Share

7. Dikeluarkan

Author: Ravelyn Ash
last update Last Updated: 2026-03-10 14:26:50

Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎

‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎

Dunia Yuha seperti berhenti.‎

“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”‎

Kalimat itu terdengar jauh.‎

Seolah tidak ditujukan padanya.‎

“Saya… dikeluarkan?”‎

Pelatih Lee mengangguk tegas.‎

‎“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”‎

Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.‎

Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.

Ia hanya berdiri diam, kaku.

Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.

Pintu dibuka.‎

Beberapa trainee masih berdiri di luar.‎

Mereka semua melihatnya.‎

Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:‎

‎“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”‎

Bisik-bisik kembali terdengar.‎

‎“Serius ya…”‎

‎“Dia yang ambil USB?”‎

‎“Padahal dia sangat berbakat…”‎

Yuha mendengar semuanya.‎

Setiap kata seperti jarum kecil.‎

Dahyun berdiri di barisan belakang.‎

Tatapannya lurus.‎

Tidak ada rasa bersalah.‎

Tidak ada penyesalan.‎

Hanya dingin.‎

Yuha sempat menoleh ke arahnya.‎

Hanya sepersekian detik.‎

Mata mereka bertemu.‎

Yuha ingin bertanya:‎

Kenapa?‎

Tapi Dahyun hanya menatap tanpa ekspresi.‎

Seolah berkata:‎

Inilah dunia. Bertahanlah kalau bisa.‎

Yuha menunduk.‎

Ia mengambil tasnya.‎

Tas yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya.‎

Dan untuk pertama kalinya…

…Ia tidak tahu ke mana harus melangkah.‎

‎—‎

Suho sudah berdiri di sana hampir lima belas menit.‎

Biasanya, ia tidak perlu menunggu selama ini.‎

Biasanya, Yuha akan keluar lebih dulu dari trainee lain.‎

Dan biasanya, Ia akan berlari kecil ke arahnya dengan wajah ceria nya.‎

‎“Kak Suho!”‎

Hari ini berbeda.‎

Pintu gedung terbuka.‎

Beberapa trainee keluar sambil berbisik.‎

Tatapan mereka aneh.‎

Beberapa bahkan melirik ke arah Suho.‎

Seolah ingin berbicara sesuatu.‎

Jantung Suho berdetak sedikit lebih cepat.‎

Lalu Yuha muncul.‎

Langkahnya pelan.‎

Tidak ada senyum cerah.‎

Tidak ada lambaian tangan.‎

Matanya tidak langsung mencarinya.‎

Melihat wajah itu, Suho langsung tahu.‎

Ada yang tidak beres.‎

Ia menyeberang.‎

“Yuha.”‎

Yuha terkejut sedikit, lalu mengangkat wajahnya.‎

Senyum tipis.‎

Terlalu dipaksakan.‎

“Kak.”‎

Tidak ada nada ceria.‎

Tidak ada perlakuan manja.‎

Hanya satu kata.‎

“Kamu ada masalah?” tanya Suho lembut.‎

Yuha menggeleng cepat.‎

‎“Nggak kok.”‎

Di dalam hatinya:‎

Aku ingin bilang…

Tapi aku takut Kakak akan kecewa.‎

Ia menggenggam tali tasnya lebih erat.‎

Suho menatapnya lebih dekat.‎

Mata itu terlihat sedikit merah.‎

‎“Kamu yakin?”‎

Yuha mencoba tersenyum lagi.‎

“Semua baik-baik saja.”‎

Kalimat itu terdengar terlalu familiar.‎

Suho melangkah lebih dekat.‎

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Yuha pelan.‎

Hangat.‎

Tapi tubuh Yuha terasa tegang.‎

“Nggak usah berusaha terlihat kuat didepanku.”‎

Kalimat itu membuat bibir Yuha bergetar.‎

Ia menunduk.‎

Napasnya tidak stabil.‎

Aku ingin mengatakannya.

