ini bercampur kesedihan. Persey mendekat. "Habisi mereka! Jangan biarkan siapapun lolos!" Seru Robert dingin. "Tuan, apa anda sudah pastikan Nyonya meninggal? Atau anda ingin memindahkannya ke rumah sakit lain?" Tanya Persey. Robert menggeleng. "Saya akan kawal anda kembali."Ucap Persey. Robert memandangnya tajam. "Baik, saya akan laksanakan tugas anda." Ucap Persey tanpa melawan. "Siapkan pengawetan jenazah!" seru Robert menghentikan langkahnya. Persey terkejut. "Apa kamu tuli?!" Seru Robert. "Baik." Ucap Persey. Robert kembali menggendong Camelia menuju parkiran. Para pengawalnya mengelilingi keduanya. Robert hanya diam dengan wajah dingin. Ia masuk dengan Camelia tetap dipangkuannya. "Kalian dengar perintah Tuan kita?" tanya Persey. Anak buahnya mengangguk. ****** Seorang wanita menaiki mobil sedan hitam. Mobil itu kini membelok memasuki area apartemen. Ia turun dengan langkah ringan. Meski ia tahu nyawanya bisa terancam setiap saat. Namun ia yakin, kali ini ia akan bebas sebebas-bebasnya. Harga yang harus ia bayar untuk kebebasannya sangatlah menyakitkan. Ia naik ke lantai paling atas. Dimana seseorang tak terduga sedang menunggunya. Setelah lift terbuka, ia keluar menuju unit paling mewah di apartemen itu. Wanita itu mengetuk pintu. Seorang pelayan pria membuka pintu. "Anda sudah datang? Tuan sudah menunggu anda." Ucap pelayan itu ramah. Wanita itu mengangguk. Ia berjalan sambil mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut ruangan yang ia lewati. Ia membatin," Dia hidup nyaman rupanya." Wanita itu tiba di sebuah pintu bercat hitam mengkilap. Ia menghela nafas pelan. Pelayan pria itu mengetuk pintu. "Tuan muda, Nyonya sudah datang." Seru Pelayan itu. "Suruh ia masuk!" Seru Suara lelaki dari dalam ruangan. Pelayan itu membukakan pintu untuk wanita itu. keduanya masuk ke dalam ruangan. Wanita itu memandang pria yang berdiri memandang jendela. "Silahkan anda duduk dulu, Nyonya. Anda mau minum apa?" Tanya pelayan itu. "Kopi hitam saja. Gulanya sedikit."Jawab Wanita itu. "Kalau begitu, saya akan siapkan untuk anda."Ucap Pelayan itu. Wanita itu mengangguk. Wanita itu pun duduk di sofa. Ia akan menunggu lelaki itu mendatanginya. Wanita itu sepertinya paham kalau ia tak bisa menganggu ketenangan lelaki itu saat memandang keluar jendela. Lelaki itu berbalik. Wanita itu tersenyum. "Alan." Ucapnya. Lelaki yang tak lain adalah Alan itu mendekat. "Anda berhasil, Nyonya Camelia. Bagaimana rasanya mengelabuhi lelaki paling ditakuti sepanjang hidupmu?" Tanya Alan dengan senyum miring. Wanita yang tak lain adalah Camelia itu tersenyum lebar. "Menyenangkan. Meski aku penasaran bagaimana reaksinya. Tapi, aku tak ingin menengok ke belakang lagi. Aku sangat berterima kasih. Kamu memang cerdik. Pantas Bibi Sandy memintaku menghubungimu saat kondisi terdesak." jawab Camelia. "Tapi, bagaimana kamu tahu aku akan menghubungimu. Dan, wanita yang mirip denganku itu....?" Tanya Camelia penasaran. Alan tak menjawab. