共有

Dibalik Alasan Lembur Suamiku
Dibalik Alasan Lembur Suamiku
作者: Senjaa_2111

Keretakan Rumah Tangga

作者: Senjaa_2111
last update 公開日: 2026-07-30 01:34:43

Menunggu adalah pekerjaan yang paling melelahkan. Ketika seseorang tak lagi memberikan kepastian. Malam itu, Sarah kembali duduk seorang di meja makan. Beberapa lauk sudah tersaji sejak beberapa jam lalu, namun tak ada satupun dari menu tersebut yang sempat tersentuh. Sudah dua kali sarah menghangatkan lauk yang dimasaknya . Setiap kali uang tipis kembali mengepul dari panci, harapan itu ikut menghangat.

Ia percaya, sebentar lagi suara kendaraan milik Farhan akan terdengar di halaman. Namun, waktu terus berjalan, sama halnya dengan makanan yang mulai mendingin kehilangan kehangatannya. Sesekali ia melirik jam dinding, menatap layar ponsel, menintip jalan dari balik tirai jendela ruang tamu, lalu kembali duduk ketika yang lewat adalah kendaraan milik tetangganya. Tatapannya menyapu jalanan yang mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas lalu menghilang ditelan gelapnya malam.

Sarah memeluk lengannya sendiri berusaha mengusir rasa dingin yang entah berasal dari dingin malam atau dari kegelisahan yang sejak tadi menggerogoti hatinya. Ia melirik kalender yang tergantung di dinding. Hari itu seharusnya menjadi hari yang sederhana, namun membahagiakan.

Ia sengaja memasak banyak makanan kesukaan Farhan, berharap mereka bisa menikmati makanan bersama dipenuhi canda, tawa seperti dulu. Namun, hingga hari semakain larut lelaki itu tak kunjung pulang bahkan memberikan kabar pun tidak.

Dimana sebenarnya Farhan? Lemburkah? Atau terjadi sesuatu dalam perjalanan pulang? Ah, mungkin Farhan sedang lembur. Bukankah akhir-akhir ini pekerjaannya memang sedang menumpuk? Namun, kenapa jika Farhan sedang lembur mengapa tidak mengabarinya? Ah, mungkin Farhan lupa atau handphonenya lawbat. Lagi dan lagi Sarah berusaha meyakinkan dirinya sendiri, meskipun di dalam hatinya, ia meraskan alasan itu terdengar dipaksakan.

“Ya, ampun Mas kamu kemana?” ucap Sarah setengah frustasi.

Sekali lagi, Sarah meraih benda pipih berwarna hitam yang tergelak begitu saja di atas meja makan. Jari jemarinya menekan nama kontan ‘my husband’ yang berada di urutan palaing atas log panggilan pada ponselnya.

Tut....

Nada sambung terdengar memenuhi ruang sunyi, namun seseorang di sebrang sana tak kunjung menjawab panggilannya. Sekali, dua kali, tiga kali, namun tak ada jawaban hingga akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya. Sarah menarik nafas pelan, ia mencoba menelepon suaminya untuk kesekian kalinya, namun kali ini panggilan berstatus ‘memanggil’ lalu ia mencoba mengirim pesan dan ternyata ceklis dua. Yang dimana artinya Farhan sedang melakukan panggilan dengan oranglain. Ia sedikit lega karena tandanya Farhan baik-baik saja, namun kecurigaan mulai mengetuk hatinya.

Kamu pulang jam berapa?

Aku sudah masak kesukaan Mas

Mas lembur?

Mas balas pesanku

Sarah menggenggam ponselnya sedikit lebih erat lagi. Ingatannya melayang pada Farhan beberapa tahun lalu. Lelaki itu tak pernah lupa mengabarinya jika pulang terlamabat. Bahkan ketika mampir membeli makanan sebuah pesan singkat selalu dikirim agar Sarah tak khawatir menunggunya. Bukan hanya itu, bahkan apapun yang terjadi di kantor seperti gosip sekalipun selalu lelaki itu bercerita.