Tapi kalau Kakak tahu aku dikeluarkan…

Apa Kakak akan kecewa? ‎

Kakak sudah bekerja keras untuk melatihku selama ini

‎“Aku…” suaranya mulai retak.‎

Suho menunggu.‎

Tidak memaksa.‎

Hanya berdiri di sana.‎

‎“Aku… mungkin nggak latihan di sana lagi.”

Suho mengerutkan kening.

‎“Apa maksudnya?”‎

Yuha menutup mata sebentar.‎

‎“Aku dikeluarkan.”‎

Ia mengatakannya seolah Keputusan itu sudah tidak bisa diubah.

Suho terdiam satu detik.‎

Hanya satu kalimat.‎

Tapi cukup untuk membuatnya terkejut.‎

‎“Bagaimana bisa Yuha?”‎

Bukan marah.‎

Bukan menyalahkan.‎

Benar-benar bertanya.‎

Seolah tidak percaya Yuha melakukan suatu pelanggaran.

Yuha langsung menggeleng.‎

‎“Mereka bilang aku ambil USB evaluasi.”‎

Air mata akhirnya jatuh.‎

‎“Aku nggak pernah ambil itu, Kak.”‎

Suaranya pecah.‎

‎“Aku benar-benar nggak tahu kenapa itu ada di tasku.”‎

Ia menunduk lebih dalam.‎

‎“Maaf, sudah bikin Kakak kecewa…”‎

Kalimat itu hampir tidak terdengar.‎

Suho menatapnya.‎

Di timeline pertama, ini tidak pernah terjadi.‎

Masalah baru.‎

Bentuk baru.‎

Mengubah satu hal… menghadirkan yang lain.‎

Tapi itu tidak penting sekarang.‎

Yang penting adalah gadis di depannya sedang hancur.‎

Ia menarik Yuha ke dalam pelukannya.‎

Kuat.‎

Erat.‎

Bukan panik.‎

Bukan ragu.‎

Melindungi.‎

Yuha terisak di dadanya.‎

Tangannya mencengkeram bagian depan kemeja Suho.‎

‎“Aku nggak pernah lakukan itu…”‎

‎“Aku tahu.”‎

Tanpa jeda.‎

Tanpa pertimbangan.‎

Suho mengusap punggungnya pelan.‎

Sentuhannya stabil.‎

Meneguhkan.‎

‎“Kenapa aku harus kecewa?”‎

Yuha terdiam.‎

Karena ia tidak pernah membayangkan jawaban lain selain kecewa.‎

Suho melepaskan pelukan sedikit.‎

Mengangkat dagu Yuha dengan lembut.‎

Air matanya masih mengalir.‎

‎“Kamu pikir aku percaya kamu yang mengambil USB?”‎

Yuha menggeleng pelan.‎

Suho menyeka air mata di pipinya dengan ibu jari.‎

Lembut.‎

‎“Kamu tidak pernah mengecewakanku Yuha.”‎

Kalimat itu membuat tangis Yuha pecah lebih dalam.‎

Karena hari itu, di dalam gedung itu…

Tak satu pun orang mempercayainya.‎

‎“Kamu masih mau jadi idol?”‎

Pertanyaan itu lembut.‎

Tapi serius.‎

Yuha mengangguk di antara isaknya.‎

‎“Mau.”‎

Jawaban itu tidak goyah.‎

Meskipun dunia baru saja menolaknya.‎

Suho memeluknya lagi.‎

Kali ini lebih pelan.‎

Lebih hangat.‎

‎“Kalau begitu ini belum selesai.”‎

Di dalam hatinya hanya satu kalimat singkat:‎

Aku mengubah sesuatu. ‎

Dan masalah baru muncul.‎

Aku berusaha mengubah kepribadian yuha

Tapi masalah lain muncul

Masalah yg tidak pernah ada di timeline pertama

Tapi kali ini,

Ia tidak akan membiarkan Yuha berdiri sendirian di tengah tuduhan.‎

Ia menempelkan keningnya ke kening Yuha.‎

‎“Kita cari tempat lain, tempat Dimana bakatmu tidak akan terbuang sia-sia.”‎

Suara itu tenang.‎

Tapi penuh keputusan.‎

Dan sejak keluar dari gedung itu,

Yuha merasa dirinya tidak sepenuhnya jatuh.‎

Karena seseorang masih berdiri bersamanya.‎

‎—‎

Pintu terbuka pelan.‎

Yuha masuk lebih dulu.‎

Sepatu dilepas tanpa suara.‎

Biasanya ia akan memanggil,‎

‎“Kak! Aku pulang!”‎

Hari ini tidak.‎

Hyunsik keluar dari dapur, masih mengenakan pakaian rumah sederhana.‎

Ia langsung tahu.‎

Mata itu, terlihat Bengkak.‎

Bahunya turun.‎

Dan Suho berdiri di belakangnya.‎

Hyunsik tidak bertanya pada Yuha.‎