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya. "Tiket sudah dipesan. Anda seharusnya segera berangkat kan."ucap Alan menyerahkan tiket pesawat untuk Camelia. "Soraya Kim?" Tanya Camelia mengernyit. "Nama anda yang baru. Setelah tiba disana. Akan ada teman saya yang membantu anda. Berhati-hatilah. Mata-mata lelaki itu ada dimana-mana." Ucap Alan datar. Camelia mengangguk. "Kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa, Alan. Aku tak pernah melupakan pertolonganmu."Ucap Camelia. Alam tersenyum. Camelia tertegun. Alan sangat jarang tersenyum. Ia merasakan debaran di hatinya. Namun, ia harus segera pergi. Tak banyak waktu tersisa. Jangan sampai kebebasan yang ia dapatkan sia-sia."Tuan Gilbert, Tuan Robert menyuruh anda terbang ke London. Mari, kami akan menemani anda dan teman-teman anda selama perjalanan kesana." Ucap Persey. Gilbert sudah berbangga hati. Persey adalah tangan kanan terdekat Robert. Jadi, dia meyakini kalau dia akan mendapatkan penghargaan besar kali ini. Ia menginginkan sebuah pulau di wilayah asia tenggara yang akan ia jadikan pulau pribadi. Dan Gilbert sudah ngga sabar menantikan hal itu. Sementara Persey diberikan kesempatan sekali lagi, menangani seorang seperti Gilbert. "Persey, apa Tuan sangat puas dengan kinerjaku kali ini. Saya sudah merencanakan hal ini sangat lama. Jadi, kalau berhasil itu bukanlah hal yang mengherankan."Ucap Gilbert sumringah. Persey mencibir dalam hati. Berhasil katanya. Padahal apa yang ia lakukan membuat Tuannya rugi sangat besar. Namun, Persey menahan diri untuk tak menunjukkan ketidak sukaannya. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Membuat buruannya kabur. Sebuah pesawat komersil menunggu me
Alan dan anak buahnya berada di dalam kamar hotel. Memantau pergerakan anak buahnya di Penang. Dan benar saja . Banyak gadis-gadis remaja hingga dewasa disekap disana. Kamera tersembunyi terus bergerak. Keduanya menahan nafas. Tak mudah membebaskan mereka. Anak buah Tuan Narendra terpaksa bekerjasama dengan Polisi setempat. Tidak seperti sebelumnya yang bisa bergerak sendiri. Meski resikonya besar. Tuan Narendra tak punya pilihan lain. Waktunya sangat mendesak. Tuan Narendra dan Alan harus bisa memastikan para tawanan itu bisa kembali ke keluarganya dengan selamat. "Alan! Ngga ingin ambil bagian?" Tanya Tuan Narendra yang berdiri di ambang pintu. Alan menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Mana mungkin saya melewatkan kesempatan langka ini." Ucap Alan bangkit. Ia sudah siap dengan stelan seragam pelayan di balik mantelnya. "Hati-hati! Nanti gadis cantikmu ada yang ngambil jika kamu gagal." Goda Tuan Narendra. Meski terdengar berisik di telinganya. Alan memilih diam saja. Alan tur
Melisa sedang berjalan menuju jalan besar seperti biasanya. Kali ini ia mengenakan masker dan topi. Dua hari yang lalu, ada dua orang yang mencari keluarga kakaknya. Untungnya, keluarganya baru setahun pindah. Dan orang tuanya hanya berinteraksi dengan tetangga sekitar rumahnya saja. Nama Mala yang tinggal di Jakarta rupanya ada beberapa. Herannya tetangga desa ada yang bernama sama dengan kakaknya juga meninggal karena kecelakaan. Sungguh suatu kebetulan sekali. Dan dua orang itu tak tahu nama lengkap Kakaknya. Di data rumah sakit, hanya tertera nama Mala saja. Bukan Nirmala Rastati. Melisa yang berjalan santai tertegun melihat dua orang yang kemarin mencarinya berdiri di pinggir jalan besar. Gadis itu menghela nafas dan berjalan tenang menunggu angkot yang lewat. Melisa duduk di tempat duduk panjang dari semen. "Kamu yakin gadis itu yang dimaksud?" tanya Salah satu dari mereka. "Salah satu keluarga yang meninggal bernama Mala. Aku sudah menyelidiki kemungkinan lain. Tapi, ga
