Home / Mafia / Diary Mafia yang hilang / Bab 8 Rasa yang muncul

Share

Bab 8 Rasa yang muncul

Author: noeha_noe
last update publish date: 2026-01-26 10:20:51

Melisa dalam perjalanan menuju Jakarta bersama ayahnya. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Dia melirik ayahnya. Meski tenang, ia tahu, ayahnya sangat cemas.

Melisa menggenggam tangan ayahnya.

"Ayah baik-baik saja."ucap Pak Pandu menenangkan putrinya.

"Aku yakin kak Mala baik-baik saja."ucap Melisa.

Pak Pandu mengangguk.

"Tidurlah. Perjalanan masih beberapa jam lagi."ucap lelaki paruh baya itu.

Melisa mengangguk.

Ia memandang jendela. Teringat telphon terakhir kakaknya yang mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 21 Lelaki kemayu

    Alan terpana melihat seseorang yang duduk dengan anggun di depan matanya. Ia mengenakan selendang khas india lengkap dengan hiasan di kepala mirip dewi. Sari di badannya berwarna orange menyala dengan gelang-gelang emas dan perhiasan emas di bagian perut. Yang membuat janggal adalah badannya yang kekar dan tato yang ada si sebagian badannya. Ia seperti lelaki yang disulap secara buru-buru menjadi wanita. "Dia Oslo?" tanya Alan tak percaya. Tuan Narendra tersenyum canggung, lebih terlihat seperti cengiran aneh. "Devy! Sajikan teh untuk tamu kita. Bukankah teh yang baru kamu bawa dari Jepang sangat nikmat." ucap Oslo dengan acuh tak acuh. Oslo kemudian memperhatikan kedua tamu asing di depan matanya. Dia terpaku melihat Tuan Narendra. Ia tampak gugup dan menjadi salah tingkah. Oslo berdehem untuk meredakan kegugupannya. "Kenapa dia mirip sekali dengan Tuan." gumamnya kesal. "Aku tak suka dibujuk." Ucap Oslo tak jelas ditujukan pada siapa. Tangannya sedikit bergetar ketika

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 20 Pertemuan

    Pesawat yang di tumpangi Robert tiba di Bandara Internasional Beijing. Lelaki berambut sebahu dengan sorot mata tajam dan wajah dingin itu berjalan memasuki pintu kedatangan. Saat menuju arah keluar, ia berpapasan dengan seorang wanita berambut coklat dengan mata khas biru yang indah. Bau parfumnya membuatnya menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya dan melihat seorang sosialita berjalan menuju arah kepergian. Di sampingnya, seorang lelaki dengan wajah khas melayu memegang bahunya dengan erat. Mereka seperti sepasang pasangan yang sedang berbulan madu. "Hentikan wanita itu!" Seru Robert yang masih di dengar pasangan itu. Anak buah Robert menghentikan keduanya. Badan wanita itu bergetar. Cengkeraman tangannya di lengan lelaki itu mengengcang. Lelaki di sampingnya terlihat menenanglannya dan meyakinkannya semua baik-baik saja. Robert berjalan mendekat. Kedua orang itu tampak bingung secara alami. Wanita itu mendongak ketika Robert sudah berdiri di depannya. Robert menda

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 19 Menyongsong nyawa

    "Tuan Gilbert, Tuan Robert menyuruh anda terbang ke London. Mari, kami akan menemani anda dan teman-teman anda selama perjalanan kesana." Ucap Persey. Gilbert sudah berbangga hati. Persey adalah tangan kanan terdekat Robert. Jadi, dia meyakini kalau dia akan mendapatkan penghargaan besar kali ini. Ia menginginkan sebuah pulau di wilayah asia tenggara yang akan ia jadikan pulau pribadi. Dan Gilbert sudah ngga sabar menantikan hal itu. Sementara Persey diberikan kesempatan sekali lagi, menangani seorang seperti Gilbert. "Persey, apa Tuan sangat puas dengan kinerjaku kali ini. Saya sudah merencanakan hal ini sangat lama. Jadi, kalau berhasil itu bukanlah hal yang mengherankan."Ucap Gilbert sumringah. Persey mencibir dalam hati. Berhasil katanya. Padahal apa yang ia lakukan membuat Tuannya rugi sangat besar. Namun, Persey menahan diri untuk tak menunjukkan ketidak sukaannya. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Membuat buruannya kabur. Sebuah pesawat komersil menunggu me