Ia hanya menatap Suho.‎

Tatapan yang tidak marah.‎

Tapi penuh pertanyaan.‎

Yuha menunduk.‎

‎“Aku mau ke kamar dulu.”‎

Suaranya pelan.‎

Hyunsik tidak menghentikannya.‎

Ia hanya berkata lembut,‎

‎“Istirahatlah.”‎

Yuha berjalan masuk.‎

Pintu kamarnya tertutup.‎

Sunyi.‎

Sekarang hanya dua pria itu yang berdiri di ruang tamu.‎

Hyunsik tidak duduk.‎

Ia berdiri.‎

Menunggu.‎

Suho teringat, hyunsik lah yang akan menjadi orang yang paling menyalahkannya saat kematian yuha, Ia harus membangun kepercayaan di hati hyunsik

Suho menarik napas pelan.‎

‎“Aku yang akan jelaskan semuanya.”‎‎

Suara Suho stabil.‎

Bukan defensif.‎

Bukan takut.‎

‎“Adik Anda perlu istirahat.”‎

Hyunsik tidak memotong.‎

Tatapannya tetap lurus.‎

Suho melanjutkan.‎

‎“Mereka menemukan USB evaluasi di tasnya yang berisi Ranking trainee dan Catatan debut.”‎

Wajah Hyunsik berubah sedikit.‎

‎“Mereka bilang Yuha yang mengambilnya.”‎

Hening.‎

Suho menatap lantai sejenak sebelum melanjutkan.‎

‎“Dia tidak melakukannya.”‎

Tidak ada ragu dalam nada suaranya.‎

‎“Bagaimana kau bisa yakin?”‎

Pertanyaan itu tidak tajam.‎

Hanya memastikan.‎

Suho mengangkat wajahnya.‎

‎“Karena aku tahu dia.”‎

Jawaban sederhana.‎

Tapi tidak terdengar kosong.‎

Hyunsik diam beberapa detik.‎

‎“Dia sering dirundung?”‎

Suho mengangguk kecil.‎

‎“Sejak trainee awal ia mulai dibandingkan, dan itu menimbulkan rasa iri di hati teman-temannya, karena itu Ia mulai dirundung.”‎

Rahang Hyunsik mengeras.‎

Tapi ia tetap tenang.‎

‎“Kau tahu… dan membiarkannya?”‎

Pertanyaan itu pelan.‎

Menusuk.‎

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   11. The First Recording

    Koper besar terbuka di lantai kamar.‎Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.‎‎“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.‎Yuha tersenyum kecil.‎“Iya, Bu.”‎Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti‎“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.‎Yuha terdiam sebentar.‎‎“Senang… tapi juga takut.”‎Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.‎‎“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”‎Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.‎Hyunsik akhirnya melangkah masuk.‎‎“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”‎“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”‎Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   10. Cara Lain Untuk Menjaga

    Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:‎‎3 WEEKS TO LAUNCH‎Direktur berdiri di ujung meja.‎‎“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”‎Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.‎‎“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”‎“Konsep visual harus final minggu ini.”‎“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”‎Divisi kreatif menyela,‎“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”‎Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.‎Direktur menatapnya.‎“Bagaimana?”‎Suho berdiri tanpa terburu-buru.‎‎“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”‎Beberapa orang terlihat bingung.‎‎“Aku punya satu lagu.”‎Sunyi.‎‎“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”‎‎“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”‎Divisi pemasaran mengangguk.‎“Lebih aman untuk teaser.”‎Direktur menyipitkan mata.‎“K