Aku mampir beli martabak.

Sayang, ada gosip baru di kantor haha.

Nanti aku ceritain kalau udah di rumah.

Sarah tersenyum miris. Entah sejak kapan kebiasaan itu perlahan-lahan pudar lalu menghilang. Pesan-pesan Farhan kini semakin jarang, panggilannya semakin jarang dan perhatian yang dulu begitu sederhana perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit ia temukan.

Waktu menunjukan pukul 23.45 suara deru mesin mobil menyadarkan lamunan Sarah. Ia berdiri, merapihkan rambutnya, lalu berjalan menuju pintu utama sebelum tangan kekar lelaki itu mengetuk pintu. Ia tersenyum. Menghapus raut wajah khawatir yang tadi sempat singgah, meraih tangan Farhan dan menciumnya dan rasa penuh hormat..

“Cape, Mas?” tanya Sarah ketika melihat raut wajah Farhan yang lelah.

“Hm,” ucap Farhan tanpa menatap wajah istirnya.

Lelaki itu melangkah meninggalkan Sarah yang masih berada diambang pintu. Senyum yang tadi ia pertahankan perlahan pudar sedikit demi sedikit ketika indera penciumannya samar-samar mencium aroma parfume yang asing saat Farhan melewatinya. Bukan parfume yang biasa dipakai suaminya. Sarah sempat mengerit, tetapi ia buru-buru menepis prasangka yang mulai bermunculan. Mungkin aroma itu berasal dari rekan kerja yang tak sengaja bersentuhan dengannya. Bukankah terlalu berlebihan jika ia berpikir macam-macam? Meskipun begitu kegelisan di dadanya justru semakin sulit diabaikan.

“ Mas makan malamnya sudah siap. Aku tinggal menghangatkannya sebentar.” Farhan hanya menggeleng pelan. Tanpa menjawab tawaran Sarah ia melangkah masuk ke dalam kamar.

Sarah mematung beberapa saat di depan meja makan. Tatapannyajatuh pada dua piring yang masih tersusun rapih. Perlahan ia menarik salah satu kursi dan duduk. Mengangkat tudung saji perlahan. Jemarinya mengangkat pinggiran mangkuk sup yang sudah dingin sedingin suasana malam ini.

Beberapa jam lalu, ia memasaknya dengan penuh semangat, membayangkan akan makan malam sambil berbincang seperti biasanya.Namun, yang tersisa hanyalqh kekosongan. Sendok dan piring ysng sempat bergeser ia rapikan kembali, meskipun tak akan ada seorsngpun yang menggunakannya malam itu.

Jarak diantara mereka semakin nyata. Bukan karena langkah yang memisahkan, namun, sikap Farhan yang perlahan berubah asing. Seolah Farhan sedang membangun dinding tinggi tak skasat mata. Lelaki itu melepss jam tangannya tanpa menoleh ke arah Sarah sedikipun. Saat Sarah hendak membantu melepaskan jas yang dikenakannya Farhan lebih dulu melepaskannya sendiri dan berlalu meninggalkan Sarah menuju kamar mandi.

Tak ada sapaan, senyuman, tak ada cerita-cerita random yang dibawa Farhan dari kantor. Bahkan tak ada tatapan yang dulu membuat Sarah merasa dicintai dan merasa bahwa dirinya adalah rumah tempat pulang Farhan saat lelah. Memeluknya adalah obat paling mujarab kata Farhan waktu itu, namun sekarang entah kemana kebiasaan itu. Sekarang Sarah merasa dirinya sudah tidak menarik lagi untuk Farhan atau Farhan memang sudah tak nyaman dengan dirinya? Atau Farhan sudah menemukan obat lain diluaran sana? Kini yang terdengar hanyalah derap langkah Farhan ysng semakin menjauh meninggslkan keheningan yang memenuhi setiap sudut rumah mereka.

Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara air keran mulai mengalir. Sarah, bergegas keluar kamar tak lama ia kembali membawa segelas air putih dan menaruhnya di atas nakas. Di sampingnya ponsel terus bergetar. Ia membalik layar ponsel yang menyala itu. Dada Sarah sesak saat pesan itu muncul, nama seseorsng muncul di sana, diikuti sepotong pesan yang belum sempat terbaca semuanya. Jatung Sarah berdegup leibih kencang, tangannya bergetar, air matanya nyaris jatuh. Untuk beberapa detik ia hanya mampu mampu menatap tanpa membalas pesan itu.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dibalik Alasan Lembur Suamiku   Tak Ada Lagi Keraguan

    Jam dinding di ruang tamu menunjukan pukul setengah enam sore. Sarah baru saja selesai membereskan dapur ketika ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Ia melirik sekilas. Nomor tak dikenal itu lagi yang menghubunginya.Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam ujung meja sebelum akhirnya ia meraih ponsel itu. Nomor tersebut tidak pernah menelepon. Selalu hanya mengirim pesan. Dan setiap pesan yang diterimanya selalu membawa kenyataan menyakitkan. Dengan napas yang sedikit tertahan, Sarah membuka isi pesan itu. Tak ada foto maupun video hanya sebuah pesan singkat.Nomor tak di kenal : Kalau kamu ingin tahu bersama siapa suamimu. Datanglah ke Arunika Coffee jam 19.00. Datang sendiri!Sarah membaca pesan itu berulang kali. Dahinya berkerut. Siapakah dibalik pengirim pesan ini? Mengapa seolah ia mengatahui setiap gerak-gerik Farhan. Dan yang paling membuat Sarah bingung, mengapa orang itu begitu ingin membantunya mengetahui kebenarannya?Sarah sege

  • Dibalik Alasan Lembur Suamiku   Tak Bisa Menunda Lagi

    Sinar matahri masuk melalui celah jendela. Sarah membuka gorden perlahan, membiarkan cahaya memenuhi seluruh ruangan. Udara pagi yang sejuk ikut masuk ketika ia membuka jendela, tetapi kesejukan itu membuat tenang pikirannya.Beberapa saat ia hanya berdiri memandangi halaman rumah yang nampak lengang. Dulu suasana pagi selalu menjadi waktu favouritenya. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, ia akan merasa lega dan akan menikmati ketenangan sebelum Farhan pulang di malam hari. Namun sekrang berbeda. Rumah yang selama ini ai jaga sepenuh hati justru membuat dadanya sesak setiap mengingat wajah Farhan dan Nadya. Perlahan pandangannya beralih ke meja kecil di dekat televisi. Di dalam laci meja kecil itu masih tersimpan map berisi bukti-bukti kebohongan Farhan dan pesan dari nomor tak dikenal yang beberapa waktu terakhir selalu menghantuinya. Sarah tidak membukanya, ia hanya memandangi laci itu cukup lama sebelum menghembuskan napas pelan."Aku harus sekuat ini sampai kapan?" bisiknya li

  • Dibalik Alasan Lembur Suamiku   Retak yang Kian Nyata

    Nadya memandang keluar jendela. Sorot lampu jalan yang bergantian melewati kaca mobil membuat wajahnya nampak muram. Beberapa menit kemudian Farhan sampai di depan sebuah apartemen yang ditempati Nadya. Mesin mobil dimatikan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang segera turun. Nadya masih memandang lurus ke depan. "Sayang..." Farhan menoleh."Aku harap kamu mikirin yang tadi aku bilang."Farhan mengangguk pelan. Nadya tersenyum tipis, namun senyum itu tak mampu menutupi kekecewaannya. "Aku nggak mau disembunyiin terus!""Aku ngerti.""Nggak." Nadya menggeleng pelan. "Kamu nggak paham, kalau ngerti udah dari kemaren kamu ambil keputusan."Kalimat itu membuat Farhan terdiam. Ia tak mampu membantah. Ia menatap kedua tangannya yang masih menggenggam setir. Ia sadar segala kerumitan yang terjadi dalam hidupnya sendiri adalah konsikuensi dari apa yang di perbuatnya. Dari hal yang awalnya main-main hingga terbawa arus sejauh ini. Sampai pada akhirnya ia harus memilih keputusan, tetap

