Share

6. Tuduhan

Author: Ravelyn Ash
last update Last Updated: 2026-03-10 14:24:39

Beberapa trainee masih mengobrol.‎

Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.‎

‎“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”‎

Yuha tersenyum malu.‎

‎“Ah, nggak juga…”‎

Tawa itu.‎

Nada rendah hati itu.‎

Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.‎

Tapi matanya menangkap sesuatu.‎

USB di atas meja.‎

Ia mengenalnya.‎

Itu USB evaluasi.‎

Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.‎

Ruangan mulai sepi.‎

Beberapa trainee keluar satu per satu.‎

Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.‎

Dahyun berjalan perlahan ke meja.‎

Ia berhenti.‎

Menatap USB itu.‎

Tangannya tidak langsung bergerak.‎

Ia menoleh ke arah Yuha.‎

Yuha tidak melihatnya.‎

Terlalu sibuk tersenyum.‎

Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.‎

‎“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎

Tangannya bergerak.‎

Perlahan.‎

Ia mengambil USB itu.‎

Ringan.‎

Tapi terasa berat di tangannya.‎

Tidak ada suara.‎

Tidak ada yang memperhatikan.‎

Ia memasukkannya ke dalam saku hoodie-nya.‎

Wajahnya tenang.‎

Bukan panik.‎

Bukan terburu-buru.‎

Tenang.‎

Ia tidak tahu persis apa yang akan ia lakukan.‎

Tapi satu hal jelas.‎

Ia ingin tahu.‎

Ia ingin memastikan.‎

Apakah benar Yuha sudah melampauinya?

Dahyun berdiri sebentar.‎

Tangannya menyentuh saku hoodie tempat USB itu berada.‎

Detak jantungnya tidak cepat.‎

Ia tidak merasa bersalah.‎

Ia hanya merasa… tertinggal.‎

Dan ia membenci perasaan itu.‎

Hari ini ia mengambil USB itu bukan karena rencana sudah matang.‎

Tapi karena ia ingin bukti.‎

‎—‎

Malam itu di kamar Dahyun

Lampu meja menyala redup.‎

Laptop terbuka dan ia memasukkan USB tersebut.‎

Dahyun menatap layar beberapa detik sebelum membuka folder.‎

📁 Monthly Evaluation – Internal Only

📁 Trainee Ranking

📁 Debut Candidate Notes

Tangannya berhenti sejenak di atas mouse.‎

Ia klik.‎

File ranking terbuka.‎

Matanya langsung mencari namanya sendiri.‎

Ia menemukannya.‎

Posisi 5.‎

Grade: C.‎

Catatan:‎

‎“Tidak menunjukkan perkembangan signifikan dalam 6 bulan terakhir.”‎

Napasnya tertahan.‎

Ia scroll sedikit.‎

Dan melihat nama di atas.‎

1.‎ Yuha – A

‎“Perkembangan sangat pesat. Vokal stabil. Kandidat kuat main vocal.”‎

Ruangan terasa sunyi.‎

Tidak ada suara selain angin malam yang masuk lewat jendela.‎

Dahyun membaca ulang untuk memastikan.

Perkembangan sangat pesat.

Kandidat kuat main vocal.‎

Tangannya mulai gemetar.‎

Bukan karena kaget.‎

Tapi karena ini resmi.‎

Bukan lagi perasaan.‎

Bukan lagi kecurigaan.‎

Ini sudah keputusan sistem.‎

Yuha bukan hanya “lebih dipuji”.‎

Yuha sudah dipilih.‎

Dahyun menutup file itu.‎

Lalu membuka satu video evaluasi.‎

Suara Yuha memenuhi kamar kecilnya.‎

Nada tingginya stabil.‎

Lebih bersih dari suara nya sendiri.‎

Dahyun mematikan video itu tiba-tiba.‎

Sunyi.‎

Ia duduk diam.‎

Matanya kosong.‎

Dalam kepalanya hanya pikiran yang berputar:‎

Aku yang membawanya ke sini.‎

Aku yang pertama bermimpi.‎

Tapi dia yang akan debut.‎

Ia tertawa kecil.‎

Tawa yang tidak terdengar sehat.‎

“Hebat sekali ya, Yuha.”‎

Ia mencabut USB perlahan.‎

Menatap benda kecil itu.‎

Ini bukan lagi tentang merasa kecil.‎

Ini tentang bertahan.‎

Kalau Yuha naik.‎

Ia akan hilang.‎

Dan Dahyun tidak mau hilang.‎

Wajahnya mengeras.‎

Tatapannya berubah.‎

Dingin.‎

Keputusan itu lahir tanpa air mata.‎

Tanpa ragu.‎

“Lihat saja besok Yuha, Aku akan membuat ranking itu tidak berguna lagi bagimu”

