LOGINTapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.
“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.” Dunia Yuha seperti berhenti. “Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.” Kalimat itu terdengar jauh. Seolah tidak ditujukan padanya. “Saya… dikeluarkan?” Pelatih Lee mengangguk tegas. “Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.” Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat. Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan. Ia hanya berdiri diam, kaku. Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan. Pintu dibuka. Beberapa trainee masih berdiri di luar. Mereka semua melihatnya. Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee: “Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.” Bisik-bisik kembali terdengar. “Serius ya…” “Dia yang ambil USB?” “Padahal dia sangat berbakat…” Yuha mendengar semuanya. Setiap kata seperti jarum kecil. Dahyun berdiri di barisan belakang. Tatapannya lurus. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan. Hanya dingin. Yuha sempat menoleh ke arahnya. Hanya sepersekian detik. Mata mereka bertemu. Yuha ingin bertanya: Kenapa? Tapi Dahyun hanya menatap tanpa ekspresi. Seolah berkata: Inilah dunia. Bertahanlah kalau bisa. Yuha menunduk. Ia mengambil tasnya. Tas yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya… …Ia tidak tahu ke mana harus melangkah. — Suho sudah berdiri di sana hampir lima belas menit. Biasanya, ia tidak perlu menunggu selama ini. Biasanya, Yuha akan keluar lebih dulu dari trainee lain. Dan biasanya, Ia akan berlari kecil ke arahnya dengan wajah ceria nya. “Kak Suho!” Hari ini berbeda. Pintu gedung terbuka. Beberapa trainee keluar sambil berbisik. Tatapan mereka aneh. Beberapa bahkan melirik ke arah Suho. Seolah ingin berbicara sesuatu. Jantung Suho berdetak sedikit lebih cepat. Lalu Yuha muncul. Langkahnya pelan. Tidak ada senyum cerah. Tidak ada lambaian tangan. Matanya tidak langsung mencarinya. Melihat wajah itu, Suho langsung tahu. Ada yang tidak beres. Ia menyeberang. “Yuha.” Yuha terkejut sedikit, lalu mengangkat wajahnya. Senyum tipis. Terlalu dipaksakan. “Kak.” Tidak ada nada ceria. Tidak ada perlakuan manja. Hanya satu kata. “Kamu ada masalah?” tanya Suho lembut. Yuha menggeleng cepat. “Nggak kok.” Di dalam hatinya: Aku ingin bilang… Tapi aku takut Kakak akan kecewa. Ia menggenggam tali tasnya lebih erat. Suho menatapnya lebih dekat. Mata itu terlihat sedikit merah. “Kamu yakin?” Yuha mencoba tersenyum lagi. “Semua baik-baik saja.” Kalimat itu terdengar terlalu familiar. Suho melangkah lebih dekat. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Yuha pelan. Hangat. Tapi tubuh Yuha terasa tegang. “Nggak usah berusaha terlihat kuat didepanku.” Kalimat itu membuat bibir Yuha bergetar. Ia menunduk. Napasnya tidak stabil. Aku ingin mengatakannya. Tapi kalau Kakak tahu aku dikeluarkan… Apa Kakak akan kecewa? Kakak sudah bekerja keras untuk melatihku selama ini “Aku…” suaranya mulai retak. Suho menunggu. Tidak memaksa. Hanya berdiri di sana. “Aku… mungkin nggak latihan di sana lagi.” Suho mengerutkan kening. “Apa maksudnya?” Yuha menutup mata sebentar. “Aku dikeluarkan.” Ia mengatakannya seolah Keputusan itu sudah tidak bisa diubah. Suho terdiam satu detik. Hanya satu kalimat. Tapi cukup untuk membuatnya terkejut. “Bagaimana bisa Yuha?” Bukan marah. Bukan menyalahkan. Benar-benar bertanya. Seolah tidak percaya Yuha melakukan suatu pelanggaran. Yuha langsung menggeleng. “Mereka bilang aku ambil USB evaluasi.” Air mata akhirnya jatuh. “Aku nggak pernah ambil itu, Kak.” Suaranya pecah. “Aku benar-benar nggak tahu kenapa itu ada di tasku.” Ia menunduk lebih dalam. “Maaf, sudah bikin Kakak kecewa…” Kalimat itu hampir tidak terdengar. Suho menatapnya. Di timeline pertama, ini tidak pernah terjadi. Masalah baru. Bentuk baru. Mengubah satu hal… menghadirkan yang lain. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah gadis di depannya sedang hancur. Ia menarik Yuha ke dalam pelukannya. Kuat. Erat. Bukan panik. Bukan ragu. Melindungi. Yuha terisak di dadanya. Tangannya mencengkeram bagian depan kemeja Suho. “Aku nggak pernah lakukan itu…” “Aku tahu.” Tanpa jeda. Tanpa pertimbangan. Suho mengusap punggungnya pelan. Sentuhannya stabil. Meneguhkan. “Kenapa aku harus kecewa?” Yuha terdiam. Karena ia tidak pernah membayangkan jawaban lain selain kecewa. Suho melepaskan pelukan sedikit. Mengangkat dagu Yuha dengan lembut. Air matanya masih mengalir. “Kamu pikir aku percaya kamu yang mengambil USB?” Yuha menggeleng pelan. Suho menyeka air mata di pipinya dengan ibu jari. Lembut. “Kamu tidak pernah mengecewakanku Yuha.” Kalimat itu membuat tangis Yuha pecah lebih dalam. Karena hari itu, di dalam gedung itu… Tak satu pun orang mempercayainya. “Kamu masih mau jadi idol?” Pertanyaan itu lembut. Tapi serius. Yuha mengangguk di antara isaknya. “Mau.” Jawaban itu tidak goyah. Meskipun dunia baru saja menolaknya. Suho memeluknya lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih hangat. “Kalau begitu ini belum selesai.” Di dalam hatinya hanya satu kalimat singkat: Aku mengubah sesuatu. Dan masalah baru muncul. Aku berusaha mengubah kepribadian yuha Tapi masalah lain muncul Masalah yg tidak pernah ada di timeline pertama Tapi kali ini, Ia tidak akan membiarkan Yuha berdiri sendirian di tengah tuduhan. Ia menempelkan keningnya ke kening Yuha. “Kita cari tempat lain, tempat Dimana bakatmu tidak akan terbuang sia-sia.” Suara itu tenang. Tapi penuh keputusan. Dan sejak keluar dari gedung itu, Yuha merasa dirinya tidak sepenuhnya jatuh. Karena seseorang masih berdiri bersamanya. — Pintu terbuka pelan. Yuha masuk lebih dulu. Sepatu dilepas tanpa suara. Biasanya ia akan memanggil, “Kak! Aku pulang!” Hari ini tidak. Hyunsik keluar dari dapur, masih mengenakan pakaian rumah sederhana. Ia langsung tahu. Mata itu, terlihat Bengkak. Bahunya turun. Dan Suho berdiri di belakangnya. Hyunsik tidak bertanya pada Yuha. Ia hanya menatap Suho. Tatapan yang tidak marah. Tapi penuh pertanyaan. Yuha menunduk. “Aku mau ke kamar dulu.” Suaranya pelan. Hyunsik tidak menghentikannya. Ia hanya berkata lembut, “Istirahatlah.” Yuha berjalan masuk. Pintu kamarnya tertutup. Sunyi. Sekarang hanya dua pria itu yang berdiri di ruang tamu. Hyunsik tidak duduk. Ia berdiri. Menunggu. Suho teringat, hyunsik lah yang akan menjadi orang yang paling menyalahkannya saat kematian yuha, Ia harus membangun kepercayaan di hati hyunsik Suho menarik napas pelan. “Aku yang akan jelaskan semuanya.” Suara Suho stabil. Bukan defensif. Bukan takut. “Adik Anda perlu istirahat.” Hyunsik tidak memotong. Tatapannya tetap lurus. Suho melanjutkan. “Mereka menemukan USB evaluasi di tasnya yang berisi Ranking trainee dan Catatan debut.” Wajah Hyunsik berubah sedikit. “Mereka bilang Yuha yang mengambilnya.” Hening. Suho menatap lantai sejenak sebelum melanjutkan. “Dia tidak melakukannya.” Tidak ada ragu dalam nada suaranya. “Bagaimana kau bisa yakin?” Pertanyaan itu tidak tajam. Hanya memastikan. Suho mengangkat wajahnya. “Karena aku tahu dia.” Jawaban sederhana. Tapi tidak terdengar kosong. Hyunsik diam beberapa detik. “Dia sering dirundung?” Suho mengangguk kecil. “Sejak trainee awal ia mulai dibandingkan, dan itu menimbulkan rasa iri di hati teman-temannya, karena itu Ia mulai dirundung.” Rahang Hyunsik mengeras. Tapi ia tetap tenang. “Kau tahu… dan membiarkannya?” Pertanyaan itu pelan. Menusuk.Koper besar terbuka di lantai kamar.Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.Yuha tersenyum kecil.“Iya, Bu.”Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.Yuha terdiam sebentar.“Senang… tapi juga takut.”Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.Hyunsik akhirnya melangkah masuk.“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat
Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:3 WEEKS TO LAUNCHDirektur berdiri di ujung meja.“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”“Konsep visual harus final minggu ini.”“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”Divisi kreatif menyela,“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.Direktur menatapnya.“Bagaimana?”Suho berdiri tanpa terburu-buru.“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”Beberapa orang terlihat bingung.“Aku punya satu lagu.”Sunyi.“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”Divisi pemasaran mengangguk.“Lebih aman untuk teaser.”Direktur menyipitkan mata.“K
Lalu Nama Itu Dipanggil“Yuha.”Ia masuk.Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.Hanya stabil.Musik dimulai.Yuha menyanyikan bait pertama.Suasana ruangan masih biasa.Minjae masih menatap tanpa ekspresi.Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.Bersih.Dalam.Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.Caranya menari.Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.Ia menggema.Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.Tangannya diam.tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.Bukan karena terkejut.Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.Sunyi.Bukan sunyi canggung.Tapi sunyi karena memproses.Minjae menutup mapnya.Wajahnya berubah.Tidak lagi lelah.Tapi ada harapan disana._Pintu ditutup.Yuha dan trainee lain menun
“Kau tahu… dan membiarkannya?”Pertanyaan itu pelan.Menusuk.Suho tidak menghindar.“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”Kejujuran itu berat.“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”Suho melangkah sedikit lebih dekat.“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ancaman.”Hyunsik masih menatapnya.Mencari kebohongan.Mencari keraguan.Tidak ada.Hanya tekad.“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”Suara Suho tidak keras.Tapi solid.“Dan aku akan selalu menjaganya.”Kalimat itu menggantung.Hyunsik akhirnya duduk perlahan.Ia menghela napas panjang.“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”Ia menatap Suho.“Dia selalu memilih diam.”Suho mengangguk.“Aku tahu.”“Kalau kau serius dengan dia…”Hyunsik berhenti sebentar.Nada suaranya berubah lebih dalam.“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”Itu bukan ancaman.Itu permintaan.Suho menjawab tanpa ra
Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”Dunia Yuha seperti berhenti.“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”Kalimat itu terdengar jauh.Seolah tidak ditujukan padanya.“Saya… dikeluarkan?”Pelatih Lee mengangguk tegas.“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.Beberapa trainee masih berdiri di luar.Mereka semua melihatnya.Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”Bisik-bisik kembali terdengar.“Serius ya…”“Dia yang ambil USB?”“Padahal dia sangat berbakat…”Yuha mendengar semuanya.Setiap kata seperti jarum kecil.Dahyun berdiri di barisan belakang.Tatapannya lurus.Tid
Beberapa trainee masih mengobrol.Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”Yuha tersenyum malu.“Ah, nggak juga…”Tawa itu.Nada rendah hati itu.Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.Tapi matanya menangkap sesuatu.USB di atas meja.Ia mengenalnya.Itu USB evaluasi.Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.Ruangan mulai sepi.Beberapa trainee keluar satu per satu.Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.Dahyun berjalan perlahan ke meja.Ia berhenti.Menatap USB itu.Tangannya tidak langsung bergerak.Ia menoleh ke arah Yuha.Yuha tidak melihatnya.Terlalu sibuk tersenyum.Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”Tangannya bergerak.Perlahan.Ia mengambil USB itu.Ringan.Tapi terasa berat di tangannya.Tidak ada suara.Tidak ada yang memperhatikan.







