LOGINBeberapa trainee masih mengobrol.
Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain. “Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.” Yuha tersenyum malu. “Ah, nggak juga…” Tawa itu. Nada rendah hati itu. Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya. Tapi matanya menangkap sesuatu. USB di atas meja. Ia mengenalnya. Itu USB evaluasi. Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee. Ruangan mulai sepi. Beberapa trainee keluar satu per satu. Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya. Dahyun berjalan perlahan ke meja. Ia berhenti. Menatap USB itu. Tangannya tidak langsung bergerak. Ia menoleh ke arah Yuha. Yuha tidak melihatnya. Terlalu sibuk tersenyum. Dahyun teringat kalimat pelatih tadi. “Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.” Tangannya bergerak. Perlahan. Ia mengambil USB itu. Ringan. Tapi terasa berat di tangannya. Tidak ada suara. Tidak ada yang memperhatikan. Ia memasukkannya ke dalam saku hoodie-nya. Wajahnya tenang. Bukan panik. Bukan terburu-buru. Tenang. Ia tidak tahu persis apa yang akan ia lakukan. Tapi satu hal jelas. Ia ingin tahu. Ia ingin memastikan. Apakah benar Yuha sudah melampauinya? Dahyun berdiri sebentar. Tangannya menyentuh saku hoodie tempat USB itu berada. Detak jantungnya tidak cepat. Ia tidak merasa bersalah. Ia hanya merasa… tertinggal. Dan ia membenci perasaan itu. Hari ini ia mengambil USB itu bukan karena rencana sudah matang. Tapi karena ia ingin bukti. — Malam itu di kamar Dahyun Lampu meja menyala redup. Laptop terbuka dan ia memasukkan USB tersebut. Dahyun menatap layar beberapa detik sebelum membuka folder. 📁 Monthly Evaluation – Internal Only 📁 Trainee Ranking 📁 Debut Candidate Notes Tangannya berhenti sejenak di atas mouse. Ia klik. File ranking terbuka. Matanya langsung mencari namanya sendiri. Ia menemukannya. Posisi 5. Grade: C. Catatan: “Tidak menunjukkan perkembangan signifikan dalam 6 bulan terakhir.” Napasnya tertahan. Ia scroll sedikit. Dan melihat nama di atas. 1. Yuha – A “Perkembangan sangat pesat. Vokal stabil. Kandidat kuat main vocal.” Ruangan terasa sunyi. Tidak ada suara selain angin malam yang masuk lewat jendela. Dahyun membaca ulang untuk memastikan. Perkembangan sangat pesat. Kandidat kuat main vocal. Tangannya mulai gemetar. Bukan karena kaget. Tapi karena ini resmi. Bukan lagi perasaan. Bukan lagi kecurigaan. Ini sudah keputusan sistem. Yuha bukan hanya “lebih dipuji”. Yuha sudah dipilih. Dahyun menutup file itu. Lalu membuka satu video evaluasi. Suara Yuha memenuhi kamar kecilnya. Nada tingginya stabil. Lebih bersih dari suara nya sendiri. Dahyun mematikan video itu tiba-tiba. Sunyi. Ia duduk diam. Matanya kosong. Dalam kepalanya hanya pikiran yang berputar: Aku yang membawanya ke sini. Aku yang pertama bermimpi. Tapi dia yang akan debut. Ia tertawa kecil. Tawa yang tidak terdengar sehat. “Hebat sekali ya, Yuha.” Ia mencabut USB perlahan. Menatap benda kecil itu. Ini bukan lagi tentang merasa kecil. Ini tentang bertahan. Kalau Yuha naik. Ia akan hilang. Dan Dahyun tidak mau hilang. Wajahnya mengeras. Tatapannya berubah. Dingin. Keputusan itu lahir tanpa air mata. Tanpa ragu. “Lihat saja besok Yuha, Aku akan membuat ranking itu tidak berguna lagi bagimu” - Ruang Latihan AURORA Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Yuha datang lebih awal. Ia berdiri di depan cermin, melakukan pemanasan vokal kecil. Nada-nadanya lebih stabil hari ini. Ia ingin membuktikan. Bukan pada Dahyun. Tapi pada dirinya sendiri. Pintu ruang latihan terbuka. Dahyun masuk. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Yuha menoleh dan tersenyum kecil. “Pagi.” Dahyun mengangguk tipis. “Pagi.” Tidak ada pertengkaran. Tidak ada sindiran. Justru itu yang membuatnya aneh. Yuha ingin bicara lagi. Tapi pelatih masuk. “Semua siap? Kita mulai evaluasi ulang bagian chorus.” Latihan dimulai. Musik menyala. Semua trainee fokus pada gerakan. Tas-tas mereka ditumpuk di sudut ruangan, seperti biasa. Yuha meletakkan tasnya tanpa curiga. Dahyun melihatnya. Satu kali. Lalu kembali ke posisi. Latihan berjalan hampir tiga puluh menit. Keringat mulai turun. Pelatih kim menghentikan musik. “Saya tinggal sebentar ya. lanjutkan latihannya sendiri.” Ia pun keluar. Pintu tertutup. Ruangan kembali dipenuhi suara napas yang berat dan gesekan sepatu. Dahyun melihat ke arah sudut ruangan. Semua trainee sedang mengulang koreografi bersama. Tidak ada yang memperhatikan tas. Ia menarik napas pelan. Tangannya masuk ke saku hoodie. USB