-

Ruang Latihan AURORA

Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya.‎

Yuha datang lebih awal.‎

Ia berdiri di depan cermin, melakukan pemanasan vokal kecil.‎

Nada-nadanya lebih stabil hari ini.‎

Ia ingin membuktikan.‎

Bukan pada Dahyun.‎

Tapi pada dirinya sendiri.‎

Pintu ruang latihan terbuka.‎

Dahyun masuk.‎

Wajahnya tenang.‎

Terlalu tenang.‎

Yuha menoleh dan tersenyum kecil.‎

‎“Pagi.”‎

Dahyun mengangguk tipis.‎

‎“Pagi.”‎

Tidak ada pertengkaran.‎

Tidak ada sindiran.‎

Justru itu yang membuatnya aneh.‎

Yuha ingin bicara lagi.‎

Tapi pelatih masuk.‎

‎“Semua siap? Kita mulai evaluasi ulang bagian chorus.”‎

Latihan dimulai.‎

Musik menyala.‎

Semua trainee fokus pada gerakan.‎

Tas-tas mereka ditumpuk di sudut ruangan, seperti biasa.‎

Yuha meletakkan tasnya tanpa curiga.‎

Dahyun melihatnya.‎

Satu kali.‎

Lalu kembali ke posisi.‎

Latihan berjalan hampir tiga puluh menit.‎

Keringat mulai turun.‎

Pelatih kim menghentikan musik.‎

‎“Saya tinggal sebentar ya. lanjutkan latihannya sendiri.”‎

Ia pun keluar.‎

Pintu tertutup.‎

Ruangan kembali dipenuhi suara napas yang berat dan gesekan sepatu.‎

Dahyun melihat ke arah sudut ruangan.‎

Semua trainee sedang mengulang koreografi bersama.‎

Tidak ada yang memperhatikan tas.‎

Ia menarik napas pelan.‎

Tangannya masuk ke saku hoodie.‎

USB hitam itu ada di sana.‎

Ia melangkah mundur pelan.‎

Pura-pura mengambil botol minum.‎

Tangannya bergerak cepat.‎

Satu langkah.‎

Dua langkah.‎

Ia berlutut di dekat tas-tas para trainee.‎

Gerakan yang tampak biasa.‎

Seolah hanya mencari keberadaan tas nya.‎

Dalam satu detik—‎

Ritsleting tas Yuha dibuka sedikit.‎

USB diselipkan di antara buku dan pouch makeup.‎

Ritsleting ditutup kembali.‎

Selesai.‎

Dahyun berdiri.‎

Jantungnya berdetak.‎

Tapi wajahnya tidak berubah.‎

Musik masih menyala.‎

Tidak ada yang melihat.‎

Semuanya terlalu fokus Latihan.

Ia kembali ke barisan.‎

Yuha bahkan tidak sadar Dahyun ke belakang.

Beberapa menit kemudian pelatih Kembali dengan wajah yang terlihat tegang.‎

“Sebelum lanjut,” katanya, “USB evaluasi saya hilang.”‎

Ruangan langsung hening.‎

‎“Itu berisi data penting. Ranking trainee. Catatan debut.”‎

Beberapa trainee saling pandang.‎

Yuha mengerutkan kening.‎

Dahyun menatap lurus ke depan.‎

‎“Saya tinggalkan di meja kemarin. Tidak mungkin keluar sendiri dari ruangan ini.”‎

Suasana berubah berat.‎

‎“Kalau tidak ada yang mengaku, saya periksa tas kalian satu per satu.”‎

Tidak ada yang bergerak.‎

Yuha merasa jantungnya berdetak lebih cepat.‎

Ia tidak tahu kenapa.‎

Satu per satu tas diperiksa.‎

Suara ritsleting terdengar seperti dentuman.‎

Yuha mencoba tetap tenang.‎

Ia tidak melakukan apa-apa.‎

Ketika pelatih membuka tas trainee di sebelahnya—‎

Kosong.‎

Lalu tas berikutnya.‎

Kosong.‎

Dahyun berdiri tanpa ekspresi.‎

Dan akhirnya…

Pelatih berhenti di depan tas Yuha.‎

‎“Yuha.”‎

Suara itu membuat semua kepala menoleh.‎

Yuha melangkah maju pelan.‎

‎“Ya, sunbaenim?”‎

Pelatih membuka tasnya.‎

Menggeser buku.‎

Mengangkat pouch.‎

Dan di sana…

USB hitam kecil itu terlihat jelas.‎

Waktu seperti berhenti.‎

Semua trainee membeku.‎

Yuha menatap benda itu seolah melihat sesuatu yang asing.‎

‎“Itu bukan…”‎

Pelatih mengangkatnya tinggi-tinggi.‎

‎“Jelaskan.”‎

Suara bisik-bisik mulai terdengar.‎

‎“Serius dia ambil?”‎

“mentang-mentang selalu dipuji ya…”

