LOGINKoper besar terbuka di lantai kamar.Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.Yuha tersenyum kecil.“Iya, Bu.”Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.Yuha terdiam sebentar.“Senang… tapi juga takut.”Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.Hyunsik akhirnya melangkah masuk.“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat
Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:3 WEEKS TO LAUNCHDirektur berdiri di ujung meja.“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”“Konsep visual harus final minggu ini.”“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”Divisi kreatif menyela,“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.Direktur menatapnya.“Bagaimana?”Suho berdiri tanpa terburu-buru.“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”Beberapa orang terlihat bingung.“Aku punya satu lagu.”Sunyi.“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”Divisi pemasaran mengangguk.“Lebih aman untuk teaser.”Direktur menyipitkan mata.“K
Lalu Nama Itu Dipanggil“Yuha.”Ia masuk.Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.Hanya stabil.Musik dimulai.Yuha menyanyikan bait pertama.Suasana ruangan masih biasa.Minjae masih menatap tanpa ekspresi.Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.Bersih.Dalam.Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.Caranya menari.Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.Ia menggema.Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.Tangannya diam.tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.Bukan karena terkejut.Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.Sunyi.Bukan sunyi canggung.Tapi sunyi karena memproses.Minjae menutup mapnya.Wajahnya berubah.Tidak lagi lelah.Tapi ada harapan disana._Pintu ditutup.Yuha dan trainee lain menun
“Kau tahu… dan membiarkannya?”Pertanyaan itu pelan.Menusuk.Suho tidak menghindar.“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”Kejujuran itu berat.“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”Suho melangkah sedikit lebih dekat.“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ancaman.”Hyunsik masih menatapnya.Mencari kebohongan.Mencari keraguan.Tidak ada.Hanya tekad.“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”Suara Suho tidak keras.Tapi solid.“Dan aku akan selalu menjaganya.”Kalimat itu menggantung.Hyunsik akhirnya duduk perlahan.Ia menghela napas panjang.“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”Ia menatap Suho.“Dia selalu memilih diam.”Suho mengangguk.“Aku tahu.”“Kalau kau serius dengan dia…”Hyunsik berhenti sebentar.Nada suaranya berubah lebih dalam.“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”Itu bukan ancaman.Itu permintaan.Suho menjawab tanpa ra
Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”Dunia Yuha seperti berhenti.“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”Kalimat itu terdengar jauh.Seolah tidak ditujukan padanya.“Saya… dikeluarkan?”Pelatih Lee mengangguk tegas.“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.Beberapa trainee masih berdiri di luar.Mereka semua melihatnya.Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”Bisik-bisik kembali terdengar.“Serius ya…”“Dia yang ambil USB?”“Padahal dia sangat berbakat…”Yuha mendengar semuanya.Setiap kata seperti jarum kecil.Dahyun berdiri di barisan belakang.Tatapannya lurus.Tid
Beberapa trainee masih mengobrol.Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”Yuha tersenyum malu.“Ah, nggak juga…”Tawa itu.Nada rendah hati itu.Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.Tapi matanya menangkap sesuatu.USB di atas meja.Ia mengenalnya.Itu USB evaluasi.Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.Ruangan mulai sepi.Beberapa trainee keluar satu per satu.Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.Dahyun berjalan perlahan ke meja.Ia berhenti.Menatap USB itu.Tangannya tidak langsung bergerak.Ia menoleh ke arah Yuha.Yuha tidak melihatnya.Terlalu sibuk tersenyum.Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”Tangannya bergerak.Perlahan.Ia mengambil USB itu.Ringan.Tapi terasa berat di tangannya.Tidak ada suara.Tidak ada yang memperhatikan.