Lelaki dengan gurat senyum mirip Robert Potter itu membuat Alan membeku. Bedanya, Tuan Narendra berkulit sedikit lebih gelap dan tak kemerah-merahan khas bule. Tinggi mereka hampir sama. Hanya surai putih yang terlihat dari rambutnya yang hitam dibandingkan dengan Robert yang semu kecoklatan. Alan sempat mengira lelaki di depannya adalah Robert yang menyamar menjadi orang lain. "Mendekatlah, Keponakanku!" Seru Tuan Narendra. Alan menelan ludah susah payah. "Keponakan?" tanya Alan dalam hati. Selama berhadapan dengan Tuan Narendra, baru kali ini lelaki itu menyebut ia keponakan. Alan duduk dengan ragu di depan lelaki itu. Senyumnya ramah. Kebalikan dengan Robert yang terkesan bengis. "Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu kabur dari mereka." Ucap Tuan Narendra. "Hanya sementara. Saya yakin cepat atau lambat mereka akan menemukan keberadaan saya." jawab Alan. Tuan Narendra mengangguk. "Dia memang tak bisa santai sedikit saja." Ucap Narendra. Alan menoleh padanya. Cukup l
" Tuan, kami kehilangan jejak Tuan muda Alan." ucap Anak buahnya dengan suara bergetar. Brak Robert menggebrak meja. "Bagaimana bisa, hah!" Seru Robert. "Sebenarnya, kami sudah kehilangan dia sejak dua minggu yang lalu. Hanya saja kami masih percaya diri bisa menemukannya secepatnya. Tapi, jurang tempat Tuan Alan kecelakaan begitu dalam. Kami sudah menyusuri jejaknya di sekitar jurang hingga beberapa kilo meter jauhnya tapi nihil." jawab Anak buahnya. Robert mengepalkan tangannya. Bagaimana pun ia masih membutuhkan Alan. "Teruskan pencarian! Temukan anak itu secepat mungkin!" Seru Robert menyentuh dadanya. Hubungan ayah dan anak tak dipungkirin sedikit menggoyahkannya. Dalam hati kecilnya, ia tak ingin kehilangan Alan. Tapi, egonya begitu kuat hingga mengalahkan nuraninya. "Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya anak buahnya. Persey yang juga berada disana tapi tak berani mendekat. Ia masih belum bisa terlihat dalam jangkauan Robert akibat kesalahan yang ia lakukan sebelum
Melisa membeku melihat Alan. Lelaki ini kenapa bisa berada di tempat ini? Padahal jarak sekolah dan rumahnya lumayan jauh. Badan Melisa sedikit bergetar. Dia memegang tas ranselnya erat-erat. Melisa melihat sekeliling. Tak ada orang lain lagi selain mereka. "Kamu tinggal disini?" tanya Alan. "Iya, Mr Alan." jawab Melisa gugup. "Saya permisi." Ucap Melisa melanjutkan langkahnya. Jantungnya berdetak kencang ketika melewati Alan. "Kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Alan. Langkah Melisa terhenti. "Permisi, Mr Alan. Saya buru-buru." jawab Melisa setengah berlari. Alan memperhatikan dari jauh. "Dia benar-benar takut padaku?" tanyanya tersenyum geli. Lelaki itu kemudian berjalan searah dengan Melisa. Ia terus memperhatikan Melisa yang semakin mempercepat langkahnya. Dua kali gadis itu hampir tersandung. Melisa menoleh dan terkejut melihat Alan berjalan ke arahnya. Ketika hampir sampai di rumahnya, Melisa kebingungan. Dia tak ingin Alan mengetahui dimana rumahnya. "Saya