“sepertinya dia sudah merasa bakalan debut…”

Yuha menggeleng cepat.‎

‎“Saya tidak tahu itu ada di sana. Saya tidak pernah…”‎

Pelatih memotong.‎

‎“Ini data rahasia. Bukan untuk trainee.”‎

Tatapan pelatih mulai berubah.‎

Bukan lagi kagum.‎

Tapi curiga.‎

Bagaimana tidak? Yuha selama ini Adalah trainee yang paling ia banggakan, terlalu terkejut saat mengetahui bahwa Yuha lah yang mengambil USB itu.

Dan di antara mereka,

Dahyun berdiri.‎

Wajahnya datar.‎

Tidak tersenyum.‎

Tidak juga terkejut.‎

Hanya diam.‎

Suasana masih tegang.‎

‎“Semua keluar dulu. Kecuali Yuha.”‎

Trainee lain saling pandang.‎

Bisik-bisik mulai terdengar.‎

Dahyun berjalan melewati Yuha.‎

Tanpa menatapnya.‎

Tanpa berkata apa pun.‎

Tapi langkahnya tenang.‎

Terlalu tenang.‎

Pintu tertutup.‎

Ruangan hanya tersisa Yuha dan dua pelatih.‎

Pelatih Kim dan satu lagi, Pelatih Lee.‎

USB itu diletakkan di meja.‎

‎“Ini ditemukan di tasmu,” kata Pelatih Lee datar.‎

Yuha menunduk, jari-jarinya gemetar.‎

‎“ sunbaenim, Saya benar-benar tidak tahu bagaimana itu bisa ada di sana.”‎

Pelatih Kim menatapnya lama.‎

‎“Yuha, kamu tahu isi USB ini?”‎

Yuha menggeleng.‎

‎“Itu berisi ranking trainee. Video evaluasi. Catatan kandidat debut.”‎

Yuha membeku.‎

Ranking.‎

Debut.‎

Ia bahkan tidak pernah melihatnya.‎

Pelatih Lee bersuara lagi.‎

‎“Tidak ada CCTV di ruangan ini. Tidak ada bukti siapa yang mengambilnya. Yang ada hanya fakta bahwa ‎‎itu ditemukan di tasmu.”‎

‎“Sunbaenim, saya bersumpah…”‎

‎“Kejujuran lebih penting daripada bakat,” potong Pelatih Lee tegas.‎

‎“Percuma kamu berbakat kalau tidak punya rasa tanggung jawab.”‎

Kata-kata itu menghantam seperti palu.‎

Pelatih Kim terlihat ragu.‎

Ia terlihat tidak mau melepas Yuha begitu saja.

‎“Lee-ssi… kita tidak bisa langsung menyimpulkan. Yuha selama ini…”‎

‎“Justru karena dia selama ini bagus,” jawab Pelatih Lee dingin. ‎

‎“Kalau trainee seperti dia saja tidak jujur, apa yang akan terjadi nanti setelah debut?”‎

Yuha menahan napasnya yang bergetar.‎

‎“Sunbaenim, Saya bersumpah tidak pernah membuka USB itu.”‎

Air mata mulai menggenang, tapi ia berusaha tidak membiarkannya jatuh.‎

‎“Saya juga tidak pernah mengambilnya.”‎

Pelatih Kim tampak bimbang. Ia tidak ingin trainee kesayangannya itu dikeluarkan, tapi disaat yang sama ia juga tidak bisa membiarkan seseorang yang tidak jujur tetap bertahan disini.

‎“Kita tahu kamu berkembang cepat, Yuha. Kamu juga salah satu kandidat kuat.”‎

Kalimat itu membuat dada Yuha terasa sesak.‎

Kandidat kuat?

Ia bahkan tidak tahu itu.‎

‎“Tapi perusahaan tidak bisa mentolerir pelanggaran etika.”‎

Pelatih Lee menyilangkan tangan.‎

‎“Kalau kita membiarkan ini, trainee lain akan berpikir aturan bisa dilanggar.”‎

‎“Sunbaenim…” suara Yuha semakin kecil, “tolong percaya pada saya.”‎

Sunyi.‎

Beberapa detik yang terasa sangat lama.‎

Pelatih Kim menunduk, terlalu berat untuk mengatakan ini.

