LOGINJantung Mala berdetak kencang. Ia terus berdiri melihat Camelia yang sekarang mengikuti dua orang menyeramkqn itu.
"Duduk neng! Bapak ngga bisa lihat TV kalau kamu berdiri terus!" tegur Seorang kakek tua di belakang Mala. Gadis itu tersenyum sungkan. Dia meraba dalam tas ranselnya. "Jika mereka mencari barang ini dan tak menemukannya ada pada kak Camelia berarti..." Mala semakin memucat. Tapi, dia harus menjaga amanah. Dia teringat adiknya yang sangat cerdik. Mala mengeluarkan sebuah buku dan menuliskan sesuatu. Ia mengambil selotip kecil di dompet pulpennya. Ia bungkus lagi benda itu dengan tas plastik berwarna hitam dan menyelotip bagian yang terbuka. Kertas yang ia tulis ia lipat dua dan selotip di bagian depan bungkusan itu. Ia menulis nama adiknya disana. "Mel, jika aku ngga selamat. Aku harap kamu bisa meneruskan benda ini pada yang berhak."gumamnya memejamkan mata. -------------- "Nyonya, anda jauh sekali jalan-jalannya?" Sindir Persy. Camelia tak menjawab. Ia memilih bungkam. Camelia memasuki mobil milik anak buah Robert Potter. Sikapnya membuat Persy tak suka. Tapi dia harus menahan diri. Camelia duduk dengan tenang. Biarpun hidupnya akan berakhir sebentar lagi, setidaknya benda berharga itu ada di tangan yang tepat. Ia berharap Mala bisa meneruskan tugasnya dari Bibi Sandy. Mengingat wanita tua itu, ia cemas. Robert pasti akan menghukumnya dengan begitu kejam. Hatinya makin teriris mengingat penyakit mematikan yang diidap oleh Bibi Sandy. "Aku tak akan biarkan kamu menyiksa jiwaku lagi, Robert. Kamu hanya akan menemui jasadku ketika kita bertemu. Aku tak akan ijinkan kamu tertawa lagi."gumamnya penuh dendam. Camelia menggenggam botol kecil ditangannya. Botol yang sengaja ia ambil dari tas milik Bibi Sandy. Benda ini yang akan membuat seorang Robert kehilangan tawanya seumur hidupnya. "Wah, rupanya angin Asia telah merubahmu, Nyonya. Sepertinya kamu sudah siap mati." Sindir Persy. Semua yang mendengarnya tertawa. Camelia tak bereaksi. Ia duduk di samping Persy tanpa banyak bicara. Ia ogah meladeni lelaki itu. Matanya ia pejamkan. Biarkan saja lelaki ini ngoceh hingga berbusa sekalipun. Ia tak peduli. Persy mengepalkan tangannya. Jika dia mau, dia bisa habisi wanita ini. Atau bersenang-senang dahulu dengan tubuhnya sebelum itu. Namun peringatan Robert sangat jelas. Ia tak boleh menyentuhnya seujung kuku sekalipun. Bagaimana pun caranya,ia harus membawa Camelia tanpa cacat. Padahal beberapa hari setelah kepergian Camelia. Lelaki itu sangat ingin membunuhnya. Entah kenapa Tuannya itu berubah pikiran. Membuat ia harus bersabar menghadapi sikap Camelia yang menyebalkan. Camelia digiring menuju pesawat. Sebuah pesawat pribadi menyambutnya. Ia duduk dengan pengawasan yang ketat. Ia memandang jendela. "Aku memang tak ditakdirkan bahagia. Bahkan disisa waktuku."gumamnya sedih. Tapi setidaknya, ia sempat menghirup udara bebas meski sebentar. Setelah menempuh waktu panjang. Ia sampai di London. Camelia semakin menggenggam erat botol itu. Saat tak ada yang menyadari. Ia membuka botol itu dan memakan pil yang ada di dalamnya. Reaksinya mungkin tak akan langsung. Tapi cukup hingga sampai berdiri di hadapan lelaki kejam itu. Hal ini membuat Camelia puas. Robert selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Apa jadinya jika apa yang ia harapkan tak berjalan sesuai rencana. Saat di mobil, Camelia merasakan pusing di kepalanya. Ia tahu, pil itu sudah mulai bereaksi. sedikit lagi. Mobil kini masuk ke sebuah pekarangan mansion megah milik Robert potter. Simbol kejayaannya di kota ini. Camelia di giring masuk. Bau anyir darah tercium ketika ia mulai memasuki ruangan pertama. Jantungnya kini berdebar. Sekuat tenaga ia menahan bobot tubuhnya agar bisa berjalan dengan tegap dan tenang. Rasa sakit mulai menjalar. Dia melihat pemandangan mengerikan. Di depan sana, Tepat dibawah kaki lelaki itu. Bibi Sandy tergeletak bersimbah darah. Ia tahu, sebelum mencapai