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 18 Ceroboh

    Alan dan anak buahnya berada di dalam kamar hotel. Memantau pergerakan anak buahnya di Penang. Dan benar saja . Banyak gadis-gadis remaja hingga dewasa disekap disana. Kamera tersembunyi terus bergerak. Keduanya menahan nafas. Tak mudah membebaskan mereka. Anak buah Tuan Narendra terpaksa bekerjasama dengan Polisi setempat. Tidak seperti sebelumnya yang bisa bergerak sendiri. Meski resikonya besar. Tuan Narendra tak punya pilihan lain. Waktunya sangat mendesak. Tuan Narendra dan Alan harus bisa memastikan para tawanan itu bisa kembali ke keluarganya dengan selamat. "Alan! Ngga ingin ambil bagian?" Tanya Tuan Narendra yang berdiri di ambang pintu. Alan menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Mana mungkin saya melewatkan kesempatan langka ini." Ucap Alan bangkit. Ia sudah siap dengan stelan seragam pelayan di balik mantelnya. "Hati-hati! Nanti gadis cantikmu ada yang ngambil jika kamu gagal." Goda Tuan Narendra. Meski terdengar berisik di telinganya. Alan memilih diam saja. Alan tur

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 17 Tangkapan besar

    Melisa sedang berjalan menuju jalan besar seperti biasanya. Kali ini ia mengenakan masker dan topi. Dua hari yang lalu, ada dua orang yang mencari keluarga kakaknya. Untungnya, keluarganya baru setahun pindah. Dan orang tuanya hanya berinteraksi dengan tetangga sekitar rumahnya saja. Nama Mala yang tinggal di Jakarta rupanya ada beberapa. Herannya tetangga desa ada yang bernama sama dengan kakaknya juga meninggal karena kecelakaan. Sungguh suatu kebetulan sekali. Dan dua orang itu tak tahu nama lengkap Kakaknya. Di data rumah sakit, hanya tertera nama Mala saja. Bukan Nirmala Rastati. Melisa yang berjalan santai tertegun melihat dua orang yang kemarin mencarinya berdiri di pinggir jalan besar. Gadis itu menghela nafas dan berjalan tenang menunggu angkot yang lewat. Melisa duduk di tempat duduk panjang dari semen. "Kamu yakin gadis itu yang dimaksud?" tanya Salah satu dari mereka. "Salah satu keluarga yang meninggal bernama Mala. Aku sudah menyelidiki kemungkinan lain. Tapi, ga

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 16 Keponakan Tuan Narendra

    Lelaki dengan gurat senyum mirip Robert Potter itu membuat Alan membeku. Bedanya, Tuan Narendra berkulit sedikit lebih gelap dan tak kemerah-merahan khas bule. Tinggi mereka hampir sama. Hanya surai putih yang terlihat dari rambutnya yang hitam dibandingkan dengan Robert yang semu kecoklatan. Alan sempat mengira lelaki di depannya adalah Robert yang menyamar menjadi orang lain. "Mendekatlah, Keponakanku!" Seru Tuan Narendra. Alan menelan ludah susah payah. "Keponakan?" tanya Alan dalam hati. Selama berhadapan dengan Tuan Narendra, baru kali ini lelaki itu menyebut ia keponakan. Alan duduk dengan ragu di depan lelaki itu. Senyumnya ramah. Kebalikan dengan Robert yang terkesan bengis. "Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu kabur dari mereka." Ucap Tuan Narendra. "Hanya sementara. Saya yakin cepat atau lambat mereka akan menemukan keberadaan saya." jawab Alan. Tuan Narendra mengangguk. "Dia memang tak bisa santai sedikit saja." Ucap Narendra. Alan menoleh padanya. Cukup l

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 12 Apa aku menakutkan?

    Melisa keluar rumah untuk berangkat sekolah. Ia memelankan langkahnya karena melihat kesibukan di rumah seberang. Rumah itu sedang dibersihkan secara besar-besaran. Tadinya, ia hanya rumah kosong yang terkesan horor karena di tumbuhi semak belukar hingga mencapai rumah. Jika tak ada pagar besi, ora

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 15 Bertemu Tuan Narendra

    " Tuan, kami kehilangan jejak Tuan muda Alan." ucap Anak buahnya dengan suara bergetar. Brak Robert menggebrak meja. "Bagaimana bisa, hah!" Seru Robert. "Sebenarnya, kami sudah kehilangan dia sejak dua minggu yang lalu. Hanya saja kami masih percaya diri bisa menemukannya secepatnya. Tapi,

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 7 Perasaan Camelia

    "Tuan, jaga diri anda selama berada disana. Pasti tak mudah berada di tempat asing. Apalagi baru pertama kali." Ucap Pelayan pribadinya. "Saya akan baik-baik saja. Paman juga harus menjaga diri. Selama saya tak ada, tolong jenguk Ibu saya."Ucap Alan. "Tentu, Tuan." Ucap Pelayan itu tersenyum.

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 13 Buku Diary yang membingungkan

    Persey memandang Poem dengan tajam. Sejak kematian Camelia, ia menjadi tangan kanan paling dipercaya Robert. Seharusnya ia tak meremehkannya dahulu. Hanya karena membawa Camelia dalam keadaan sekarat, ia kini dinomor duakan. Namun, ia hanya bisa diam. Persey tak berani mengganggu lelaki ini sekarang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status