  • Dibalik Alasan Lembur Suamiku   Awal Sebuah Jawaban dan Jejak Nadya

    Setelah membereskan ruang tamu dan mencuci peralatan makan, Sarah kembali duduk di sofa. Pandangannya tanpa mengarah ke arah meja kecil di samping televisi. Di sanalah ia menyimpan map berisi bukti-bukti yang selama beberapa hari terakhir terus menghantuinya. Perlahan Sarah membuka laci itu. Tangannya mengambil map, lalu mengeluarkan beberapa lembar hasil cetak foto dan tangkapan layar pesan dari nomor misterius itu. Ia menghamparkan semuanya di atas meja. Tatapannya pindah dari satu bukti ke bukti lainnya. Mulai dari foto Farhan bersama perempuan itu di kafe, foto mereka memasuki apartemen dan foto selfi yang membuat hatinya benar-benar hancur. Sarah memejamkan mata sejenak, berusaha menetralkan rasa sakit yang mulai muncul ke permukaan. Andai semua ini hanya kesalahpahaman. Andai ada penjelasan yang mampu menghapus keraguan di hatinya. Namun semakin banyak bukti yang ia lihat, harapan itu justru semakin memudar. Ia ingat ucapan Silvia kemarin."Jangan buru-buru mengonfrontasi Farh

  • Dibalik Alasan Lembur Suamiku   Dibalik Kata Lembur

    Pagi datang tanpa membawa ketenangan. Sarah terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat setelah semalaman nyari tak terpejam. Setiap kali memejamkan mata, bayangan foto yang dikirim nomor misterius itu kembali menghantuinya. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. Setelah membasuh wajah, Sarah menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap. Ia menghembuskan napas pelan, lalu berusaha merapihkan tampilannya. Setidaknya, ia tak ingin Farhan menyadari kalau semalaman ia menangis. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya. Semuanya dilakukan tanpa hanyak berpikir, seolah tubuhnya sudah hafal dengan baik rutinitas pagi. Pintu kamar terbuka. Farhan keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapih. Pandangannya hanya sekilah mengarah ke meja makan sebelum menarik kursi dan duduk."Pagi," ucapnya datar."Pagi," jawab Sarah pelan.Keheningan kembali memenuhi ruangan. Farhan menaikmat

  • Dibalik Alasan Lembur Suamiku   Bukti Diatas Ranjang

    Sarah menatap pintu lobi apartemen yang tertutup rapat. Sudah lebihndari dua puluh menit berlalu sejak Farhan dan perempuan itu masuk ke dalam. Selama itu pula, Sarah tidak beranjak dari kemudi. Beberapa kali pintu lobi terbuka. Ada penghuni yang keluar masuk membawa kantong belanjaan, ada juga yang membawa koper di tangannya. Namun, tak ada satu pun diantara mereka adalah Farhan atau perempuan itu. "Sarah...." Silvia memecah keheningan." Kita mau nunggu sampai kapan di sini?" Sarah menggeleng pelan, tatapannya masih lurus memperhatikan pintu lobi. "Aku nggak tahu."Tangga Sarah masih bertumpu di atas setir. Pandnagannya tak pernah lepas dari pintu masuk apartemen, seokah berharap Farhan muncul kapan saja. "Kalau memang dia ada urusan harusnya dari tadi udah keluar," gumam Silvia. Sejujurnya ia sangat kesal pada lelaki itu bisa-bisanya memainkan sahabatnya. Sarah terdiam. Batinnya berperang mencari alasan yang masuk akal. Mungkin ada rapat? Mungkin bertemu klien? Atau mungkin...

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status