ajalnya, lelaki itu pasti sudah menyiksanya begitu kejam. Camelia memandangnya tajam. "Istriku tercinta..Akhirnya kamu pulang. Apakah kamu tahu kalau aku sangat merindukanmu?" Tanya Robert menyeringai. Badan Camelia begidik. Ia begitu muak. Suara lelaki itu membuatnya semakin mual. Apalagi pil yang berisi racun itu semakin bekerja. Ia menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Dadanya semakin sakit dan sesak. "Kemarilah!" seru Robert dengan suara lembut namun mengundang ancaman. Camelia mendekat. Pandangannya hampir kabur. Sebelum mencapai badan Robert. Camelia sudah ambruk setelah memuntahkan darah segar dari mulutnya. Robert terkejut. "Camelia!" serunya Syok. Robert menarik badan Camelia ke dalam pelukannya. Sudah terlambat. Wanita yang ia siksa lahir dan batinnya kini telah pergi. "Bangun! Apa yang terjadi padamu! Bangun! Camelia!" Pekik Robert. Anak buahnya baru kali ini melihat Tuannya sedemikian frustasi. Robert menyorot Persy. "Apa yang kalian lakukan padanya?!" Serunya dalam kemarahan. "Kami tak melakukan apapun, Tuan. Nyonya bahkan sangat tenang selama perjalanan." Jawab Persy. Botol pil yang di pegang Camelia menggelinding. Robert mengambil dan mencium dalamnya. Dia terkejut. "Tidak! Apa yang kamu lakukan!" Seru Robert menggendong Camelia keluar Mansion. "Rumah sakit sekarang!" Serunya dengan muka merah. Ia masuk dan meletakkan Kepala Camelia di pangkuannya. "Kamu ngga boleh pergi! Aku belum puas bermain-main denganmu! Bangun, bodoh!" seru Robert Frustasi. Ia semakin gelisah. "Kamu tak boleh pergi! Kamu dengar! Camelia!" Seru Robert. Ia memandang wajah Camelia yang pucat namun tampak tenang. Memberi Robert pemahaman bahwa hidupnya akan jauh lebih hampa setelah ini. Ia menggenggam tangan Camelia begitu erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan kehilangan yang begitu besar. ------------------"Tuan Gilbert, Tuan Robert menyuruh anda terbang ke London. Mari, kami akan menemani anda dan teman-teman anda selama perjalanan kesana." Ucap Persey. Gilbert sudah berbangga hati. Persey adalah tangan kanan terdekat Robert. Jadi, dia meyakini kalau dia akan mendapatkan penghargaan besar kali ini. Ia menginginkan sebuah pulau di wilayah asia tenggara yang akan ia jadikan pulau pribadi. Dan Gilbert sudah ngga sabar menantikan hal itu. Sementara Persey diberikan kesempatan sekali lagi, menangani seorang seperti Gilbert. "Persey, apa Tuan sangat puas dengan kinerjaku kali ini. Saya sudah merencanakan hal ini sangat lama. Jadi, kalau berhasil itu bukanlah hal yang mengherankan."Ucap Gilbert sumringah. Persey mencibir dalam hati. Berhasil katanya. Padahal apa yang ia lakukan membuat Tuannya rugi sangat besar. Namun, Persey menahan diri untuk tak menunjukkan ketidak sukaannya. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Membuat buruannya kabur. Sebuah pesawat komersil menunggu me
Alan dan anak buahnya berada di dalam kamar hotel. Memantau pergerakan anak buahnya di Penang. Dan benar saja . Banyak gadis-gadis remaja hingga dewasa disekap disana. Kamera tersembunyi terus bergerak. Keduanya menahan nafas. Tak mudah membebaskan mereka. Anak buah Tuan Narendra terpaksa bekerjasama dengan Polisi setempat. Tidak seperti sebelumnya yang bisa bergerak sendiri. Meski resikonya besar. Tuan Narendra tak punya pilihan lain. Waktunya sangat mendesak. Tuan Narendra dan Alan harus bisa memastikan para tawanan itu bisa kembali ke keluarganya dengan selamat. "Alan! Ngga ingin ambil bagian?" Tanya Tuan Narendra yang berdiri di ambang pintu. Alan menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Mana mungkin saya melewatkan kesempatan langka ini." Ucap Alan bangkit. Ia sudah siap dengan stelan seragam pelayan di balik mantelnya. "Hati-hati! Nanti gadis cantikmu ada yang ngambil jika kamu gagal." Goda Tuan Narendra. Meski terdengar berisik di telinganya. Alan memilih diam saja. Alan tur