‎“Yuha.”‎

Hanya namanya.‎

Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎

‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   11. The First Recording

    Koper besar terbuka di lantai kamar.‎Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.‎‎“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.‎Yuha tersenyum kecil.‎“Iya, Bu.”‎Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti‎“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.‎Yuha terdiam sebentar.‎‎“Senang… tapi juga takut.”‎Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.‎‎“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”‎Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.‎Hyunsik akhirnya melangkah masuk.‎‎“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”‎“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”‎Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   10. Cara Lain Untuk Menjaga

    Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:‎‎3 WEEKS TO LAUNCH‎Direktur berdiri di ujung meja.‎‎“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”‎Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.‎‎“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”‎“Konsep visual harus final minggu ini.”‎“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”‎Divisi kreatif menyela,‎“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”‎Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.‎Direktur menatapnya.‎“Bagaimana?”‎Suho berdiri tanpa terburu-buru.‎‎“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”‎Beberapa orang terlihat bingung.‎‎“Aku punya satu lagu.”‎Sunyi.‎‎“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”‎‎“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”‎Divisi pemasaran mengangguk.‎“Lebih aman untuk teaser.”‎Direktur menyipitkan mata.‎“K

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   9. Harapan Baru

    Lalu Nama Itu Dipanggil‎“Yuha.”‎Ia masuk.‎Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.‎Hanya stabil.‎Musik dimulai.‎Yuha menyanyikan bait pertama.‎Suasana ruangan masih biasa.‎Minjae masih menatap tanpa ekspresi.‎Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.‎Bersih.‎Dalam.‎Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.‎Caranya menari.‎Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.‎Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.‎Ia menggema.‎Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.‎Tangannya diam.‎tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.‎Bukan karena terkejut.‎Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.‎Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.‎Sunyi.‎Bukan sunyi canggung.‎Tapi sunyi karena memproses.‎Minjae menutup mapnya.‎Wajahnya berubah.‎Tidak lagi lelah.‎Tapi ada harapan disana.‎_‎Pintu ditutup.‎Yuha dan trainee lain menun

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   8. Haneul Music Lab

    “Kau tahu… dan membiarkannya?”‎Pertanyaan itu pelan.‎Menusuk.‎Suho tidak menghindar.‎“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”‎Kejujuran itu berat.‎‎“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”‎Suho melangkah sedikit lebih dekat.‎‎“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ‎ancaman.”‎Hyunsik masih menatapnya.‎Mencari kebohongan.‎Mencari keraguan.‎Tidak ada.‎Hanya tekad.‎‎“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”‎Suara Suho tidak keras.‎Tapi solid.‎“Dan aku akan selalu menjaganya.”‎Kalimat itu menggantung.‎Hyunsik akhirnya duduk perlahan.‎Ia menghela napas panjang.‎‎“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”‎Ia menatap Suho.‎‎“Dia selalu memilih diam.”‎Suho mengangguk.‎‎“Aku tahu.”‎‎“Kalau kau serius dengan dia…”‎Hyunsik berhenti sebentar.‎Nada suaranya berubah lebih dalam.‎‎“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”‎Itu bukan ancaman.‎Itu permintaan.‎Suho menjawab tanpa ra

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   7. Dikeluarkan

    Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎Dunia Yuha seperti berhenti.‎‎“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”‎Kalimat itu terdengar jauh.‎Seolah tidak ditujukan padanya.‎‎“Saya… dikeluarkan?”‎Pelatih Lee mengangguk tegas.‎‎“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”‎Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.‎Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.‎Beberapa trainee masih berdiri di luar.‎Mereka semua melihatnya.‎Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:‎‎“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”‎Bisik-bisik kembali terdengar.‎‎“Serius ya…”‎‎“Dia yang ambil USB?”‎‎“Padahal dia sangat berbakat…”‎Yuha mendengar semuanya.‎Setiap kata seperti jarum kecil.‎Dahyun berdiri di barisan belakang.‎Tatapannya lurus.‎Tid

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   6. Tuduhan

    Beberapa trainee masih mengobrol.‎Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.‎‎“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”‎Yuha tersenyum malu.‎‎“Ah, nggak juga…”‎Tawa itu.‎Nada rendah hati itu.‎Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.‎Tapi matanya menangkap sesuatu.‎USB di atas meja.‎Ia mengenalnya.‎Itu USB evaluasi.‎Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.‎Ruangan mulai sepi.‎Beberapa trainee keluar satu per satu.‎Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.‎Dahyun berjalan perlahan ke meja.‎Ia berhenti.‎Menatap USB itu.‎Tangannya tidak langsung bergerak.‎Ia menoleh ke arah Yuha.‎Yuha tidak melihatnya.‎Terlalu sibuk tersenyum.‎Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.‎‎“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎Tangannya bergerak.‎Perlahan.‎Ia mengambil USB itu.‎Ringan.‎Tapi terasa berat di tangannya.‎Tidak ada suara.‎Tidak ada yang memperhatikan.‎

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status