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   9. Harapan Baru

    Lalu Nama Itu Dipanggil‎“Yuha.”‎Ia masuk.‎Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.‎Hanya stabil.‎Musik dimulai.‎Yuha menyanyikan bait pertama.‎Suasana ruangan masih biasa.‎Minjae masih menatap tanpa ekspresi.‎Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.‎Bersih.‎Dalam.‎Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.‎Caranya menari.‎Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.‎Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.‎Ia menggema.‎Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.‎Tangannya diam.‎tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.‎Bukan karena terkejut.‎Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.‎Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.‎Sunyi.‎Bukan sunyi canggung.‎Tapi sunyi karena memproses.‎Minjae menutup mapnya.‎Wajahnya berubah.‎Tidak lagi lelah.‎Tapi ada harapan disana.‎_‎Pintu ditutup.‎Yuha dan trainee lain menun

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   8. Haneul Music Lab

    “Kau tahu… dan membiarkannya?”‎Pertanyaan itu pelan.‎Menusuk.‎Suho tidak menghindar.‎“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”‎Kejujuran itu berat.‎‎“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”‎Suho melangkah sedikit lebih dekat.‎‎“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ‎ancaman.”‎Hyunsik masih menatapnya.‎Mencari kebohongan.‎Mencari keraguan.‎Tidak ada.‎Hanya tekad.‎‎“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”‎Suara Suho tidak keras.‎Tapi solid.‎“Dan aku akan selalu menjaganya.”‎Kalimat itu menggantung.‎Hyunsik akhirnya duduk perlahan.‎Ia menghela napas panjang.‎‎“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”‎Ia menatap Suho.‎‎“Dia selalu memilih diam.”‎Suho mengangguk.‎‎“Aku tahu.”‎‎“Kalau kau serius dengan dia…”‎Hyunsik berhenti sebentar.‎Nada suaranya berubah lebih dalam.‎‎“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”‎Itu bukan ancaman.‎Itu permintaan.‎Suho menjawab tanpa ra

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   7. Dikeluarkan

    Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎Dunia Yuha seperti berhenti.‎‎“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”‎Kalimat itu terdengar jauh.‎Seolah tidak ditujukan padanya.‎‎“Saya… dikeluarkan?”‎Pelatih Lee mengangguk tegas.‎‎“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”‎Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.‎Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.‎Beberapa trainee masih berdiri di luar.‎Mereka semua melihatnya.‎Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:‎‎“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”‎Bisik-bisik kembali terdengar.‎‎“Serius ya…”‎‎“Dia yang ambil USB?”‎‎“Padahal dia sangat berbakat…”‎Yuha mendengar semuanya.‎Setiap kata seperti jarum kecil.‎Dahyun berdiri di barisan belakang.‎Tatapannya lurus.‎Tid

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   6. Tuduhan

    Beberapa trainee masih mengobrol.‎Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.‎‎“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”‎Yuha tersenyum malu.‎‎“Ah, nggak juga…”‎Tawa itu.‎Nada rendah hati itu.‎Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.‎Tapi matanya menangkap sesuatu.‎USB di atas meja.‎Ia mengenalnya.‎Itu USB evaluasi.‎Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.‎Ruangan mulai sepi.‎Beberapa trainee keluar satu per satu.‎Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.‎Dahyun berjalan perlahan ke meja.‎Ia berhenti.‎Menatap USB itu.‎Tangannya tidak langsung bergerak.‎Ia menoleh ke arah Yuha.‎Yuha tidak melihatnya.‎Terlalu sibuk tersenyum.‎Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.‎‎“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎Tangannya bergerak.‎Perlahan.‎Ia mengambil USB itu.‎Ringan.‎Tapi terasa berat di tangannya.‎Tidak ada suara.‎Tidak ada yang memperhatikan.‎

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status