Melisa sedang berjalan menuju jalan besar seperti biasanya. Kali ini ia mengenakan masker dan topi. Dua hari yang lalu, ada dua orang yang mencari keluarga kakaknya. Untungnya, keluarganya baru setahun pindah. Dan orang tuanya hanya berinteraksi dengan tetangga sekitar rumahnya saja. Nama Mala yang tinggal di Jakarta rupanya ada beberapa. Herannya tetangga desa ada yang bernama sama dengan kakaknya juga meninggal karena kecelakaan. Sungguh suatu kebetulan sekali. Dan dua orang itu tak tahu nama lengkap Kakaknya. Di data rumah sakit, hanya tertera nama Mala saja. Bukan Nirmala Rastati. Melisa yang berjalan santai tertegun melihat dua orang yang kemarin mencarinya berdiri di pinggir jalan besar. Gadis itu menghela nafas dan berjalan tenang menunggu angkot yang lewat. Melisa duduk di tempat duduk panjang dari semen. "Kamu yakin gadis itu yang dimaksud?" tanya Salah satu dari mereka. "Salah satu keluarga yang meninggal bernama Mala. Aku sudah menyelidiki kemungkinan lain. Tapi, ga
Lelaki dengan gurat senyum mirip Robert Potter itu membuat Alan membeku. Bedanya, Tuan Narendra berkulit sedikit lebih gelap dan tak kemerah-merahan khas bule. Tinggi mereka hampir sama. Hanya surai putih yang terlihat dari rambutnya yang hitam dibandingkan dengan Robert yang semu kecoklatan. Alan sempat mengira lelaki di depannya adalah Robert yang menyamar menjadi orang lain. "Mendekatlah, Keponakanku!" Seru Tuan Narendra. Alan menelan ludah susah payah. "Keponakan?" tanya Alan dalam hati. Selama berhadapan dengan Tuan Narendra, baru kali ini lelaki itu menyebut ia keponakan. Alan duduk dengan ragu di depan lelaki itu. Senyumnya ramah. Kebalikan dengan Robert yang terkesan bengis. "Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu kabur dari mereka." Ucap Tuan Narendra. "Hanya sementara. Saya yakin cepat atau lambat mereka akan menemukan keberadaan saya." jawab Alan. Tuan Narendra mengangguk. "Dia memang tak bisa santai sedikit saja." Ucap Narendra. Alan menoleh padanya. Cukup l
" Tuan, kami kehilangan jejak Tuan muda Alan." ucap Anak buahnya dengan suara bergetar. Brak Robert menggebrak meja. "Bagaimana bisa, hah!" Seru Robert. "Sebenarnya, kami sudah kehilangan dia sejak dua minggu yang lalu. Hanya saja kami masih percaya diri bisa menemukannya secepatnya. Tapi, jurang tempat Tuan Alan kecelakaan begitu dalam. Kami sudah menyusuri jejaknya di sekitar jurang hingga beberapa kilo meter jauhnya tapi nihil." jawab Anak buahnya. Robert mengepalkan tangannya. Bagaimana pun ia masih membutuhkan Alan. "Teruskan pencarian! Temukan anak itu secepat mungkin!" Seru Robert menyentuh dadanya. Hubungan ayah dan anak tak dipungkirin sedikit menggoyahkannya. Dalam hati kecilnya, ia tak ingin kehilangan Alan. Tapi, egonya begitu kuat hingga mengalahkan nuraninya. "Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya anak buahnya. Persey yang juga berada disana tapi tak berani mendekat. Ia masih belum bisa terlihat dalam jangkauan Robert akibat kesalahan yang ia lakukan sebelum
Melisa membeku melihat Alan. Lelaki ini kenapa bisa berada di tempat ini? Padahal jarak sekolah dan rumahnya lumayan jauh. Badan Melisa sedikit bergetar. Dia memegang tas ranselnya erat-erat. Melisa melihat sekeliling. Tak ada orang lain lagi selain mereka. "Kamu tinggal disini?" tanya Alan. "Iya, Mr Alan." jawab Melisa gugup. "Saya permisi." Ucap Melisa melanjutkan langkahnya. Jantungnya berdetak kencang ketika melewati Alan. "Kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Alan. Langkah Melisa terhenti. "Permisi, Mr Alan. Saya buru-buru." jawab Melisa setengah berlari. Alan memperhatikan dari jauh. "Dia benar-benar takut padaku?" tanyanya tersenyum geli. Lelaki itu kemudian berjalan searah dengan Melisa. Ia terus memperhatikan Melisa yang semakin mempercepat langkahnya. Dua kali gadis itu hampir tersandung. Melisa menoleh dan terkejut melihat Alan berjalan ke arahnya. Ketika hampir sampai di rumahnya, Melisa kebingungan. Dia tak ingin Alan mengetahui dimana rumahnya. "Saya