hitam itu ada di sana. Ia melangkah mundur pelan. Pura-pura mengambil botol minum. Tangannya bergerak cepat. Satu langkah. Dua langkah. Ia berlutut di dekat tas-tas para trainee. Gerakan yang tampak biasa. Seolah hanya mencari keberadaan tas nya. Dalam satu detik— Ritsleting tas Yuha dibuka sedikit. USB diselipkan di antara buku dan pouch makeup. Ritsleting ditutup kembali. Selesai. Dahyun berdiri. Jantungnya berdetak. Tapi wajahnya tidak berubah. Musik masih menyala. Tidak ada yang melihat. Semuanya terlalu fokus Latihan. Ia kembali ke barisan. Yuha bahkan tidak sadar Dahyun ke belakang. Beberapa menit kemudian pelatih Kembali dengan wajah yang terlihat tegang. “Sebelum lanjut,” katanya, “USB evaluasi saya hilang.” Ruangan langsung hening. “Itu berisi data penting. Ranking trainee. Catatan debut.” Beberapa trainee saling pandang. Yuha mengerutkan kening. Dahyun menatap lurus ke depan. “Saya tinggalkan di meja kemarin. Tidak mungkin keluar sendiri dari ruangan ini.” Suasana berubah berat. “Kalau tidak ada yang mengaku, saya periksa tas kalian satu per satu.” Tidak ada yang bergerak. Yuha merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak tahu kenapa. Satu per satu tas diperiksa. Suara ritsleting terdengar seperti dentuman. Yuha mencoba tetap tenang. Ia tidak melakukan apa-apa. Ketika pelatih membuka tas trainee di sebelahnya— Kosong. Lalu tas berikutnya. Kosong. Dahyun berdiri tanpa ekspresi. Dan akhirnya… Pelatih berhenti di depan tas Yuha. “Yuha.” Suara itu membuat semua kepala menoleh. Yuha melangkah maju pelan. “Ya, sunbaenim?” Pelatih membuka tasnya. Menggeser buku. Mengangkat pouch. Dan di sana… USB hitam kecil itu terlihat jelas. Waktu seperti berhenti. Semua trainee membeku. Yuha menatap benda itu seolah melihat sesuatu yang asing. “Itu bukan…” Pelatih mengangkatnya tinggi-tinggi. “Jelaskan.” Suara bisik-bisik mulai terdengar. “Serius dia ambil?” “mentang-mentang selalu dipuji ya…” “sepertinya dia sudah merasa bakalan debut…” Yuha menggeleng cepat. “Saya tidak tahu itu ada di sana. Saya tidak pernah…” Pelatih memotong. “Ini data rahasia. Bukan untuk trainee.” Tatapan pelatih mulai berubah. Bukan lagi kagum. Tapi curiga. Bagaimana tidak? Yuha selama ini Adalah trainee yang paling ia banggakan, terlalu terkejut saat mengetahui bahwa Yuha lah yang mengambil USB itu. Dan di antara mereka, Dahyun berdiri. Wajahnya datar. Tidak tersenyum. Tidak juga terkejut. Hanya diam. Suasana masih tegang. “Semua keluar dulu. Kecuali Yuha.” Trainee lain saling pandang. Bisik-bisik mulai terdengar. Dahyun berjalan melewati Yuha. Tanpa menatapnya. Tanpa berkata apa pun. Tapi langkahnya tenang. Terlalu tenang. Pintu tertutup. Ruangan hanya tersisa Yuha dan dua pelatih. Pelatih Kim dan satu lagi, Pelatih Lee. USB itu diletakkan di meja. “Ini ditemukan di tasmu,” kata Pelatih Lee datar. Yuha menunduk, jari-jarinya gemetar. “ sunbaenim, Saya benar-benar tidak tahu bagaimana itu bisa ada di sana.” Pelatih Kim menatapnya lama. “Yuha, kamu tahu isi USB ini?” Yuha menggeleng. “Itu berisi ranking trainee. Video evaluasi. Catatan kandidat debut.” Yuha membeku. Ranking. Debut. Ia bahkan tidak pernah melihatnya. Pelatih Lee bersuara lagi. “Tidak ada CCTV di ruangan ini. Tidak ada bukti siapa yang mengambilnya. Yang ada hanya fakta bahwa itu ditemukan di tasmu.” “Sunbaenim, saya bersumpah…” “Kejujuran lebih penting daripada bakat,” potong Pelatih Lee tegas. “Percuma kamu berbakat kalau tidak punya rasa tanggung jawab.” Kata-kata itu menghantam seperti palu. Pelatih Kim terlihat ragu. Ia terlihat tidak mau melepas Yuha begitu saja. “Lee-ssi… kita tidak bisa langsung menyimpulkan. Yuha selama ini…” “Justru karena dia selama ini bagus,” jawab Pelatih Lee dingin. “Kalau trainee seperti dia saja tidak jujur, apa yang akan terjadi nanti setelah debut?” Yuha menahan napasnya yang bergetar. “Sunbaenim, Saya bersumpah tidak pernah membuka USB itu.” Air mata mulai menggenang, tapi ia berusaha tidak membiarkannya jatuh. “Saya juga tidak pernah mengambilnya.” Pelatih Kim tampak bimbang. Ia tidak ingin trainee kesayangannya itu dikeluarkan, tapi disaat yang sama ia juga tidak bisa membiarkan seseorang yang tidak jujur tetap bertahan disini. “Kita tahu kamu berkembang cepat, Yuha. Kamu juga salah satu kandidat kuat.” Kalimat itu membuat dada Yuha terasa sesak. Kandidat kuat? Ia bahkan tidak tahu itu. “Tapi perusahaan tidak bisa mentolerir pelanggaran etika.” Pelatih Lee menyilangkan tangan. “Kalau kita membiarkan ini, trainee lain akan berpikir aturan bisa dilanggar.” “Sunbaenim…” suara Yuha semakin kecil, “tolong percaya pada saya.” Sunyi. Beberapa detik yang terasa sangat lama. Pelatih Kim menunduk, terlalu berat untuk mengatakan ini. “Yuha.” Hanya namanya. Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis. “Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”Koper besar terbuka di lantai kamar.Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.Yuha tersenyum kecil.“Iya, Bu.”Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.Yuha terdiam sebentar.“Senang… tapi juga takut.”Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.Hyunsik akhirnya melangkah masuk.“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat
Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:3 WEEKS TO LAUNCHDirektur berdiri di ujung meja.“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”“Konsep visual harus final minggu ini.”“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”Divisi kreatif menyela,“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.Direktur menatapnya.“Bagaimana?”Suho berdiri tanpa terburu-buru.“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”Beberapa orang terlihat bingung.“Aku punya satu lagu.”Sunyi.“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”Divisi pemasaran mengangguk.“Lebih aman untuk teaser.”Direktur menyipitkan mata.“K
Lalu Nama Itu Dipanggil“Yuha.”Ia masuk.Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.Hanya stabil.Musik dimulai.Yuha menyanyikan bait pertama.Suasana ruangan masih biasa.Minjae masih menatap tanpa ekspresi.Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.Bersih.Dalam.Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.Caranya menari.Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.Ia menggema.Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.Tangannya diam.tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.Bukan karena terkejut.Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.Sunyi.Bukan sunyi canggung.Tapi sunyi karena memproses.Minjae menutup mapnya.Wajahnya berubah.Tidak lagi lelah.Tapi ada harapan disana._Pintu ditutup.Yuha dan trainee lain menun
“Kau tahu… dan membiarkannya?”Pertanyaan itu pelan.Menusuk.Suho tidak menghindar.“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”Kejujuran itu berat.“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”Suho melangkah sedikit lebih dekat.“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ancaman.”Hyunsik masih menatapnya.Mencari kebohongan.Mencari keraguan.Tidak ada.Hanya tekad.“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”Suara Suho tidak keras.Tapi solid.“Dan aku akan selalu menjaganya.”Kalimat itu menggantung.Hyunsik akhirnya duduk perlahan.Ia menghela napas panjang.“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”Ia menatap Suho.“Dia selalu memilih diam.”Suho mengangguk.“Aku tahu.”“Kalau kau serius dengan dia…”Hyunsik berhenti sebentar.Nada suaranya berubah lebih dalam.“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”Itu bukan ancaman.Itu permintaan.Suho menjawab tanpa ra
Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”Dunia Yuha seperti berhenti.“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”Kalimat itu terdengar jauh.Seolah tidak ditujukan padanya.“Saya… dikeluarkan?”Pelatih Lee mengangguk tegas.“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.Beberapa trainee masih berdiri di luar.Mereka semua melihatnya.Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”Bisik-bisik kembali terdengar.“Serius ya…”“Dia yang ambil USB?”“Padahal dia sangat berbakat…”Yuha mendengar semuanya.Setiap kata seperti jarum kecil.Dahyun berdiri di barisan belakang.Tatapannya lurus.Tid
Beberapa trainee masih mengobrol.Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”Yuha tersenyum malu.“Ah, nggak juga…”Tawa itu.Nada rendah hati itu.Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.Tapi matanya menangkap sesuatu.USB di atas meja.Ia mengenalnya.Itu USB evaluasi.Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.Ruangan mulai sepi.Beberapa trainee keluar satu per satu.Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.Dahyun berjalan perlahan ke meja.Ia berhenti.Menatap USB itu.Tangannya tidak langsung bergerak.Ia menoleh ke arah Yuha.Yuha tidak melihatnya.Terlalu sibuk tersenyum.Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”Tangannya bergerak.Perlahan.Ia mengambil USB itu.Ringan.Tapi terasa berat di tangannya.Tidak ada suara.Tidak ada yang memperhatikan.







